
"Lalu... Izumi juga tak mengatakan apapun soal dirimu. Padahal kau tahu apapun tentang diriku. Tapi aku sama sekali tidak tahu tentangmu. Bukankah itu tidak adil?" Tanyaku
"Ah..." Aku tersentak
"Apa yang aku katakan tadi?!" Pikirku
Aku melirik ke arah Izumi.
"Gawat! Aku malah mengatakan hal yang sensitif pada Izumi!"
Wajah Izumi tampak datar dengan matanya yang melamun. Melihat Izumi yang seperti itu malah membuatku semakin merinding.
"Ah, em... Ngomong-ngomong... langitnya indah, ya. Aku jadi ingin melihat keluar" Ucapku panik dan mengalihkan pembicaraan.
"Ayo keluar. Aku juga sudah lama tidak melihat lingkungan disini"
Aku langsung berjalan ke pintu balkon dan berdiri di belakang pagar dengan menatap sekeliling rumahku.
"Hmm?"
"Izumi, coba lihat, ada buah yang sudah masak. Kelihatannya enak"
Aku pun memetik buah yang menjuntai disamping balkon kamarku. Buah itu berwarna merah yang terlihat manis.
Aku pun membelah buah itu menjadi dua untuk dibagi ke Izumi. Tapi...
"!!!"
"Ada ulat! Padahal buahnya terlihat enak dan baik-baik saja"
Izumi menatap buah yang ada di tanganku dengan tatapan kosong.
"Misalkan buah itu memiliki perasaan dan bisa berpikir, kira-kira apa yang dia pikirkan tentang hewan yang hinggap di tubuhnya?" Tanya Izumi
"Eh? Bu... Buahnya berpikir hewan itu menyebalkan?" Jawabku bingung
"Benar. Dia akan marah pada hewan yang seenaknya memakan dirinya. Tapi jika dibanding dengan hewan itu, dia akan lebih marah pada dirinya sendiri karena dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa pada hewan yang memakannya meski dia mengetahuinya"
"Tapi, memangnya apa yang bisa buah lakukan? Buah itu bahkan tidak diizinkan bergerak seenaknya dan bergerak jika ada angin yang berhembus saja. Memangnya apa yang bisa dia lakukan pada hewan yang mengerumuninya?"
"Buah hanya bisa berharap jika hewan itu pergi dari dirinya. Namun kenyataannya, semakin buah itu lezat, maka semakin banyak hewan yang mengerumuninya. Buah itu sangat membenci hewan yang memakannya seenaknya. Hewan itulah yang merusak hidup buah itu hingga buah itu menjadi busuk"
Izumi mengambil buah yang ada di tanganku.
"Di luarnya tampak mulus dan terlihat manis. Siapa yang akan menyangka didalamnya terdapat banyak ulat yang menggerogoti buah ini?"
"Bukankah buah ini sangat kasihan? Dia terlihat lezat dimata buah lainnya hingga bisa membuat buah lain iri, namun kenyataannya, buah ini bahkan lebih buruk dari buah lainnya"
Mata Izumi yang tadinya fokus melihat ke buah itu sekarang menatap ke mataku.
"Jika menurutmu, apa kesalahan dari buah ini sehingga dia bisa mengalami hal itu?" Tanya Izumi
"Ti... tidak ada?" Jawabku yang semakin bingung
"Kesalahan dari buah ini hanya satu, yaitu dia terlalu manis dan enak sehingga menggoda para hewan untuk mengerumuninya"
__ADS_1
"Seandainya buah itu biasa saja, hewan yang mengerumuninya takkan sebanyak ini"
"Itulah penyebab buah ini bahkan tidak layak makan" Ucap Izumi dan langsung melempar buah itu.
"Dan mirisnya, buah itu bahkan tidak berharap menjadi buah yang enak dimakan"
"...."
Aku terdiam. Aku tidak mengerti apa alasan Izumi mengatakan hal aneh seperti ini.
Lalu Izumi kembali menatapku.
"Eh, apa? Apa ada sesuatu?" Tanyaku gugup
"Tidak ada"
"Em, apa maksudmu membicarakan soal buah itu?" Tanyaku
"Tidak ada maksud apapun" Ucap Izumi dan membalik badannya membelakangiku.
"Aku hanya ingin bilang, jangan terlalu percaya dan berharap pada sesuatu yang terlihat bagus. Mungkin saja dibalik itu ada sesuatu yang bahkan tidak bisa kau bayangkan sebelumnya" Ucap Izumi lalu berjalan masuk.
"Tidak seperti kau yang biasanya. Biasanya kau kan selalu mengatakan langsung ke intinya. Tapi sekarang kau mengatakan hal berbelit-belit begitu. Rasanya jadi sedikit aneh"
"Aku juga merasa sepertinya ada maksud lain yang ingin disampaikan Izumi dari cerita itu" Pikirku
"Memangnya apa hubungannya hal yang kau katakan dengan pembicaraan kita yang sebelumnya?" Tanyaku
Izumi tidak menghiraukan ucapanku dan terus berjalan.
Tubuh bagian bawah Izumi juga sudah mulai menghilang seakan dihapus oleh angin yang ada di sekitarnya.
"Tunggu!"
Izumi menoleh ke arahku dan teleportasinya gagal. Angin yang ada di sekeliling Izumi menghilang dan tubuhnya juga kembali utuh.
"Ada apa?"
"Kau mau kemana?"
"Kembali ke sekolah. Kau tahu kan aku adalah pemimpin? Aku juga harus mengurus wilayah kekuasaanku"
"Ah, begitu ya. Kalau kau memang mau kembali, setidaknya bilang terlebih dulu dan ucapkan salam padaku. Masa kau mau langsung pergi begitu saja?" Ucapku cemberut
"Baiklah. Saya kembali ke sekolah, Yang Mulia Putri Kintsuki Asahi Yurin. Saya akan kembali ke sini lagi nanti" Ucap Izumi dengan kepala sedikit menunduk ke arahku, kaki kanannya yang disilang ke belakang, lalu tangan kanannya memegang dada dan tangan kirinya ditekuk ke belakang. Ucapan dan gayanya sangat mirip dengan seorang pangeran yang memberi salam ke tuan putri.
Setelah itu, Izumi menghilang dengan pose yang tetap seperti itu.
"Apa-apaan ucapannya yang sangat formal itu? Lalu gayanya juga. Padahal aku bukan tuan putri" Gumamku
Aku terdiam sebentar lalu tertawa kecil.
"Tapi, melihat Izumi seperti itu juga lucu" Pikirku
*
__ADS_1
Di malam hari.
Aku sudah setengah tidur dan akan memasuki tidur nyenyak diatas kasurku yang empuk.
Namun, aku terbangun karena kasurku sedikit bergoyang.
"Aaah... Kenapa dia selalu datang di malam hari dan mengganggu tidurku?" Pikirku
"Ada apa, Izumi?" Tanyaku dengan suara pelan dan masih memejamkan mata
"Kenapa kau bangun?"
"Itu karena kau datang"
"Aku tidak bermaksud membangunkanmu"
Aku menoleh ke belakang, melihat ke Izumi yang duduk di pinggir kasurku.
"Walau kau tak bermaksud begitu, tetap saja aku terbangun karena kau!" Gerutuku
"Jadi, ada perlu apa kau kesini? Kau tidak mungkin datang ke sini tanpa alasan, kan?" Tanyaku
"Memangnya ada alasan apa lagi? karena kau terikat denganku, dan aku juga terikat denganmu" Jawab Izumi
"Hanya itu?"
"Iya"
"Dasar... Kupikir ada masalah apa..." Gumamku lalu bersiap kembali tidur.
"Hey..."
"Ada apa?"
"Kau mau tidur begitu saja?"
"Tentu saja" Ucapku lalu berbaring. Namun Izumi langsung menahan tanganku.
"Ada apa lagi?" Tanyaku
"Ayo ngobrol denganku!"
"Hah?!"
Meski gelap karena penerangan hanya pada lampu tidur, tapi aku bisa melihat ekspresi Izumi yang penuh harapan. Aku tercengang melihat Izumi yang biasanya terlihat dingin tiba-tiba bertingkah imut seperti anak kecil yang mengajak kakaknya bermain.
"Me... memangnya apa yang ingin kita bicarakan?" Tanyaku
"Apapun itu tidak masalah"
"Apa alasan dia kesini karena dia kesepian di sekolah, kemudian memutuskan untuk menemuiku?"
"Aku jadi kasihan dengannya. Besok kalau aku bangun sedikit kesiangan juga tidak masalah, kan?" Pikirku
Aku pun bangun dan menghidupkan lampu, lalu duduk berhadapan Izumi di atas kasur dengan selimut yang menutupi punggungku.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menemanimu"