Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Menjadi Roh : Amarah Terpendam Yang Meledak


__ADS_3

Libur semester pun datang.


Keadaan murid dan guru sekolah sangat tegang dan gelisah meski dihari libur yang seharusnya hari yang ditunggu-tunggu.


Itu karena....


"Kalian semua... Aku tidak akan memaafkan kalian..."


"Jangan harap... Kalian bisa tenang selama masa hidup kalian..."


Aku terus meneror orang-orang bahkan didalam mimpi mereka.


Beberapa dari mereka, terutama murid dari kelasku mulai mengalami gangguan jiwa karena stres dan depresi yang berlebihan.


Mereka mulai takut untuk tidur karena terus bermimpi buruk, dan akhirnya berdampak pada kesehatan tubuh mereka.


Saat semester baru dimulai, itu juga adalah hari dimana aku memulai teror yang sesungguhnya.


Aku menampakkan diriku yang bersimbah darah sedang berdiri di depan pintu kelas saat orang sedang ramai-ramainya berlalu lalang di koridor.


"Kyaaaaaaaa!!! Hantu!! Ada hantuuu!!!"


Semua orang sangat heboh berteriak ketakutan.


Mendengar teriakan mereka yang ketakutan, itu adalah kesenangan baru untukku.


"Sekarang aku mengerti. Ternyata seperti ini rasanya..." Gumamku sambil menyeringai


"Lagi... Teriak lebih keras lagi!!"


Aku tak henti-hentinya menghantui mereka semua.


Lalu, salah seorang laki-laki di kelasku bunuh diri karena depresi terus aku hantui.


Dia bunuh diri di kamarnya dengan menggantung diri.


*


"Hiks... Hiks..."


Pemakamannya ramai dan semua orang menangis. Namun, diantara banyaknya orang yang melayat, ada seorang perempuan yang tangisannya sangat keras.


"Kenapa kau malah bunuh diri??... Kenapa kau meninggalkanku sendirian??"


Perempuan itu adalah pacar dari laki-laki itu.


Dia terus menangis terisak-isak bahkan setelah acara pemakamannya selesai.


3 hari kemudian, perempuan itu meninggal karena bunuh diri juga di kamarnya dengan cara yang sama dengan pacarnya.


Padahal, perempuan itu adalah anak yang cukup terkenal di sekolah.


Karena dia populer, kabar kematiannya menggemparkan siswa di sekolah, terutama teman-teman dekatnya.


Mereka masih tidak percaya teman mereka memilih ikut bersama pacarnya pergi dari dunia.


Saat pulang sekolah karena tidak fokus berjalan, tanpa sadar 3 murid perempuan yang merupakan teman dari gadis populer itu menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri lagi.


Dari persimpangan, muncul sebuah truk yang melaju, dan...


Crat...


Ketiganya terlindas truk.


Darah segar mengalir membasahi jalan raya, dan keadaan mulai ramai dipenuhi orang-orang.


*


Suasana di sekolah makin tegang. Mengenai kasus kematianku juga tidak ada yang mengetahuinya, karena semua saksi sudah mati kecuali si pelaku, yaitu Kirian, Maeru, Rio dan Rusen.


Tentu saja, si pelaku tidak akan pernah membuka mulut mereka untuk mengaku.


Kepala sekolah tidak tinggal diam melihat hal aneh di sekolah akhir-akhir ini.


Kepala sekolah mulai menyewa detektif dan beberapa orang pintar untuk mengetahui penyebab kematian beruntun di sekolah.


Namun...


Ditengah penyelidikan itu, semua orang yang dipanggil kepala sekolah mati dan hilang dengan penyebab tidak diketahui.


Orang di kelasku pun mulai yakin kalau ini semua karenaku.


"Pasti!! Ini pasti karena arwah gentayangan Arato Izumi!!"


"Dia mau hidup ataupun mati sangat suka menyusahkan orang lain"


"Sudah cukup... Aku tidak mau terus menderita seperti ini..."


Mereka telah membuatku sangat marah.


Aku menampakkan diriku pada mereka dengan penuh amarah.


"Kyaaaaaa!!!"

__ADS_1


Mereka langsung lari pergi keluar kelas, namun pintunya terkunci.


"Kenapa... Pintunya malah terkunci? Padahal tadi tidak dikunci..."


Ditengah kepanikan mereka, aku menatap mereka dengan tajam.


"Kalian pasti tidak pernah merasa ingin mati tapi terus berusaha untuk hidup"


"Kalian menjalani hidup enak dan hanya bisa menghina tanpa mencoba melihat sudut pandang orang yang kalian hina"


"Kalian manusia, tapi sikap kalian bukan manusia!"


Aku mengulurkan tanganku kearah mereka dengan tatapan tajam.


"Akan kubuat kalian... Benar-benar tidak menjadi manusia!"


Krrrk... Prang!!!


Kaca kelas serempak pecah semua di sepanjang lantai 3, dan membuat semua orang panik ketakutan.


Lalu....


Bummm!!!


Tiba-tiba bangunan bagian paling kiri runtuh tanpa sebab.


Karena hal itu, banyak siswa dan guru yang terluka, dan juga meninggal tertimpa reruntuhan bangunan.


Sepanjang waktu aku terus mendengar suara teriakan dan tangisan mereka yang ketakutan dan kesakitan.


Ini Menyenangkan... Sangat menyenangkan... Hingga aku ingin mendengar dan melihat kejadian ini setiap saat.


"Ha... Haha... HAHAHAHAHA!!! MATI!! DIA MATI!!"


Sepanjang waktu aku terus tertawa terbahak-bahak.


Meski begitu, aku sama sekali tidak merasa puas.


Mungkin... Karena pelaku utama dari pembunuhanku masih belum mati...


Ya... Kalau... Aku bunuh salah satu dari mereka...


Aku langsung menyeringai.


*


1 bulan kemudian...


"Haah... Kenapa keadaan sekolah jadi seperti ini..."


"Maeru, kau sudah kesini rupanya"


"Papa, ayo pulang. Aku mau segera ke rumah"


"Baiklah. Ayo pulang sekarang"


Maeru dan ayahnya, kepala sekolah pun kembali ke rumah mereka menggunakan mobil.


Tapi, ditengah perjalanan...


Crat!


Tiba-tiba muncul puncratan darah di kaca depan mobil itu dan menutupi pandangan si kepala sekolah yang sedang mengemudi.


Kepala sekolah berhenti dan mengelap darah itu.


Setelah mengelapnya kepala sekolah kembali melanjutkan perjalanannya, tapi darahnya kembali muncul entah dari mana. Kepala sekolah turun dan mengelapnya lagi, terus seperti itu.


"Papa, apa yang kau lakukan?" Tanya Maeru


"Kau tidak lihat daritadi ada cairan merah yang entah muncul dari mana?" Tanya kepala sekolah balik


"Tidak. Di kaca tidak ada apapun, Papa"


"Apa maksudmu? Lalu cairan merah ini apa?" Tanya kepala sekolah


Maeru hanya menatap bingung ayahnya.


"Tidak ada apapun"


Kepala sekolah tidak terlalu memperdulikan ucapan Maeru dan kembali melanjutkan mengelap kaca mobil.


Mereka melanjutkan jalan, tidak ada lagi puncratan darah yang muncul.


Tapi...


Currr....


Darah mengalir menutupi seluruh kaca mobil itu. Dan kali ini Maeru juga bisa melihatnya.


"Ap... Apa ini?! Kenapa..." Gumam Maeru panik


Mobil yang dinaiki mereka makin lama makin melaju dengan kencang.

__ADS_1


"Kenapa ini? Remnya blong?!" Teriak kepala sekolah panik


Darahnya perlahan menghilang dan menampakkan kembali jalanan.


Begitu jalanan sudah terlihat dan kaca tidak ditutupi darah lagi...


Tin! Tin! Tin! Tiiiiinnn!!


Brak!


Terjadi kecelakaan tunggal.


Mobil yang dinaiki kepala sekolah dan anaknya, Hazuki Maeru menabrak pohon hingga mobil itu hancur karena mobil melaju kencang menabrak pohon.


Karena tabrakan yang kencang itu juga akhirnya membuat pohon yang ditabrak tumbang dan menimpa mobil tersebut.


Kondisi orang yang ada di mobil itu mengenaskan karena tubuh mereka sudah tidak berbentuk lagi.


*


**


2 minggu kemudian...


Di rumah keluarga Hazuki...


Di kamar Rusen...


Kirian, Rio dan Rusen sedang berkumpul bersama. Kirian duduk di pinggiran kasur Rusen, Rio duduk di kursi belajar dan Rusen duduk di jendela kamarnya yang terbuka.


"Semuanya, aku ingin cerita..." Gumam Rusen


"Apa?" Tanya Kirian


"Aku bermimpi bertemu Izumi. Di mimpi itu dia sangat berbeda dengan biasanya. Matanya warna merah menyala dan menatapku dengan tajam"


"Dia bilang padaku, 'Selama 4 tahun bersama kalian, tidak ada hari yang menyenangkan. Hari-hariku dipenuhi ketakutan akan hari esok. Jadi, sekarang akan aku buat kau juga merasakannya'. Dia bilang seperti itu dengan nada suara dingin dan menyiksaku"


"Dia memukul dan mencambukku hingga aku mati di mimpi itu. Setelah mati, aku bangun lagi dan kembali disiksanya hingga aku bangun dari mimpi itu"


"Begitu aku bangun dari tidurku, tubuhku penuh dengan luka seakan siksaan yang ada di mimpi itu nyata" Ucap Rusen sambil menunjukkan lengan tangannya yang penuh luka dan lebam.


"Selama ini aku diam saja. Tapi sebenarnya dia sudah menghantuiku sejak kita libur semester sebelumnya" Gumam Rusen


Rio dan Kirian saling menatap satu sama lain, dan kembali menatap Rusen.


"Aku juga... Mimpiku kira-kira mirip seperti itu juga" Ucap Kirian


"Bagaimana ini?" Tanya Rusen


"Eru... Dia sudah... Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Rusen makin panik


"Ya apa lagi?! Dia sudah mati, memangnya apa yang bisa kita lakukan?!" Tanya Rio emosi


"Bukan itu yang aku maksud!! Ini menyangkut soal Izumi!! Semua ini terjadi setelah dia mati. Semua kejadian ini, termasuk kematian paman dan Eru pasti ada kaitannya dengan Izumi!!" Teriak Rusen


"Ya makanya aku bilang, dia sudah mati, apa lagi yang bisa kita lakukan? Apapun yang terjadi, dia tidak akan bisa hidup lagi!" Balas Rio


"Rio, apa kau tidak mengerti?! Bisa saja setelah ini Izumi mencoba membunuh kita!!" Teriak Rusen


"Ya artinya itu sudah waktunya mati!!"


Emosi Rusen tersulut.


"Rio bodoh! Tidak punya otak!! Dasar orang berpikiran pendek!! Kau bisa bilang seperti itu karena kau yang membunuhnya!!! Kalau mau mati, ya mati saja sendiri!!!" Teriak Rusen emosi


Rio pun ikut emosian mendengar itu.


Rio langsung berdiri dan mendekati Rusen yang duduk di jendela.


"Aku?! Ini semua karena kau yang mendorongku sebelumnya!! Seandainya kau tidak mendorongku, dia tidak akan mati!!" Teriak Rio


"Siapa suruh kau menodongkan cutter tepat di dadanya?!" Teriak Rusen tak mau kalah


Rio langsung mencengkeram kerah baju Rusen.


"Kau bicara seolah kau tidak pernah menyakitinya!!" Teriak Rio


"Aku tidak peduli dengan hari-hari sebelumnya. Kenyataan Izumi mati karena cutter yang kau pegang tidak akan pernah berubah!!" Teriak Rusen


"Bangs*t!!!"


"Kalian berdua, hentikan!!" Teriak Kirian melerai.


Sebelum Kirian sempat bertindak, Rio lebih dulu langsung meninju Rusen dengan keras.


Rio masih belum sadar kalau kamar mereka berada di lantai 2. Dan struktur rumah ini tidak sama seperti rumah pada umumnya. Langit-langit rumah ini sangat tinggi. Jadi meski di lantai 2, tapi tingginya bisa 10 meter dari atas tanah.


Diantara Kirian, Rio dan Rusen, secara fisik orang yang paling lemah adalah Rusen, dan yang paling kuat adalah Rio.


Dan, karena pukulan kuat dari Rio itu....


Bruk! Cras!

__ADS_1


Rusen terjatuh dari jendela dan kepalanya pecah karena terkena batu hias dipinggir taman rumah.


__ADS_2