
Sudut pandang Izumi.
2 jam yang lalu, saat Izumi dan Yurin baru saja sampai di taman.
*
Beberapa saat setelah Yurin pergi untuk membeli minuman...
"Disini sangat sepi, tidak ada manusia disekitar sini" Pikirku lalu duduk dipinggir lapangan rumput sambil merasakan hembusan angin yang menerpaku.
Srak... Srak....
Terdengar suara semak didekatku.
"Hewan? Tidak, ini bukan hewan..." Gumamku lalu menoleh ke sumber suara
"Ibu... Ibu dimana?"
Lalu, muncullah anak perempuan dengan mata berkaca-kaca dari semak itu.
"Roh. Apa dia roh netral? Tidak, ada kekuatan di tubuhnya namun masih sangat tidak stabil. Kekuatannya juga masih belum jelas apakah roh baik atau jahat" Pikirku lalu bersembunyi dibalik pohon
"Kenapa roh ini tidak bersembunyi. Seharusnya dia tahu kalau berbahaya bertemu denganku yang merupakan pemimpin roh, meski aku bukan pemimpin di wilayah ini"
"Dan... Ada yang aneh darinya"
"Dia roh yang sangat lemah, jadi aku bisa menggunakan kekuatan 'roh itu' untuk melihat masa lalu anak ini saat hidup"
Aku pun mengeluarkan kekuatan 'Kristal Hati Biru' ku untuk mengaktifkan kekuatan 'Mata Kebenaran'.
Mataku yang biru ini menatap lekat anak kecil yang masih berada di semak itu, dan mata kananku mulai berubah warna menjadi hijau karena 'Mata Kebenaran' telah aktif.
*
Kehidupan Shuri yang dilihat Izumi...
"Ibu, ayo main dengan Shuri~" Ucap Shuri ceria dengan kedua tangannya memeluk sebuah boneka beruang.
Prang!!
Ibunya melempar sebuah vas bunga ke dekat Shuri
"Sudah berapa kali kubilang, berhenti menggangguku!!" Teriak ibunya
"Shuri... kesepian, bu.. "
"Jangan manja!! Aku sudah mahal-mahal membelikanmu mainan biar kau tidak menggangguku, tapi kau masih saja mengganggu!"
"Maaf... Shuri minta maaf..."
*
Plak!
"Jangan sembarangan masuk ke kamarku! Kau hanya boleh berada di kamarmu sendiri, aku tidak mau melihatmu!!"
*
Prang!
"Kau ini hanya bermain saja. Cepat bereskan rumah!! Dan jangan muncul di hadapanku selagi aku tidak mencarimu"
*
Bruk!
"Kau ini, membersihkan rumah saja tidak becus! Aku sudah susah payah membesarkanmu, memberimu makan, pakaian, dan keperluanmu selama 6 tahun, tapi kau tidak bisa membayar semua usahaku??!"
"Maaf.... Ini salah Shuri. Maafkan Shuri, bu..."
"Dasar!! Kau ini sangat tidak becus seperti pria itu! Dia yang meninggalkanku dengan makhluk menjijikkan ini sangat menyebalkan!! Dia bilang akan menemuiku, tapi sampai sekarang dia tidak juga datang!!"
"Ini semua salahmu!! Seandainya kau tidak ada di dunia ini!!!"
*
Lalu di suatu sore...
"Shuri, kamu mau pergi dengan ibu ke taman?"
"Ibu mengajakku ke taman!! Artinya ibu mau main denganku?"
"Iya! Shuri mau ikut!"
Dan setelah sampai di Taman Lily, ibunya langsung membeli sebuah minuman dan mengajak Shuri masuk kedalam taman lalu mencari tempat sepi.
Begitu merasa sudah berada ditempat yang sepi, ibunya memasukkan suatu bubuk kedalam minuman tersebut.
"Ibu, apa yang ibu masukkan itu?"
"Ini vitamin untuk Shuri, jadi habiskan minuman ini" Ucap ibunya lalu menyodorkan minuman itu padanya
Shuri menerima minuman itu namun dia hanya menatapnya saja.
"Kenapa? Kau tidak mau meminumnya?"
"Tidak, Shuri akan meminumnya, bu"
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, ibunya mengajak Shuri pergi lebih kedalam di taman itu. Di ujung taman, terdapat sebuah kolam yang cukup dalam. Dan karena sudah sore, jadi tidak ada orang yang berada di kolam ini.
"Wah, airnya sangat jernih"
"Iya. Apa Shuri mau coba berenang didalamnya?"
"Eh?"
Cbur!!
Ibunya mendorong Shuri masuk ke kolam itu.
"Ib... Ibu... Tolong..."
"Selamat tinggal, Shuri" Ucap ibunya lalu pergi
"Ibu!"
Dengan susah payah Shuri mencoba naik kembali ke daratan, tapi karena tubuhnya kecil, ditambah lagi entah bagaimana ia merasa sangat lelah dan matanya mulai memejam, akhirnya Shuri tenggelam di kolam itu.
Dan beberapa menit setelahnya...
"Tolong!! Tolong! Siapapun!"
"Ada apa, nyonya?"
"Anakku!! Anakku hilang! Anak kecil berumur 6 tahun, berambut krim dengan mata coklat dan memakai dress berwarna kuning. Tadi kami bersama, tapi tanpa kusadar kami terpisah. Tolong carikan dia!!"
Pencarian pun dilakukan oleh beberapa pengawas yang ada didepan taman, dan orang-orang yang masih berada di taman itu.
Ketika hari sudah mulai malam...
"Ketemu!! Anak berambut krim dan memakai dress kuning" Teriak seorang pengawal yang basah kuyup karena menyelam di kolam.
"Benar! Dia anakku! Syukurlah"
"Tapi nyonya... Anak anda sudah meninggal"
"Tidak mungkin... Shuri! Shuri tidak mungkin meninggalkan ibu, kan" Teriak ibu Shuri sembari menangis memeluk tubuh Shuri yang dingin.
"Yang tabah, nyonya. Ini sebuah kecelakaan. Anak itu mungkin penasaran dengan kolam itu dan tanpa sengaja tercebur"
"Shuri! Ini salah ibu yang kurang mengawasimu tadi. Maafkan ibu"
Di sisi lain, roh Shuri sekarang berada di taman itu dan menyaksikan sendiri drama yang dilakukan ibunya.
"Ibu... sengaja melakukannya? Ibu sejak awal mau Shuri mati?"
*
Aku pun kembali tersadar setelah melihat masa lalu Shuri. Aku melirik kearah Shuri yang sekarang masih terduduk didekat semak.
"Lalu, anak kecil itu sampai sekarang masih tidak membenci ibunya walau sudah seperti ini dan masih mencarinya. Dia benar-benar bodoh"
"Aku yakin sejak ibunya memasukkan obat tidur di minuman itu, anak itu tahu kalau ibunya punya niat buruk padanya melihat ibunya tidak pernah baik padanya, tapi dia tetap meminumnya seperti perintah ibunya. Benar-benar anak bodoh, dia bahkan tidak bisa mempertahankan nyawa kecilnya itu" Pikirku
Lalu aku terdiam.
"'Mempertahankan nyawa'? Aku sendiri juga tidak bisa mempertahankan nyawaku sendiri. Aaah, aku memakan perkataanku sendiri" Gumamku
"Tapi yang pasti... Sebentar lagi anak itu akan menjadi roh yang sesungguhnya. Jika itu terjadi, kemungkinan dia kembali ke langit semakin kecil. Jadi sekaranglah waktu yang tepat untuk membujuknya, selagi dia masih menjadi roh yang lemah"
Setelah melihat masa lalu Shuri, aku jadi teringat kembali kenangan yang sangat ingin kulupakan. Kenangan yang hanya berwarna hitam-putih, samar, dan penuh dengan retakan.
Nyut... Nyut...
"Ugh..."
Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba jadi sangat sakit.
"Kepalaku sakit sekali seperti mau pecah. Sepertinya itu efek aku menggunakan 'Mata Kebenaran'. Padahal aku hanya melihat kejadian 1 minggu terakhir hidup anak itu, tapi sudah seperti ini..." Gumamku
"Izumi!" Teriak Yurin dari kejauhan
Aku pun menoleh kearahnya. Yurin terus berlari pelan kearahku dengan kedua tangannya memegang cup minuman.
"Izumi... kita... harus pergi dari sini..." Ucapnya
"Kenapa?" Tanyaku
"Dia sudah tau, ya" Pikirku
"Aku tadi dapat info saat membeli minuman ini... Katanya ada anak kecil meninggal di taman ini belum lama ini..."
"Oh..."
"Aku sudah tau, dan hal itu sedikit mengganjal hatiku sekarang" Pikirku
Yurin langsung mendongak dan menatap tajam diriku.
"Kau terlihat santai sekali meski sudah tahu ada yang mati"
"Memangnya kenapa dengan taman ini yang menjadi tempat anak kecil itu mati? Aku sama sekali tidak peduli"
"Aku tidak peduli dimanapun dia mati. Dia yang sudah mati tidak akan bisa dihidupkan kembali sebagai manusia, jadi menghawatirkan soal taman ini hanya hal sia-sia"
"Tempat ini memang menjadi tempat dia terbunuh, tapi akan kubuat tempat ini juga menjadi tempatnya merasa bebas. Bebas dari segala beban" Pikirku
__ADS_1
"Tidak, hanya saja... Rasanya tidak nyaman menempati tempat yang sebelumnya menjadi tempat orang menghembuskan nafas terakhirnya" Gumam Yurin
"Ah, dia pasti berpikir aku orang jahat yang tak punya perasaan. Tapi... Aku juga tidak masalah dengan hal itu" Pikirku
"Kau masih takut dengan hal seperti ini?" Tanyaku
"Ini berbeda! Selama ini yang kutemui hanya hantu, sedangkan ini, masih terdapat jejak dari jasad anak kecil itu. Selain itu, tidak sopan kita tertawa ditempat orang mati"
"Aku tidak peduli dengan hal itu" Ucapku lalu memalingkan wajah dari Yurin dan melirik Shuri yang sudah berdiri disamping pohon.
"Ya. Aku akan tertawa ditempat ini, tertawa sepuasnya bersama anak kecil itu. Dia yang selama ini tidak pernah diperlakukan dengan baik, pasti akan merasa sangat senang jika ada yang bersikap baik padanya" Pikirku
"Kakak~"
Aku menatap Shuri yang sedang berdiri disamping pohon, lalu menghampirinya.
"Hey, kenapa kau disini?" Tanyaku sambil membelai kepala Shuri
"Kakak~ Ayo main dengan Shuri!~" Ucap Shuri dengan ceria.
"Jadi namamu Shuri? Nama yang cantik"
"Iya~ Karena Ibu yang memberiku nama~"
"Tapi... Entah kenapa Ibu sangat lama menjemput Shuri pulang. Tapi tidak apa~ Ibu pasti datang menjemput Shuri, jadi Shuri mau main dulu~"
Aku sedikit mengerutkan dahiku karena Shuri terus membahas ibunya.
"Dia tidak boleh mengingat ibunya lagi. Jika dibiarkan, roh jahatnya bisa bangkit karena dia sendiri sudah tahu ibunya sengaja membunuhnya" Pikirku
Aku langsung berdiri dan menggandeng tangan kecil Shuri.
"Shuri mau main, kan. Jadi ayo main dengan kakak" Ucapku.
"Ya~ Ayo main~"
*
Setelah kami bermain hampir 2 jam, Shuri yang tadinya terlihat sangat bahagia tiba-tiba menangis. Hal itu membuatku sangat kaget.
"Kenapa? Apa dia teringat ibunya lagi?" Pikirku khawatir
"Shuri, ada apa?" Tanya Yurin
"Hiks, Shuri sangat senang... bermain dengan kakak-kakak..."
"Shuri mau terus main dengan kakak-kakak, tapi sepertinya tidak bisa... Hiks..."
Aku tersentak.
"Ini dia! Dia sudah mulai sadar kalau tempatnya bukan disini dan harus pergi" Pikirku
Aku pun terus menghiburnya untuk membuatnya melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Dan akhirnya, usahaku berhasil. Shuri kembali ke langit hanya karena beberapa patah kata yang kukatakan.
*
"Dia sudah pergi, ya" Pikirku
"Aku yang masih termasuk roh jahat ini, malah menolong roh lain. Ini benar-benar aneh" Pikirku lalu melihat telapak tanganku.
Aku mendongakkan kepalaku dan menatap langit biru.
"Aku sangat iri padamu, Shuri. Karena kau menjadi roh yang sangat lemah hingga tak ada roh yang mengincarmu dan kau kembali ke langit dengan mudah. Kau juga masih bisa merasa bahagia walau sedikit disini. Sedangkan aku...."
"Izumi..."
Aku tersentak dan tersadar dari lamunanku. Aku melirik melihat Yurin yang ada di belakangku.
Yurin sekarang menunduk seakan menyesali sesuatu.
"Ah, daritadi aku hanya dia saja. Dia pasti khawatir denganku" Pikirku
"Yurin, jangan salahkan dirimu tentang kau yang mengajakku ke taman ini. Justru pilihan tepat kau mengajakku kesini"
"Kenapa?"
"Shuri sebenarnya bukan mati karena tersesat di taman ini, tapi karena dibunuh"
Aku pun menjelaskan garis besar hal yang kuketahui.
"Jadi kau melihat masa lalu Shuri. Dan karena itu... Kau sangat perhatian pada Shuri"
"Iya" Jawabku
"Sejak pertama melihatnya, aku merasa sangat kasihan padanya. Mungkin itu karena dia yang disiksa oleh orang yang paling dia sayangi" Pikirku
"Tapi...."
"Bagaimana dengan diriku? Selama ini tidak ada orang yang mengasihaniku, atau menangisi kematianku. Daripada dia, seharusnya aku hanya perlu mengurus diriku sendiri"
"Aneh sekali! Bisa-bisanya aku peduli pada roh lain, padahal aku sendiri masih terjebak di dunia ini"
Aku pun melirik melihat Yurin. Dia tampak berpikir serius dengan ekspresi sedikit sedih.
"Tidak. Apa yang aku harapkan barusan. Aku memang tidak pantas mendapat belas kasih dari siapapun"
"Yurin, jangan terlalu banyak berfikir. Kau tidak perlu tahu apapun. Tetaplah berfikir aku adalah anak kecil yang naif dan menyebalkan. Jangan gali apapun soal diriku"
__ADS_1
"Dengan begitu... Tidak akan ada masalah apapun"