Gaung Rasa

Gaung Rasa
Gendong


__ADS_3

Ashqar memandangi Safira kala mobil berhenti dan Alvin sudah melepaskan sabuk pengaman. Dia meminta anak sulungnya itu untuk membukakan gerbang dan masuk ke dalam rumah lebih dulu. Lalu setelah tubuh Alvin menghilang masuk ke dalam rumah, Ashqar mengusap perut rata Safira seringan bulu.


Rasa bersalah mulai menjalari dada Ashqar seirama dengan gerakan tangannya di perut Safira. Dia kehilangan konsentrasi untuk beberapa detik yang mungkin bisa berakibat fatal bagi keselamatan istri dan calon bayi mereka.


Pandangan Ashqar perlahan naik hingga ke wajah Safira yang damai. Istrinya tertidur setelah ia kembali mengemudikan mobil ke jalanan utama. Rasanya Ashqar tak tega jika harus mengganggu tidur nyenyak Safira yang belakangan sedikit terganggu karena efek kehamilannya. Namun, jika ia menggendong istrinya masuk maka ada kemungkinan mereka akan bertemu tetangga sekitar dan menjadi bahan perbincangan yang lain.


“Sayang,” panggil Ashqar, membelai wajah Safira. “Bangun, yuk. Udah sampai rumah.”


Ashqar sedikit mengguncang bahu Safira saat istrinya itu tak kunjung membuka mata sambil terus memanggil namanya. Sampai akhirnya kelopak mata Safira berkedut dan perlahan terbuka.


Wanita itu mengerjap beberapa kali, mungkin menyesuaikan cahaya yang tertangkap mata. Dan saat ia menyadari keberadaan Ashqar, Safira langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya.


“Gendong, mas.”


Ashqar berkedip. “Kita masih di mobil, Sayang.”


“Kaca mobilnya ‘kan gelap,” gerutu Safira tak senang.


“Iya, tapi kalau gendong sampai ke dalam rumah terus nanti dilihat tetangga ‘kan nggak enak.”


“Huh! Nggak mau tahu!”


Ashqar berdesis. Dia mulai dilema, antara menuruti keinginan istrinya atau mempertaruhkan muka jika sampai tertangkap basah oleh tetangga. Ini bukan pilihan yang mudah baginya.

__ADS_1


Dengkuran halus menarik atensi Ashqar dari kegundahannya. Dia mengintip wajah Safira yang bersandar di dadanya. Istrinya kembali tertidur saat ia memikirkan solusi terbaik dari situasi ini. Namun, melihat keadaan Safira yang kembali pulas, Ashqar tak mau harus menggendong Safira sampai ke dalam rumah.


Dia sangat berharap tidak ada satu orangpun yang akan melihatnya. Bukan apa-apa, Ashqar hanya tak ingin ada gosip-gosip aneh yang berkeliaran di lingkungan tempat tinggalnya. Memang tetangga mereka bukan tipe tetangga kepo dan julid, tapi bumbu pemanis obrolan ibu-ibu tetap terasa berlebihan. Ashqar tidak bisa menghadapi godaan demi godaan yang diarahkan kepanya.


Ashqar mengangkat tubuh Safira perlahan lalu menggendongnya setelah sebelumnya mematikan mesin mobil terlebih dahulu. Dengan langkah yang ia perhatikan, Ashqar membawa tubuh Safira masuk kedalam rumah.


“Pa ... pah. Mamah kenapa?” kata Zain, saat Ashqar melewati ruang keluarga.


Anak itu membuntuti Ashqar masuk ke dalam kamar lalu memutari ranjang, menaikinya dan duduk di samping tubuh Safira. Saat Ashqar menarik selimut, Zain juga melakukan hal yang sama. Begitupun saat Ashqar membenahi anak-anak rambut Safira yang menutupi wajah.


“Mamah tidur, pah?” tanya Zain, menyamankan diri di samping Safira dan memeluk tubuh ibunya.


“Iya, Mas Zain jangan ganggu mamah tidur, ya?”


Setelah memberikan satu-dua nasehat pada Zain, Ashqar kembali ke depan untuk memasukan mobil. Untungnya suasana kompleks sedang sepi jadi seharusnya tak ada orang yang melihatnya.


Sayangnya, itu hanya sekedar harapan Ashqar. Karena begitu ia keluar rumah, ia mendapati Hendra sedang duduk di beranda rumah sambil tersenyum-senyum memandang kearahnya. Menyadari senyum di wajah Hendra, Ashqar memiliki firasat buruk.


“Jangan-jangan Pak Hendra liat aku gendong Safira lagi,” batin Ashqar khawatir.


Namun, alih-alih melontarkan rasa penasarannya, Ashqar justru hanya memberikan sapaan basa-basi pada Hendra kemudian segera memarkirkan mobil ke dalam garasi. Dia tidak ingin mengambil resiko mendengar sesuatu yang ia sendiri takutkan. Lagi pula Hendra bukan orang yang bermulut besar.


✿✿✿

__ADS_1


Hembusan napas halus merayu Ashqar untuk terus menggerakkan jari telunjuknya di kulit wajah Safira yang halus. Dia menggerakkannya perlahan dari dagu, rahang, pelipis, dahi turun ke hidung lalu menuju bingkai bibirnya. Kemudian satu kecupan ringan Ashqar berikan disana hingga membuat Safira melenguh dalam tidur.


Ashqar tersenyum melihat kerutan di dahi istrinya. Perutnya tergelitik dan bergejolak, ingin kembali menjahili mimpi Safira. Apalagi jika kalimat pendek yang sempat Safira katakan terngiang diingatan.


“Aku cemburu!”


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Saat yang lain komen tentang Alvin atau Safira dichapter sebelumnya, ada yang komen nanyain motor yang Safira kempesin bannya 🤭


Kakak, kamu kok bikin aku ketawa 🙈


Bagian itu silahkan dilanjutkan sendiri-sendiri sesuai imajinasi aja kkk~


Sekaian terimakasi (づ ̄ ³ ̄)づ

__ADS_1


__ADS_2