
“Aku harap Ibu benar-benar nggak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku juga akan mencoba ikhlas jadi mulai sekarang nggak cuma Ibu yang berusaha mendekatkan diri. Tapi tolong jangan tersinggung kalau aku nggak bisa begitu aja akrab sama Ibu.”
Itu permintaan egois Safira yang paling melegakan yang pernah Sari dengar. Namun, mendengarnya membuat bulir-bulir air mata jatuh ke pipi, melengkungkan senyum dan mengangkat semua beban di pundak wanita itu. Dan saat Safira berlalu kemudian menghilang dibalik pintu lift, suara perempuan itu masih bisa Sari dengar.
“Bu!” seru Edi menghampiri Sari yang terduduk di lantai koridor hotel. Dan betapa terkejutnya Edi begitu ia melihat kondisi Sari. “Astaghfirullah! Ada apa, Bu? Kok, nangis?”
Sari semakin tersedu setiap kali Edi menanyakan hal yang sama. Air mata wanita itu tidak bisa dibendung membasahi jilbab coklat dan pipi yang sudah terpoles makeup meski ia berusaha untuk menahan tangis hingga membuatnya sesenggukan.
Sementara itu, Safira yang berada di dalam lift masih mencoba menetralkan debaran jantungnya yang menggila. Seakan organ pemompa darah itu hampir melompat keluar dari dalam dada, berpacu seirama dengan napasnya yang memburu. Ini kali pertama Safira memanggil Sari dengan panggilan tertinggi yang tidak pernah ia duga akan ia berikan pada ibu tirinya.
Bertahun-tahun Safira memalingkan muka dari Sari, beranggapan bahwa wanita itu tidak lebih dari istri bapaknya. Apalagi setelah rencana-rencana untuk mengambil alih warisan Suprapti hingga berakhir penculikan kedua putranya, membuat Safira terasa berat untuk sekedar berbicara dengan Sari.
Ketika pintu lift terbuka dan dua remaja perempuan masuk, Safira mundur selangkah lalu tanpa sengaja ia menoleh pada dinding lift dan wajah tegangnya terpantul di sana. Alih-alih mengalihkan pandangan, Safira justru terpaku.
Tidak sekalipun Safira pernah melihat ekspresinya seperti sekarang ini. Ketegangan di wajahnya berangsur pudar digantikan senyum tipis yang perlahan berkembang. Entah bagaimana, Safira merasa sangat lega.
__ADS_1
“Apa ini yang namanya ikhlas?” batin Safira, memegangi dada sebelah kiri. Kemudian ingatan tentang percakapannya dengan Harti menyusup kedalam benak Safira.
“Ibu manapun nggak akan terima kalau anaknya disakiti, apalagi kalau yang menyakiti adalah orang terdekat kita,” ucap Harti, menanggapi curhatan Safira.
“Terus sekarang aku harus gimana, Bu?” tanya Safira gusar.
Harti tersenyum tipis. Diangkatnya tangan kanan yang semula berada di atas pangkuan ke sisi wajah Safira lalu membelainya. Mendengar menantunya banyak bercerita dan meminta saran membuat Harti merasa nostalgia.
“Kok, tanya ibu. Kamu sendiri yang bisa menjawab, Fi. Bukan orang lain.” Harti lalu menarik kembali tangan dari wajah Safira. “Masalahmu nggak cukup dengan mendengar pendapat orang lain, tapi juga harus menggunakan ini dan ini,” terangnya, menunjuk dada dan pelipis dengan telunjuk.
Safira menurunkan pandangan, menatap kuku jari-jari tangannya yang baru mendapatkan perawatan—berkat paksaan Rahma. Kemudian dia menghela napas panjang, mencoba mengatur hati dan pikiran agar bisa saling berdampingan. Namun, tetap terasa sulit.
“Apa kamu nggak mau menerima bapakmu rujuk sama Tante Sari?”
Netra Safira bergetar. “Akan lebih mudah kalau Bapak langsung kasih tahu aku apa keputusannya, bukannya malah minta izin sama aku, Bu. Kalau seperti ini rasanya seperti Bapak kasih beban buat aku.”
__ADS_1
Harti menepuk pundak Safira. “Apa kamu yakin? Gimana kalau Pak Edi kasih tahu kamu kalau mereka mau rujuk.”
“Aku ....”
“Apa kamu yakin bisa terima keputusan dengan ikhlas?” tanya Harti lagi. Lalu saat Safira menggeleng, Harti melanjutkan dengan nada suaranya yang lembut. “Bapakmu nggak bermaksud memberikan beban sama kamu, Fi. Justru karena mempertimbangkan hubungan kalian makanya Pak Edi meminta pendapat dan izin kamu. Ibu yakin kalau kamu bilang nggak setuju, bapakmu bisa aja nggak jadi rujuk.”
“Aku nggak mau egois, Bu. Tapi ....” Safira tercekat napasnya sendiri. “Kalau Bapak dan Tante Sari rujuk, aku merasa keadilan yang aku dapatkan atas Alvin dan Zain direnggut dariku.”
Harti menangkup wajah Safira dengan kedua tangannya, membuat mereka saling bertukar pandang. Sementara tatapan Safira penuh keraguan, Harti melemparkan tatapan teduh yang menenangkan.
“Keadilan itu nggak direnggut dari kamu meskipun mereka rujuk. Tante Sari udah mendapat ganjarannya, lagi pula rasa adil itu bukan cuma tentang hukuman untuk seseorang yang berbuat salah. Tapi juga rasa ikhlas memaafkan dari orang yang sudah disakiti. Kalau kamu bisa ikhlas menerima dan memaafkan maka rasa adil itu akan kamu rasakan, tapi kalau kamu sendiri belum ikhlas dan belum bisa menerima sepenuhnya maka seberapa berat hukuman yang diterima Tante Sari, kamu bisa aja nggak akan merasa puas dan terus merasa nggak adil.”
.
.
__ADS_1
.
✄................................................