Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : Awal Pembullyan


__ADS_3

*


Di siang hari, aku hanya duduk didalam kamar sambil membaca buku.


Aku melirik kearah jendela dan melihat keluar.


"Cuaca cerah. Lebih baik aku coba jalan-jalan di luar" Pikirku


Aku pun pergi keluar.


Saat sedang mengelilingi taman, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Kirian, Rio, dan Rusen yang sedang bermain.


"Hah? Apa-apaan? Kami tidak mengajakmu main!" Ucap Rio sinis


"Rio~ Ucapanmu kasar sekali" Ucap Rusen


"Tidak peduli!"


"Dia sepertinya sangat membenciku" Pikirku


"Aku... Hanya ingin jalan-jalan saja. Aku akan pergi sekarang"


Aku pun pergi ke tempat lain untuk jalan-jalan. Bersamaan aku sudah agak lelah terus berjalan, aku melihat sebuah pohon besar dipinggir taman, dan duduk dibawahnya.


Aku berfikir mengambil kesimpulan dari aku yang tinggal dari semalam hingga saat ini di rumah keluarga Hazuki.


"Tuan Hazuki tidak seburuk itu padaku. Setidaknya, disini aku lebih baik daripada di kediaman Foren. Dan meski Rio membenciku, itu masih lebih baik daripada dimusuhi oleh seluruh teman kelas" Pikirku


"Apakah... Disini kehidupanku akan lebih baik?" Pikirku


Aku pada saat itu begitu polos. Begitu diberi kebaikan sedikit langsung merasa senang.


Tidak...


Karena aku sudah putus asa dengan kehidupan, jadi begitu ada orang yang bersikap sedikit baik padaku, aku jadi merasa bergantung padanya.


Dan itu adalah salah satu kesalahan fatal dari sekian banyak kesalahan yang kulakukan.


*


**


Keesokan harinya, Tuan Hazuki membawa aku, Kirian, Rio, dan Rusen untuk mendaftar di Sekolah Menengah Pertama.


Sekolah itu adalah sekolah bergengsi untuk anak dari orang-orang yang punya jabatan tinggi, jadi aku sedikit waspada karena pasti diantara mereka ada yang mengenaliku.


"Tes akan dimulai senin depan. Jadi persiapkan diri kalian masing-masing" Ucap seorang guru


"Baik"


Kami pun keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan seorang anak laki-laki.


"Oh! Ian, Rio, Ruu! Pas sekali bertemu disini" Teriaknya


"Eru, kau juga sekolah disini?" Tanya Kirian


"Iya. Kepala sekolah disini adalah teman papa, jadi papa menyuruhku sekolah disini"


"Kau tidak bilang sebelumnya mau sekolah disini!" Ucap Rusen ngambek


"Maaf, maaf. Aku kelupaan"


"Ngomong-ngomong, paman dimana?" Tanya anak itu


"Papa menunggu didepan. Apa kau tidak melihatnya?" Tanya Kirian


"Tidak, aku tidak melihatnya"


Anak laki-laki itu adalah Hazuki Maeru, biasa dipanggil Eru. Ayah dari Maeru adalah kakak dari Tuan Hazuki. Jadi Maeru adalah sepupu dari Kirian, Rio, Rusen, Akihito dan Akane.


Maeru memiliki rambut oranye dan bermata hijau dengan poni belah tengah. Dengan seragam Sekolah Dasar yang sama dengan Kirian, Rio, dan Rusen, dia berbincang santai dengan mereka.


Maeru melirik ke arahku.


"Hm? Siapa dia, Ian?" Tanya Maeru


"Anak dari keluarga Arato, dan sekarang papa jadi walinya"


"Dia diadopsi?" Tanya Maeru


"Anggap saja seperti itu"


Maeru berjalan mendekatiku.


"Hai, aku Hazuki Maeru, sepupu Ian"

__ADS_1


"Arato Izumi" Jawabku singkat


"Berapa umurmu?" Tanyanya


"Akan memasuki 9 tahun"


"9 tahun? Artinya kau adik sepupuku, dong? aku akan masuk 12 tahun"


"Aku Arato, bukan Hazuki" Jawabku


"Itu hanya masalah nama. Kenyataan kau diadopsi paman tidak berubah, yang artinya kau adik sepupuku juga"


"Semoga kedepannya kita makin akrab~"


Maeru menatapku dalam sambil senyum yang membuatku merasa tidak nyaman.


Untungnya tak lama setelah itu Tuan Hazuki datang.


"Ada apa berkumpul disini? Ayo pergi kesana untuk proses selanjutnya" Ucap Tuan Hazuki


Setelah pendaftaran dan melakukan berbagai macam hal lainnya, kami pun kembali ke rumah di siang hari dan berpisah dengan Maeru.


Begitu kami kembali ke rumah, kabar buruk pun datang.


Seorang pelayan dengan tergesa-gesa langsung berlari mendekati mobil yang kami naiki begitu kami sampai.


"Tuan besar, tuan besar!!" Teriaknya


Tuan Hazuki pun menurunkan kaca mobilnya dan menyahut pelayan itu.


"Ada apa?"


"Nyonya! Keadaan Nyonya makin memburuk, Tuan besar. Kami baru saja mendapat kabar kalau Nyonya kritis!!" Teriaknya


Dengan tergesa-gesa, Tuan Hazuki langsung menyuruh kami turun dan pergi ke rumah sakit.


"Kalian turunlah. Aku akan ke rumah sakit sekarang"


Tuan Hazuki pada malam itu sama sekali tidak kembali ke rumah karena khawatir dengan istrinya.


Keadaan kelima anaknya juga jadi terlihat buruk karena ikut khawatir dengan keadaan ibu mereka.


Mereka berlima jadi lebih sering mengurung diri dan tidak bermain.


"Hiks... Kakak... Mama... Mama bagaimana? Kane mau ketemu mama..." Gumamnya sambil terisak-isak.


Aku bisa mengerti perasaan mereka, karena aku juga berada di posisi yang mirip dengan mereka. Ibu kami semua sedang berjuang dengan penyakit mereka, tentu kami tidak bisa tenang.


Namun masalahnya...


Buk!


"Ini semua karnamu!! Mama sebelumnya baik-baik saja, tapi begitu kau datang, Mama langsung kritis. Kau pembawa bencana di keluarga ini!!" Teriak Rio


Aku tidak bisa mengerti, apa hubungannya aku datang ke rumah keluarga Hazuki dengan ibu mereka yang jadi kritis.


Hanya karena kebetulan aku datang kesana bersamaan dengan ibu mereka jadi kritis, aku jadi disalahkan begitu saja.


Kirian dan Rusen yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan kehadiranku, sekarang mulai menatapku dengan sinis.


"Aku... Tidak melakukan apapun..." Gumamku


"Memangnya aku peduli apa yang kau lakukan?!" teriak Rio dan kembali memukulku.


Setelahnya Rio langsung mencengkeram kerah bajuku.


"Kau itu orang yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya disini. Jadi lebih baik kau diam saja!" Teriaknya dan mendorongku menjauh.


Rio langsung pergi begitu saja. Sedangkan Kirian dan Rusen hanya melirik kearahku sekilas lalu ikut pergi bersama Rio.


Itu barulah permulaan dari kekerasan mereka.


*


5 hari kemudian, bertepatan dengan ulang tahunku yang ke-9 tahun, Nyonya Hazuki meninggal dunia karena operasi yang dilakukannya gagal.


"Hiks... Mama...!!"


Mereka semua menangis histeris begitu jasad ibu mereka dibawa pulang.


Meski aku tidak ada hubungannya dengan mereka, tapi aku ikut merasa sedih.


Mulai dari kematian Nyoya Hazuki ini, keluarga ini pun terpecah.


"ini semua karena kalian! Seandainya kalian tidak ada, mama tidak akan mati!!" Teriak Kirian sambil menunjuk Akihito dan Akane

__ADS_1


"Jika saja mama tidak melahirkan kalian, sampai sekarang pun mama tetap sehat!!" Lanjutnya


Sejak itu, hubungan si kembar dengan kakaknya memburuk. Dan sebagai pelampiasan, aku juga ikut terseret didalamnya.


"Kau benar-benar pembawa kutukan!! bisa-bisanya mama mati bertepatan dengan ulang tahunmu?! Kau benar-benar pembawa sial di keluarga ini!" Teriak Rusen


Anak-anak pun terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok dominan, yaitu Kirian, Rio, Rusen, dan ditambah Maeru yang terus menempel pada Kirian. Kelompok 2 adalah kelompok netral yang tidak mendukung siapapun, yaitu Akihito dan Akane, lalu kelompok terakhir yaitu aku sendiri, yang jadi bahan siksaan mereka.


Sejak kematian Nyonya, mereka yang dipimpin Kirian mulai membully ku di rumah.


*


Di pagi hari setelah kematian Nyonya Hazuki, saat kami sarapan, Tuan Hazuki tidak ikut karena masih sedih dengan kepergian istrinya. Yang sarapan hanya kami berenam saja.


Saat aku duduk di kursi tempatku, aku melihat di piringku ada seekor cicak mati yang terpampang jelas.


Hanya melihat makanan biasa saja aku sudah mual, apalagi ditambah ada seekor cicak mati yang membuatku makin mual.


"Ugh..."


Refleks aku langsung menutup mulutku untuk menahan agar aku tidak muntah.


"Aku... Permisi dulu karena aku tidak lapar..." Gumamku


"Apa? Kau terus melewati sarapan pagi. Kau tidak menghargai keluarga ini?" Tanya Rio sambil menatapku sinis


"Aku ingin kembali ke kamar sekarang...." Gumamku lalu beranjak dari kursi


"Hei!" Teriak Kirian dan langsung menahanku


"Kau sama sekali tidak makan apapun. Cepat makan!"


"Tidak... Aku tidak lapar" Gumamku


"Tidak lapar bukan berarti tidak bisa makan, kan? Cepat makan saja sarapan yang sudah disajikan! Koki akan sedih melihatmu sama sekali tidak memakan masakan yang dia buat!"


Kirian langsung mengambil piring milikku yang masih berisikan cicak mati, lalu menyuapiku makanan itu.


"Cepat makan!"


"Ugh..."


Aku refleks ingin memuntahkan makanan itu, tapi Kirian langsung menutup mulutku.


"Kunyah dengan baik, lalu telan. Apa kau tidak tahu cara makan?" Tanyanya


Aku terus memberontak, tapi tubuhku ditahan oleh Rio dan Rusen hingga aku tidak bisa bergerak lagi.


"Cepat makan! Habiskan semuanya!" Ucap Kirian


Kirian terus menyuapiku makanan itu meski aku terus memberontak dan tidak membuka mulutku.


"Kau ini sangat merepotkan!"


Dengan kasar Kirian membuka mulutku secara paksa dan menyumpali mulutku dengan makanan itu hingga cicak itu termakan.


"Hoek...."


Air mataku mengalir tanpa kusadari. Aku tidak bisa menahannya lagi dan akan muntah, tapi Kirian kembali menutup mulutku.


"Telan semuanya! Sudah kubilang jangan sisakan apapun!"


Dengan terpaksa aku menelannya kembali.


Setelahnya mereka melepaskanku, dan aku langsung lari ke toilet.


"Hoek... Egh... Hoek..."


Aku kembali memuntahkannya hingga tenggorokan dan perutku terasa sakit.


Ditengah aku yang sedang muntah itu, Mereka bertiga kembali mendekatiku lalu menyiramku menggunakan air es.


"Raut wajahmu terlihat buruk, jadi kami coba menyirammu menggunakan air es agar kau segar kembali" Ucap Rio


"Eeh~ Tapi Rio, sepertinya air es masih tidak mempan" Ucap Rusen


"Apa perlu coba pakai air panas?" Tanya Rio


"Papa akan tahu begitu lihat luka melepuh padanya kalau pakai air panas" Ucap Rusen


"Yasudah, itu bukan urusan kita. Ayo pergi"


"Ian memang begitu baik~"


Mereka bertiga pun pergi meninggalkanku yang kedinginan.

__ADS_1


__ADS_2