Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Panggil Namaku


__ADS_3

"apaaa??! apakah aku mati??!" tanyaku terkejut


"tidak. kau tidak mati. kalau di bumi, kau seperti sedang tertidur seperti biasa." ucap Izumi


"tapi, kau tadi hampir mati sungguhan" lanjut Izumi


aku bingung dengan apa yang dikatakan Izumi


"aku sudah pernah bilang atau belum ya?..." ucap Izumi


"kalau kau tiba-tiba ingin memutuskan ikatan denganku, kau akan mati" ucap Izumi


"kau... tidak bercanda, kan? kau tidak pernah mengatakan itu padaku sebelumnya!" ucap ku


"bagaimana bisa hal penting seperti itu lupa kau sampaikan??!" ucap ku marah


"iya, iya... maaf..." ucap Izumi dengan ekspresi cuek


aku yang sudah kebal dengan sikap Izumi itu sekarang sudah tidak marah atau kesal lagi jika dia begitu.


"lalu, apakah itu artinya aku akan terus terikat denganmu?" tanyaku


"tidak. kau bisa melepaskan ikatan ini tanpa membuatmu mati" ucap Izumi


"bagaimana caranya?" tanyaku


"kau harus terus membantuku. membantuku melakukan semua hal yang aku inginkan" ucap Izumi


"dengan begitu, mungkin suatu saat nanti kau bisa melepas ikatan itu" ucap Izumi


"mungkin? kalau begitu, bisa saja walau aku sudah membantumu, tapi ikatan itu tidak terlepas" ucap ku


"benar. karena itu, kau harus melakukannya dengan baik. itu bisa membuat peluangmu melepas ikatannya menjadi besar" ucap Izumi


"ah, dan lagi... kau harus melepas ikatan itu dalam waktu tiga tahun" ucap Izumi


"tiga tahun?" tanyaku


"ya. karena aku adalah hantu sekolah ini, jadi aku tak dapat pergi jauh-jauh dari sekolah ini." ucap Izumi


"jika kau tak melepas ikatan itu saat lulus dari sekolah ini, tali itu akan terputus dengan sendirinya" ucap Izumi


"kau tahu 'kan apa dampaknya jika tali itu terputus?" tanya Izumi


"kau akan mati, karena aku dan kau tak dapat bertemu. tali itu akan memaksa dirimu untuk dekat denganku, dan akhirnya membawa jiwamu padaku. mirip seperti keadaan saat ini" ucap Izumi


aku terdiam

__ADS_1


"hey, Izumi..." panggil ku


"hmm?" jawab Izumi


"Maeru mengetahui hal ini, kan?" tanyaku


"tentu saja dia tahu" jawab Izumi


"lalu, kenapa dia menyuruhku memotong tali itu? kenapa dia menginginkan aku mati?" tanyaku


"hubungan aku dan Maeru sejak dulu memang tidak baik. dia ingin membuatmu menjadi bawahannya. roh jahat yang kita temui di bangunan tua saat itu juga adalah bawahan Maeru" ucap Izumi


"kau dibawa Maeru karena masalah pribadi kami. karena itu, aku takkan membiarkanmu terluka. tapi..." ucap Izumi dan menundukkan kepala


"sudahlah... aku juga baik-baik saja. lupakan saja yang tadi..." ucap ku menghiburnya


"ngomong-ngomong..." ucap ku lalu menoleh ke Izumi


"apakah yang dikatakan Maeru itu benar?" tanyaku


"Izumi... apakah kau yang membunuh Maeru dan yang lainnya?" tanyaku


Izumi hanya diam dan masih menundukkan kepala


"ah, maaf. tak seharusnya aku bicara begitu..." ucapku dan menundukkan kepala


"apa?" tanyaku balik dan menoleh ke Izumi


"apakah kau percaya dengan yang dikatakan Maeru?" tanya Izumi


"aku juga tidak tahu..." ucapku dengan tangan kananku memegang tangan kiri ku


"menurutku, apa yang dia katakan itu mungkin adalah kebohongan untuk menjebakku." ucap ku


"tapi, yang dia katakan itu juga sangat masuk akal. aku jadi bingung apakah dia berbohong atau tidak..." ucap ku


"yang tahu pasti soal kehidupan Izumi tentu saja adalah Izumi sendiri. Izumi yang paling tahu apakah Maeru berbohong atau tidak. aku tak dapat mengambil kesimpulan seenaknya."ucap ku


"aku takkan memaksa Izumi untuk bercerita. jika Izumi tak mau mengatakannya sekarang, aku akan menunggu sampai Izumi sendiri yang mengatakannya" ucap ku


"hey, manusia... ternyata kau banyak bicara juga, ya..." ucap Izumi yang masih menundukkan kepala dan nada suara tak bersalah


"apa katamu??!!" teriakku


"padahal suasananya tadi sangat bagus!! aku terlihat sangat bijak saat mengatakannya tadi!! tapi kau merusak suasana itu!" teriakku


"dan lagi! kau menyebutku 'manusia' terus! kau tak pernah memanggil namaku!" teriakku

__ADS_1


"aku menyebutmu 'manusia' karena kau memang manusia" ucap Izumi sok tak bersalah


"tapi!! kau sendiri juga pernah jadi manusia!" teriakku


"namaku Asahi Yurin! kau panggil saja aku dengan Yurin!" ucap ku


Izumi menoleh dan menatapku sejenak.


"tidak mau" ucap Izumi dan kembali menundukkan kepala


"ada apa??! kenapa?! apa salahnya kau memanggil namaku??!" teriakku


"aku bukanlah manusia. aku tak pantas memanggil nama siapapun." ucap Izumi


"tapi... kau memanggil nama Maeru..." ucap ku


"dia bukan manusia. dan lagi, sebenarnya aku agak jijik dan kesal setiap mengucapkan atau mendengar namanya" ucap Izumi


"aku bukan Maeru. kau tak perlu merasa jijik saat memanggil namaku. jadi tak masalah kau menyebut namaku. kau juga tak perlu ragu memanggilku!" ucap ku


"berhentilah memanggil namanya! itu membuatku kesal!" ucap Izumi


"aaaarrrggghhh!! kau ini!! apakah sangat sulit memanggil namaku??!" tanyaku kesal


"aku juga kesal kau terus memanggilku 'manusia'!!!" ucap ku


"sudah aku bilang, aku ini bukan manusia. aku tak pantas memanggil nama manusia" ucap Izumi


"Izumi! kau juga manusia! kau hanya tak memiliki tubuh!" ucap ku


"tidak. kau salah. sejak dulu aku bukanlah manusia. walau saat aku masih memiliki tubuh" ucap Izumi


aku berdiri ke depan Izumi


"kau berwujud manusia, kau memiliki hati manusia, kau memiliki emosi manusia, kau memiliki semua yang dimiliki manusia umumnya. kau hanya kehilangan wadah untuk jiwamu agar bisa menjadi manusia" ucap ku


"Izumi, kau telah menolongku tadi. tentu saja kau memiliki jiwa manusia. soalnya... Izumi rela mengorbankan diri sendiri agar aku tak terluka. aku tahu kalau rasa sakit yang aku terima tak sebanding dengan rasa sakit Izumi saat tertusuk tadi." ucap ku memegang kepala Izumi dan mengangkatnya agar menatapku


"Izumi terus melindungiku. seandainya kau tak datang tadi... aku pasti sudah mati..." ucap ku


"Izumi bahkan tidak bisa hanya disebut sebagai temanku. Izumi adalah penyelamatku. Izumi punya hati yang baik" ucap ku


"darahmu juga berwarna merah seperti manusia normal. kau tak ada bedanya denganku" ucap ku


"jadi... Izumi tak perlu merendah diri padaku" ucap ku


Izumi menatapku dan terus diam. wajahnya terlihat sangat sedih seakan-akan dia akan menangis. aku juga dapat merasakan kesedihannya. dadaku terasa sesak.

__ADS_1


"Izumi..." gumam ku dan memeluknya.


__ADS_2