Gaung Rasa

Gaung Rasa
Malu Sendiri


__ADS_3

“Tapi jahitannya?”


Ashqar terlihat ragu dan Safira jelas tidak menyukainya. Untuk alasan yang dia sendiri tidak bisa jelaskan secara pasti, Safira ingin Ashqar menginginkannya sama besar seperti ia menginginkan suaminya itu.


“Udah nggak apa-apa, Mas. Ini udah lebih dari empat bulan, harusnya udah kering jahitannya. Apa kita perlu ke dokter dulu buat mastiin?” sungut Safira, menurunkan kedua tangannya dan membuang muka.


Perasaan Ashqar campur aduk. Satu sisi khawatir dengan sisa persalinan Safira, tapi sisi lain dia juga tidak ingin menolak istrinya untuk kedua kali. “Nggak perlu.” Ashqar meraih sisi wajah Safira, mendaratkan kecupan di dahinya. “Maaf bikin kamu sedih dan sakit hati, jadi izinkan aku menebusnya. Boleh?”


Safira tertegun. Berbeda dari sebelumnya, cara Ashqar menatapnya membuat hatinya berdesir. “Dengan senang hati, Suamiku.”


Senyum merekah Safira bagai magnet, medan kuat yang menarik Ashqar jatuh pada pusat yang membuatnya rindu. Manis dan lembutnya bibir Safira merayu Ashqar dengan cara yang menyenangkan hingga mengecupnya saja merupakan tindakan yang sia-sia.


Kamudian perlahan keraguan Ashqar luntur seirama dengan kecupan demi kecupan yang ia layangkan, memimpin Safira seperti biasanya. Mereka menggoda satu sama lain, kerinduan dan keinginan yang lama tertunda seakan menemui ujungnya.


Begitu Safira menepuk pundah Ashqar, pria itu melepaskan cumbuannya dan tertegun melihat bagaimana kacaunya Safira. Wajah memerah dengan napas terengah-engah, bibir bengkak dan keringat mulai turun satu-satu melewati rahang dan jatuh di leher.


“Kita harus mindahin Harsha dulu ke kamar Alvin atau Zain,” gumam Ashqar, mengusap keringat di dahi istrinya.


Safira menggeleng. “Harsha bisa bangun kalau tiba-tiba diangkat dari kasur. Kita lanjutin di sini aja. Gimana?”


“Disini?” ulang Ashqar.

__ADS_1


“Iya, disini. Tapi tutup pintu kamar dan kunci pintu depan.”


“Ini ruang keluarga, Sayang.” Ashqar jelas bingung dengan ide Safira. Dia tidak pernah melakukan hubungan badan dengan istrinya itu selain di tempat tidur setelah malam pertama mereka yang sedikit agak berlebihan.


“Terus kenapa?” Safira menaikan satu lutut, sengaja menggerakannya di bagian selatan Ashqar. Ternyata cukup menyenangkan bisa menggoda suaminya dan menemukan sisi lain Ashqar. “Aku mau kita melakukannya disini, Mas.”


Ashqar mengatupkan giginya rapat, geraman halus terdengar saat Safira semakin berani menggodanya. “Fi, kita bisa kepergok orang lain.”


“Siapa? Tetangga? Atau anak-anak?” tanya Safira, terdengar enteng dan penuh provokasi. Entah bagaimana dia menikmati bisa membuat suaminya kelabakan. “Aku mau kita melakukan itu disini. Mas udah nolak aku dua hari lalu jadi sekarang Mas harus nurutin keinginanku. Sekarang atau nggak sama sekali, paling nggak Mas puasa lagi sebulan kedepan.”


“Nggak akan.” Ashqar tidak bisa berpikir jernih dibawah ancaman Safira dan tekanan atas gairahnya sendiri. Kemudian dengan cepat dia menarik Safira untuk duduk di pangkuannya dan mengekspos istrinya itu satu demi satu secara perlahan.


Ashqar memperlakukannya sebagai satu-satunya yang bisa membuat suaminya itu merasa puas. Bagi Safira tidak ada hal yang lebih melegakan bagi seorang istri saat diinginkan oleh suami sendiri.


“Bu? Ibu baik-baik aja?”


Safira tersentak kemudian menoleh. Dia bekedip beberapa kali dan berhasil keluar dari lamunannya. “I-iya, Mbak Jum. Saya baik-baik aja.”


“Ibu yakin? Wajah Ibu merah, kayaknya demam.”


Safira tertawa sumbang. “Nggak, kok.” Kemudian dia berdeham dan mengatur ekspresi. “Saya baik-baik aja. Mba Jum cepat pulang, kasihan anaknya kalau kelamaan nunggu di rumah sendirian.”

__ADS_1


“Iya, Bu. Saya pamit dan makasih buat izinnya.”


Begitu Mbak Jum menghilang di balik pintu, Safira mulai merutuki dirinya sendiri karena larut dalam ingatan kemarin pagi. Benar, di jam seperti ini dia dan Ashqar melakukannya. Lalu saat Safira menoleh ke ruang televisi dari dapur, wajahnya kembali terasa panas.


“Ya, ampun! Aku kemarin kesurupan apa, sih!” bisiknya, menutup wajah dengan telapak tangan.


Kemudian demi mengalihkan fokusnya dari kejadian kemarin, Safira meraih kantung plastik sampah, mengeluarkan dari temparnya dan membawa kantung besar itu ke luar.


“Cari udara segar di luar kayaknya bisa bikin lebih baik, deh.”


.


.


.


✄................................................


Yang merasa nanggung silahkan praktek sendiri sama pasangan halalnya 🌚


Yang jomlo, yang masih pacaran, yang nunggu dihalalin tapi maju-mundur macem setrikaan, sini! Kita jajan cilok di depan gang 😌

__ADS_1


__ADS_2