
1 bulan kemudian...
Di sekolah.
Teman sebangkuku, Mesha, mendekatiku dan mengajakku membicarakan sesuatu.
"Hei, hei, Yurin. Apa kau tahu? Aku dengar dari temanku di kelas 10-4, katanya di tahun ajar baru nanti akan ada guru baru, lho!"
"Katanya guru itu sangat tampan, muda, dan berbakat. Dia juga berasal dari keluarga terpandang. Dan yang paling penting, dia masih single!!" Ucap Mesha semangat
"Ah, begitu, ya" Jawabku datar
"Kau kok biasa saja??! Semuanya sedang heboh, lho! Apalagi para perempuan!" Teriak Mesha
"Aku tidak terlalu penasaran dengan guru itu. Lagian, di sekolah ini juga banyak guru yang muda dan berbakat" Ucapku
"Beda!! Guru baru ini seribu kali lebih baik dari semua guru di sekolah ini!" Teriak Mesha
"Dia sebentar lagi wisuda dan akan langsung diterima menjadi guru tetap di sekolah ini setelah sarjana karena nilainya yang sangat bagus dari semester awal perguruan tinggi!"
"Jadi...."
"Jadi?" Tanyaku
"Dia sangat muda, Yurin!! Hanya selisih sekitar 5, 6, atau 7 tahun saja dengan kitaaaa!!" Teriak Mesha makin heboh
"Tidak menutup kemungkinan jodohnya adalah salah satu dari muridnya, kan?!" Teriak Mesha
"Aaah, begitu, ya...." Gumamku dengan wajah memucat karena tidak nyaman dengan situasi ini.
"Kyaaaaa!! Aku sangat tidak sabar menunggu guru baru itu datang nanti~"
"Iya, ya..." Gumamku mengiyakan ucapan Mesha agar urusannya cepat selesai
*
Saat jam istirahat, seperti biasa aku pergi ke kantin bersama Yui.
"Ririn, kau sudah dengar? Katanya nanti akan ada guru baru" Ucap Yui memulai pembicaraan
"Iya. Semuanya sedang ribut di kelasku" Gumamku
"Dikelasku juga. Sepertinya tak hanya di kelas kita, tapi di kelas lain dan kakak kelas kita juga sama. Semua murid perempuan berharap banyak dengan guru itu"
"Kalau memang guru itu sudah diterima di sekolah ini dan dia mau, sudah pasti dia akan menjadi guru di sekolah ini apapun yang terjadi. Tapi kalau nilai ulangan kita jelek, mau guru itu datang atau tidak, malunya tetap akan sama" Ucapku
"Jadi maksudku, daripada memikirkan guru baru itu, lebih baik pikirkan ulangan 10 hari lagi. Itu juga menentukan kita berada di kelas mana nanti saat kelas 11" Lanjutku
"Itu benar, sih... Tapi kau terlalu serius menanggapinya, Ririn..." Gumam Yui
"Hmm? Kalau begitu, haruskah aku berpura-pura heboh seperti yang lain?" Tanyaku
"Tidak. Itu tidak cocok dengan sifatmu, Ririn"
"Yah, pokoknya, sekarang sekolah sedang ribut soal guru baru yang keberadaannya saja masih belum pasti" Gumamku
"Bagaimana pendapatmu soal itu, Yui?" Tanyaku
"Aku tidak ada komentar. Aku tidak terlalu peduli dengan orang lain ataupun guru baru itu. Aku hanya sekedar tahu, tapi tidak gila seperti yang lain" Jawab Yui santai
__ADS_1
"Begitu, ya..."
*
Di rumah.
"Begitulah ceritanya" Ucapku
"Semuanya bodoh" Ucap Izumi tanpa ragu
Aku dan Yui sedikit kaget.
"Hanya karena guru baru, mereka sampai lalai begitu. Bodoh"
"Kalian jangan terpengaruh hanya karena itu" Lanjut Izumi
"Tentu saja. Aku tidak peduli akan hal itu" Jawabku
"Aku tidak akan seperti mereka walau seperti apapun rupa guru itu" Ucap Yui
Izumi kaget.
"Kau? Yang bahkan langsung memuja-muja wajahku begitu pertama kali melihatku ini bisa bilang tidak tertarik dengan rupa guru yang dikabarkan tampan itu?" Tanya Izumi tidak percaya
"Aku beri tahu saja, ya! Walau seperti ini, aku memiliki selera terhadap pria! Aku tidak suka dengan pria yang usianya lebih tua atau lebih muda 4 tahun keatas dibanding usiaku"
"Eh, tunggu...." Gumamku terkejut
"Apa?" Tanya Izumi
"Ngomong-ngomong, guru baru itu katanya akan wisuda. Kalau dihitung-hitung, bukannya kau dan guru baru itu mungkin seangkatan dulunya?" Tanyaku
"Kau tidak penasaran dengannya? mungkin saja dulu kalian sama-sama sekolah disini"
"Dilihat dia yang bahkan belum wisuda sudah dipastikan akan menjadi guru tetap disini, sepertinya dia ada hubungan erat dengan SMA ini, kan? Jadi kupikir kau akan sedikit penasaran dengannya"
"Tidak" Jawab Izumi cepat
"Dunia ini sangat luas, Yurin. Hanya karena dia diterima menjadi guru di SMA itu bukan berarti dia harus punya hubungan erat dengan sekolah itu"
"Yang dibutuhkan sekolah itu adalah guru yang kompeten dan berwawasan luas, tidak peduli dia berasal dari mana. Jadi, berhentilah berpikir macam-macam!"
"Sudah, kau terus mengalihkan pembicaraan. Cepat belajar sana!"
"Cih! Dasar kutu buku!" Gumam Yui
"Aku bisa dengar"
*
Esok hari, di hari sabtu.
Di kamarku....
"Ayo kita pergi latihan sekaraaang!~" Teriak Yui semangat
"Tidak boleh! Hari ini pun harus belajar!" Ucap Izumi yang tiba-tiba muncul di belakang Yui
"Kau mengagetkanku, Izumi!" Teriak Yui
__ADS_1
"Akhirnya kau datang juga, Izumi" Ucapku
"Jadi, apa maksudmu tidak boleh?! Hari ini adalah jadwalnya latihan untuk kekuatan indra keenam kami!"
"Tidak boleh. Jika aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh! Minggu depan kalian sudah akan ulangan, jadi harus belajar!" Ucap Izumi tegas
"Kau ini cerewet sekali! Kita latihan juga hanya di hari sabtu. Satu kali dalam seminggu, dan minggu lalu juga kami tidak latihan karena alasan yang sama seperti sekarang. Aku tidak terima!!"
"Lebih penting ulangan dibanding latihan!" Ucap Izumi dengan suara berat dan sorot mata tajamnya
"Tapi itu bukan berarti latihan tidak penting, kan? Minggu depan juga kami pasti disuruh belajar lagi olehmu. Kalau sekarang kami mengikuti ucapanmu untuk belajar, artinya kami tidak latihan selama 3 minggu berturut-turut!" Bantah Yui
"Kalian sudah cukup kuat untuk melindungi diri kalian sendiri sekarang. Walau tidak latihan selama 3 minggu pun tidak akan berpengaruh besar pada kekuatan kalian"
"Tetap saja! 3 minggu tidak latihan akan membuat kekuatan kami menurun. Kami susah payah meningkatkannya, tapi akan sia-sia karnamu!"
"Tidak ada yang sia-sia. Jika ingin sesuatu, maka kau harus melepaskan sesuatu. Kau hanya perlu merelakan kekuatamu sedikit. Ini sebanding dengan apa yang akan kau dapatkan di masa depan. Selain itu, kau bisa latihan sepuasnya setiap hari setelah selesai ulangan" Pertegas Izumi
"Meski belajar, belum tentu aku akan menjadi lebih pintar!" Teriak Yui
"Kalau belajar saja kau masih belum tentu pintar, apalagi kalau kau tidak belajar!"
"Selama ini aku juga bukannya tidak belajar. Kau tahu sendiri dari bulan lalu kami sudah mulai belajar mempersiapkan ulangan"
"Dan hari ini juga termasuk hari untuk kalian mempersiapkan ulangan"
"Kalian!" Teriakku
Mereka berdua langsung menoleh kearahku.
Yui langsung berjalan mendekat dan memelukku dengan erat.
"Ririn! Cepat bilang pada Izumi! Beri dia penjelasan untuk perasaanku yang ingin keluar ini!"
"Hah...." Aku menghela nafas
"Izumi, aku tau maksudmu menyuruh kami belajar. Tapi untuk hari ini biarkan kami istirahat sejenak" Ucapku
"Yurin, sudah kubilang, kalau ingin sesuatu maka kau harus melepaskan sesuatu. Kau hanya perlu belajar hingga selesai ulangan. Setelah itu, kau akan bebas melakukan apapun"
"Izumi tidak salah, tapi itu juga tidak benar! Istirahat juga penting untuk kesehatan. Kalau terus belajar tanpa istirahat akan membuat jenuh. Parahnya, bisa saja disaat ulangan malah sakit karena terus belajar" Jawabku
Izumi membuka mulutnya, bersiap membantah ucapanku lagi. Tapi dia langsung menutup mulutnya dan diam.
"...."
Izumi berbalik badan dan perlahan berjalan menuju meja belajarku.
"Baiklah. Tapi hanya sampai jam 2 siang, setelahnya kembali belajar"
Wajah Yui yang tadinya cemberut sekarang kembali ceria.
"Ayo Ririn, kita latihan sekarang! Setelah itu kita beli es krim!~"
Yui langsung menarik lenganku dan mengajakku keluar.
"Pelan-pelan, Yui...." Gumamku
Aku melirik kearah Izumi. Dia berdiri dengan tangan kanannya menyentuh buku miliknya dan mata menatap lekat pada bukunya di atas meja belajarku.
__ADS_1
Mata birunya terlihat kosong seakan Izumi masuk dan terperangkap didalam bukunya. Dan pada sorot matanya terlihat kesedihan yang ia tahan.