
"kau mau mendapat nilai bagus dengan usahamu sendiri, kan?" tanya Izumi
"iya" jawabku cepat
"kalau begitu, jawabannya adalah aku yang mengajarimu" kata Izumi yakin
"kenapa harus kau yang mengajariku?" tanyaku
"pertama, pelajaran yang aku ajarkan adalah inti dari pelajaran itu. aku akan menjelaskannya dengan bahasa yang paling mudah dimengerti" jelas Izumi
"kedua, sudah terlambat jika kau ingin les disaat sekarang ini. ketiga, jika kau ingin belajar dengan temanmu yang pintar, mungkin saja dia akan menjebakmu dengan memberi penjelasan yang salah" lanjut Izumi
"keempat, karena kau terikat denganku, meski aku tak punya kewajiban mengajarimu, tapi aku akan malu jika nilai ulanganmu jelek. dan yang terakhir, kelima, karena aku ingin melakukannya" ucap Izumi
meski aku agak bingung dengan yang diucapkan Izumi, tapi setidaknya aku mengerti maksud dari ucapannya
"jadi intinya... kau ingin jadi guru les untukku?" tanyaku
"kira-kira seperti itu" jawab Izumi
"kalau begitu, tolong ajarkan aku" ucapku
"meski aku bilang akan mengajarimu, tapi kau coba pahami sendiri dulu. jika memang kau tidak bisa baru aku jelaskan" ucap Izumi
"kau harus baca dahulu, baru kau tanya apa yang kau tak mengerti" ucap Izumi
"baiklah" aku mengangguk
aku langsung kembali membaca buku itu. disaat aku membaca, Izumi menyeret kursi belajar Yui dan menaruhnya di sebelahku.
"kenapa kau duduk disini?" tanyaku
"tentu saja untuk mengawasimu. karena aku sedang memulihkan kekuatanku, jadi aku tidak bisa menggunakan kekuatanku. jika aku terus berdiri, kakiku akan pegal" jawab Izumi
aku kembali membaca buku. tak lama setelah itu aku bertanya ke Izumi
"Izumi, tolong ajarkan aku yang ini" ucapku
"ah, bukan. senior Izumi" lanjutku
"entah kenapa tiba-tiba aku jadi teringat saat pertama kali menemuimu" ucap Izumi sambil tertawa
"panggil saja aku seperti biasa. aku tidak nyaman dipanggil begitu" ucap Izumi dan langsung mengambil buku yang aku pegang.
Izumi membaca sekilas buku milikku dengan pose elegan lalu menaruh kembali buku itu ke meja.
"sangat mudah. kau hanya perlu memasukkan rumusnya. lalu angka ini menjadi begini karena itu hasil kuadrat. setelah itu, semuanya tinggal ditambah" jelas Izumi
Izumi terus menjelaskan dan hampir semuanya aku langsung mengerti apa yang dikatakan Izumi.
__ADS_1
"nah, sekarang coba kau jelaskan kembali apa yang aku katakan barusan" ucap Izumi
aku mengulang penjelasan Izumi sebisaku.
"bagus. kalau begitu, aku langsung jelaskan saja materi selanjutnya" ucap Izumi
Izumi terus menjelaskan. mungkin karena aku kelelahan karena dari pulang sekolah belum istirahat, aku sekarang mulai mengantuk.
beberapa kali aku hampir terjatuh karena merasa sangat ngantuk. dan yang terakhir, karena mataku terasa sangat berat, aku tertidur dan tanpa sadar aku menyandar ke pundak Izumi.
"kau pergilah tidur sekarang. jika kau belajar dalam keadaan seperti ini, apa yang aku katakan jadi tak ada gunanya" ucap Izumi dan menutup buku yang berada diantara kami dan membenarkan posisi dudukku.
"tidurlah. besok aku akan menemanimu belajar lagi" kata Izumi tersenyum dan memegang pundakku agar aku tidak jatuh lagi.
"tapi, bagaimana dengan ibumu?" tanyaku
"sekarang dia baik-baik saja. tak masalah jika aku tak menjenguknya" jawab Izumi
"ceklek"
pintu kamar terbuka. lalu ada seseorang yang masuk ke kamar.
"oh, Ririn. kau sudah kembali?" tanya Yui
"ya. sekitar satu jam yang lalu" jawabku
"ngomong-ngomong, kau dari mana?" tanyaku
"beli cemilan. aku takkan bisa belajar jika tak ada yang aku kunyah" kata Yui menunjukkan sekantong makanan
"tapi kenapa lama sekali?" tanyaku
"saat pergi ke supermarket tadi aku ketemu dengan teman SD ku dulu yang pindah ke sini. jadi kami sedikit bercerita tentang kehidupan sekarang" ucap Yui
Yui berjalan ke meja belajarnya dan melihat kursinya ada di sebelahku. Yui pun berjalan mendekatiku untuk mengambil kursinya.
"Ririn, kenapa kau membawa kursiku ke sini?" tanya Yui
"itu..." aku tak dapat menjawabnya
Yui menyeret kursinya yang masih di duduki oleh Izumi yang kebingungan
"uhh.. sejak kapan kursi ini jadi sangat berat?" tanya Yui
"hey! apa yang kau lakukan?! singkirkan tanganmu!" teriak Izumi dan terus terusan mencoba memukul tangan Yui meskipun dia tahu kalau tubuhnya menembus tubuh Yui
"Ririn... apa kau mendengar sesuatu? aku mendengar suara 'nyiiiiiiing', begitu" kata Ririn
"em... tidak. aku tidak mendengarnya" jawabku
__ADS_1
"aku hanya mendengar suara teriakan Izumi" pikirku
"atau hanya khayalanku saja ya?" gumam Yui dan lanjut berjalan ke meja belajarnya
Izumi berdiri dengan ekspresi sedikit kesal. sesaat kemudian, ekspresi Izumi berubah seperti teringat sesuatu.
Izumi mendekatiku yang sedang berjalan ke kasur
"kau tidurlah sekarang. ada yang harus aku lakukan" ucap Izumi
"aku memang akan tidur meski tak kau suruh" kataku dengan suara kecil
aku membanting tubuhku ke kasur dan langsung tertidur setelahnya.
"haah... masa saat tidur juga harus aku bantu?" Izumi menghela nafas
Izumi mengambil selimut dan menyelimutiku tanpa sepengetahuan Yui.
"aku pergi dulu" ucap Izumi mengusap kepalaku lalu menghilang.
*
keesokan harinya, di hari sabtu, aku terbangun dari tidur lebih awal dari biasanya. mungkin karena semalam aku tidur lebih cepat jadinya sekarang aku bangun lebih cepat.
"aku sudah tidak mengantuk lagi" pikirku
"lebih baik aku belajar saja" pikirku dan beranjak dari kasur ke meja belajar. karena saat aku dan Yui tidur lampu ruangannya dimatikan, jadi aku menghidupkan lampu belajar di mejaku agar tidak mengganggu Yui yang tidur.
aku tahu jika aku belajar matematika, kimia atau fisika, aku takkan mudah mengerti begitu saja. jadi, aku belajar pelajaran yang hanya perlu dibaca dan dihafal. lalu, untuk pelajaran menghitung nanti aku minta Izumi jelaskan.
saat aku sedang berfikir begitu, Izumi datang menemuiku.
"kau sudah bangun? padahal kupikir kau masih tidur" ucap Izumi.
Izumi melihatku sedang memegang buku.
"oh, kau sudah belajar di jam segini?" tanya Izumi
"aku sudah tidak bisa tidur lagi. jadi kupikir lebih baik aku belajar" jawabku
"baiklah. mau aku ajarkan?" tanya Izumi
"nanti saja. kalau pelajaran ini aku rasa aku sendiri juga bisa melakukannya" ucapku
"hoo~? aku suka pelajaran itu. tentu saja aku bisa mengajarimu agar lebih cepat paham" ucap Izumi
Izumi mengajariku pelajaran biologi. lalu pelajaran sejarah, matematika, dan seterusnya hingga siang hari. beberapa kali juga kami istirahat karena aku harus makan dan mandi.
"uwah... ternyata Izumi menguasai semua mata pelajaran... benar-benar diluar dugaan" pikirku kaget
__ADS_1