Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : Masalah Dengan Teman Sekelas


__ADS_3

Awalnya pihak sekolah tidak menyetujui untuk memasukkanku ke Sekolah Dasar karena alasan umurku yang masih terlalu muda. Namun mereka berubah pikiran setelah melihat aku sudah bisa membaca dan menulis , dan memang sangat minat untuk sekolah.


Akhirnya aku pun diterima di sekolah itu.


Tujuan awal ibu memasukkanku ke Sekolah Dasar lebih awal tidak lain hanyalah untuk berharap aku bisa bermain dengan anak lainnya dengan normal. Namun sayangnya itu tidak terjadi.


Meski aku adalah anak yang paling muda se seangkatan, tapi aku terus aktif dalam pelajaran dan sama sekali tidak bermain dengan anak lainnya seperti yang diharapkan ibu.


Pada semester pertama sekolah, aku berada di juara pertama se seangkatan kelas 1.


Semua teman seangkatan dan orang tua mereka, termasuk ibuku kaget aku berada di peringkat pertama.


Orang tua mereka bahkan ada yang komplain dengan pihak sekolah, karena mereka merasa anak mereka pintar, tapi bisa dikalahkan oleh aku yang masih berumur 4 tahun setengah.


Saat berada di dalam kelas untuk pembagian rapor, salah seorang ibu dari temanku komplain pada wali kelas.


"Permisi, pak guru. Saya adalah ibu dari Kenzo. Saya rasa anak saya lebih layak berada di peringkat pertama, tapi kenapa Kenzo di peringkat 5? Apa tidak ada kesalahan saat memasukkan nilai siswa?"


"Jadi maksud anda putra saya tidak pantas di peringkat pertama?!" Tanya ibu tegas


"Yang pasti, Kenzo anak yang sangat pintar. Di umur 5 tahun dia sudah bisa membaca dengan lancar tanpa terbata-bata dan bisa menulis dengan baik"


"Jika anak anda pintar, maka putra saya, Izumi adalah jenius. Tidak hanya membaca dan menulis, tapi Izumi sudah bisa menghitung di umurnya yang baru 3 tahun!" Jawab Ibu lantang


"Mama teriak? Tanyaku


Ibu langsung membungkuk lalu mengusap kepalaku dengan lembut.


"Ada orang yang menghina Izumi. Mama tidak bisa hanya diam saja" Ucap ibu lembut


"Sudah cukup!" Teriak pak wali kelas


"Ibu dari Kenzo, apa anda meragukan saya yang sudah 20 tahun mengajar di sekolah ini?" Tanya pak wali kelas


"Tentu tidak. Saya hanya memastikan saja"


"Anda tidak pernah melihat bagaimana proses belajar anak-anak di kelas ini, anda juga tidak punya barang bukti spesifik untuk apa yang anda keluhkan"


"Meski anda mengira anak anda pintar, tapi tetap saja ada anak lain yang lebih pintar dari anak anda. Mohon berhati-hati saat berbicara kedepannya karena itu menimbulkan kesalahpahaman"


Setelah kejadian itu sudah tidak ada lagi masalah yang serius di sekolah.


Ketika pembagian rapor itu, aku melihat ada beberapa teman kelasku yang kedua orang tua serta saudaranya datang menemani untuk mengambil rapor.


Meski ibu sudah sangat baik padaku, tapi tetap saja, aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari ayah. Terkadang aku juga merasa kesepian karena tidak punya saudara.

__ADS_1


Saat pulang, ibu pun menanyakan hadiah yang kuinginkan.


"Izumi sudah berusaha keras. Apa yang Izumi inginkan sebagai hadiah ranking 1?" Tanya ibu


"Papa! Izu mau main dengan papa dan mama. Izu juga mau adik!" Teriakku


"Eh?!"


Ibu sangat kaget mendengar permintaanku.


Ibu langsung berjongkok hingga sepantaran denganku lalu mengusap lembut kepalaku.


"Izumi, papa sedang sibuk bekerja. Mungkin tidak sempat bermain dengan Izumi. Lalu soal adik, sepertinya itu juga tidak bisa" Ucap ibu dengan lembut


"Sampai kapan papa akan sibuk terus? Dan kenapa Izu tidak bisa punya adik?" Tanyaku


"Papa akan selalu sibuk. Tidak apa, ada mama yang akan terus menemani Izumi"


"Lalu, mama tidak ingin Izumi punya adik, karena mama hanya membutuhkan Izumi. Ini juga mama lakukan demi Izumi sendiri"


Aku menunduk kecewa karena semua yang kuinginkan ditolak oleh ibu.


"Padahal Izu hanya ingin main dengan papa dan adik. Izu tidak terlalu ingin dengan semua kemewahan ini" Gumamku


"Izumi masih kecil, makanya bisa bilang seperti itu. Nanti saat Izumi sudah dewasa, Izumi akan mengerti kenapa mama dan papa seperti ini pada Izumi"


Aku ingin jalan-jalan dengan kedua orang tuaku, namun kenyataannya hanya ada aku dan ibu saja saat jalan-jalan. Dan aku juga tidak ingin mengadakan pesta yang isinya hanya orang-orang dewasa saja. Namun, aku tidak bisa menolak ajakan ibuku.


"Iya, mama" Gumamku


Dengan terpaksa, aku tetap melakukan hal yang sudah ditentukan ibu padaku.


*


Hari demi hari pun berlalu dan kami kembali masuk sekolah semester 2. Tidak seperti di semester 1 yang aku hanya sendirian saja, sekarang anak-anak lain mulai mendekatiku.


"Hai, Arato! Kau ingat denganku, kan?"


"Arato, mau main bersama?"


"Eh? Kamu baca buku setebal itu? Apa tidak pusing?"


"Wah~ Rambut Arato hitam sekali"


Mereka mengerumuniku bagaikan mereka semut dan aku adalah permen.

__ADS_1


Dalam sekali lihat, aku bisa tahu alasan mereka mendekatiku.


"Setelah mereka lihatku ranking 1, mereka mulai mendekatiku yang awalnya kami tidak dekat" Pikirku


"Aku sibuk. Kalian main saja" Jawabku datar


"Ayolah~ Kau terus membaca buku sepanjang waktu. Ayo main dengan kami"


"Aku sedang tidak ingin main"


"Baiklah~ Besok kita main, ya"


Besok, besok, dan besoknya mereka terus mengerumuniku hingga akhirnya mereka mulai menunjukkan keinginan mereka yang sesungguhnya.


"Arato, kau sudah buat tugas, kan? Aku boleh liat, kan?"


"Hey, Arato, aku boleh main ke rumahmu? Aku ingin melihat rumahmu"


"Aku lupa kalau ada ulangan matematika. Arato, aku lihat jawaban punyamu, ya"


"Arato, ayo sekelompok dengan kami untuk tugas kelompok bahasa"


"Arato, papa mu itu CEO, kan? Papa ku ingin mengajak bertemu dengan papa mu"


Aku sangat tidak suka mereka yang datang hanya ketika perlu saja. Dengan tegas aku menolak mereka semua.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya"


Setelah aku menolak mereka semua, mulai terjadi pendiskriminasian terhadap diriku.


Mereka perlahan menjauh dan sekelas memusuhiku. Aku juga samar-samar dengar beberapa cibiran mereka.


"Arato itu terlalu sombong nggak sih? Hanya gara-gara dia ranking 1 dia jadi sok hebat"


"Aku tidak mau lagi bicara dengan patung itu"


"Dia sangat pelit untuk hal sepele"


Aku mendengar semuanya, tapi aku pura-pura tidak mendengarnya sambil terus membaca buku.


Hal itu terus terjadi hingga akhirnya semester 2 berakhir.


Seperti sebelumnya, aku masih berada di peringkat pertama seangkatan dan mereka semakin iri padaku.


Kukira kehidupan burukku hanya sebatas bermusuhan dengan teman sekelas dan tidak mendapat kasih sayang dari sang ayah yang selalu kudamba. Tapi ternyata aku salah besar.

__ADS_1


Semua itu baru awalan dari kehidupanku yang sesungguhnya.


__ADS_2