
*Episode 146 : (Menjadi Roh: Semakin di Atas, Angin Berhembus Semakin Kencang)
Disaat para roh sedang semangat-semangatnya melenyapkan si peneror sekolah, Izumi, datang 3 orang pemburu roh yang juga bertujuan melenyapkan Izumi, yaitu ayah Ayui, Iruki juga kedua rekannya.
Ketiganya mengobrol singkat sebelum melakukan penyerangan.
"Ayo kita selesaikan pekerjaan kita. Putriku, Ayui menyuruhku pulang cepat"
"Hubunganmu dengan putrimu sangat bagus ya. Tapi kenapa kau setuju memasukkan putrimu ke sekolah ini?" Tanya si wanita
"Ayui juga punya kekuatan yang mirip denganku. Dia juga sudah belajar menjadi pembasmi roh. Selain itu, Ayui jugalah yang sejak awal berinisiatif masuk sekolah ini. Terlepas dari roh yang bergentayangan, sekolah ini sangat bagus di pendidikan. Sebagai ayah, aku juga mendukungnya"
"Begitu. Selain sekolah yang memang bagus, kau setuju memasukkannya ke sini saat SMA nanti juga untuk memastikan roh itu sepenuhnya sudah tersegel, ya"
"Ya. Para roh jahat terus membuat ulah pada manusia. Itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dan aku juga percaya pada Ayui"
"Kau masih marah karena 'kejadian itu'?"
"..."
"Ayo sekarang kita selesaikan tugas kita"
"Kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan"
*
**
35 tahun yang lalu....
"Hahahaha"
Terdengar suara tawa anak-anak yang tengah bermain di halaman rumah yang terlihat klasik dan bersejarah.
"Irukiii, aku akan menangkapmu!!"
"Aahh, tidaakk! Hahahaha!"
"Hap! Kau tertangkap!"
Mereka adalah Iruki kecil yang masih berumur 5 tahun, bersama dengan kakak perempuannya yang lebih tua 2 tahun darinya. Seperti biasa, mereka berdua bermain bersama di halaman rumah mereka.
Lalu, di semak dekat pagar rumah mereka...
Srek, srek....
"Hm?"
"Halo..."
Tiba-tiba muncul seorang anak kecil perempuan yang tampak seumuran dengan Iruki. Anak itu terus menatap ke arah Iruki, juga Iruki balas menatap anak kecil itu dengan bingung.
"Kenapa kau disini?" Tanya Iruki
Anak perempuan itu kaget.
"Ah--- Itu..." Gumam anak perempuan panik
"Kau bicara dengan siapa?" Tanya kakak Iruki sambil menatap bingung Iruki.
Dengan wajah polosnya, anak perempuan itu perlahan mendekati Iruki dan kakak perempuannya.
"Apa... Aku boleh ikut bermain?" Tanya anak kecil itu agak ragu.
Iruki makin menatap bingung anak itu.
Iruki langsung merapat ke kakaknya dan berbisik.
"Kak, siapa anak aneh itu? Kakak mengenalnya?Bagaimana dia bisa masuk ke dalam lingkungan rumah kita?" Bisik Iruki
"Um... Iruki..." Gumam kakaknya dengan senyum pucat pasi
"Kau... Kau melihat sesuatu lagi? Disana... Tidak ada apa-apa"
"Eh?"
Iruki balik menatap ke arah anak kecil tadi. Seketika dia sudah tidak ada lagi, entah dimana.
"Tadi... Ada anak kecil di dekat semak sana..." Gumam Iruki.
Ya. Iruki sudah bisa melihat dan berkomunikasi dengan roh sejak ia kecil hingga ia tidak ingat kapan pertama kali melihat dan berbicara dengan roh. Tapi, kakaknya adalah manusia biasa yang tidak bisa melihat hal-hal yang halus seperti itu.
Karena itulah, terkadang kakaknya sendiri takut dengan Iruki karena dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kakaknya lihat.
*
Hal serupa sering terjadi. Iruki tiba-tiba berbicara sendiri dan melakukan hal aneh hingga membuat kakaknya merinding.
Mereka yang awalnya sangat dekat, makin lama mereka makin menjauh. Di umur Iruki yang ke 11 tahun, ia dan kakaknya sudah bagaikan orang asing. Kakaknya menyibukkan diri dengan memasuki banyak ekskul dan kegiatan di sekolah agar tidak buru-buru pulang dan bertemu adiknya.
Sebenarnya, Iruki tidak membenci kakaknya. Bahkan saat itu Iruki tidak tahu alasan kakaknya menjauh darinya.
Hingga di suatu malam...
Saat jam sudah menunjuk angka 10, Iruki sedang berjalan di koridor rumah setelah ia selesai bertemu dengan roh di belakang rumahnya.
Ketika ia melewati ruangan ayahnya, ia mendengar sedikit keributan didalam. Padahal biasanya ruangan ayahnya selalu senyap.
Itu mengundang rasa penasaran Iruki. Ia pun diam-diam menguping pembicaraan didalam.
"Kenapa, Ayah?!"
"Itu suara kakak" Pikir Iruki
"Kau masih tidak cukup dewasa untuk pergi dari rumah ini" Jawab Ayahnya
"Pergi?!" Pikir Iruki kaget
"Tapi Ayah! Aku sudah tidak nyaman disini. Hanya dengan melihat Iruki saja sudah membuatku merinding. Lalu, akhir-akhir ini juga aku jadi sering mendengar sesuatu di kamarku. Aku tidak tahan!"
"Biarkan aku pergi saat akan masuk SMA!"
"kau terlalu terburu-buru. Masih ada waktu 1 tahun lagi sampai kau masuk SMA. Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti"
"Ayah!!"
Tap... Tap... Tap...
"Ada yang datang!" Pikir Iruki kaget
Cepat-cepat Iruki langsung bersembunyi dibalik tiang penyangga didekatnya.
Ia melirik ke samping, melihat ayahnya yang berjalan menjauh tanpa melihatnya, lalu disusul kakaknya yang mengejar ayahnya.
"Kakak... Takut denganku?" Pikir Iruki.
__ADS_1
Sejak itu Iruki bersikap seolah tidak melihat roh demi kakaknya agar tidak setakut itu padanya.
Tapi tetap saja. Iruki sudah dikenal bisa melihat roh, dan roh dirumahnya juga sudah biasa berbicara dengannya. Ia tidak bisa berpura-pura tidak melihat roh dengan mudah.
"Hey... Iruki... Ada masalah apa? Wajahmu terlihat tidak baik-baik saja..." Tanya seorang roh perempuan
Roh itu adalah teman Iruki. Dia sering bermain dengan Iruki. Melihat temannya terlihat ada masalah, roh itu ingin bertanya pada Iruki.
Namun Iruki tidak menanggapinya dan terus berjalan.
"Iruki... Iruki... Hey, Iruki..."
Iruki sudah kesal. Akhirnya ia menatap roh itu dengan tajam.
"Ke... Kenapa? Kau tidak pernah menatapku seperti itu sebelumnya..." Gumam si roh tak percaya
"Jangan ajak aku bicara lagi!!" Teriak Iruki kesal dan kembali berjalan.
*
Dengan penuh susah payah, Iruki terus mengabaikan para roh yang sudah biasa dia ajak bicara.
"Iruki... Iruki..."
"Kenapa kau... Mengabaikan kami..."
"Iruki..."
"Berisik sekali..." Gumam Iruki
"Apa?"
"Kubilang kau berisik sekali!" Teriak Iruki
"Aku sibuk! Pergilah!" Lanjutnya
Meski begitu, roh masih tidak kapok mendekati Iruki.
Lalu, di ulang tahun Iruki ke-12 tahun, dia diberi kejutan oleh para roh di rumahnya.
"Iruki, selamat ulang tahun!"
"Kali ini pun ayo berpesta seperti tahun-tahun sebelumnya..." Ucap seorang roh dengan antusias.
Namun, hanya para roh saja yang senang. Iruki yang bersangkutan justru tidak memasang ekspresi apapun.
"Iruki?"
"Akhir-akhir ini... Tidak, sejak tahun lalu kau terlihat aneh, Iruki..."
"Berhentilah mendekatiku, kalian semua" Gumam Iruki
Suasana yang tadinya ceria sekarang berubah jadi sunyi dan dingin.
Tanpa basa basi Iruki pergi meninggalkan kerumunan roh di sekelilingnya.
1 bulan kemudian, pembahasan soal kakaknya yang akan pergi kembali muncul.
Disaat Iruki sedang duduk santai dibawah pohon, ia melihat kakaknya sedang berjalan mengejar ayahnya.
Iruki yang tahu apa yang akan kakaknya bicarakan dengan ayahnya, memutuskan untuk membuntuti mereka.
"Ayah, sekarang aku sudah kelas 3 SMP dan akan lanjut SMA. Aku akan kembali bilang, aku akan pergi dari sini"
"Kau masih berumur 14 tahun. Ayah tidak bisa melepasmu begitu saja"
"Aku bisa hidup mandiri, ayah! Aku juga akan tinggal bersama bibi, jadi aku tidak sepenuhnya lepas dari keluarga. Bibi akan menjagaku"
"Tidak bisa. Kau adalah putriku yang berharga. Mana bisa ayah membiarkanmu seperti itu"
"Memangnya apa alasanmu pergi dari sini? Kau tak kekurangan apapun disini"
Kakak Iruki menggertakkan giginya lalu menatap ayahnya.
"Selama di rumah ini aku selalu merasa merinding dan tidak nyaman! Aku terus merasa dilihat seseorang, padahal tidak ada siapapun. Tengah malam aku terbangun oleh suara-suara aneh. Aku tidak betah terus disini!"
"Itu hanya perasaanmu saja"
"Tidak!! Tidak mungkin itu hanya perasaan saja padahal hal itu terus terjadi bertahun-tahun!"
"Ini pasti gara-gara Iruki!! Dia mengajak teman makhluk halusnya datang ke sini!!"
"Haah..." Ayahnya menghela nafas panjang
"Hentikan pembicaraan ini. Kau perlu waktu menjernihkan pikiranmu"
Ceklek... Blam...
Ayahnya langsung masuk ke ruangannya meninggalkan kakak Iruki yang masih berdiri di depan pintu.
*
Keesokan harinya...
Tok tok tok.
"Ada ap---"
"Kak"
Iruki menemui kakaknya yang ada di kamar. Dengan wajah kaget, kakaknya refleks mundur begitu melihat Iruki.
"Aku... Aku sedang sibuk. Kalau ada yang mau kau bicarakan, nanti saja"
Dengan tergesa-gesa kakaknya menutup kembali pintu kamarnya. Namun sebelum pintu tertutup, Iruki lebih dulu menahannya.
"Aku dengar kakak mau pergi dari rumah ini"
"Jadi kenapa kalau aku pergi?"
"Alasan kakak pergi karena takut denganku?"
Mendengar ucapan Iruki, kakaknya mengernyitkan dahinya dan menatap kesal Iruki.
"Kau berisik sekali. Kalau cuma itu yang mau kau katakan, cepat kembali ke kamarmu!" Teriak kakak Iruki
"Aku tidak... Berteman dengan hantu. Jadi jangan pergi dan tetaplah disini" Gumam Iruki
Kakak Iruki menyeringai dan menatap Iruki dengan amarah.
"Tidak berteman? Lelucon macam apa yang kau katakan padaku di pagi hari seperti ini?!"
"Dulu mungkin iya. Tapi sejak tahun lalu aku sudah tidak lagi berteman dengan mereka. Aku juga sudah belajar menjadi manusia normal biasanya"
Dengan kesal, kakak Iruki mendecakkan lidahnya.
__ADS_1
"Aku muak mendengarnya! Cepat pergi!!" Teriak kakaknya dan mendorong pintunya makin keras. Tentunya, Iruki juga mengeluarkan tenaganya mengimbangi kakaknya.
"Kau ini tidak mengerti dengan kata pergi, ya?!" Teriak kakaknya kesal
"Aku akan terus disini sampai kakak memutuskan untuk tetap disini"
"Aku pergi tidak ada hubungannya denganmu!!"
"Alasan kakak pergi karena aku. Jadi aku akan meyakinkan kakak kalau aku tidak seperti yang kakak pikirkan"
"Ya! Kau tahu kalau kau penyebabnya, kan?"
Kakaknya membuka pintunya, lalu menarik Iruki pergi mengikutinya.
Kakaknya membawa Iruki menemui ayah mereka di ruang kerja.
Brak!
"Ada apa ribut-ribut di ruang kerja ayah" Ucap ayahnya tegas
"Ini mengenai aku yang akan pergi itu, ayah!"
"Sudah berapa kali ayah katakan. Ayah tidak akan memperbolehkan kamu---"
"Aku tidak akan pergi!"
Mendengar pernyataan mendadak dari putrinya, dia kaget hingga mematung untuk beberapa saat.
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Ya. Asalkan..."
"Usir Iruki dari rumah ini!"
Sontak Iruki dan ayahnya kaget mendengarnya.
"Kenapa..." Gumam Iruki tak percaya
"Kau tau alasan aku pergi karena kau. Makanya kau mendatangiku agar tidak pergi, kan? Aku tidak akan pergi jika kau pergi"
Kakaknya langsung menatap ke arah ayahnya.
"Siapa yang akan ayah pilih? Aku atau Iruki yang akan tetap disini?"
"Haaah..." Ayahnya menghela nafas berat, melihat kelakuan putrinya.
"Seandainya... Ibumu sekarang masih ada. Dia sekarang pasti kecewa melihatku tidak bisa bertindak tegas" Gumam ayahnya
Begitulah. Ibu Iruki meninggal sejak ia masih sangat kecil. Iruki bahkan sudah lupa bagaimana rupa ibunya.
Perlahan ayahnya berbalik membelakangi Iruki dan kakaknya, lalu berjalan kembali ke meja kerjanya.
"Kalian berdua keluarlah. Ayah masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan"
"...."
Keduanya pun keluar dari ruang kerja ayah mereka.
"Kakak... Membuat ayah sedih" Gumam Iruki dengan kepala tertunduk
"Kau pikir aku melakukan itu karena siapa?!"
Iruki yang sudah kesal dengan kakaknya dengan cepat menatap kakaknya penuh amarah.
"Kakak sangat egois! Padahal aku tidak melakukan apa-apa. Kakak selalu menyalahkan dan mengabaikan aku hanya karena bisa melihat makhluk halus. sejak awal aku tidak mengharapkan mendapatkan kemampuan aneh ini!!" Teriak Iruki
"Aku juga tidak berharap mengabaikanmu! Tapi jika kau seperti itu, siapa yang tidak takut denganmu?!" Balas kakaknya
"Dan lagi, kau bilang kau tidak melakukan apa-apa? Kau yang membawa teman makhluk halus ke rumah itu 'tidak melakukan apa-apa'? Dari tadi yang aku dengar kau terus mengatakan hal lucu!"
"Aku tidak membawanya!! Mereka sudah ada disini sejak awal! Aku juga hanya berbincang ringan saja dengan mereka. Dan sejak tahun lalu aku sudah tidak menemui mereka lagi!" Bantah Iruki
"Bohong!!"
"Kau pikir... Aku akan percaya?..." Gumam Kakaknya
Kakak Iruki langsung berbalik dan lari meninggalkannya. Iruki tidak melakukan apa-apa dan hanya menatap kakaknya yang lari menjauh.
Tanpa sepengetahuan Iruki, ia tidak sadar kalau roh perempuan yang biasa jdi temannya itu terus memperhatikannya.
"Alasan Iruki pergi dari kami... Karena... Kakaknya..." Gumam si roh.
*
Beberapa hari kemudian...
Ketika Iruki sedang berolahraga dihalaman belakang rumahnya saat sebelum matahari muncul, ia dikagetkan oleh teman roh perempuan itu.
"Iruki"
Namun Iruki mengabaikannya seolah tidak melihat dan tidak mendengar panggilannya.
"Iruki, Iruki, Iruki!!"
Mau bagaimanapun, Iruki tetap tidak mempedulikannya.
Setelah bebrapa saat, Iruki menghela nafas dan menatap roh itu dengan wajah datar.
"Kau..." Gumam Iruki
"Ya?" Tanya si roh semangat
"Pergilah dari sini bersama yang lainnya"
Ucapan Iruki bagai pukulan keras bagi roh itu. Dia langsung tersentak kaget mendengar pernyataan Iruki.
Roh itu yang awalnya kaget, tiba-tiba berubah menatap tajam Iruki.
"Jangan bilang lagi-lagi karena kakakmu itu?!" Gumam si roh kesal
"Biarkan saja dia pergi dari rumah ini. Itu kemuannya sendiri!! Kenapa kau yang repot karnanya, hingga malah mengusir kami?!" Teriaknya
"Kau tidak salah. Itu karena kakakmu yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Dia tidak peduli denganmu, tidak ada alasan kau harus peduli dengannya!!"
Namun Iruki tidak mengubah pikirannya.
"Bagiku, keluarga lebih penting dari segalanya walau bagimanapun sifat kakak" Ucap Iruki datar.
"Kakak tidak nyaman dengan keberadaan kalian. Jadi aku akan mengusir kalian dari rumah ini bagaimanapun caranya"
Iruki pun menyudahi olahraganya dan berjalan masuk ke rumah.
"Begitu... Ternyata begitu... Jadi itu yang kau pilih, Iruki?..." Gumam si roh
"Kau pikir... Aku akan diam saja?... "
__ADS_1