
"Maaf... Karena perbuatan baik yang kau lihat dariku itu juga sebenarnya tidak sepenuhnya baik. Dan... Terima kasih untuk semuanya"
Aku terus mengelus kepala Izumi untuk menenangkannya.
"Ya, Izumi tidak bersalah. Aku mengerti Izumi sangat marah pada semuanya. Aku mengerti Izumi membenci manusia. Semua kesalahan selalu tertuju pada Izumi. Kau sangat hebat"
"Setelah semua itu, aku kagum Izumi masih bisa menjadi roh baik. Izumi terlalu baik, namun orang-orang begitu kejam pada Izumi"
Air mataku tak bisa berhenti mengalir begitu membayangkan semua kesulitan yang Izumi hadapi.
"Pasti sangat sakit sekali, kan? Terus dikelilingi orang-orang yang membencimu itu tidaklah mudah. Izumi sangat hebat bisa bertahan selama itu"
"Seandainya saja aku seumuran dengan Izumi, aku pasti akan terus bersamamu meski harus ikut dibenci juga. Aku akan menemani Izumi di masa-masa sulit itu bersama"
Izumi makin mengeratkan pelukannya hingga aku jadi sedikit sesak.
"Ulang tahun... Semua hal buruk selalu bertepatan dengan ulang tahunku" Gumam Izumi
"Di ulang tahunku ke-5 tahun, perusahaan yang Papa pimpin bangkrut. Di ulang tahun ke-8 Papa meninggal, dan Mama mulai sakit-sakitan. Di ulang tahun ke-9 Ibu angkatku, Nyonya Hazuki meninggal dan juga awal mulai kakak angkatku melakukan kekerasan. Bahkan, hari kematianku bertepatan dengan hari ulang tahunku ke-14. Semuanya terjadi seakan sudah dirancang kalau aku tidak diizinkan bahagia pada hari peringatan kelahiranku"
"Apakah... Aku boleh bahagia?" Tanya Izumi
"Tentu saja. Semuanya berhak mendapat kebahagiaan. Soal ulang tahun, itu hanya kebetulan belaka"
"Tapi kenapa aku seakan tidak diizinkan bahagia? Saat kecil meski dikelilingi banyak barang mewah, tapi tetap saja aku tidak bahagia. Keinginanku hanyalah menghabiskan waktu bersama kedua orang tuaku, namun seumur hidup hal itu tak pernah terwujud"
"Disaat aku baru saja merasa senang, selalu saja muncul masalah yang lebih besar padaku seakan dunia pun ikut menindasku"
"Yurin... Apa aku benar-benar diperbolehkan bahagia? Apa aku sungguh bisa bahagia?"
Dadaku sesak mendengar ucapan Izumi yang sangat putus asa. Hati Izumi sudah hancur terlalu parah hingga rasanya mustahil diperbaiki lagi.
Apapun yang kukatakan takkan berefek pada Izumi. Tapi setidaknya, aku bisa membuatnya sedikit tenang.
"Tentu saja Izumi diperbolehkan bahagia. Izumi juga bisa merasa bahagia"
"Bukankah Izumi bahagia? Saat menghabiskan waktu bersama, bukannya Izumi juga tertawa bersama? Izumi terus berselisih dengan Kagusa, bukankah itu cara Izumi untuk dekat dengan Kagusa?"
"...." Izumi terdiam
Hatiku sangat sakit membayangkan hari-hari yang dilalu Izumi selama ini, hingga membuat hatinya beku, tidak bisa merasakan kebahagiaan.
Aku tidak bisa membiarkan Izumi berpikir dia tak diharapkan di dunia ini, atau dia tidak seharusnya bahagia. Aku harus membuat pemikiran baru pada Izumi.
Aku melepas pelukan itu dan kembali menatap lembut Izumi lalu mengelus kepala Izumi kembali.
"Aku tau ini sulit, tapi cobalah untuk tidak memendam amarah lagi. Dengan begitu, Izumi bisa merasakan bahagia yang sesungguhnya"
Izumi langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa merasa puas, meski setelah mereka mati. Aku tidak bisa melupakan semua itu dan membiarkannya berlalu seperti itu saja"
"Ya. Pasti tak mudah membujuk Izumi. Bahkan mungkin mustahil. Tapi aku harus berusaha meyakinkan Izumi. Yang dia butuhkan sekarang adalah orang yang bersedia mendengarkannya dan memberinya semangat lagi" Pikirku
"Itu memang tidak mudah mengingat semua perbuatan mereka"
"Tapi Izumi, ada yang ingin kutanyakan..."
"Aku harus hati-hati. Izumi sedang sensitif sekarang. Aku tidak boleh asal bicara" Pikirku
"Apa... Kau senang saat bersamaku? Saat bersama Kagusa dan Kei juga apakah kau senang?" Tanyaku
Izumi terdiam dan perlahan menundukkan kepalanya.
"Apa aku salah bicara?" Pikirku panik
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud---"
"Aku tidak tahu"
Aku langsung tersentak begitu Izumi memotong ucapanku.
"Tidak tahu?!" Pikirku
"Umm..." Aku bingung harus bereaksi bagaimana. Aku bisa menebak itu, tapi tetap saja jawaban yang kuharap bukan itu.
"Rasa senang, aku tidak tahu. Begitu aku merasa kelembutan dan kehangatan, aku langsung membuangnya dari hatiku agar tidak terlarut dalam rasa nyaman itu. Jadi aku tidak tahu apa aku merasa senang, meski itu bersamamu, Kagusa ataupun Kei"
__ADS_1
"Sangat sulit melelehkan hati Izumi" Pikirku
Aku menghela nafas, lalu menatap Izumi dengan serius.
"Ketika bersama orang yang disayang, seseorang biasanya merasa senang yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata"
"Kalau kau tidak tahu apakah kau senang saat bersama kami, bagaimana kalau pertanyaannya aku balik?"
"Jadi Izumi, andaikan saja aku, Kagusa dan Kei tiba-tiba pergi dan menghilang tanpa kabar, apa kau merasa cemas? Apa kau akan berusaha mencari kami?" Tanyaku
"..." Izumi kembali terdiam
"Aku... Akan sangat cemas... Aku akan mencari kalian... Meski kemanapun itu..."
"Apa kau takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada kami selama kami hilang itu?"
"Aku... Sangat takut hingga takkan istirahat dan terus mencari hingga ketemu kalian"
Aku langsung memeluk Izumi.
"Terima kasih! Itu artinya kau menganggap kami penting. Kau mungkin tak menyadarinya, tapi hatimu tulus menyayangi kami"
"Sayang... Kalian?"
Aku kembali melepas pelukannya.
"Coba kau ingat-ingat lagi saat dimana kita sedang berkumpul bersama, menghabiskan waktu bersama, perasaan apa yang kau rasakan? Apakah ada rasa lega yang sulit dijelaskan?"
Izumi kembali terdiam, lalu tak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu. Aku sendiri tidak mengerti dengan diriku sendiri"
Aku sangat kasihan pada Izumi. Bahkan untuk hal sepele seperti 'rasa senang dan bahagia' saja dia tidak tahu.
"Aku jadi merasa sangat marah dengan orang-orang yang menindas Izumi selama ini hingga membuat Izumi yang baik ini bahkan tidak tahu rasanya bahagia dan senang" Pikirku kesal
Aku mencoba menghilangkan pemikiran itu dan kembali fokus ke Izumi.
"Bagaimana dengan yang lainnya? Apa saat bersama dengan kami rasanya sama seperti saat kau bersama yang lain?"
"Yang lain?..."
"Jadi kau percaya pada kami?" Tanyaku
"Mungkin?"
Aku bingung. Aku bukan ahli dalam hal perasaan, tapi jika melihat Izumi selama ini, dia sepertinya menikmati waktu bersama kami, namun dia tidak menyadarinya.
"Kalau begitu, apakah ada dari perilakumu saat bersama kami adalah akting belaka?"
"..." Izumi kembali terdiam
"Kurasa... Ada... Bahkan mungkin semuanya?"
"Sejak dulu aku sudah terbiasa berakting didepan semua orang. Jadi sepertinya kali ini pun sama saja"
Aku langsung tersentak.
Mungkin karena mendengar cerita Izumi itu dan aku juga terikat dengan Izumi, aku jadi ikutan sensitif.
Air mataku yang baru saja kering sekarang kembali mengalir.
"?!"
Izumi langsung kaget melihatku tiba-tiba kembali menangis. Dia langsung memegang kedua bahuku dan menatapku khawatir.
"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Izumi panik
Aku langsung menutupi wajahku dengan kedua tangan sambil mengusap air mata.
"Tidak... Kupikir kita sudah begitu dekat. Kupikir kita sungguh-sungguh telah menjadi partner karena kau begitu baik padaku. Kau juga terus berpihak dan melindungiku, jadi kupikir hubungan kita sedikit spesial"
"Tapi sepertinya aku salah. Hanya aku yang berpikir seperti itu..." Gumamku
"Apa?... Itu..."
Perlahan aku menyingkirkan tangan Izumi yang ada di bahuku, dan aku genggam erat kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Kekhawatiran kau kali ini pun... Apakah termasuk akting?" Tanyaku
Izumi terdiam dengan wajah kaget, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Aku makin mengeratkan genggamannya.
"Jawab aku, Izumi!"
"Sebelumnya saat aku diserang roh jahat, diculik Maeru, saat kita bercerita bersama, saat kita diserang Maeru tadi juga, apa semua kekhawatiran dan kebaikan itu akting?"
"Apakah selama ini kau hanya berpura-pura baik padaku, dan dirimu yang sebenarnya adalah roh jahat, yang mencoba membunuhku sebelumnya?"
"Aku---"
Seketika aku langsung melepas genggaman tangan Izumi, dan kembali mengusap air mata di pipiku.
"Ah, maaf. Aku sedikit emosi..."
Setelah beberapa saat mengatur nafas dan memperbaiki raut wajah, aku kembali menatap Izumi sambil tersenyum tipis.
"Lupakan apa yang aku ucapkan tadi. Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosi. Anggap saja yang tadi itu tidak pernah terjadi"
"Tidak!" Jawab Izumi cepat
"Ya?"
"Itu... Aku tidak berakting!"
Aku tahu apa yang aku katakan tadi keterlaluan. Aku tidak bisa mengontrol diri dan kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutku.
Tapi itu bukan berarti Izumi baik secara 'tulus'. Aku sendiri juga tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Dia tadi bilang kalau mungkin semua yang dia lakukan hanyalah akting, tapi tiba-tiba sekarang bilang itu bukan akting. Aku tidak tahu mana yang benar.
Aku juga tahu kalau Izumi itu tipe orang yang suka memainkan kata. Jadi aku melihat kata-katanya dari sudut lain.
"Kalau dilihat, Izumi memang tidak berakting saat menyelamatkanku. Kami terikat, jadi mau tidak mau Izumi memang harus menyelamatkanku" Pikirku
"Iya. Izumi memang tidak berakting saat menyelamatkanku. Aku bisa yakin soal itu"
"Tidak!" Teriak Izumi tegas
"??"
Aku makin bingung dengan Izumi.
Aku menatap Izumi dengan penuh tanya, lalu Izumi memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ekspresi serius.
"Tidak. kalau kupikir lagi, rasanya berbeda..." Gumam Izumi
"Apanya?" Tanyaku
"Ketika bersamamu rasanya beda dengan saat aku bersama yang lain..."
"Seperti katamu, mungkin... Aku menganggap kau, Kagusa dan Kei penting. Tapi kau berbeda dari mereka berdua..."
"Rasanya hangat dan manis sampai aku tidak mau lepas dari rasa itu. Kalau bersamamu, rasanya aku tidak perlu berpura-pura..."
"A... Apa..." Gumamku
Seketika pipi ku terasa panas. Aku tidak tahu apa ini efek aku yang masih kesal tadi atau bagaimana.
Izumi kembali berpikir keras dengan wajahnya yang serius. Ditengah dia yang sedang berpikir, malah aku sendiri yang salah tingkah oleh ucapannya.
"A... Apa-apaan Izumi ini. Aku sama sekali tidak mengerti dengannya..." Pikirku
Tidak lama kemudian, Izumi sepertinya selesai berpikir. Dia sedikit mendongakkan kepalanya dan ekspresinya mulai santai, namun tetap serius.
Izumi menatap mataku dalam hingga aku kembali dibuatnya salah tingkah.
"Eh? Ke... Kenapa?" Tanyaku
"Ada yang perlu aku uji"
"Uji? Apanya?" Tanyaku
Tiba-tiba Izumi mendekatkan tubuhnya padaku. Tangan kirinya memegang tangan kananku yang ada diatas batu, dan tangan kanannya memegang kepala bagian belakangku sambil sedikit menarik kepalaku mendekatinya.
__ADS_1
Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"A... Apa?! Kenapa dia seperti ini?!" Pikirku panik