
"ugh... Ririn... bantu aku..." ucap Yui kesulitan mengangkat semua barang-barang itu
aku pun berjalan ke pintu dan membawa masuk barang yang di bawa Yui
"ah, capek sekali..." ucap Yui dan duduk di sofa
"lho? gelas pecah? ada apa, Ririn?" tanya Yui
"ah, tadi tanganku hanya licin dan gelasnya terjatuh" ucap ku
"apakah ada yang luka? ada yang sakit?" tanya Yui dan melihat tangan ataupun kaki ku
"aku baik-baik saja" ucap ku
"aku akan bereskan ini dulu. kau istirahatlah" ucap ku
aku pun membersihkan lantai itu, lalu keluar untuk membuang pecahan gelas itu. saat aku membuka tutup tong sampah
"yo! kita bertemu lagi"
"WAA!!" aku kaget saat membuka tong sampah ada hantu di dalamnya
aku langsung melempar kantong berisi pecahan kaca itu ke dalam tong sampah itu, menutupnya lalu pergi dan tak peduli dengan hantu itu. aku kembali masuk.
"Ririn, aku dengar jeritan kau tadi. kenapa?" tanya Yui
"ah, ada kecoa di tong sampah. aku kaget tadi" ucap ku
"yaudah, ayo masak. aku sudah lapar" ucap Yui
kami masak, dan makan. setelah itu, Yui pergi untuk mandi dan aku kembali ke meja untuk menyelesaikan tugas sekolah. saat aku menulis, tiba-tiba ada yang datang menghampiriku
"hei, kau tadi terlalu kasar! masa aku dilempar sampah?" ucap hantu yang ada di tong sampah tadi
"salah siapa yang ada disana??!" ucapku kesal
"tapi, kau kan bisa menyuruh---"
kata-kata hantu itu dipotong olehku. aku tidak ingin mendengar alasannya lagi. dan sejak kapan aku menjadi tidak takut lagi dengan mereka
"sudah cukup! pergi sana dengan teman-teman sehantu mu itu! aku manusia, dan aku harus menjalankan kehidupanku! aku tidak punya waktu untuk kau!" ucap ku mengibas-ngibas tangan menyuruhnya pergi
"jahat..." ucap hantu itu lesu dan pergi
"aku tidak mau peduli dengan hantu itu. aku harus mengerjakan tugas ini secepatnya" pikir ku
aku mengerjakan tugasku, mandi, dan berbaring di atas kasur bersama Yui
__ADS_1
"Ririn, kau tahu? tadi saat aku pergi ke supermarket ada anak kecil sedang berlari, dan tercebur ke selokan, dan anak yg tercebur itu menarik temannya masuk bersamanya! hahahaha, lucu sekali!" ucap Yui
Yui menceritakan kejadian saat ia pergi tadi, dan akhirnya kami membicarakan hal-hal yang tak berhubungan dengan cerita Yui lagi. kami terus bercerita hingga larut malam dan tanpa sadar kami sudah tertidur.
saat aku tidur pulas, tangan kanan ku terasa sakit karena aku tidur menghadap ke kanan dan tubuhku menimpa tangan kanan ku. aku pun membalikkan tubuh ku ke arah kiri. saat aku berbalik, aku merasa seperti ada 'sesuatu' yang aku timpa. aku pun mengambil 'sesuatu' itu. saat aku pegang, aku merasakan memegang tangan seseorang.
lalu aku kembali menghadap ke kanan untuk melihat Yui. aku melihat Yui tidur membelakangi ku. jadi tangan itu bukan milik Yui. aku mulai tegang dan kembali melihat ke kiri. ternyata ada Izumi berbaring di sebelah ku dan sekarang sedang menatap ku. wajah kami sangat dekat
"hai" ucap Izumi senyum
"KYAAAA" aku kaget dan tanpa sadar menjerit
"umh... Ririn, kau mimpi buruk lagi?" tanya Yui yang mengantuk
"ah, eh... um... iya" ucap ku panik
"Ririn, kali ini kau mimpi apa lagi?" tanya Yui
"i... itu..." aku bingung harus menjawab apa
"Ririn, kau katakan saja pada kepala sekolah kalau kau melihat hantu di sekolah. dengan begitu, kepala sekolah akan mengusir mereka, dan kau takkan mimpi buruk karena di hantui mereka lagi" ucap Yui
"berisik. mengganggu saja" ucap Izumi
"ctak..." Izumi menjentikkan jarinya, dan Yui langsung ambruk
"Yui, bangun! bangun!" ucapku dan menggoyang-goyangkan tubuhnya
aku menoleh ke belakang ku, ke arah Izumi
"kamu! apa yang kau lakukan ke Yui?! ia tak ada hubungannya, kau tak perlu melakukan hal seperti itu!!" ucap ku emosi
"aku tak melakukan apa-apa. aku hanya membuatnya tidur saja" ucap Izumi dengan ekspresi tidak bersalah
"kalau begitu, kenapa kau disini??!" ucapku dengan wajah kesal
"aku tak melakukan apapun!" ucap Izumi mengangkat tangannya
"lagi pula, aku sudah bilang kalau aku akan ke sini saat malam hari" ucap Izumi
aku pun mencoba mengingat perkataannya Izumi
"sekarang kami sudah harus kembali ke sekolah. sampai jumpa nanti malam"
"apakah saat itu" pikir ku
"tapi tidak sopan ke kamar perempuan! meski kau adalah hantu sekalipun!" ucapku
__ADS_1
"padahal sebelumnya juga aku pernah menginap disini. kenapa baru sekarang paniknya?" tanya Izumi
"situasinya sekarang beda! sekarang aku bisa melihatmu dan dapat menyentuhmu seperti manusia normal! dan lagi, aku tidak tahu jika kau disini selama ini" ucap ku
"sekarang kau sudah tahu, jadi tidak masalah aku disini" ucap Izumi
"tidak! cepat pergi!" ucap ku dan menunjuk pintu kamar
"kau juga berisik. tidur sana!" ucap Izumi lalu menjentikkan jarinya. seketika mataku terasa berat dan ambruk.
saat aku terbangun, aku melihat di kamarku hanya ada aku dan Yui. Izumi sudah tidak ada lagi. aku pun bangkit dari kasur dan bersiap-siap untuk sekolah.
setelah sampai di sekolah, dan berpisah dengan Yui, aku pun mencari Izumi. ternyata dia ada di dalam kelasku dan duduk di kursi ku
"apa yang kau lakukan?" tanya ku
"kau bisa melihat kan? aku sedang duduk. memangnya apa lagi?" ucap Izumi
"maksudku, kenapa kau mau duduk di kursiku" ucap ku
"memangnya tidak boleh?" tanya Izumi
"tidak!" ucap ku
"tapi ini kan kelas ku juga..." ucap Izumi
"sekarang ini kelas kami, namun kau tak termasuk!" ucap ku tegas
"kau ini! padahal ini kursiku, tapi kau asal duduk saja dan bilang aku bukan dari kelas ini??!" ucap Izumi
"iya! kau bukan termasuk di kelas ini sekarang" ucap ku
"dasar manusia... mulutnya sangat tajam..." ucap Izumi memegang dadanya
"hmmh!..." aku berdehem bangga karena baru kali ini aku menang melawan Izumi
"jangan senang dulu. kau lihat sekelilingmu..." ucap Izumi menunjuk ke sekelilingku dengan sebelah tangannya masih memegang dadanya
aku pun berbalik melihat ke belakang dan sekelilingku.
"...." aku tak dapat berkata-kata. mereka semua melihat ke arahku
"a... ada apa?" tanya ku dengan semua teman di kelas ku
"Yurin, kenapa kau bicara sendiri?" tanya Mesha
"ah, benar juga... Izumi kan tidak bisa dilihat mereka. jika aku berbicara dengannya, jadi terlihat seperti aku bicara sendiri..." pikir ku
__ADS_1
aku pun menoleh ke Izumi. dia tersenyum dengan penuh arti. aku tahu dia sengaja mau menjebakku agar menjadi bahan perbincangan di kelas