
"Tetap saja kemungkinan bisa bermimpi masih ada, kan? Lalu, apa tadi kau sedang melihat hal buruk di masa lalumu makanya kau seperti itu? Kau juga terlihat kelelahan"
"Tidak. Aku tidak melihat yang seperti itu. Mungkin memang karena aku kelelahan" Jawab Izumi
*
Setelah kami kembali berbincang normal, aku teringat soal buku Izumi kemarin.
"Ngomong-ngomong, kemarin sore kau ngapain saja?" Tanyaku
"Aku sedang berkumpul dengan para roh baik di sekolah dan pergi mengawasi wilayahku yang jauh dari sekolah" Jawab Izumi
"Kalau semalam?"
"Aku diskusi dengan Kagusa dan Kei, lalu pergi ke perbatasan hidup dan mati. Memangnya kenapa?" Tanya Izumi bingung
"Perbatasan hidup dan mati? Untuk apa kau pergi ke tempat aneh itu? Kau tidak sedang bertarung dengan roh kan?" Tanyaku
"Aku kesana untuk menaikkan tingkatanku di kalangan roh" Jawab Izumi
"Maksudmu?" Tanyaku
"Di kalangan roh, terdapat 6 tingkatan dilihat dari besarnya kekuatan mereka"
"Di tingkatan ke-6 yang paling bawah adalah roh netral yang sama sekali tidak memiliki kekuatan. Di tingkatan selanjutnya ada roh tingkat bawah, menengah, tingkat atas, master, dan pemimpin di puncak dari semuanya"
"Namun sebenarnya, pada tingkat bawah, menengah, atas, dan master masih memiliki tingkatan lagi di masing-masing tingkatan itu. Yaitu tingkat 1, 2, 3, 4, dan 5. Jadi meski roh tersebut adalah roh tingkat atas, tapi masih memiliki tingkatan lagi. Misalnya Kagusa, dia adalah master tingkat 5 yang merupakan roh baik terkuat setelah aku di wilayah sekolah"
"Lalu pada tingkatan pemimpin, terdapat 2 jenis tingkatan. Pada roh jahat, tingkatan terendah sampai tertinggi adalah hitam, abu-abu, biru tua, ungu, dan yang teratas merah"
"Untuk pemimpin roh baik, tingkatan dari terendah hingga tertinggi yaitu putih, oranye, kuning, hijau, dan biru"
"Dan di kedua jenis tingkatan pemimpin itu, masih ada tingkatan lagi di setiap warnanya, yaitu 1, 2, 3, 4, dan 5"
"Tingkat kekuatan roh jahatku adalah merah- 2, dan roh baikku sebelumnya adalah kuning-3. Namun karena kemarin sudah aku naikkan, maka sekarang menjadi hijau-3. Roh baikku naik 5 tingkat angka dari sebelumnya dan aku berada di tingkat warna dan angka yang sama dengan Hana"
__ADS_1
"Wah, bukannya kau terlalu hebat? Kekuatanmu bisa menyamai Hana yang sudah menjadi roh hingga berabad-abad?!" Tanyaku kaget
"Hehe! Bahkan roh jahatku berada di tingkat lebih tinggi dari si Niki itu. Dia sekarang berada di tingkat ungu-3, sedangkan aku di merah! Sekarang kau tahu kan seberapa bergunanya aku untuk melindungimu dari roh lain?"
"Dia bangga sekali dengan dirinya sendiri. Tapi memang tidak aneh sih jika dia seperti itu" Pikirku
"Tapi bagaimana cara menaikkan tingkatan itu?"
"Untuk menaikkan tingkatan, ada 2 cara yang bisa dilakukan. Yang pertama dan yang biasanya dilakukan adalah melenyapkan sesama roh, lalu menyerap kekuatan mereka untuk dijadikan milik sendiri. Jika melakukan itu sebenarnya sangat ribet dan lama"
"Untuk naik 1 tingkat angka saja perlu melenyapkan sekitar 50 roh tingkat bawah, atau sekitar 35 roh tingkat menengah, atau 20 roh tingkat atas, atau 10 roh tingkat master. Aku selama menjadi roh saja tidak sampai melenyapkan hingga 20 roh. Bahkan 10 pun rasanya tidak sampai. Dan roh yang selama ini ku lenyapkan juga hanya tingkat bawah yang membangkang"
"Ah, sebenarnya Izumi bisa saja membantai para bawahannya sendiri untuk mengambil kekuatan mereka. Izumi ingin bilang, dia tidak melenyapkan roh hanya untuk mengambil kekuatannya saja dan melenyapkan mereka jika mereka memang melakukan kesalahan padanya. Izumi memang pemimpin yang baik" Pikirku
"Jadi, yang kau lakukan untuk menaikkan tingkatan adalah dengan cara kedua?"
"Iya. Cara kedua itu lebih simpel dan tidak memakan waktu lama dibanding melakukan cara pertama, namun resikonya bisa sampai 20 kali lipat lebih tinggi. Caranya adalah, melawan dan membunuh monster yang ada di perbatasan hidup dan mati lalu menyerap kekuatannya"
"Jika bisa membunuh 1 monster, sama dengan melenyapkan 5 roh tingkat bawah. Artinya untuk naik 1 tingkatan perlu membunuh 10 monster, sama seperti melenyapkan roh tingkat master. Namun karena ini monster, kekuatannya bahkan melebihi tingkat master"
"Lalu, sebenarnya semakin tinggi tingkatan roh, maka untuk naik tingkatan semakin sulit. Aku bahkan membunuh 25 monster baru bisa naik 1 tingkat angka"
"Semalam kau bertarung dengan banyak monster itu?!" Tanyaku khawatir
"Iya"
"Memang resikonya besar melawan monster, tapi menurutku keuntungan yang diberikan juga besar. Selain meningkatkan tingkatan, yang didapat jika membunuh monster adalah kekuatan sebenarnya lebih besar dibanding tingkatan"
"Maksudnya, meski aku berada di tingkatan hijau-3, tapi kekuatanku yang sebenarnya bahkan bisa melampaui biru-1. Ini cukup menguntungkan karena menjadi roh itu lebih baik kuat namun tidak mencolok"
"Selain itu, darah milik monster itu juga dialiri kekuatan. Jika meminumnya, maka tubuh dari roh itu menjadi gagah dan tidak mudah lelah. Proses penyembuhannya juga menjadi lebih cepat dibanding biasanya. Karena itu aku lebih suka memburu monster dibanding roh"
"Jadi semalam kau memburu setidaknya 125 monster dan meminum darah mereka?!" Tanyaku kaget
"Sebenarnya aku membunuh 147 monster, dan itu sangat menyenangkan. Darah mereka juga enak jadi aku bawa dan memberinya ke Kagusa, Kei, dan yang lainnya. Mereka juga sangat senang waktu kuberi" Ucap Izumi ceria
__ADS_1
"Tolong jangan berkata hal menyeramkan seperti itu dengan wajah ceria!!" Teriakku
"Apa? Kau marah aku tidak memberimu? Mau aku kasih juga? Darahnya sudah habis, tapi aku masih punya jantung mereka, kau mau?" Tanya Izumi bersamaan dengan muncul sebuah gumpalan merah di tangan kiri Izumi.
"Hoek..."
Aku hampir termuntah karena tawaran Izumi.
"Tidak, tidak mau... Singkirkan benda menjijikkan itu..." Gumamku dengan sebelah tangan menutup mulutku dan memalingkan wajah dari Izumi
"Hanya bercanda, hahaha"
"Jika mau bercanda, coba lihat situasi juga, dong! Aku bisa saja muntah beneran karena kau!" Teriakku
*
Setelah situasi kembali tenang, kami melanjutkan pembicaraan kami.
"Jadi, ada apa tiba-tiba kau menanyakan soal kegiatanku kemarin?" Tanya Izumi
"Kemarin sore, sekitar jam setengah 6, aku membuka buku milikmu lalu muncul darah di halaman terakhir hingga sampul belakang bagian dalamnya"
"Lalu waktu aku memanggilmu semalam, kau tidak muncul makanya aku khawatir. Dan begitu aku bangun tidur, aku malah melihat kulitmu menjadi pucat dan ekspresimu seperti kesakitan, makanya aku mengecek apa di tubuhmu ada luka" Jelasku
"Oh, ternyata kau beneran khawatir padaku, ya. Aku jadi senang~"
"Aku melakukannya hanya untuk perlindungan diri, kok. Jadi tidak usah terlalu senang" Ucapku lalu memalingkan wajah darinya
"Yah, soal darah di buku itu tidak usah dipedulikan, karena aku juga tidak terluka kemarin sore. Lalu soal kau memanggilku itu, aku tidak dengar karena terlalu fokus bertarung"
"Tapi kau sungguh tidak apa, kan? Soalnya itu 147 monster lhooo!!"
"Seperti yang kau lihat, sama sekali tidak ada masalah dengan diriku. Kau juga sudah mengeceknya, kan~ Yah, walau kau masih belum sempat melihat tubuhku~"
"Dia sengaja mengungkit kejadian tadi untuk membuatku malu. Dia benar-benar curang" Pikirku kesal dengan pipi memerah
__ADS_1