Gaung Rasa

Gaung Rasa
Kancing Baju


__ADS_3

Seminggu setelahnya, tepat di hari acara aqiqah Harsha, Safira sudah sibuk sejak pagi. Dia menyiapkan keperluan untuk acara Harsha mulai dari menghubungi catering, mengkorfirmasi ustad dan bapak-bapak pengajian kompleks rumah, juga mengundang tetangga sekitar.


Acara yang sengaja diadakan malam membuat Safira memiliki kesempatan untuk membagi waktunya dengan anak-anak juga untuk beristirahat. Dua hari setelah Ashqar mengatakan akan mempekerjaan ART, mertuanya datang dan hampir membuat kesalahpahaman baru di antara mereka.


Safira berpikir bahwa suaminya sengaja memanggil Harti untuk membantunya mengurus Harsha atau melakukan pekerjaan rumah. Bukan berarti dia tidak menyukai kedatangan Harti, tapi dia tidak akan bisa membuat ibu dari suaminya itu melakukan pekerjaan rumah diusianya yang sekarang.


“Mbak Rahma yang kasih tahu Ibu kalau kita lagi cari ART. Karena nyari orang buat kerja juga nggak gampang makanya Ibu berinisiatif buat datang dan bantu kita. Bukannya aku juga nggak nolak, Sayang. Tapi kamu tahu sendiri gimana Ibu, ‘kan?”


Penjelasan Ashqar lebih dari cukup untuk membuat Safira tidak melanjutkan omelannya. Meskipun begitu, dia tetap merasa sebal karena Ashqar tidak memberitahukan hal itu lebih awal. Pun Safira merasa tidak enak jika menolak permintaan ibu mertuanya itu saat beliau bahkan datang jauh-jauh dari Malang.


Jadi meskipun agak berat hati, Safira tetap menyambut hangat uluran tangan ibu mertuanya. Tentu dengan beberapa persyaratan bahwa Harti hanya membantu pekerjaan ringan dan mengawasi anak-anak, Safira tidak ingin ibunya kelelahan dengan pekerjaan rumah.


“Pah, tolong cek Alvin udah siap apa belum,” ucap Safira yang sibuk memakaikan bandana di kepala putrinya. Dia sudah melakukan hal itu sejak lima menit lalu, tapi terus gagal karena Harsha menolak benda tersebut berada di kepalanya. “Ngomong-ngomong, Ibu dimana?”


“Diajak Mbak Rahma buat ambil bingkisan.”


“Loh? Bukannya dianter ke rumah?”

__ADS_1


“Nggak, kayaknya ada kendala.”


“Oh.” Safira menoleh pada Ashqar yang masih sibuk menata rambutnya di depan cermin. Suaminya itu benar-benar memakan waktu hanya untuk meratakan gel rambut. “Aku mau lihat Zain dulu, kalau Papah udah selesai sama gel rambut tolong segera ke kamar Alvin, ya.”


Tanpa mendengar jawaban Ashqar, Safira beranjak ke luar kamar dengan Harsa di gendongannya. Safira mengetuk pintu kamar Zain dan meminta izin untuk masuk begitu ia berada di depan pintu. Namun, Zain tidak kunjung menyahut dan karena merasa khawatir, Safira membuka sedikit pintunya dan mengintip.


Zain terlihat kesulitan mengancingkan kemejanya, padahal itu baru kancing kedua yang berusaha anak itu masukan. Sebenarnya Zain sudah cukup mandiri untuk memakai kaus atau celana sendiri, tapi lain halnya dengan kemeja. Bocah lima tahun itu masih harus mendapatkan bantuan dari orang lain. Namun, karena hari ini ibu dan kakaknya sibuk dengan persiapan masing-masing maka Zain berusaha untuk melakukannya sendiri.


“Mas Zain butuh bantuan?” tanya Safira bersamaan dengan pintu yang terbuka.


Zain menoleh. Ekspresinya menunjukan kelegaan yang jelas. “Mamah,” katanya dengan nada suara putus asa.


“Kenapa Mas Zain nggak minta tolong mamah atau Mas Alvin?” tanya Safira, mengambil alih pekerjaan Zain setelah sebelumnya ia menidurkan Harsha di kasur.


“Kata Mas Alvin, Zain harus bisa sendiri. Tapi dari tadi nggak bisa-bisa, Mah.”


Safira mengulum senyum. Dia berpikir kalau kelak Zain akan lebih mendengar ucapan Alvin ketimbang dirinya atau Ashqar. “Dasar, buntutnya Mas Alvin.”

__ADS_1


Sambil mengancingkan baju koko Zain, Safira tidak berhenti untuk menggoda putranya itu. Hingga suara nyaring Rafa yang memanggil Alvin dan Zain mengusik seisi rumah. Untungnya Zain sudah siap dan langsung berlari menghampiri Rafa saat Harsha menangis kencang.


Rafa terkadang memang tidak tahu diri saat bertamu di rumah Safira dan Ashqar. Lebih menyebalkannya lagi dia selalu beralasan lupa dengan kehadiran Harsha saat memanggil dua keponakan kesayangannya.


.


.


.


✄................................................


Nara Corner :


Maafkan ya dua hari ini ngaret terus update nya. Daku kurang tidur, kerja keras bagai kuda supaya nggak dimarahin atasan karna kerjaan nggak rampung-rampung. Curhat dikit nggak papa ya


Pokoknya buat kalian yang baca dan ngikutin cerita ini, jaga kesehatan yaaa

__ADS_1


Apalagi kopid masih belum jelas kapan mau pergi, padahal pengen jalan-jalan ini


__ADS_2