Gaung Rasa

Gaung Rasa
Ucapan Perpisahan


__ADS_3

Semua orang yang berada di dalam ruangan VIP Retro Resto menaruh atensi penuh pada Rafa yang sedang bicara. Dia menjelaskan bahwa tujuannya bukanlah untuk memberikan publisitas baik pada Nita, tapi hanya sekedar mempertemuan Ashqar, Safira dan Nita dalam tempat yang sama.


Rafa sudah jelas tidak akan membiarkan adiknya terekspos ke hadapan publik dan menjadikannya sebagai sasaran empuk rasa penasaran warga dunia maya atau bahkan pers. Jadi saat Ashqar mengutarakan ketidak setujuannya siang tadi, Rafa menanggapinya dengan santai. Lagi pula ia memang senang mengganggu Ashqar.


“Dasar tukang bohong!” gerutu Safira, melempar tisu ke arah Rafa yang duduk di kepala meja.


Rafa tertawa renyah. “Jangan marah-marah, adikku sayang.” Rafa menatap Ashqar jahil. “Ada yang mau dikatakan, Dek Ashqar?”


Siku-siku imajiner tergambar di pelipis Ashqar. Sindiran langsung itu membuat Ashqar ingin memukul wajah Rafa yang dihiasi senyum mengejek memuakan. Untung saja momennya tidak pas.


“Jangan ketemu anak istriku selama sebulan,” ucap Ashqar dingin.


“Wei! Wei! Jangan sembarangan kamu,” geram Rafa. “Mainnya jangan ancaman, dong.”


Ashqar menaikan bahu dan membuang wajah acuh. Mungkin orang lain yang mendengar pertengkaran mereka akan berpikir jika mereka hanya bercanda atau hanya sekedar omong kosong, tapi Ashqar yakin jika Rafa tahu bahwa ucapannya benar-benar ancaman yang akan menjadi kenyataan.


“Mas Rafa beneran posesif banget ya sama Safira,” celetok Nita, menutup mulut karena menahan tawa.


“Bukan posesif lagi, tapi gila,” kata Safira, disambut tawa kecil tiga orang lainnya kecuali Rafa tentu saja.


Ucapan Safira memberikan pukulan telak terakhir bagi Rafa yang baru akan membuka mulut. Wajah Rafa bahkan langsung berubah masam setelah mendengar ucapan Safira. Namun, siyalnya ia tak bisa membuka suara untuk membujuk Safira demi mempertahankan citranya di depan Nita.


Ditengah-tengah tawa Safira dan Nita yang masih mengalun, Ashqar berdeham dan membuat keduanya langsung terdiam menatap Ashqar.


“Jadi tujuan kamu benar-benar cuma mau berpamitan aja?” tanya Ashqar pada Nita pada akhirnya.


Nita terdiam lalu menatap pria tampan di sampingnya. Pria yang sebelumnya Rafa kenalkan sebagai kekasih Nita yang dicari dan ditanyakan banyak wartawan selama ini. Surya Dika Ananta, pengusaha properti asal Malang yang sudah mengencani Nita lebih dari setahun.


Saat Dika mengangguk halus, Nita memberanikan diri menatap Ashqar dan membuka mulut. “Iya, sama ... mau ketemu Zain sebenernya. Karena aku takut kalau bakal nggak bertemu buat waktu yang lama.”

__ADS_1


“Loh? Bukannya cuma beberapa minggu atau bulan aja? ‘Kan, buat casting aja,” sahut Safira.


Nita tersenyum miris. “Tujuan awalnya emang gitu, Fi. Tapi Mas Rafa kasih jalan buat coba mengembangkan karir disana.”


“Jadi maksudnya gimana, sih?”


“Fira Zarini,” panggil Rafa lembut. “Nita ke Inggris emang memenuhi undangan casting, tapi nggak cuma itu. Nita bakal menetap disana buat beberapa waktu yang nggak bisa ditentukan buat mengembangkan karir disana, jadi emang pertemuan ini bisa jadi pertemuan terakhir.”


“Tunggu. Tunggu. Terakhir?” Safira mengalihkan pandangan dari Rafa ke Nita. “Mbak Nita masih bisa bolak-balik ke Indonesia sesekali buat ketemu Zain, dong?”


Nita menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu menatap Safira lurus. “Nggak bisa, Fi. Mungkin aku disana buat beberapa tahun kedepan, fokus hanya untuk mengejar karir. Kalau aku bolak-balik, takutnya nanti ditengah jalan aku goyah.”


“Aku masih nggak paham.”


“Pekerjaan Nita adalah salah satu pekerjaan yang nggak pasti,” terang Rafa. “Kalau dia nggak membulatkan tekat dan tiba-tiba berhenti ditengah jalan karena keseringan bolak-balik Inggris - Indonesia, sementara dia sendiri udah meninggalkan karirnya disini maka memulai lagi bukan hal yang mudah.”


“Kalau gitu tetep disini aja. Ngapain Mbak Nita harus ke luar negeri kalau bakal jauh dari Zain. Gimana aku mau mendekatkan kalian nantinya?”


“Aku sangat beruntung kamu yang jadi ibu Zain sekarang,” ucap Nita lirih, memecah keheningan. “Kalau aja yang jadi istri Ashqar adalah orang lain. Belum tentu orang itu akan memperlakukan aku sebaik kamu bahkan kamu mau membuat Zain mengakui aku sebagai ibu kandungnya.”


Ucapan Nita adalah kebenaran yang tak bisa disangkal, terutama oleh Ashqar. Jika bukan Safira, sudah pasti Nita tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu Zain bahkan dalam jarak 5 meter sekalipun. Mungkin juga bisa saja Ashqar sendiri tak bisa memiliki Zain dalam perawatannya mengingat beberapa perempuan yanh dekat dengannya dulu tak menyukai status duda beranak satu yang Ashqar sandang.


“Keinginanku itu semata-mata untuk Zain aja, mbak. Makanya aku harap mbak nggak jauh dari kami, tapi ... kalau perginya mbak ke Inggris udah jadi keputusan bulat ya mau bagaimana lagi. Aku harap mbak bisa sukses disana dan sekalipun mbak jauh, mbak harus tetep jaga komunikasi.”


“Iya, itu pasti. Makasih banyak Safia, Ashqar, buat semua yang kalian lakukan selama ini. Maaf karena membuat hidup kalian sulit kemarin.”


Wajah Nita kembali memerah karena tangis yang tertahan, padahal netranya sudah berkaca-kaca.


“Nggak perlu berterimakasih, mbak. Mudah-mudahan mbak sukses disana, ya.”

__ADS_1


Nita mengangguk sambil menindukan wajah dan menutup mulutnya. “Aku titip Zain. Tolong jaga dia seperti kamu jaga dia selama ini.”


“Udah. Udah. Jangan buat pertemuan ini jadi acara perpisahan yang sedih,” seru Rafa, merusak momen. “Ayo makan dulu, baru kita lanjut ngobrolnya.”


Ashqar dan Safira memutar bola secara bersamaan dan tanpa sengaja bertemu pandang. Membuat keduanya mengulum senyum. Safira berjengit kecil saat tangannya yang berada di pangkuan digenggam oleh Ashqar.


Namun, alih-alih menepis sebagai respon keterkejutan, Safira justru mengeratkan genggaman tangan mereka. Memberikan isyarat bahwa semuanya akan menjadi lebih baik mulai sekarang dan Safira yakin itu.


Mungkin hari-hari kedepan tidak akan mulus, tapi begitulah hidup. Kesenangan dan kesulitan selalu beriringan.


.


.


.


✄................................................


**Tamat


Nara Corner* :


Makasih buat kalian semua, teman-teman online* -ku yang udah setia ngikuti cerita nggak jelas ini 🤗


Sampailah kita diujung cerita. Maaf kalau cerita ini banyak banget kurangnya, mulai dari alur yang nggak jelas, update yang jarang dan lain-lain yang bikin cerita ini setahun baru selesai.


Buat yang penasaran sama cerita masa lalu Safira, maaf banget aku nggak kasih kalian chapter khusus karena emang nggak niat buat aku tulis dari awal dan cuma jadi cerita buat nguatin alur dan karakter Safira sendiri. Tapi aku harap kalian bisa menyimpulkan sendiri gimana masa lalunya.


Terus cerita sulung kesayangan kalian semua a.k.a Alvian Saputra, belum tahu kapan mau aku tulis meskipun udah ada sinopsis dan beat sheet -nya dan nggak tau juga mau aku lempar kemana karena hasilnya adalh cerita Alvin remaja disaat dia sidang adopsi buat jadi anak angkat sah Ashqar - Safira. Bocoran dikit 🤣 yang jelas nggak dalam waktu dekat karena aku gumoh sama cerita ini wkwkkk

__ADS_1


Well, see u di cerita selanjutnya. 🥰🥰🥰


__ADS_2