Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Menjadi Roh : Pelaku Ke-3


__ADS_3

*


Hari terus berlalu, dan amarahku masih sama seperti sebelumnya.


Dan aku masih sangat menikmati suara teriakan mereka begitu melihatku.


Apalagi, kalau itu suara dari Rio dan Kirian.


Aku sengaja tidak membunuh mereka berdua bahkan setelah mereka kelas 12 sekarang agar aku bisa menyiksa mereka lebih lama, dan membiarkan mereka mati sendiri tanpa perlu aku bertindak.


Setelah membunuh Maeru dan Rusen, aku menyesal membunuh mereka begitu cepat karena aku tidak bisa balas dendam lebih banyak lagi pada mereka.


*


Di dalam mimpi aku terus menindas mereka, terutama Rio, karena dia yang paling sering memukulku dan emosian.


Di seluruh tubuh mereka penuh dengan luka dari balas dendamku.


Dan di suatu malam, didalam mimpi Rio, aku sedang menyayati kulitnya hidup-hidup.


"Arghhh!!"


Aku tertawa kecil dan mulutku tak hentinya tersenyum mendengar teriakannya yang kesakitan.


Aku sengaja menyayatinya sedikit demi sedikit agar dia merasa sakit lebih lama.


Saat tiba di tangannya, aku kepikiran hal baru.


"Kuku tangan dan kakimu bagus sekali. Aku jadi ingin mengoleksinya"


Dengan alat seperti tang, aku mencabut kuku di tangan dan kakinya.


"Aaargh!!"


"Omong-omong~ Tangan ini selalu menodongkan senjata dan memukulku tiap hari, lalu kaki ini juga gunanya hanya untuk menendangku. Bagaimana kalau sekarang kupotong?"


"Ja... Jang---"


Tak!!


"Aaaghh!!"


Aku langsung memotong ujung jari jempolnya, lalu disusul dengan jari kaki lainnya, begitu juga pada jari tangannya hingga telapak tangannya habis.


Tentunya, Rio tak henti-hentinya berteriak kesakitan hingga membuat telingaku sakit.


"Kau terlalu berisik!" Ucapku kesal


"Mulut itu juga kerjanya hanya mengatakan hal buruk padaku!"


Aku mengambil gunting, dan menggunting kedua sudut bibirnya hingga ke pipi, lalu aku menjahit luka itu dari pipi kanan ke kiri.


Tatapanku pun kembali teralih ke matanya.


"Ooh~ Lalu mata ini juga selalu menatapku tajam. Aku sangat membencinya"


Dengan gunting yang sebelumnya kugunakan untuk merobek mulutnya, sekarang aku bersiap menusuk mata kirinya.


Dan...


Crat!


Mata kirinya hancur kutusuk.


"Mata kiri sudah jadi begini, tidak adil kalau yang kanan baik-baik saja"


Aku melempar gunting itu ke belakang, dan mengarahkan tanganku ke mata kanannya.


Aku melebarkan matanya dan mencongkel bola matanya keluar.

__ADS_1


"Bagus~ Sempurna~ Kau adalah boneka terindah yang pernah kulihat"


"Aku menantikan hari esok yang tak kalah menyenangkan"


Rio pun terbangun dari tidurnya.


*


Selama sebulan full aku terus menyiksa dan membunuhnya berkali-kali di alam mimpi.


Tidak hanya dengan wujud diriku, aku juga menghantuinya dengan wujud Maeru dan Rusen untuk menambah rasa bersalahnya.


Rio mulai takut untuk tidur karena aku terus melakukan berbagai penyiksaan padanya di alam mimpi.


Dan karena sebulan itu aku terus menerornya dengan brutal, dia mulai berimajinasi sedang melihatku ingin memulai penyiksaannya, padahal aku tidak mengganggunya di dunia nyata.


"Izumi!! Kenapa kau ada disini?!" Teriak Rio histeris


"Pergi! Jangan dekat-dekat denganku!!"


"Pergi! Aku tidak mau!!" Teriaknya


"Rio! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Kirian


Rio bersikap seolah dia sedang disiksa. Dia meringkuk ketakutan di sudut kamarnya.


"Pergi, pergi, pergi, pergiii!!" Teriaknya


"Kau kenapa?!" Tanya Kirian dan menahan tangan Rio


"Jangan menyentuhku!!" Teriak Rio dan mendorong Kirian


"Kau... Kau mau menyiksaku lagi kan, Izumi? Aku tidak akan diam saja kali ini!!" Teriaknya


"Apa yang kau bicarakan?!" Tanya Kirian


"Kau ini!!!" Gumam Kirian


"Setelah membunuh Izumi dan Rusen, sekarang kau mau membunuhku?!" Teriak Kirian


Kirian pun balik menyerang Rio.


Hingga akhirnya terjadi pergelutan diantara mereka.


Pertikaian mereka berakhir setelah kepala pelayan rumah mendengar keributan di kamar Rio, dan memutuskan untuk mengeceknya.


Akhirnya, Kirian dibawa kepala pelayan keluar dari kamar Rio.


Hubungan mereka berdua pun merenggang.


Dan 'Izumi khayalan' itu terus muncul dan menghantui Rio sepanjang waktu hingga jiwa Rio terganggu.


Dalam waktu 2 minggu, Rio pun jadi gila dan tiap hari terus meringkuk ketakutan di sudut kamarnya.


Semua orang, apalagi Tuan Hazuki berusaha keras untuk menolong Rio, tapi tidak ada hasil karena begitu ada yang mendekatinya, Rio langsung berteriak kencang dan mengamuk.


Dan di minggu selanjutnya Rio meninggal karena rasa takutnya yang berlebihan.


Aku cukup puas dengan ending kehidupannya, karena dia mati dengan tersiksa.


Tentunya, aku tidak menghasutnya untuk bunuh diri atau apapun itu karena aku juga berharap dia hidup lebih lama dan merasakan siksaan lebih lama juga.


Setelah Rio mati, aku pun berencana meneror Kirian dengan cara yang sama.


Namun...


Keluarga Hazuki langsung pindah ke luar negri usai pemakaman Rio.


Yang artinya aku tidak bisa menyiksa Kirian lagi karena dia bukan lagi murid di SMA itu.

__ADS_1


Aku sangat marah saat itu, karena bos nya malah melarikan diri setelah yang lainnya mati.


Untuk melimpahkan amarah itu, aku meneror orang sekolah makin menjadi-jadi.


Dan tentunya, kepala sekolah yang baru tak diam saja.


Dia terus mengundang orang pintar untuk mengusirku dari sekolah.


Namun itu tidak berefek padaku, karena aku sendiri berada di tingkat atas dan sedikit lagi di tingkat master. Mengusirku bukanlah hal mudah.


Justru, aku malah menganggap mereka sebagai mainan dan menipu mereka.


Aku bersikap seolah aku tertangkap, lalu tiba-tiba menyerang balik mereka hingga kalah telak.


Kepala sekolah masih tidak menyerah dan terus mengundang orang pintar untuk mengusirku.


Tentunya, tidak ada yang berhasil melakukannya.


Hingga akhirnya aku sudah berada di tingkat master, mereka masih tidak bisa menangkap ataupun mengusirku.


Terlepas dari pihak sekolah yang terus mencoba mengusirku, sekarang roh asing yang sebelumnya menemuiku itu datang lagi.


"Arato Izumi, sekarang kau berada di tingkat master hanya dalam waktu 1 tahun lebih. Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa"


"Kau pikir aku senang dengan hal ini?" Tanyaku


*


Roh...


Untuk melihat seberapa besar dendam, rasa sakit, dan amarah dari roh jahat saat hidup sangatlah mudah.


Yaitu dilihat dari tingkatan rohnya. Semakin tinggi tingkatan roh, artinya semakin besar juga hal terpendam di dirinya. Begitu juga halnya untuk roh baik.


Berada di tingkat tinggi sejujurnya bukanlah hal yang bisa kubanggakan.


Karena itu juga melambangkan betapa menyakitkannya kehidupanku dulu.


Dan, ada konsekuensi juga untuk bayaran dari kekuatan yang dimiliki roh.


Dalam beberapa hari sekali aku bisa merasa sangat sakit yang amat sangat dalam beberapa jam.


Kekuatan yang besar dan balas dendam itu bukanlah hal yang bisa membuatku bahagia.


*


"...." Roh itu terdiam sejenak


"Aku mengerti. Kau yang sangat logis memang tidak senang berada di tingkat master. Tapi banyak roh yang sangat iri dengan kekuatanmu"


Aku mengernyitkan dahiku dan menatapnya tajam.


"Langsung saja ucapkan apa tujuanmu menemuiku!"


"Sama seperti sebelumnya, aku ingin kau jadi tangan kanan dari pemimpin roh jahat" Jawabnya


"Aku tidak tahu jebakan apa yang kau siapkan. Yang pasti aku tidak akan mengikuti omonganmu. Kalau cuma itu yang mau kau katakan, sekarang pergilah!!"


"Ya, disana ada jebakan. Karena itu aku menyuruhmu jadi tangan kanan pemimpin roh jahat"


Aku tersentak.


"Apa tujuanmu menyuruhku melakukan itu?!"


"Kau akan tahu jika kau jadi tangan kanan dari pemimpin roh jahat" Jawabnya


"Waktuku tidak banyak. Kalau begitu, aku kembali dulu. Pikirkan baik-baik"


Roh itu pun menghilang.

__ADS_1


__ADS_2