Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Episode Spesial 2 : Masa Kecil Yurin


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit menemui Liliana, aku kembali termenung di kamarku yang terasa sangat hening, sungguh berbeda dengan biasanya meski tidak ada Yui namun tetap terasa ramai dengan adanya Izumi, Kagusa, Kei, dan para roh lainnya yang sering datang.


Tak lama setelahnya, orang tuaku datang untuk menjemputku kembali.


Mereka awalnya senang, namun begitu melihatku mereka jadi sedikit bingung.


"Ririn, kenapa kau terlihat tidak bersemangat?" Tanya Mama


"Ah, aku hanya sedikit kangen dengan temanku"


"Sudah kangen? Padahal baru saja libur sekolah"


"Yah, Mama tidak tahu kalau dia sudah lama mati..." Pikirku


"Yasudah, sekaran ayo kita pulang" Ucap Papa yang tiba-tiba muncul sambil mengangkat barang-barang yang sudah ku kemas


*


Setelah sampai di rumah, suasananya kembali seperti saat aku masih bersama orang tuaku. Dan mungkin karena sudah lama tidak bertemu, saat aku kembali ke sini aku merasa jadi lebih dimanja mereka.


"Ririn dulu sangat kecil dan imut dengan pipinya yang tembam. Sangat aktif tapi begitu bertemu orang lain langsung sembunyi dibalik Papa. Rasanya tidak menyangka anak kecil itu sekarang sudah sebesar ini dan mandiri" Ucap Papa sambil tertawa kecil


"Benar. Jangan lupa juga dulu Ririn juga sempat hilang. Mama dan Papa sangat panik waktu itu" Sahut Mama


"Aaahhh... Mama dan Papa, hentikaaaaannnn!" Teriakku malu


"Benar juga. Aku lupa dulu sempat pernah hilang" Pikirku


"Iya. Dan sejak Ririn hilang itu Ririn berubah jadi pemberani. Yah, semua hal selalu ada sisi positifnya meski terjadi hal buruk"


*


Di sore hari, aku sedikit bosan terus berada di kamar. Karena cuaca bagus dan tidak panas, aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar keluar, dan kebetulan di dekat rumahku sedang ada sebuah acara.


Selagi dalam perjalanan itu aku melihat ada kios kecil yang menjual minuman cup, jadi aku memutuskan membelinya dan meminumnya sambil berjalan.


Dan, selama menunggu si penjual menyiapkan minumannya, aku melihat seorang anak kecil perempuan yang menangis sambil berjalan pelan.


"Kenapa dengan anak itu?" Pikirku


Karena kasihan, aku pun mendekatinya.


Begitu berdiri di depannya aku berjongkok hingga sepantaran dengannya.


"Dik, kamu kenapa menangis?" Tanyaku


"Kakak.... Aku terpisah sama kakak di keramaian...." Ucapnya terisak-isak


"Kasihan. Aku sedang ada waktu luang, lebih baik bantu dia bertemu kakaknya. Ini sudah sore, bisa bahaya kalau dia belum juga bertemu kakaknya hingga malam hari" Pikirku


"Kakak ini akan membantumu menemukan kakakmu" Ucapku sambil mengelus lembut kepalanya


"Su... Sungguh?" Tanyanya


"Iya"


Aku mengajaknya kembali ke kios yang menjual minuman itu dan membeli 1 lagi untuk anak itu.


"Ini, minumlah. Kau pasti lelah menangis, kan?"


"Te... Terima kasih... kak..." Gumamnya yang masih cecegukan karena menangis


"Entah kenapa... Deja Vu..." Pikirku


Setelahnya aku terus mencoba menghibur anak itu sambil bertanya-tanya tempat terakhir dia bersama kakaknya.


Hingga sekitar 10 menit, seorang perempuan yang usianya sekitaran diriku berlari mendekati kami, dan anak kecil itu langsung lari ke arah perempuan itu.


"Kakak!!!" Teriaknya


"Aduh, Eni, kau kemana saja... Kakak sangat khawatir...." Ucap si perempuan dan langsung memeluk adiknya dengan erat


Aku hanya tersenyum lega akhirnya anak itu bertemu lagi dengan kakaknya.


Lalu beberapa saat kemudian, perempuan itu menatapku dan berdiri sopan.


"Kamu yang sudah membantu adikku, kan? Terima kasih telah berbaik hati membantunya" Ucapnya sambil sedikit membungkukkan badan.


"Iya, kak. Kakak itu yang menemani Eni. Kakak itu juga memberi Eni minuman enak" Teriak anak itu


"Begitu kah? Aku sungguh-sungguh berterima kasih. Adikku memang sangat lincah, hingga aku tidak sempat terus mengawasinya"


"Tidak. Aku hanya merasa kasihan melihatnya dan aku ada waktu luang, jadi aku menemaninya mencari kakaknya"


"Dan... Karena aku juga pernah berada di posisi anak itu, jadi aku mengerti rasanya" Pikirku


"Aku akan membayar minuman yang diminum adikku, juga untuk ucapan terima kasih, meski tidak banyak..." Ucapnya dan merogoh dompet di tas selempangnya.


"Tidak, tidak perlu. Itu hanya minuman cup biasa dan ucapan terima kasih sudah cukup bagiku" Ucapku cepat


"Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih banyak untuk bantuannya" Ucapnya dan sedikit membungkuk bersama adiknya


*


Setelah beberapa saat aku kembali jalan-jalan begitu berpisah dengan kakak-adik itu. Selagi jalan-jalan itu aku mencoba mengingat ingatan yang sudah pudar di kepalaku.


"Tadi saat membantu anak kecil itu, rasanya deja vu. Mungkin itu karena aku juga pernah hilang. Tapi aku tidak begitu ingat" Pikirku


Aku terus berjalan tanpa tujuan dan mataku tidak melihat ke jalan lagi karena terlalu fokus pada pikiranku.


Hingga akhirnya kesadaranku kembali karena tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria.


"Ah, maafkan aku" Ucapku cepat


Pria itu tersenyum tipis.


"Tidak masalah. Lain kali hati-hati, ya" Ucapnya dan kembali melanjutkan jalannya


Aku kembali termenung.


"Ini... Rasanya sangat familiar..." Pikirku


Perlahan aku merasa ingatanku merambat masuk.


..."Kau tidak apa-apa?"...


..."Aku akan membantumu menemukan orang tuamu"...


Aku langsung tersentak.


"Aku ingat!!" Pikirku teriak


Aku langsung berbalik dan lari kembali ke rumah.


*


**


7 tahun yang lalu, saat Yurin berumur 9 tahun.


"Besok Mama dan Papa ada kerjaan ke luar kota 3 hari. Jadi Ririn akan ikut dan izin dulu sekolahnya" Ucap Papa


"Wah!! Ririn bisa jalan-jalan?" Tanyaku dengan mata berbinar-binar


Mama tersenyum tipis dan mengelus kepalaku.


"Tunggu pekerjaan Mama dan Papa selesai, kita akan jalan-jalan sebelum pulang"


"Yeeeyyy!!" Teriakku senang


Keesokan harinya, aku, Mama dan Papa berangkat ke luar kota.


Dan, 3 hari setelahnya, Mama sungguh menepati janjinya. Begitu pekerjaannya selesai, Mama dan Papa mengajakku jalan-jalan di taman umum yang cukup luas dan besar.


Posisi taman itu disamping kanan-kiri jalan, sehingga siapapun bisa melewati taman itu.


Aku karena sangat senang, tak henti-hentinya berlari di taman itu.


"Ririn, jangan berpisah terlalu jauh dengan Mama" Teriak Mama


"Iyaaa!" Sahutku

__ADS_1


Meski aku bilang iya, tapi aku tidak terlalu mempedulikannya.


Lalu saat di persimpangan jalan, aku melihat seekor kucing berwarna putih polos bermata biru yang sangat lucu.


"Wah, lucu sekali..." Gumamku gemas


"Ririn, ayo kesini" Teriak mama berjalan ke belokan kanan.


"Iya, Ririn akan menyusul" Teriakku dan masih bermain dengan kucing itu.


Lalu, segerombolan orang lewat dan kucing itu langsung lari karena mungkin takut.


"Ah!! Mpus, jangan lari!!" Teriakku


Aku tanpa berpikir langsung lari mengejar kucing itu yang jalannya berlainan dengan arah Mama dan Papa.


Setelah mendapat kucing itu, aku berbalik sambil memeluk kucing itu.


"Mama, aku kesana" Teriakku


Dan aku kaget. Mama dan Papa sudah tidak ada disana.


"Ma... Mama..." Gumamku


Tanpa sadar aku melepas pelukanku pada kucing itu, dan kucing itu kembali lari. Kali ini aku tidak mempedulikan kucing itu dan berlari kembali ke tempat semula.


Tapi, aku lupa ke arah mana saja aku sudah berjalan, dan tampilan jalannya mirip. Ditambah tanaman di taman ini cukup tinggi, jadi aku tidak bisa melihat orang di jalan lain. Orang di jalan lain juga tidak bisa melihatku karena tertutup tanaman.


"Ba... Bagaimana ini..." Gumamku dengan mata berkaca-kaca.


Setelahnya, aku menangis dan asal berjalan kemana saja.


Tanpa kusadari, aku ternyata sudah keluar dari area taman dan berjalan di pinggir jalan umum.


"Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku tidak bertemu dengan Mama dan Papa?..." Pikirku panik


Di tengah kepanikan itu, aku tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang di persimpangan jalan.


"Hm? Adik, kau tidak apa-apa? Kau menangis" Tanyanya


Aku mendongak menatap orang yang aku tabrak.


Dia laki-laki dan sepertinya anak SMA.


Karena panik, aku jadi asal bicara padanya.


"Mama dan Papa..." Gumamku masih menangis


Kakak laki-laki itu berjongkok di hadapanku.


"Kau berpisah dengan orang tuamu?" Tanyanya


"Iya..."


Kakak itu terlihat berpikir sejenak lalu kembali menatapku.


"Aku akan membantumu menemukan orang tuamu"


Dia langsung menggandeng tanganku. Matanya tampak terus melihat ke kanan kiri. Setelahnya dia mengajakku ke sebuah stand yang menjual minuman.


Dia membelikanku minuman ditengah aku yang masih menangis.


"Ini, minumlah. Kau pasti lelah terus berjalan dan menangis, kan?"


Aku bengong untuk sesaat lalu kembali menatap kakak itu.


"Apa... Ririn boleh minum ini?" Tanyaku


"Jadi namamu Ririn? Nama yang bagus. Tentu saja Ririn boleh meminumnya"


"Te... Terima kasih..." Gumamku


Aku pun meminumnya dan kakak itu kembali menggandeng sebelah tanganku.


"Orang tuamu pasti masih mencarimu didalam taman, jadi ayo kita masuk dulu"


Aku melirik ke arah kakak itu.


"Kakak... Membelikan minuman untuk Ririn, tapi tidak untuk kakak sendiri..." Gumamku


"..." Aku terdiam dan kembali menatap ke jalan.


Setelahnya, pembicaraan kami seputar posisi terakhirku dan kronologi bagaimana aku bisa terpisah dari orang tuaku.


Aku menceritakannya sedetail mungkin. Tapi tetap saja, karena aku tidak hafal dengan jalan taman ini, jadi sulit untuk menemukan orang tuaku dengan cepat di taman yang luas ini.


10 menit berlalu, dan kami masih belum menemukan orang tuaku. Aku juga mulai lelah karena terus berjalan.


Kakak itu tahu aku sudah kelelahan, jadi dia mengajak istirahat dulu.


"Matahari sedang terik. Ayo istirahat dulu sebentar di sana" Ucapnya dan menunjuk sebuah pohon besar ditengah taman.


Aku hanya mengikuti kakak itu dan duduk di samping kakak itu.


Kakak itu menatapku.


"Kenapa minumannya masih belum di minum?" Tanyanya


"Ah, iya..."


Aku merasa ucapannya adalah perintah. Jadi begitu kakak itu berkata begitu, aku langsung meminumnya.


Setelah beberapa teguk minum, aku melirik ke arah kakak itu dan menyodorkan minumannya.


"Kakak juga minum" Ucapku


Dia tampak sedikit kaget.


"Kakak tidak apa. Itu punya Ririn"


"Karena ini punya Ririn, jadi Ririn mau membaginya dengan kakak. Kakak juga harus minum bersama Ririn"


"Tidak perlu"


"Kakak juga minum!"


Kakak itu terdiam sejenak. Perlahan kepalanya membungkuk dan meminum minuman yang ku pegang.


Aku dulu yang masih polos dengan yakin menyuruhnya minum di pipet yang sama dengan yang kupakai.


Dan disaat kakak itu membungkuk, aku melihat wajahnya dengan lebih dekat, dan menyadari sesuatu.


"Wajah kakak ada luka. Apa itu sakit?" Tanyaku


Kakak itu langsung tersentak dan menjauhkan wajahnya.


"Ah, tidak. Ini hal biasa" Ucapnya dan menutup lebam di pipinya.


"Apa kalau menjadi dewasa itu harus terbiasa dengan luka?" Tanyaku


"Tidak" Jawabnya


"Tapi tadi kakak bilang itu hal biasa"


"Kakak yakin, kehidupanmu tidak akan sesuram itu hingga harus terbiasa terluka"


Aku saat itu tidak mengerti apa yang dikatakan kakak itu, jadi aku hanya diam saja.


"Ririn, umurmu sekarang berapa?" Tanyanya


"Um... Tahun ini 9 tahun" Jawabku


"Jadi sekitar kelas 4, ya. Setelah ini Ririn harus lebih hati-hati lagi. Jika Ririn terpisah lagi dengan orang tua, kejadiannya mungkin tidak akan seperti ini lagi"


"Diluar banyak orang jahat yang bisa mencelakai Ririn"


Aku terdiam sejenak.


"Artinya kakak orang baik. Karena kakak sudah membantu Ririn"


"Jangan langsung percaya pada orang yang baru ditemui, Ririn"

__ADS_1


"Tapi kakak sudah menemani Ririn dan memberi Ririn minuman ini"


"Bisa saja kakak memberi obat di minumannya dan menculikmu"


Aku langsung kaget.


"Minumannya ada obat?!" Teriakku


"Tidak. Tadi kakak juga meminumnya, jadi seharusnya baik-baik saja, kan?..." Gumamku


Kakak itu tertawa kecil melihat tingkahku.


"Pokoknya, setelah ini jangan terima apapun dari orang asing, apalagi jika tampangnya mencurigakan, mengerti?"


"Iya..." Gumamku


Kakak itu mengelus lembut kepalaku. Sontak aku langsung mendongak menatapnya.


"Jangan berpisah dengan orang tuamu terlalu jauh jika berada di tempat asing yang tidak kau ketahui. Itu berbahaya"


"Iya..." Gumamku dan menunduk menyesal


Kakak itu lalu menunduk menatap wajahku dan tersenyum.


"Kenapa lemas seperti itu? Kakak tidak sedang memarahimu, lho"


Aku balik menatap kakak itu perlahan.


"Apa Ririn takut terpisah seperti ini?" Tanyanya


"Iya. Ririn mau ketemu Mama dan Papa" Jawabku


"Kalau begitu harus terus dekat. Dan semisal hal seperti ini terulang lagi, minta tolong dengan orang sekitar untuk membantu"


"Tapi... Takut..." Gumamku


"Ririn lebih pilih mana? Takut minta tolong dengan orang asing, atau takut tidak bisa bertemu orang tua lagi?"


"...." Aku terdiam tidak bisa menjawab


"Ingat selalu hal itu ketika Ririn tersesat"


Entah mengapa, setelah berbincang dengan kakak ini, aku jadi mulai tertarik padanya. Awalnya aku memang tertekan didekatnya, tapi sekarang aku berasa kakak itu cukup asik dan bisa memberi masukan untukku.


"Kakak, apa kakak tinggal di wilayah ini?" Tanyaku


"Iya. Kakak tinggal dan bersekolah disini"


Aku mulai bersemangat mendengarnya.


"Kalau Ririn sekolah di tempat kakak itu bersekolah sekarang, mungkin saja Ririn bisa bertemu kakak itu lagi. Setidaknya, saat di jalan mungkin bisa berpapasan" Pikirku semangat


"Kakak SMA kan? Kelas berapa? Dimana?" Tanyaku


"Kakak masih kelas 1. Kalau dimana, saat di perjalanan, mungkin kau melihat ada sekolah besar di pinggir jalan. Itu sekolahnya"


Aku langsung kaget.


"Sekolah yang megah dan sangat mencolok hingga bisa dilihat dari kejauhan itu?!" Teriakku


"Iya"


"Ririn saat SMA nanti mau sekolah disana!" Teriakku semangat


"Sekolah itu tidak sebagus kelihatannya. Lebih baik di sekolah lain saja"


"Tidak! Ririn akan belajar dengan giat mulai sekarang agar bisa masuk sekolah itu!"


Kakak itu tertawa kecil.


"Kau sangat bersemangat"


Aku menoleh ke kakak itu dengan mata berbinar.


"Nama Ririn adalah Asahi Yurin. Kalau nama kakak?" Tanyaku


"...."


*


Setelah istirahat sebentar, aku dan kakak itu lanjut mencari Mama dan Papa.


Sekitar 10 menit kemudian, akhirnya aku dan kakak itu bertemu dengan Mama dan Papa.


"Ririn!" Teriak Mama khawatir dan langsung memelukku erat


"Anak nakal. Sudah Mama bilang jangan jauh-jauh dari Mama dan Papa..."


"Maafkan Ririn..." Gumamku


Ditengah Mama yang masih memelukku, Papa berjalan menghampiri kakak itu.


"Kami orang tua dari anak itu. Terima kasih sudah membantu anak kami"


"Iya, tidak masalah Paman. Adik itu sepertinya sangat senang hingga tidak sadar sudah berjalan jauh dan terpisah dengan Paman dan Tante"


"Karena adik itu sudah bertemu Paman dan Tante, jadi aku pamit pergi"


"Kau mau pergi begitu saja?" Tanya Papa


Papa melihat kakak itu dengan seksama, dan menyadari ada beberapa luka di wajah juga di tangannya.


"Kau terluka. Bagaimana kalau diobati lebih dulu sebelum pergi? Ini juga sudah siang, sekalian kau bisa makan siang bersama kami" Ucap Papa


"Terima kasih untuk tawarannya, tapi tidak perlu repot-repot, Paman. Aku tidak lapar dan tujuanku memang pergi ke rumah sakit"


"Astaga. Maaf ya, karena membantu putri kami, kau jadi telat pergi ke rumah sakit. Kau pasti terus menahan rasa sakitnya" Ucap Mama merasa bersalah


"Tidak... Aku ingin mengunjungi seseorang, bukan mengobati luka ini"


"Kalau begitu, aku pamit pergi sekarang"


Kakak itu langsung berjalan pergi menjauh dari kami.


"Sayang, apa tidak masalah membiarkan anak itu pergi begitu saja? Kita bahkan belum mengucapkan terima kasih dengan benar" Tanya Mama


"Percuma saja meski kita menahannya, justru itu makin menghambat waktunya. Tidak apa, dia juga tidak mengharapkan apa-apa dari kita. Dia sungguh anak yang baik"


"Itu benar"


"Semoga... Ririn bisa bertemu dengan kakak itu lagi di masa depan..." Pikirku


*


**


Kembali ke sekarang.


Brak!!


Dengan cepat aku langsung masuk ke kamar dan mengacak meja belajarku mencari sebuah buku.


"Ini dia!" Gumamku ngos-ngosan karena tak henti berlari hingga sampai kamar.


Aku mengambil buku Izumi dan membuka bukunya. Di sela buku itu sebelumnya sempat aku taruh foto Izumi bersama keluarga angkatnya sebelumnya.


Aku mengamati Izumi di foto itu dengan seksama.


"Ternyata benar!" Gumamku


Aku kembali teringat saat aku berbincang dengan kakak itu dulu dibawah pohon ketika istirahat.


"Nama Ririn adalah Asahi Yurin. Kalau nama kakak?"


"...."


"Izumi. Nama kakak Arato Izumi"


"Bodoh bodoh bodoh bodoh bodoh. Bodohnya aku...." Gumamku


"Saat awal melihat foto ini aku memang sudah merasa familiar dengan sosok laki-laki ini. Tapi kenapa aku tidak menyadarinya? Kenapa baru sekarang menyadarinya, disaat Izumi sudah tidak bersamaku lagi?"

__ADS_1


"Kakak yang membantuku waktu itu adalah Izumi"


"Dan alasan kenapa aku mati-matian mau bersekolah disini juga... Karena mau bertemu Izumi lagi..."


__ADS_2