
*
Selama 12 hari aku terus dikurung di gudang dan hanya diberi makan sekali sehari yang merupakan makanan sisa dan air putih.
Selama 12 hari itu aku tidak bisa pergi kemanapun. Aku hanya boleh keluar saat ingin ke toilet. Itupun didampingi oleh pelayan agar aku tidak kabur. Untungnya, kami sudah menyelesaikan semua ulangan dan bersiap masuk Sekolah Menengah Pertama. Jadi bukan masalah besar yang akan menyangkut nilai akademik ku meski aku bolos selama hampir 2 minggu.
Dan selama 12 hari itu juga aku terus duduk di sudut ruangan sambil memeluk lutut. Bukan karena takut, tapi aku lelah terus diperlakukan seperti itu, apalagi oleh keluargaku sendiri.
Lalu, di hari ke-15 yang merupakan saat dimana hari yang dijanjikan itu akhirnya tiba.
Akibat aku yang terus menerus dikurung di ruangan gelap selama 12 hari, setelah keluar dari gudang, aku jadi mengidap penyakit nyctophobia, yang membuatku sangat takut dan terus terbayang dengan gudang itu ketika berada di ruang gelap.
*
Di pagi hari, kepala pelayan datang menyuruhku mandi dan bersiap-siap untuk menemui orang dari keluarga Hazuki itu.
"Tuan Muda Izumi, hari ini Tuan dari keluarga Hazuki akan datang. Anda harus bersiap-siap"
"Lalu, saat didepan mereka nanti, panggillah Tuan Besar dengan sebutan kakek. Anda mengerti, kan?"
Aku hanya diam saja tidak menanggapi ucapannya.
Saat itu kepalaku sangat sakit sekali dan perutku sangat mual.
Begitu masuk kamar mandi, aku tidak bisa menahan mual itu dan memuntahkan makanan yang kumakan.
Kepalaku masih terus sakit dan air mandi terasa dingin, tapi aku memaksakan diriku masuk ke air itu.
Aku sudah lelah mempertanyakan nasib burukku ini dan aku mulai pasrah menjalankan hidup.
Aku tidak mau disakiti orang lain.
Aku takut melawan orang lain.
Aku ingin menjalani kehidupan normal seperti yang lainnya, tapi takdir tidak mengizinkannya.
Aku lelah menghadapi hari esok dan ingin menghilang dari dunia ini.
Tapi...
Aku tidak ingin mati.
Aku ingin terus hidup. Hidup sebagai orang normal, bisa berkumpul dan bercerita dengan keluarga, bermain dengan riang bersama teman, tidur nyenyak tanpa ada rasa khawatir.
Aku hanya ingin itu.
*
Saat siang hari di jam 1 siang, orang dari keluarga Hazuki itu datang ke kediaman Foren.
Orang itu bersama bawahannya diajak oleh kepala pelayan untuk bertemu dengan kakek, dan aku disuruh untuk bersiap didepan ruangan itu.
Beberapa menit setelah mereka masuk, aku disuruh oleh pelayan untuk masuk ke ruangan.
__ADS_1
Aku berjalan masuk kedalam dengan kepala terus menunduk kebawah dan sama sekali tidak menatap siapapun.
Setelah aku berdiri didekat mereka, kakek menyuruhku memperkenalkan diri.
"Izumi, cepat perkenalkan dirimu pada mereka"
"Ha... Halo, namaku... Arato Izumi..." Gumamku
Aku bisa merasakan suara yang aku keluarkan sedikit gemetar dan serak. Aku tidak bisa mengeluarkan suaraku dengan normal karena aku sedang sakit, dan aku memang tidak ingin berbicara.
Begitu mendengar suaraku yang seperti itu, kakek langsung marah.
"Apa yang kau lakukan?! Mana sikap elegan yang dimiliki keluarga ini kau buang?!" Teriak kakek
Aku langsung tersentak begitu diteriaki kakek.
"Ma... Maaf, kakek..." Gumamku
Aku langsung ketakutan, berpikir aku akan kembali dipukul oleh kakek karena membuat kesalahan.
Namun untungnya kakek tidak melakukan itu karena ada tamu.
"Haah, maafkan aku, Hazuki. Cucu ku ini memang kurang berpendidikan karena keturunan dari ayahnya. Mungkin dia juga masih belum terbiasa bertemu orang lain"
"Tidak, Tuan. Anda begitu hebat, jadi cucu anda pasti masih ada gen hebat milik anda. Mungkin karena dia masih kecil, jadi takut melihat orang dewasa" Ucap bawahan dari Tuan Hazuki
"Jadi, apa yang ingin anda katakan padaku, Tuan?" Tanya Tuan Hazuki
"Orang tua dari cucuku ini sekarang tidak bisa menjaganya. Seperti yang kau tahu, ayahnya sudah meninggal, dan ibunya, Liliana terbaring sakit di rumah sakit"
Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi tetap saja aku merasa kaget.
Tuan Hazuki dan bawahannya kaget mendengar pernyataan kakek.
"Tuan, saya tahu maksud anda baik memberikannya ke Tuan Hazuki. Tapi kalau menyerahkannya sepenuhnya itu..." Ucap bawahan Tuan Hazuki ragu
"Tenang saja, nama keluarganya tetap Arato. Aku hanya ingin kau menjadi wali untuk cucuku. Karena aku sangat mempercayaimu, Hazuki"
"Maaf, Tuan. Anda juga tahu kan, kalau saya sudah memiliki 5 orang anak" Ucap Tuan Hazuki
"Dan 2 diantaranya adalah anak adopsi. Kau tidak harus terlalu memperhatikan cucuku. Kau juga bisa melakukan apapun padanya, karena aku sepenuhnya menyerahkannya padamu. Anggap saja kau mengadopsi seorang anak lagi hingga dia selesai sekolah" Ucap kakek
"Cucuku akan memasuki umur 9 tahun dan baru saja tamat Sekolah Dasar. Karena itu aku berpikir dia akan cocok dengan anakmu, yang juga baru saja tamat Sekolah Dasar"
"Sebagai gantinya, aku akan mendukungmu sepenuhnya"
Tuan Hazuki berpikir keras untuk memutuskannya.
"Baiklah, saya akan mengasuh cucu Tuan"
"Kalau begitu, sekarang kau sudah bisa membawanya ke rumahmu. Izumi, kau bawalah barangmu dan pergi bersama paman ini"
Aku sedikit menunduk memberi hormat pada semuanya, lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Aku berjalan kembali ke gudang untuk mengambil barangku. Bersamaan dengan aku sedang berjalan, ide gila pun mulai merasuki otakku.
"Selama ini aku tidak melawan jika disakiti. Bagaimana kalau sekarang aku coba? Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya memukul seseorang" Pikirku
"Si tua bangka itu juga. Sebelum pergi, apa perlu aku membuat dia kesal dulu, seperti memukuli habis-habisan cucu kesayangannya itu, atau menghancurkan benda-benda berharga di rumah ini"
"Aku sangat penasaran.... Bagaimana rasanya..."
"Pasti sangat menyenangkan, kan? Mereka saja sampai tertawa sangat keras waktu memukuliku"
Karena terus tersiksa, aku mulai berpikir hal yang aneh dan ingin berada di posisi pembully, bahkan lebih dari itu.
Namun akal sehatku masih lebih kuat dari nafsu itu. Dengan cepat aku mengusir pikiran-pikiran itu.
"Tidak. Kau akan menyesal nantinya jika berbuat macam-macam, Izumi. Jangan melakukan kesalahan" Pikirku
Aku kembali melanjutkan perjalanan menuju gudang.
Begitu sampai aku mengemasi barangku dan keluar.
Di perjalanan aku yang akan kembali ke ruangan kakek, aku tidak sengaja berpapasan dengan adik sepupuku, Kinshiki yang baru berusia 6 tahun.
Kami bertemu di persimpangan koridor, dimana aku akan berjalan lurus, dan dia dari jalan belokan akan berjalan mengarahku.
Begitu melihatku, matanya langsung berbinar-binar.
"Kak Izumi! Kebetulan bertemu. Ayo main dengan Shiki!"
Aku tersentak, tidak menyangka akan bertemu dengannya.
"Jika kakek tahu aku berpapasan dengannya, aku akan tamat...." Pikirku
"Aku tidak ada waktu bersamamu. Aku harus pergi sekarang..." Gumamku lalu berjalan melewatinya.
"Kakak mau pergi kemana? Shiki ikut"
Sontak aku berhenti berjalan dan melirik ke arahnya.
"Tidak... Jangan ikuti aku... Aku akan dapat masalah jika ketahuan bersamamu"
"Kenapa?" Tanyanya
Aku hanya diam saja tidak merespon pertanyaan Kinshiki. Aku kembali berjalan ke ruangan kakek
"Kumohon... Jangan datangi aku selamanya..."
Kinshiki terdiam sambil menatap sedih aku yang berjalan menjauh darinya.
Setelah aku kembali ke ruangan kakek, aku langsung dibawa oleh Tuan Hazuki, dan dia pun menjadi waliku hingga aku selesai sekolah.
Aku, Tuan Hazuki dan bawahannya langsung pergi dari kediaman Foren dan datang ke suatu rumah yang tak kalah besar dari rumahku dulu ataupun kediaman Foren.
Rumah itulah yang selanjutnya akan aku tempati sebagai tempat tinggal untuk beberapa tahun kedepan.
__ADS_1
Keluarga Hazuki, kini menjadi waliku.
Dan juga tempat neraka selanjutnya bagiku.