
*
Ibu...
Sejak menjadi roh, aku jadi sangat terobsesi untuk membunuh dan meneror orang di sekolah hingga aku melupakan ibuku sendiri.
Ibu yang paling aku sayangi di dunia ini dan juga merupakan alasan aku terus bertahan hidup sebelumnya....
Bisa-bisanya aku malah melupakannya.
*
**
"Ibumu, apa kau tidak terpikir soal ibumu selama 2 tahun kau jadi roh?" Tanya Kagusa
Aku terdiam.
"A... Apa yang kau katakan?! Aku benci manusia, dan Mama adalah manusia!!" Teriakku
"Suaramu terdengar ragu. Kau menyembunyikan sesuatu"
"Kau tidak perlu mencampuri kehidupanku! Urusi saja dirimu sendiri!!" Teriakku
"Urusan kalian semua adalah urusanku juga. Selagi belum ada pemimpin roh jahat, kau yang roh jahat juga termasuk tanggung jawabku"
"Apalagi, kau adalah calon pemimpin yang kupilih langsung"
Aku hanya menatap tajam si pemimpin roh baik itu.
"Arato Izumi, kau sayang pada ibumu, kan?" Tanya Kagusa
"Kau mau melakukan apa yang ibumu inginkan. Tapi kenapa kau jadi seperti ini? Ibumu tidak mengharapkan kau jadi seperti ini"
"Berisik! Berisik! Berisik! Aku sayang pada manusia?! Jangan bercanda!! Dia tak lebih dari manusia yang tugasnya hanya melahirkanku ke dunia ini. Seandainya dia tidak melahirkanku, aku juga tidak akan jadi seperti ini!!"
"Dialah orang yang membuatku jadi seperti ini!! Aku benci dia! Sangat benci!!! Mana mungkin aku menyayangi manusia!!"
"Dia yang menyayangiku bagaikan harta berharganya, tapi setelahnya malah membuangku bagaikan sampah, dan bahkan melupakanku. Aku tidak mungkin menyayangi manusia seperti itu!!"
"Arato Izumi..." Gumam Kagusa
"Kau... Menangis?"
Aku langsung tersentak dan memegang pipiku yang basah.
"Menangis? Mana mungkin. Sejak SMA aku sudah tidak menangis lagi meski bagaimanapun mereka menyiksaku. Bagaimana mungkin aku bisa menangis tanpa sebab?!"
"Tidak. Aku tidak menangis. Ini air yang entah jatuh dari mana. Ini bukan air mataku..." Gumamku dan terus mengusap mata yang masih mengalir air mata.
"Mulutmu pedas sekali, Arato Izumi. Tapi apa yang dikatakan mulutmu berbanding terbalik dengan isi hatimu"
"Sudah 2 tahun kau tidak melihatnya. Bagaimana kalau kau tenangkan dirimu dulu dan temui mama mu, lalu kita lanjuti pembicaraan---"
"Berisik!!" Teriakku
"Hah?! Menemuinya?? Untuk apa?! Toh dia juga tidak bisa melihatku. Walau dia melihatku juga yang ada di benaknya adalah aku si pembunuh suami tercintanya itu!!"
"Kalau begitu, kenapa kau menangis?"
"Aku tidak menangis!!"
"Aku tidak tahu kau masih tidak mengerti juga atau kau pura-pura tidak mengerti" Ucap Kagusa sambil menghela nafas, lelah menghadapiku
Kagusa langsung teleportasi ke belakangku. Belum sempat aku bertindak, aku sudah dibawanya teleportasi ke tempat lain.
Tempat itu adalah...
Zuuung....
Dinding berwarna putih yang sangat familiar, dan ruangan luas penuh dengan warna putih, yang hanya ditempati seorang wanita dengan rambut pirang dan bermata biru untuk melakukan perawatan.
Kami berdua teleportasi ke ruang rawat ibu, dan berdiri didepan ranjang ibu.
Ibu duduk diatas ranjangnya dengan wajah tenang tapi juga sendu, terus melamun menatap keluar jendela.
"Ma..."
Tok, tok, tok.
Pusat perhatianku, ibu, dan Kagusa teralihkan ke arah pintu yang diketuk.
"Permisi, Nyonya, sudah saatnya makan siang dan minum obat" Ucap sang suster dan masuk kedalam.
Ibu hanya menatap datar si suster yang sibuk menaruh makanan.
"Nah, silahkan dimakan, Nyonya. Saya akan menunggu hingga Nyonya menyelesaikan makannya"
"Umm... Maaf... Ada yang mau kutanyakan..." Gumam ibu sambil memainkan jemarinya.
"Ya? Apa itu, Nyonya?" Tanya si suster
"Anak laki-laki itu, apa dia tidak kunjung datang ke sini?" Tanya ibu
"Aku terus menunggunya, tapi dia tidak datang..." Gumam ibu
"Ah, soal itu..." Gumam si suster dengan raut muka bersalah
__ADS_1
"Maaf, kami tidak pernah melihatnya masuk ke rumah sakit ini lagi selama 2 tahun terakhir..." Gumam si suster
"...."
Raut muka ibu makin suram.
Ibu menggenggam kencang selimut yang menutupi kaki hingga pahanya.
"Begitu, ya..."
"Nyonya tidak perlu khawatir. Saya yakin dia tidak melupakan Nyonya. Dia remaja yang akan tumbuh dewasa. Dia pasti sibuk dengan urusannya hingga tidak sempat menemui Nyonya" Ucap si suster panik
"Ya, kau benar. Dia tidak mungkin... Melupakanku..."
Aku langsung tersentak.
"Mama..." Gumamku dan berjalan mendekati ibu
Tapi...
Zuuuuung...
Tiba-tiba Kagusa sudah membawaku kembali ke sekolah.
"Bagaimana? Sekarang kau sudah mengerti?" Tanya Kagusa
Untuk kedua kalinya di hari ini, mataku tidak bisa menahan air mata.
Aku langsung mencengkeram kuat rambutku dan perasaan bersalah yang sangat besar masuk ke tubuhku.
"Apa yang aku lakukan? Disaat aku sedang bersenang-senang, Mama sedang sedih terus menungguku. Bahkan aku juga melupakannya karena obsesi dan dendam pada orang di sekolah"
"Aku menyalahkan Mama yang melupakanku, tapi kenyataannya Mama terus mengingatku, malah aku yang melupakannya"
"Selama 2 tahun ini, Mama terus menungguku..."
Tangisanku jadi makin pecah.
Dan tiba-tiba...
Deg...
"!!!"
"Aarrghh!!"
"Agh...."
Aku langsung teriak kesakitan sambil memegang kedua mataku. Perlahan kakiku jadi gemetar dan terjatuh ke lantai.
"Mataku... Sakit sekali..." Gumamku dan terus memegang kedua mataku
"Apa?"
Deg... Deg... Deg...
"Arghhh..."
Aku meringkuk kesakitan. sekarang tak hanya di mata, tapi seluruh tubuhku terasa sangat sakit seakan ada pertarungan sengit didalam tubuhku dan aku siap meledak kapan pun.
"Ada apa, Izumi?!" Teriak Kagusa makin panik
Tapi aku tidak bisa mendengar ucapan Kagusa. Telingaku seakan tidak berfungsi karena rasa sakit yang amat sangat.
Drip... Drip drip...
Cairan merah jatuh ke lantai yang keluar dari mataku dan mengalir ke tangan hingga siku ku.
"Darah... Ada apa tiba-tiba seperti ini?! Tidak mungkin ini karena pertarungan sebelumnya. Tapi karena apa?" Gumam Kagusa
Lalu Kagusa tersentak.
"Tunggu... Perasaan ini..." Gumamnya
"Hei, Izumi. Bangun dan perlihatkan matamu padaku!" Teriak Kagusa dan menegakkan tubuhku yang teringkuk.
"Sakit sekali..." Rintihku
"Singkirkan tanganmu. Biarkan aku lihat, ada apa dengan matamu" Ucap Kagusa dan menurunkan tanganku yang masih memegang mata
Perlahan meski sangat sakit, aku membuka mataku dan menatap Kagusa.
Dan Kagusa sangat kaget begitu melihatnya.
"Aku sudah menduganya karena auranya berubah drastis, tapi aku tetap kaget..." Gumam Kagusa
"Matamu... Berwarna ungu... Warna merahnya luntur menjadi darah" Gumam Kagusa
"Roh baik Izumi bangkit"
Deg... Deg...
"Agh!!"
Kagusa mulai melihat kondisi tubuhku dengan teliti.
"Kekuatan roh baik dan jahatnya sedang beradu di dalam tubuh Izumi. Karena baru bangkit, kekuatan roh baiknya masih lemah dan kekuatan roh jahat berusaha mengusir kekuatan roh baik. Karena itu Izumi jadi merasa sakit yang amat sangat karena pertarungan kedua kekuatan"
__ADS_1
"Tidak bisa dibiarkan! Kalau dibiarkan, Izumi bisa lenyap karena tidak bisa menahan pertarungan kedua kekuatan!"
Kagusa pun membantuku dengan menyalurkan kekuatan roh baiknya kedalam tubuhku agar kekuatan roh baikku bisa mengimbangi kekuatan roh jahat.
Namun...
Karena aku berada di tingkat master roh jahat, jadi kekuatan roh jahatku sangat besar, dan Kagusa tidak bisa memberi kekuatan roh baiknya sebanyak itu.
"Tidak ada pilihan lain..." Gumam Kagusa
Kagusa perlahan meletakkanku. Dia fokus pada kekuatannya, dan di sekelilingnya sekarang mulai bermunculan serpihan-serpihan kekuatannya yang berterbangan.
Kagusa mengenadahkan tangannya di depan dada, dan perlahan serpihan kekuatannya itu berkumpul menjadi satu di tangannya membentuk sebuah kristal biru yang bersinar terang.
Kagusa kembali mendekatiku.
"Kuberikan posisi pemimpin roh baik padamu, karena aku tahu kau saat hidup bukanlah orang jahat. Dan sekarang hal itu terbukti"
Kagusa memasukkan kristal hati biru melalui dadaku.
Perlahan, rasa sakitnya mulai berkurang. Dan tanpa sadar aku tertidur.
*
Aku pun terbangun dari tidurku. Aku tidur dengan posisi duduk bersandar ke dinding kelas di koridor sekolah, masih di tempat awal tadi.
"Sudah bangun?" Tanya Kagusa
Aku hanya melirik Kagusa dalam diam dengan mata yang berubah jadi biru.
"Wah~ Matamu yang warna biru sangat indah dibanding mata merah yang sebelumnya sangat menyeramkan"
"Kau tidur sangat singkat, hanya beberapa menit. Apa tidak nyaman dengan posisi duduk? Bagaimana kalau kau istirahat dulu?" Tanyanya
"Bukan itu hal yang penting sekarang" Ucapku datar
"..." Kagusa hanya diam menatapku
"Kenapa... Kau menjadikanku pemimpin? Aku sudah bilang tidak mau jadi pemimpin, apalagi ini pemimpin roh baik"
Kagusa tersenyum tipis.
"Kau lebih cocok jadi pemimpin. Selama kepemimpinanku, wilayah ini tidak mengalami kemajuan, malah makin lama makin berada diambang kehancuran"
"Awalnya aku berniat untuk bekerja sama dan membangkitkan wilayah ini bersama denganmu sebagai pemimpin roh jahat. Tapi karena roh baikmu bangkit, selain karena keselamatanmu, aku berpikir akan lebih mudah bagimu mengaturnya sendiri, karena kau tidak perlu mendapat izinku jika ingin melakukan sesuatu"
"Aku yakin ada alasan lain kau melakukan ini padaku" Ucapku
"Karena... Kau lumayan mirip denganku yang dulu. Tapi kisahku tidak separah dirimu"
"Dulu aku berpikir, aku merasa sangat menderita. Tapi begitu melihatmu, aku merasa lega karena ada yang merasakan hal itu juga"
"Aku juga... Sangat kekanak-kanakan" Ucap kagusa sambil tertawa pelan
"..." Aku hanya diam sambil menatapnya datar.
Lalu, Kagusa menyodorkan kristal hati merah padaku.
"Ini. Sekarang kau juga harus jadi pemimpin roh jahat" Ucap Kagusa datar tanpa menatapku
"..." Aku menatap lekat kristal hati merah di tangannya.
"Baiklah. Anggap saja ini balasan untuk kau yang menyelamatkanku tadi"
Kagusa langsung menoleh menatapku.
"Apa yang kau katakan? Kekuatan kristal hati biru itu sangat besar dan bisa mengalahkan kekuatan roh jahatmu. Jika kau tidak jadi pemimpin roh jahat, keselamatanmu juga bisa terancam apalagi kau masih belum bisa mengontrol 2 kekuatan ini" Ucap Kagusa
"Balasan apanya? Ini juga untuk keselamatanmu. Kau belum melakukan apapun untukku!!" Ucap Kagusa dan memecahkan situasi serius ini
"Siapa suruh kau tiba-tiba menjadikanku pemimpin?!" Balasku
"Kau tidak suka?!" Balas Kagusa
Aku tertawa kecil.
"Terima kasih. Terima kasih telah menyadarkanku pada hal penting yang kulupakan. Terima kasih juga telah menyamatkanku"
"Berapa kali kau sudah bilang terima kasih? Padahal kau sangat dingin padaku beberapa saat yang lalu dan selalu mengusirku sebelumnya" Ucap Kagusa sambil tertawa
"Maaf"
"Ayolah~ Tidak usah tegang begitu. Aku hanya bercanda" Ucap Kagusa sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Jadi, sekarang kita jadi teman, kan?" Tanya Kagusa
Aku hanya tersenyum tipis.
"Entahlah"
"Hah?! Masih belum?! Harus berapa banyak lagi hal berhargaku harus aku beri padamu sampai kau mau berteman denganku?!" Tanya Kagusa
"Mungkin sampai kau rela menyerahkan roh mu padaku" Jawabku
"Kau sungguh tidak berperasaan!! Pasti karena kau masih punya sisi roh jahat!!"
Aku langsung tertawa melihat reaksi Kagusa. Melihatku tertawa, Kagusa pun ikut tertawa denganku.
__ADS_1