
"Gelap... Dingin... Juga sunyi..."
Crang!
"Dan... Rantai yang mengikat seluruh tubuhku..."
Kini Izumi berada di dimensi lain. Dimensi yang ada didalam bukunya, yang adalah tempatnya terkurung di segel buatannya sendiri.
Izumi terkurung di penjara berbentuk sangkar burung yang sangat besar, dan dia terikat oleh banyak rantai ditengah sangkar burung itu.
Dengan mata yang sayup, Izumi melihat ke sekelilingnya yang gelap tanpa cahaya.
Crang!!
"!!!"
Rantai itu makin mengikat Izumi dengan kencang.
"Sudah berapa lama waktu berlalu? Sudah berapa banyak kekuatanku yang terisap oleh rantai-rantai ini? Aku tidak tahu. Mungkin... Selamanya aku berada disini" Pikir Izumi
"Semakin banyak segel ini mengkonsumsi kekuatanku, makin kuat juga segel ini mengikatku"
"Aku harus bertahan..."
Perlahan Izumi menutup matanya.
*
**
Entah sudah berapa lama waktu yang sunyi telah dilalui Izumi.
Hingga akhirnya dari luar segel (disekitar buku) terus berisik dan bisa didengar Izumi.
"Kalian tahu? Kelas inilah yang digunakan si penunggu sekolah dulu saat dia masih hidup. Setelah dia meninggal pun dia sering menampakkan dirinya di kelas ini"
"Sungguh? Aku masih kelas 10, jadi kurang tahu. Selama aku disini aku tidak pernah melihat sesuatu seperti hantu"
"Iya. 1 tahun terakhir dia tidak pernah lagi menampakkan dirinya. Kepala sekolah berpikir mungkin dia berhasil ditangkap oleh pembasmi roh sebelumnya. Karen itu sekarang kelas ini akan digunakan kembali"
"Huaah... Syukurlah hantu itu sudah tidak di sekolah ini lagi... Dulu saat aku kelas 10 aku pernah melihat hantu itu, dan sejak itu aku terus ketakutan pergi sekolah. Seharusnya sejak awal dia tidak usah meneror sekolah"
"Benar, benar. Sekolah diselimuti ketakutan saat itu. Untunglah sekarang sudah tenang"
"Dengar-dengar dulu banyak korban hingga meninggal karena teror hantu itu. Kematiannya tidak ada yang wajar"
"Menyeramkan sekali..."
"Eh, omong-omong, ayo cepat bereskan. Aku tidak nyaman berlama-lama disini"
"Iya. Kita bersihkan sekedarnya saja. Kalau mau lebih bersih, biarkan mereka yang akan menempati kelas ini membersihkannya sendiri"
Samar-samar Izumi mendengar orang-orang dari OSIS yang bertugas membersihkan kelas saat libur semester sedang membicarakan hantu sekolah yang dulunya berada di kelas itu.
"Bahkan disaat aku terkurung disini pun mereka masih saja belum puas membicarakanku" Pikir Izumi
*
1 bulan kemudian....
Di luar segel kembali terdengar kebisingan.
Izumi tidak mau peduli dengan banyak suara yang mengusik itu.
Hingga beberapa jam kemudian...
Klang!
Criiiiiinggg!
Wush....
"Angin yang lembut dan hangat, bukan angin dingin yang menembus hingga ke tulang... Apa ada angin seperti ini didalam segel? Tubuhku juga terasa lebih nyaman dari sebelumnya..." Pikir Izumi
Perlahan Izumi membuka matanya, dan dia kaget dengan sinar matahari yang langsung menusuk matanya.
"Cahaya?!" Pikir Izumi kaget
"Ini... Di sekolah. Aku keluar dari segel?" Gumam Izumi masih tak percaya.
Izumi melirik ke anak perempuan di depannya. Perempuan itu tampak ketakutan, namun kembali memberanikan diri mengambil buku milik Izumi diatas meja.
"Dia terlihat familiar..." Pikir Izumi
Beberapa saat kemudian Izumi teringat dengan pertemuan pertama Izumi dengan Yurin kecil.
"Dia... Dia anak kecil yang dulu tersesat dan aku menemaninya mencari orang tuanya, kan? Dia yang melepaskanku dari segel?" Pikir Izumi bertanya pada diri sendiri
"...."
"Sekarang semua orang di sekolah ini adalah musuhku, terutama orang yang melepas segelnya. Karena dia, bisa jadi aku akan tersegel lagi di masa depan" Gumam Izumi
"Akan aku amati dulu dia sebelum aku bertindak" Pikir Izumi
*
Setelah keluar, tentu hal pertama yang Izumi lakukan adalah menemui kedua tangan kanan dan kirinya, Kagusa dan Kei.
"Izumi?!"
"Tuan!!"
Keduanya tampak kaget melihat Izumi.
"Syukurlah kau terkurung tidak terlalu lama. Kupikir setidaknya harus menunggu 10 tahun" Gumam Kagusa terharu
"Nanti saja kalau mau menangis. Aku masih ada hal penting lain" Ucap Izumi menyela omongan Kagusa
"Aku keluar tentunya karena ada manusia yang mengeluarkanku. Menurut kalian, apa aku perlu membunuhnya?"
Keduanya tampak berpikir menimbang-nimbang.
"Bunuh saja, Tuan. Manusia itu bisa melihat Tuan dan itu bisa berbahaya. Tuan juga tak perlu khawatir soal apapun jika manusia yang membuka segel itu mati" Saran dari Kei
"Aku tidak tahu. Lebih baik kau pelajari dulu manusia itu, Izumi"
*
Izumi berpikiran sama seperti Kei, namun disisi lain Izumi juga perlu melihat bagaimana sikap Yurin. Akhirnya Izumi memutuskan untuk mengawasi Yurin terlebih dulu.
__ADS_1
Selama 1 minggu, Izumi terus mengikuti kemanapun Yurin pergi. Otomatis Izumi jadi tahu apa saja kegiatan dan yang dia bicarakan.
Dari 1 minggu itu Izumi sungguh yakin perempuan itu adalah Yurin, anak yang dia tolong sebelumnya. Izumi mengetahui kalau Yurin lupa dengan 'kakak Arato Izumi' yang menolongnya, juga Izumi tahu kalau Yurin membenci hantu gentayangan di sekolah ini.
Izumi pun sudah mendapat kesimpulan untuk apa yang akan dia lakukan kedepannya terhadap Yurin.
"Tidak ada alasanku berbaik hati lagi untuk menolongmu"
"Kau sama saja seperti yang lainnya. Aku tidak peduli siapa kau. Lagian kita hanya bertemu sesaat di umurmu yang masih kecil" Gumam Izumi
"Manusia yang dipanggil Ririn itu yang melepaskanku dari segel. Hanya dia manusia normal yang bisa melihatku. Tidak bisa dibiarkan hidup"
"Aku memang sudah keluar dari segel, tapi aku masih dikekang oleh perempuan itu. Aku harus membunuhnya kalau mau bebas sepenuhnya"
Sejak itu, Izumi terus meneror Yurin dengan mimpi buruk tiap kali dia tidur, hingga Yurin jadi tak bisa berkonsentrasi dalam belajar.
Akhirnya, karena tidak tenang, Yurin tidak mengerjakan PR dan dihukum guru untuk membersihkan kelas seusai kelas selesai.
Di kesempatan ini, Izumi ingin mencoba mengetes Yurin.
"Apa dia sungguh lupa dengan 'kakak Arato Izumi'? Jika dia melihatku, apa tanggapannya?"
Itulah yang Izumi pikirkan.
Disaat Yurin masih membersihkan kelas, Izumi datang ke kelas 10-2 dan menemui Yurin yang sendirian di kelas.
Begitu melihat Izumi, Yurin langsung menyambutnya dengan ramah.
"itu... Ada apa datang kemari?" tanyanya
Yurin melihat papan nama di baju Izumi dan dia terlihat sedikit kaget.
"Ah, senior adalah senior Izumi, kan? Apa senior ingin mengambil buku senior?" tanyanya
"tunggu sebentar, ya. Aku ambil dulu"
Tanpa menunggu tanggapan Izumi, Yurin langsung berlari mengambil buku Izumi didalam tasnya.
"Dia sungguh lupa. Dia juga pasti tidak tahu aku adalah hantu itu" Pikir Izumi
Disaat Yurin masih mencari buku Izumi di tasnya, Izumi lebih dulu pergi meninggalkan kelas dengan teleportasi, karena dia sudah mendapat jawaban dari pertanyaannya.
*
Keesokan harinya, Yurin bertanya kepada kakak kelas mengenai Izumi, dan akhirnya Yurin mengetahui Izumi adalah hantu sekolah.
"Dia sudah tau aku adalah hantu sekarang. Sudah saatnya aku menghabisinya sedikit demi sedikit" Pikir Izumi
Izumi langsung saja menampakkan dirinya pada Yurin dan terus mengejarnya hingga akhirnya dia pingsan karena ketakutan.
"Bagus. Dia tidak akan melupakan kejadian ini dan makin takut padaku" Pikir Izumi
Izumi terus mengikutinya secara diam-diam bahkan setelah pulang sekolah. Di malam harinya, Izumi melihat Yurin membuang buku miliknya ke sungai.
Izumi sangat marah melihat Yurin sembarangan melakukan itu pada buku kesayangannya.
"Benar-benar tidak bisa dimaafkan. Dasar manusia!!"
Izumi mengambil buku itu dan memperbaikinya dengan kekuatannya, lalu kembali menaruhnya ke kolong meja kelas.
Esok harinya, begitu Yurin sampai di kelas dan melihat kolong mejanya, dia sangat kaget. Dengan cepat Yurin merobek buku itu dan membuangnya.
Lagi-lagi, Izumi memperbaiki buku itu dan menaruhnya di kolong meja.
Selanjutnya Yurin membawa buku itu keluar gedung sekolah dan membakarnya. Sama seperti kejadian sebelumnya, buku itu kembali ke kolong meja secara utuh dengan kekuatan Izumi.
Tak lama kemudian, jam pelajaran dimulai. Izumi terus memperhatikan Yurin yang melamun sepanjang pelajaran.
Hingga akhirnya jam istirahat telah tiba. Di kesempatan ini Izumi mau menampakkan dirinya kembali di hadapan Yurin.
Sebelum itu, Izumi menggunakan kekuatannya untuk memberi efek lapar pada siswa di kelas agar semuanya keluar dan menyisakan Yurin seorang.
Rencananya berjalan lancar. Kini hanya Yurin seorang di kelas. Sama seperti rencana, Izumi menampakkan dirinya di hadapan Yurin yang tengah bersiap keluar kelas.
Yurin sangat kaget begitu melihat Izumi.
Melihat Yurin, Izumi kembali teringat dengan Yurin kecil yang ditemuinya dulu.
..."Ririn saat SMA nanti mau sekolah disana!"...
..."Ririn akan belajar dengan giat mulai sekarang agar bisa masuk sekolah itu!"...
Izumi menatap mata Yurin yang ketakutan dan wajahnya yang pucat.
Izumi berjalan maju mendekati Yurin, namun Yurin terus mundur hingga ke dinding.
"Kupikir apa yang kau bicarakan dulu itu hanyalah omong kosong anak kecil belaka. Tak kusangka kau sungguh sekolah kesini. Pilihan bodoh, karena orang yang ingin kau temui sudah tidak ada"
"Dulu dan sekarang sudah tidak sama lagi. Situasi kita sudah berbeda. Sekarang kau membenciku, kau adalah musuhku. Karena itu, aku akan menghabisimu"
"Persiapkan dirimu. Karena itu tidak akan lama lagi"
Setelah mengatakan itu, Izumi langsung pergi meninggalkan Yurin.
*
Setelahnya Izumi terus mengawasi Yurin dari kejauhan.
Di siang hari saat hanya ada Yurin di rumah, Izumi melihat Yurin memegang bukunya dengan wajah serius.
"Dia pasti mau melakukan hal aneh lain pada buku ku" Pikir Izumi
Tanpa pikir panjang Izumi langsung muncul di depan Yurin untuk mengancamnya.
Karena terlalu kaget, buku serta gelas yang dipegang Yurin terjatuh, dan gelas itu pecah.
"Beraninya dia mau buat masalah denganku" Pikir Izumi
Izumi tahu Yurin takut dengannya. Jadi Izumi sengaja memojokkan Yurin agar dia makin ketakutan.
Saat Yurin sudah berada di sudut ruangan, Izumi mengunci pergerakan Yurin. Izumi menutupi kanan dan kiri Yurin dengan tangannya.
"Kenapa kau sekolah di sekolah terkutuk itu? Sejak awal sudah kukatakan masuk SMA lain saja, kenapa malah kesini? 'Kakak Arato Izumi' itu sudah tidak ada!"
"Awal bertemu, aku tidak punya masalah denganmu. Aku tidak membencimu. Tapi kenapa dari sekian banyak orang harus kau yang mengeluarkanku dari segel itu? Aku tidak berniat membunuhmu, tapi aku harus membunuhmu cepat atau lambat"
Karena ketakutan, Yurin jadi makin nekat.
"A... Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!!" Teriak Yurin dan mendorong Izumi
__ADS_1
Yurin lupa kalau Izumi adalah hantu yang tak memiliki tubuh. Alhasil, Yurin menembus Izumi. Akhirnya dia terjatuh dan tangannya terkena pecahan gelas . Tanpa sengaja, darah Yurin terkena buku milik Izumi dan mengaktifkan suatu ikatan jiwa si pemilik segel (buku) dan pemilik darah.
Akhirnya Yurin 'terikat' dengan Izumi.
Tentunya, ini diluar ekspektasi Izumi. Izumi yang awalnya mau membunuh Yurin kini malah dia terikat dengan Izumi.
"Walau terikat, aku tetap bisa membunuhnya. Toh, aku tidak terkena dampaknya walau dia mati" Pikir Izumi
"Tapi..."
"Sepertinya dia bisa aku manfaatkan terlebih dulu"
"Dia lupa denganku. Jadi aku juga akan bersikap seakan ini pertemuan pertama kami. Aku tidak akan membahas apapun soal dia saat masih kecil"
Izumi melirik ke arah Yurin yang masih kebingungan melihat luka di tangannya tiba-tiba menghilang.
"Juga... Aku bisa bermain-main dengannya. Selama dia tidak mengetahui siapa aku yang sebenarnya..."
"Bodoh!!"
Yurin tersentak dan menatap Izumi dengan wajah penuh tanda tanya. Hanya melihat ekspresi Yurin, Izumi sudah bisa menebak isi kepala Yurin.
"Kau pasti penasaran kenapa sekarang kau bisa mendengar suaraku, kan? Ekspresinya mudah dibaca" Pikir Izumi
"Kau tidak salah dengar" Ucap Izumi
"Ayo main-main dengannya hingga aku bosan. Kalau aku bosan, itulah saatnya aku membunuhnya" Pikir Izumi
*
**
Rencana awal Izumi begitu. Namun makin lama rencananya makin menjauh.
Izumi yang selama ini terus terluka, sekarang merasa nyaman karena bisa bertindak semaunya tanpa menahan ego seperti selama ini.
Para roh baik memang baik dan patuh pada Izumi. Namun posisi Izumi adalah Pemimpin. Izumi tidak bisa bersikap sebagai 'Izumi' dihadapan para roh lainnya. Dan roh lainnya juga tidak bisa menganggap Izumi yang adalah Pemimpin sebagai 'Izumi'. Antara Izumi dan para roh masih ada penghalang status.
Hubungan Izumi dengan Kei dan Kagusa memang sangat dekat, namun Izumi tidak bisa bersikap seenaknya (dalam artian tertawa atau melakukan hal lucu), karena mereka berdua tahu masa lalu Izumi.
Izumi memanfaatkan Yurin yang tidak tahu apapun sebagai pelampiasan emosi yang terus ditahan Izumi.
Awalnya.... Izumi menganggap Yurin seperti itu.
Namun makin lama, Izumi merasa banyak kesan baik selama bersama Yurin yang tidak dia dapat dari orang lain selama ini.
Para roh juga ikut heran dengan perubahan sikap Izumi yang sangat kontras dengan sebelum dia bertemu Yurin.
Izumi sangat serius dalam setiap urusan, terus mengerjakan tugas kepemimpinan tak henti, juga terus mengadakan rapat membahas kemajuan wilayah. Tidak ada ekspresi tertawa yang terlukis di wajah Izumi. Yang ada hanya wajahnya yang datar juga matanya yang tajam setiap saat.
Namun sekarang hal itu terbalik. Hampir setiap saat Izumi tersenyum dan tertawa. Izumi mengabaikan tugas kepemimpinan hanya untuk menemui Yurin. Rapat jarang diadakan, juga tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan Izumi dialihkan pada Kei dan Kagusa.
Hingga di suatu hari beberapa selang waktu setelah ulang tahun Yurin....
"Izumi, kau menyukai Yurin?" Tanya Kagusa
"Itu tidak mungkin. Dia manusia"
"Apa masalahnya dengan manusia? Kau juga pernah jadi manusia. Tidak sedikit roh yang menyukai manusia"
"Tapi aku tidak termasuk di 'tidak sedikit' itu"
"Jadi apa maksud dari sikapmu?"
"Transaksi"
"Transaksi? Tapi tidak terlihat kau seperti melakukan transaksi dengannya" Tanya Kagusa
"Aku termasuk roh jahat. Aku perhitungan dengan semua yang kulakukan. Aku mendapat sesuatu, dan aku memberi sesuatu. Dan transaksi ini hanya bisa aku lakukan dengan manusia itu"
"Namun masalahnya, Izumi, kau sendiri bahkan tidak tahu dengan dirimu sendiri"
"Kau tidak sadar kau begitu lembut dengan Yurin? Sikapmu antara Yurin dan kami berbeda"
"Itu termasuk dalam transaksi yang aku katakan tadi"
"Termasuk matamu yang berbinar ketika melihat Yurin?"
"Apa maksudmu?"
"Terlihat jelas kau senang di sisi Yurin. Tatapanmu terlihat berbeda kalau melihatnya"
"Aku pernah bertemu dengannya saat dia masih kecil, dan saat itu aku cukup senang. Anggap saja mataku berbinar karena aku senang bertemu kembali dengan adik kecil itu"
Kagusa mengernyitkan dahinya dan menatap Izumi bingung bercampur curiga.
"Alasanmu aneh. Kalian hanya bertemu sekali saat dia masih kecil, kan? Apa alasan kau senang bertemu dengannya lagi?"
"Inikah yang dinamakan takdir? Rasanya hampir tidak mungkin hal ini cuma kebetulan belaka, kan?" Lanjut Kagusa
"Aku tidak peduli. Sudah cukup, lanjutkan pekerjaannya. Aku mau pergi" Ucap Izumi dan langsung berjalan menjauh dari Kagusa
"Pergi menemui Yurin?" Tanya Kagusa dan membuat Izumi tersentak.
Kagusa menghela nafas pelan.
"Jangan bunuh Yurin, kau mengerti? Alasanmu ingin membunuhnya dulu dan sekarang pasti sudah berbeda"
"Dulu kau ingin membunuhnya sebagai musuh, tapi sekarang kalau kau membunuhnya pasti dengan alasan agar bisa bersama dengannya terus sebagai sesama roh"
"Tahan dirimu. Kalau kau melakukan itu, Yurin akan membencimu selamanya"
Izumi berbalik menatap Kagusa dengan kesal.
"Aku tidak sejahat itu! Aku tahu tanpa perlu kau beri tahu. Dan hentikan imajinasi liar itu!!"
Izumi pun pergi teleportasi.
*
Izumi teleportasi ke kastil kepemimpinan dan berjalan menelusuri koridor yang gelap.
"Suka? Pada Yurin? Itu tidak mungkin. Aku tidak akan menyukai manusia" Gerutu Izumi
"Kagusa terlalu berlebihan. Aku tidak mengerti bagaimana matanya bisa melihat hal seperti itu"
"Aku cuma tersenyum, tertawa, menolongnya, menghiburnya, menemaninya, mengajarinya, mendukungnya, melindunginya, lalu... Memberinya.... Bunga.... Juga... Terkadang tidur.... Dengan... Nya..."
Suara Izumi makin lama makin kecil sama dengan langkah kakinya yang ikut melambat saat mengatakannya, dan telinganya mulai memerah.
__ADS_1
Izumi langsung menutup mulutnya mengunakan punggung tangan dengan wajah tertunduk.
"Ini... Kenapa telingaku panas dan dadaku berdebar...."