
Kukira kehidupan burukku hanya sebatas bermusuhan dengan teman sekelas dan tidak mendapat kasih sayang dari sang ayah yang selalu kudamba. Tapi ternyata aku salah besar.
Semua itu baru awalan dari kehidupanku yang sesungguhnya.
Beberapa hari setelah pembagian rapor kenaikan kelas dan juga merupakan hari ulang tahunku yang ke-5 tahun, terjadi sebuah masalah besar dalam keluargaku.
Ayahku, Arato Kirein, yang merupakan seorang CEO di sebuah perusahaan dianggap gagal menjalankan perusahaan yang dipimpinnya karena membuat perusahaan itu bangkrut lantaran kurangnya riset dan kesalahan pengambilan keputusan hingga membuat perusahaan mengalami kerugian sangat besar.
karena kesalahannya, ayahku dan para petinggi perusahaan itu harus membayar ganti rugi sebagai tanggung jawab atas perusahaan itu.
Harta dan kekayaan keluargaku disita hingga tak tersisa apapun. Jabatan CEO juga dicabut dari ayahku.
Untungnya masih ada rumah milik ibuku dan beberapa aset pribadi milik ibuku lainnya yang tidak diambil.
Setelahnya kami tinggal di rumah ibuku. Rumahnya memang besar, tapi tidak sebesar rumah yang sebelumnya kami tempati.
Dan meski ayahku sudah tidak menjadi CEO lagi, tapi aku tetap tidak pernah melihatnya dimanapun.
Aku kembali mempertanyakannya pada ibuku.
"Mama, papa dimana? Papa kan sudah tidak sibuk bekerja lagi, tapi kenapa Izu tidak pernah melihatnya?" Tanyaku
"Izumi, tolong mengerti. Papa sedang sangat terpukul soal kejadian akhir-akhir ini. Biarkan papa sendirian dulu"
"Baiklah...." Gumamku
Meski sudah beberapa waktu berlalu, aku masih tidak melihat ayahku.
Pada suatu malam, aku pernah tidak sengaja terbangun dari tidur dan mendengar suara pria dewasa dan ibu sedang berbincang.
"Papa! Itu pasti papa!"
Aku langsung bangun dan lari keluar kamar, berpikir aku bisa saja bertemu ayahku yang tidak diketahui wajahnya seperti apa.
Namun ibu langsung masuk ke kamarku sebelum aku sempat melihat orang yang berbincang dengan ibu tadi.
"Mama! Barusan ada papa, kan? Izu mau ketemu papa!" Teriakku
"Papa? Apa maksud Izumi?" Tanya ibu ragu
"Izu tadi dengar mama bicara dengan pria dewasa. Orang itu papa, kan?" Tanyaku
"Tidak, mama tidak bertemu dengan siapapun. Izumi pasti bermimpi barusan. Nah, sekarang ayo kembali tidur. Mama akan temani Izumi sampai Izumi kembali tertidur"
"Mama bohong" Pikirku
Aku tahu betul kalau yang barusan bukanlah mimpi dan aku bisa dengar dengan jelas ibu berbicara dengan seseorang.
Hal itu kembali membuatku bertanya, apa alasan ibu tidak memperbolehkanku bertemu dengan ayah.
*
Hari terus berlalu dan hari untuk masuk sekolah semester baru pun datang.
Begitu aku masuk lingkungan sekolah, orang-orang langsung melihat kearahku dan berbisik.
"Eh, dia yang 'itu' kan?"
__ADS_1
"Bukannya dia di peringkat pertama saat kelas 1?"
"Habis sudah kehidupannya"
Begitu aku masuk kelas, semuanya mengejekku.
"Aku tahu karma itu ada. Dan contohnya ada didepan kita"
"Aku penasaran apa dia masih bisa sombong seperti sebelumnya?"
"Pergi dari sekolah ini!!"
Meski begitu, aku tidak peduli dengan ucapan mereka dan berpura-pura tidak mendengarnya.
Aku belajar seperti biasa dan itu membuat yang lainnya tidak suka.
Mereka yang awalnya hanya mencibir, sekarang mulai melakukan tindak kekerasan fisik.
Mereka segerombolan datang dan mengeroyokku.
"Hey! Kau ini tahu nggak sih posisi kamu dimana? Kamu itu bukan lagi putra dari seorang CEO. Jangan sok hebat!" Teriaknya sambil mencengkeram kerah bajuku.
"Ayahnya bodoh sekali~ Mengurus satu perusahaan saja tidak bisa. Makanya anaknya bisa jadi sesombong ini karena tidak diajari~"
Ibuku pernah mengajariku. Meski dalam masalah, tapi seorang tuan muda harus bisa menahan ekspresinya tetap tenang dalam situasi apapun.
Aku melakukan apa yang ibu ajarkan padaku.
Karena geram aku tidak menunjukkan reaksi apapun, salah seorang dari mereka memukul wajahku.
"Kau ini benar-benar mengesalkan!"
"Ayo pergi semuanya! Aku tidak mau melihat dia lebih lama lagi!"
Setelah pulang dari sekolah ibuku menanyakan lebam yang ada di pipiku.
"Izumi, pipimu kenapa?"
"Tidak sengaja jatuh tadi" Gumamku
Sejak itu aku terus rutin dikeroyok mereka. Tidak jarang tangan kananku sengaja dilukai agar aku kesulitan menulis. Karena itu aku berpikir untuk mulai belajar menulis menggunakan tangan kiri juga.
Tiap hari aku terus berlatih secara diam-diam menulis menggunakan tangan kiri. Karena kalau ada orang kelas yang tau, mereka akan membuat kedua tanganku tidak bisa menulis.
Selama setahun latihan, akhirnya aku mulai terbiasa menggunakan tangan kiri dan aku kembali mempertajam kemampuanku dengan menulis secara bersamaan di tangan kanan dan kiriku. Lama kelamaan, aku juga bisa melakukan hal itu.
Masalah menulis bisa kuselesaikan. Namun tidak dengan penyiksaan yang kualami.
Penyiksaan itu terus berlanjut tiap hari hingga sekarang aku berumur 7 tahun dan berada di kelas 4. Mereka terus sengaja memukulku tanpa alasan, mencoret mejaku, membuang tasku, bahkan menyiramku dengan air.
Mereka melakukan itu karena mereka iri. Aku yang sekarang, yang tidak selevel dengan mereka lagi malah berada diatas mereka. Jadi mereka berusaha keras mengusirku dari sekolah agar mereka tidak punya saingan berat lagi.
Dan ibu pun mulai menyadari ada yang aneh dengan sekolahku.
"Izumi, ada masalah apa di sekolah?"
"Tidak ada apapun"
__ADS_1
"Setiap kau pulang selalu mendapat luka. Apa teman sekelasmu menyakitimu?"
"Itu bukan apa-apa"
Ibu menunduk menatapku dengan sendu, lalu mengelus kepalaku.
"Izumi, katakan pada mama apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap ibu lembut
"Mereka... Mengeroyok Izu karena papa bukan CEO lagi" Gumamku
Mendengar itu ibuku kaget dan menangis. Ibu langsung memeluk sambil mengusap punggungku dengan lembut.
"Izumi, bagaimana kalau Izumi pindah sekolah saja? Mama tidak bisa membiarkan Izumi terus seperti itu hingga lulus Sekolah Dasar"
Aku memang menginginkannya, tapi aku juga tahu kondisi keluargaku saat itu.
Keluargaku sekarang terlilit hutang. Aku tidak bisa membuat ibuku menambah hutang untuk keperluan pindah sekolahku.
"Tidak apa, ma. Izu tidak pernah menanggapi mereka seperti yang mama ajarkan. Jadi mereka akan langsung pergi karena Izu tidak memberi reaksi"
"Kalau dibiarkan, mereka bisa saja makin menyakiti Izumi"
"Izu tidak mau menambah beban mama kalau pindah sekolah"
"Izumi bukanlah beban bagi mama. Itu adalah tanggung jawab mama untuk melindungi Izumi" Ucap mama lembut
Aku mengusap air mata di pipi ibu yang sedari tadi terus mengalir.
"Selama ada mama, Izu baik-baik saja apapun masalahnya"
Mendengar itu, ibu malah menangis makin menjadi-jadi dan memelukku makin erat.
"Padahal mama memasukkan Izumi ke Sekolah Dasar lebih awal karena khawatir Izumi jadi dewasa belum pada waktunya. Tapi malah di Sekolah Dasar itulah Izumi dipaksa menjadi dewasa. Ini salah mama"
"Maaf. Maafkan mama dan papa. Ini semua kesalahan kami, tapi malah Izumi yang terkena dampak yang paling besar. Maafkan kami, Izumi"
Tidak lama setelahnya, ibu berhenti menangis lalu pergi karena ada yang mau di urusan. Namun aku tau kalau ibu pergi sembunyi dan menangis lagi karena tidak mau aku khawatir.
Setelahnya, hari-hari berlalu seperti biasanya. Dirumah hanya ada aku dan ibu, entah ayah pergi kemana tiap harinya dan aku seperti biasa, aku tidak pernah melihatnya.
Di sekolah aku masih rutin dikeroyok oleh para tuan muda dan dicibir para nona muda. Meski begitu, nilai akademik ku sama sekali tidak turun hanya karena masalah itu.
Hari demi hari terus kulalui dengan terus berharap ingin bertemu sang ayah, dan terus tersiksa fisik oleh orang di kelas.
Meski terkadang aku lelah dengan semua itu, tapi begitu aku melihat ibu, semuanya rasa sakit itu hilang. Ibu selalu bisa mengembalikan energi yang terkuras habis karena semua masalah itu.
Aku berpikir, mungkin semuanya baik-baik saja meski apapun masalahnya kedepan.
Selama ada ibu disisiku.
Itu yang aku pikirkan.
Namun takdir tidak berjalan seperti yang kuinginkan.
Takdir merenggut semua harapan dan keinginanku. Sebuah harapan dan keinginan kecil biasa, namun sangat berarti bagiku.
Di umurku yang ke-8 tahun, kehidupan neraka ku pun dimulai.
__ADS_1