Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : Cinta Pertama


__ADS_3

Setelah malam itu, aku pun masih bertahan hidup demi ibu yang sudah merawatku.


Kehidupan sekolahku tidak lebih baik dari sebelumnya, tapi entah kenapa muncul gejolak hebat untuk bertahan hidup di diriku setelah kejadian aku ingin bunuh diri malam itu.


Keesokan harinya begitu aku selesai sekolah, aku langsung menemui ibu di rumah sakit.


Seperti biasa, ibu mengamuk begitu melihatku.


"Kau pembunuh!! Kau mencuri Kirein dariku! Kau mengambil rambut Kirein!" Teriak ibu sambil melempari barang-barang.


Setelah berapa kali kejadian terus seperti ini, aku pun mulai menyadari sesuatu.


"Yang mama ungkit begitu melihatku adalah rambut, karena rambutku seperti punya papa. Bagaimana kalau aku menjenguk mama dengan warna rambut yang berbeda?" Pikirku


Aku pun menemui dokter yang merawat mama lalu bertanya mengenai pikiranku itu.


"Aku sendiri bahkan tidak kepikiran tentang itu. Kau hebat sekali bisa menemukan ide itu di umurmu yang masih muda. Ini patut dicoba" Ucap dokter


Dokter itu pun meminjamkanku rambut palsu milik seorang pasien yang rambutnya rontok semua.


"Coba kau pakai ini lalu temui ibumu. Tenang saja, rambut palsu ini sudah disterilkan sebelumnya"


Aku pun menemui ibu dengan rambut berwarna abu-abu. Dan benar saja, ibu tampak tenang saat melihatku.


"Halo. Aku tidak tahu siapa kamu, tapi aku senang ada yang menemuiku" Ucap ibu ceria


Hatiku terasa sakit karena ibu langsung melupakanku. Tapi ini lebih baik. Setidaknya, aku bisa menemui ibu tanpa khawatir.


Aku pun akhirnya membeli rambut palsu berwarna coklat dengan uang yang kukumpulkan selama ini dan terus menggunakannya saat menemui ibu.


Berkat rambut palsu itu, masalah untuk menemui ibu selesai.


Tapi masalah di sekolah masih tak kunjung usai.


Aku masih rutin di bully sama seperti sebelumnya.


Hingga 1 tahun kemudian, saat kami kelas 8...


Saat di koridor, mereka memulai aksinya.


"Arato, beri kami uang mu"


"Aku tidak punya" Jawabku


"Jangan bohong. Keluarga Hazuki itu kaya raya. Tidak mungkin kau sama sekali tidak diberi uang sepeser pun"


"Aku sungguh tidak punya"


"Ck!"


Mereka pun langsung memukulku lalu mengambil tasku.


Mereka mengeluarkan semua isi tas ku, namun tidak ada uang disana. Mereka beralih ke kantong di celana dan bajuku, namun tidak ada uang juga.


"Cih! Ternyata memang tidak ada"


"Ayo pergi! Jangan buang-buang waktu"


Mereka pun pergi begitu saja setelah memukul dan mengacak-acak isi tas ku.


"Agh... Sakit. Sepertinya luka lama terbuka lagi karena pukulan tadi" Pikirku


Dengan satu tanganku memegang perut, aku memungut barangku yang berceceran di lantai.


Saat aku ingin mengambil buku ku, tiba-tiba ada tangan lain yang ingin mengambil buku itu juga hingga jari kami tersentuh.


Sontak aku langsung menarik tanganku dengan cepat lalu mendongak melihat pemilik tangan itu.


"Ah, maaf. Kau kaget?" Tanyanya


Orang itu adalah perempuan yang baru pertama kali kulihat. Dia punya rambut biru laut yang panjang dan bermata kuning emas yang cantik.


"Siapa dia?" Pikirku


Perempuan itu mengambil buku tadi lalu menyerahkannya padaku.


"Aku tidak sengaja melihat mereka mengeroyokmu tadi. Maaf aku tidak bisa melakukan apa-apa" Ucapnya


"Tidak..." Gumamku sambil mengambil buku yang disodorkannya.


"Ah, omong-omong, aku Mawari dari kelas umum 8-2. Kamu Izumi dari kelas 8-1, kan?" Tanyanya


"Ah, iya. Kau... Mengenalku?" Tanyaku


"Iya. Saat tes masuk waktu itu aku duduk di belakangmu, apa kau tidak tahu? Kau juga seharusnya masuk kelas khusus, tapi malah kau tolak. Sayang sekali"


Aku mengalihkan pandangan ke arah lain sebagai tanda aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.


Teng... Teng... Teng...


"Ah, sudah waktunya masuk"


Aku pun memungut barangku dan perempuan bernama Mawari itu ikut membantu memungutnya.


"Aku bisa melakukannya sendiri" Ucapku


"Lebih cepat jika melakukannya berdua, kan?"


Setelah barangku semuanya sudah diambil, dia menyerahkannya padaku.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi, Izumi. Kalau begitu aku pergi dulu"


*


Sejak itu dia terus mendekatiku dan menyapaku jika bertemu. Untungnya dia tahu kalau berbahaya mendekatiku didepan umum, jadi dia datang disaat aku sedang sendirian.


"Hai, Izumi. Apa kau sibuk? Bagaimana kalau kita nanti pulang bersama?"


Dia adalah satu-satunya orang yang baik padaku, juga satu-satunya orang luar yang memanggilku "Izumi" dengan lembut.


Tapi, untuk aku yang sudah biasa disiksa, rasa yang lembut itu terasa sangat asing hingga aku merasa itu tidak pantas untukku.


"Maaf, orang utusan paman akan menjemputku pulang sekolah nanti"


"Ah, begitu. Baiklah. Kapan-kapan saja, ya"


Sudah dua bulan berlalu, dan Mawari masih juga mendekatiku jika ada kesempatan.


Aku berpikir, mungkin dia menyukaiku. Di benakku pun terpikir kalau aku menyukainya. Dia sangat baik padaku, jadi aku ingin terus merasakan perasaan ini. Tapi disisi lain, aku tidak ingin menyeret siapapun kedalam masalah jika berdekatan denganku.


Karena menyukainya, aku jadi ingin menjauh darinya agar dia tidak ikut dimusuhi oleh orang di sekolah.


*


Saat di perpustakaan, seperti biasa, Mawari datang menemuiku.


"Izumi~ Kau sedang membaca lagi? Aku boleh duduk disampingmu, kan?" Tanyanya sambil membawa sebuah buku.


Mawari melihat sampul buku yang kubaca.


"Wah! Kebetulan sekali! Buku yang kita baca sama. Aku kurang mengerti isi buku ini, bisa jelaskan padaku apa yang dibicarakan di buku ini?" Tanyanya bersemangat


"..."


Aku hanya diam saja tidak merespon ucapannya.


"Izumi? Kenapa diam saja?" Tanyanya


Aku pun langsung berdiri dan meninggalkannya sendirian tanpa mengatakan apapun.


"Tunggu!" Teriaknya dan langsung menahan lengan bajuku.


Aku hanya menoleh menatap tangannya yang menahan lengan bajuku.


"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Tanyanya


"2 minggu lagi ulangan. Aku mau belajar" Jawabku sambil melepas tangannya yang menahan lengan bajuku lalu pergi.


Mawari hanya menatap aku yang meninggalkannya dengan ekspresi kaget.


*


Saat semester 2 dimulai, seminggu kemudian Mawari kembali menemuiku seperti biasa.


"Izumi. Kau hebat sekali~ Kau terus berada di peringkat pertama se seangkatan kelas umum berturut-turut. Aku kagum dengan kepintaranmu~"


*


Di sekolah kami, kelas umum dan khusus dipisah menjadi 2 gedung yang berbeda hingga lebih mirip seperti 2 sekolah yang berbeda namun bersebelahan. Karena di kelas umum dan khusus masing-masing memiliki lapangan, kantin, guru, bahkan ekskul sendiri-sendiri dan sama sekali tidak dicampur dalam hal apapun, kecuali dalam hari khusus bersejarah atau lomba antarsekolah.


Selain hal-hal itu, nilai tiap kelas khusus dan umum se seangkatan juga dibedakan, jadi aku tidak khawatir untuk menjadi yang pertama di angkatan kelas umum.


*


Aku terdiam sejenak, lalu kembali memulai pembicaraan.


"Kenapa... Kau kesini?" Tanyaku


"Apa maksudmu? Tentu saja aku kesini untuk menemuimu"


"Aku yakin kau tahu siapa aku. Tapi kenapa kau masih kesini?"


"Apa? Itu... Hanya saja..." Gumamnya ragu


"Menjauhlah dariku. Aku tidak mau siapapun mendapat masalah karena aku" Ucapku lalu pergi


Meski aku sudah berkata begitu, tapi tetap saja Mawari terus mendekatiku, bahkan sekarang dia lebih sering menemuiku daripada dulu.


"Izumi, makan siang bersama yuk"


"Tidak. Aku sedang tidak lapar"


*


"Izumi! Ada apa dengan pipimu? Ayo ke UKS, akan aku obati"


"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri"


*


"Izumi, ayo belajar bersama"


"Aku harus pulang lebih cepat hari ini"


*


"Izumi, kaki ku sakit. Tolong gendong aku ke UKS"


"Akan aku panggilkan pengurus UKS. Kau tunggu disini"

__ADS_1


*


Aku terus menerus menghindar darinya hingga akhirnya kami kelas 9.


"Hiks... Izumi... Kenapa kau menghindariku? Aku hanya ingin bersamamu" Tanya Mawari sambil menangis


Aku jadi merasa bersalah karena ini pertama kalinya aku membuat orang menangis, apalagi itu perempuan yang kusukai.


"Aku... Tidak bermaksud begitu..." Gumamku panik


"Kalau begitu, jangan menghindariku!" Teriaknya lalu memeluk lengan kananku


Aku tersentak lalu menarik tanganku yang dipeluknya dan menjaga jarak.


"Sudah kubilang aku tidak ingin membuat siapapun mendapat masalah karena aku"


"Masih banyak orang lain yang bisa kau ajak ngobrol selain aku. Jadi jangan dekati aku lagi"


"Kau membenciku? Kenapa?" Tanyanya


"Aku tidak membencimu" Jawabku singkat


"Kalau begitu, apa kau menyukaiku?" Tanyanya


"...."


Aku hanya diam saja tidak merespon pertanyaannya.


"Izumi, aku menyukaimu! Jadi tolong jangan menghindar dariku!"


Aku langsung tersentak.


"Aku... Harus pergi sekarang"


Tanpa menoleh, aku langsung pergi begitu saja darinya.


Aku senang perempuan yang kusuka juga menyukaiku, tapi disisi lain aku ingin kami sama seperti awal, bersikap saling tidak mengenal. Aku tidak ingin berdekatan dengannya.


Ditengah hal ini, kabar buruk pun datang padaku.


Setelah pulang sekolah, seorang pelayan mendatangiku.


"Tuan Muda Izumi, ada kabar dari dokter yang mengobati ibu Tuan Muda, katanya ibu Tuan Muda kritis"


Segera setelah mendengar kabar itu, aku langsung pergi menemui dokter dengan diantar sopir keluarga Hazuki.


"Penyakitnya jadi semakin parah dan beberapa waktu lalu Nyonya pingsan. Ini berbahaya dan bisa merenggut nyawa"


"Tolong lakukan apapun untuk menyelamatkan mama!" Teriakku


"Tapi biaya untuk operasi sangat mahal hingga berkali-kali lipat lebih mahal dari biaya biasanya. Tolong beri tahu dulu pada kakek Tuan Muda"


Setelahnya, aku pun pergi ke kediaman Foren.


"Kakek!" Teriakku


"Apa yang kau lakukan disini?! Sudah kubilang sebelumnya jangan pernah datang kesini!!" Teriak kakek


"Kakek... Mama... Mama kritis. Tolong temui mama!" Teriakku


Mendengar itu, kakek malah menyeringai.


"Baguslah kalau begitu! Lebih baik lagi kalau dia segera mati, jadi dia tidak menghabiskan uangku lebih banyak lagi"


Aku terkejut mendengar ucapan kakek.


"Kenapa... Kakek sangat membenci mama... Apa kesalahan mama?" Tanyaku


"Itu karenamu! Itu kesalahanmu dan ibumu yang j*lang itu!" Teriak kakek


"Aku sudah susah payah memilihkan calon suami sempurna untuknya, tapi dia malah menolaknya! Dia malah lebih memilih berhubungan dengan musuh hingga hamil mengandungmu!!"


"Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat putri kesayanganku malah melakukan hal itu dengan musuh?! Dia juga sudah menghancurkan image keluarga Foren hingga aku mendapat banyak cibiran!" Teriak kakek


Aku baru mengetahui saat itu. Ternyata ibu dan ayahku melakukan 'kesalahan' yang akhirnya membuatku ada di dunia ini.


Aku yang berumur 12 tahun dan berada di kelas 9 sekarang sudah mengerti dengan 'Hubungan pria dan wanita'.


"Jadi... Itulah kenapa papa sangat membenciku dan mama?" Pikirku


"Apa aku... Penyebab semua masalah dari mama?"


"Seandainya sejak awal aku tidak ada, apa mama akan lebih bahagia?" Pikirku


Aku termenung setelah mendengar ucapan kakek.


Lalu terdengar ketukan pintu dari luar.


"Tuan Muda Izumi, apa masih belum selesai? Tuan Hazuki menelpon saya untuk mengantarkan sesuatu" Ucap si sopir.


"..."


Keadaan menjadi hening sejenak.


"Baiklah, akan aku utus orang untuk datang ke rumah sakit mengurus soal operasi itu"


Kakek berbalik lalu pergi meninggalkanku.


"Ingatlah aku melakukan ini bukan karena menyayangi ibumu. Rosaline akan marah padaku jika ibumu mati. Jadi aku melakukan ini demi Rosaline dan image ku sebagai kepala keluarga Foren"

__ADS_1


Setelahnya, aku pun kembali ke rumah keluarga Hazuki.


__ADS_2