Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Iblis Izumi


__ADS_3

Sekarang Izumi sudah berdiri tepat didepanku yang sedang terduduk di tanah.


"Selamat tinggal" Ucap Izumi lalu bersiap mengayunkan sabitnya padaku


Saat Izumi menyerangku, aku langsung merangkak ke belakang Izumi melalui celah diantara kedua kakinya.


Izumi melepaskan genggamannya pada sabitnya dan sabit itu langsung kembali berubah jadi aura merah dan menyebar seperti asap.


Izumi menoleh ke belakang menatap sinis aku.


Dengan cepat Izumi langsung menerkamku hingga aku tidak sadar kapan dia bergerak. Begitu aku mengedipkan mata tiba-tiba aku sudah terguling dan dia diatasku dengan kedua tangannya mencekikku.


"Le... Paskan..." Gumamku sambil berusaha melepaskan cekikan Izumi


"Sesak. Aku kesulitan bernafas" Pikirku


Izumi masih mencekikku dengan kencang. Wajahnya mulai memucat karena dia juga terkena efek dari cekikan itu.


"Egh..."


"Lepaskan, Izumi... Kau hanya menyakiti diri sendiri..." Gumamku terbata-bata


"Aku sangat membencimu! Benar-benar membencimu!" Teriak Izumi dan makin mengencangkan cekikannya


"Kalau seperti ini terus, kami berdua akan lenyap dari dunia ini. Aku harus melakukan sesuatu" Pikirku


Tanganku yang sejak tadi menggenggam erat tangan Izumi sekarang melepaskannya. Lalu aku mengeluarkan lingkaran sihir penyerang di kanan dan kiri tanganku, mengarahkannya ke samping kanan kiri Izumi.


Izumi langsung melepas cekikannya dan mundur ke belakang menghindari seranganku. Tapi sayangnya, walau dia mencoba menghindar, dia tetap terkena sedikit seranganku di lengan dan dadanya.


Langsung saja aura Izumi menutupi lukanya untuk menyembuhkannya.


Selagi kefokusannya terganggu oleh luka, aku langsung lari mendekatinya sambil mengeluarkan lingkaran sihir penyerang.


"Kaki ku yang terkilir sakit. Tangan dan dadaku juga sakit efek dari luka Izumi. Tapi aku harus bergerak sekarang, ini kesempatan yang paling bagus!" Pikirku


Begitu menyadari aku mendekatinya, Izumi langsung bersiap menghadapi seranganku dengan mengulurkan sebelah tangannya.


Aku pun melayangkan serangan padanya dan Izumi menghadapinya.


Seranganku membuat sedikit ledakan yang bisa mengecohkan pengelihatan.


Aku mengambil kesempatan itu dan langsung memeluk Izumi selagi dia masih fokus ke seranganku tadi.


"Apa-apaan?! Menyingkir!!"


"Tidak akan!!"


Izumi langsung mendorongku menjauh tapi genggamanku lebih kuat dari dorongannya.


"Dasar parasit" Gumam Izumi kesal


Izumi mengenadahkan tangannya mengumpulkan auranya kembali untuk membentuk senjata.


"Kau kenapa seperti ini, Izumi?" Tanyaku dengan memendamkan wajah ke dada Izumi


Izumi sedikit tersentak. Auranya yang tadi sudah setengah terkumpul di tangan kanannya sekarang kembali buyar.


"Sebelumnya kau mengucapkan kata-kata manis, tapi sekarang tiba-tiba bilang sangat membenciku. Jadi yang mana diantara kedua itu yang benar?" Tanyaku


"Berisik! Kau tidak tahu apa-apa, lebih baik diam saja!"


"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak memberi tahunya?"

__ADS_1


"Diam!! Kau tidak ada hak mencampuri kehidupanku!" Teriak Izumi dan kembali mengumpulkan auranya di tangan kanan.


Aura yang ada di tangan Izumi sudah terkumpul menjadi sebuah belati dan siap menusukku.


Dengan cepat Izumi menghunuskan belati di tangannya ke kepalaku. Namun langsung berhenti saat baru menyentuh sedikit rambutku.


"Kau meremehkanku? Kenapa kau tidak menghindar atau menangkis seranganku?" Tanya Izumi


Aku mendongakkan kepala dan menatap mata Izumi.


"Izumi yang kukenal tidak akan dengan sengaja melukaiku. Bahkan di keadaan seperti ini pun kau masih ragu menyerangku"


"Kau minta dibunuh?" Tanya Izumi sinis


Aku melepaskan pelukanku yang melingkari tubuh Izumi dan beralih ke kepalanya.


Aku mengelus lembut kepala Izumi, berharap dia jadi tenang.


"Aku percaya Izumi tidak akan membunuhku"


"Izumi yang baik, tenangkanlah dirimu. Aku tidak tahu apa masalahmu dengan guru baru itu, tapi jangan membuatmu malah makin jatuh kebawah karena masalah itu" Ucapku lembut


Tangan kananku kembali beralih dari kepalanya ke pipinya.


"Izumi, kemana perginya mata birumu yang indah? Kenapa matamu jadi merah pekat dan bagian putih matamu jadi hitam? Kemana perginya suara lembutmu? Kenapa sekarang suaramu sangat berat dan mengintimidasi?"


"Kenapa muncul tanduk di kepalamu? Ada apa dengan penampilanmu yang sekarang ini? Kemana perginya Izumi yang baik, lembut, tampan nan rupawan, yang kukenal selama ini?" Tanyaku


Izumi mematung dengan matanya menatap lekat mataku.


"Izumi, sampai kapan kau mau tertidur dan membiarkan roh jahatmu terus mengendalikan dirimu seperti ini? Tenangkan dirimu dan jangan biarkan roh jahatmu mengendalikanmu"


"Izumi sangat kuat. Tidak mungkin bisa kalah oleh hal seperti ini. Aku percaya itu"


"Menyebalkan. Sangat menyebalkan! Inilah kenapa aku sangat membencimu!! Aku benar-benar membencimu yang seperti ini!!" Gumam Izumi


Terakhir, perlahan matanya yang merah kembali berubah ke biru, dan dia langsung tak sadarkan diri.


*


Karena Izumi tak sadarkan diri, jadi aku menjaganya hingga di sadarkan diri. Aku membawanya berteduh ke bawah pohon dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya.


Setelah 1 jam Izumi tertidur, dia tiba-tiba mengernyitkan dahinya dan sedikit membuka matanya.


"Kau sudah sadar?" Tanyaku


Izumi langsung tersentak. Dia langsung memelekkan matanya lebar-lebar dan bangun menjauh dariku.


Karena Izumi bergerak tiba-tiba disaat dia baru sadarkan diri, dia sedikit terhuyung saat menjauh dariku.


"Kau tidak apa-apa?" Tanyaku dan mendekatinya


"Jangan mendekat!!" Teriaknya


Izumi memegang kepalanya yang sakit sembari melihat sekeliling.


Di tanah, Izumi melihat bercak darah miliknya saat dia terluka karena seranganku tadi.


"Ah, maaf. Karena terdesak aku mau tidak mau harus menyerangmu. Kalau tidak, roh jahatmu bisa saja membunuhku" Ucapku


Izumi langsung menoleh ke arahku dan bersiap berbicara. Tapi tak sengaja dia melihat memar di leher dan pergelangan kaki ku.


"Kaki mu.... Dan lehermu...." Gumam Izumi

__ADS_1


"Kaki ku hanya terkilir sedikit. Tidak usah khawatir. Dan di leherku ini bukan apa-apa"


Izumi terdiam sebentar, lalu kembali mendekatiku.


Dia mengeluarkan kekuatannya dan mengarahkannya ke kaki ku yang memar.


"Ini... Apa karena aku?" Tanyanya


"Em, kaki ku terkilir saat jatuh ketika kau menyerangku" Gumamku sambil mengingat kembali


"Aku pasti... Sangat menyeramkan, kan?"


"Yah, aku bohong kalau bilang tidak takut. Kupikir setidaknya aku akan mengalami luka parah karena lawanku pemimpin roh. Sangat tidak menyangka ternyata berakhir hanya dengan beberapa memar"


"...."


"Maaf..." Gumamnya


"Ya? Tidak apa, lagian semuanya berakhir dengan baik"


Izumi langsung menundukkan kepalanya di hadapanku dan terus meminta maaf.


"Maaf. Aku sungguh minta maaf. Semua salahku!"


"Iya, iya, sudah cukup. Angkat kembali kepalamu" Ucapku panik


Tapi Izumi sama sekali tidak mendengarkanku.


"Maaf aku terus membentakmu, mengatakan aku membencimu, menatapmu dengan sinis, mencoba membunuhmu, dan dengan jelas melukaimu"


"Aduh, sudah kubilang tidak apa-apa. Lagian kau juga menyembuhkan memarnya kembali. Aku tahu kau tidak bermaksud melukaiku" Ucapku panik dan berusaha mengangkat kembali kepala Izumi


"Aku sungguh minta maaf untuk semuanya... Kau bisa menghukumku dengan apapun. Menyegelku kembali ke buku, mengurungku di penjara roh, merantai seluruh tubuhku, atau apapun itu, aku akan menerimanya!"


"Aku tidak perlu itu. Tidak ada gunanya menghukummu. Kenapa kau bisa mengatakan hal menyeramkan seperti itu dengan santai?"


Izumi hanya diam tidak menjawab pertanyaanku dengan pose masih membungkuk di hadapanku.


Aku menghela nafas pasrah melihat Izumi yang sama sekali tidak mendengarkan ucapanku.


"Baiklah, aku akan memberimu hukuman" Ucapku santai


"Apa itu?" Tanya Izumi dan sedikit mendongakkan kepalanya


"Jadilah pelindungku"


Izumi kembali terdiam.


"Kau tidak suka dengan hukumannya? Kalau begitu lupakan saja soal hukumannya"


"Baik, aku akan jadi pelindungmu"


Aku tersenyum lalu mengelus kepala Izumi.


"Bagus. Karena aku sudah memberimu hukuman, jadi jangan merasa terbebani lagi, ya"


Izumi kembali diam dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Yurin, ada yang ingin ku katakan padamu"


"Apa?" Tanyaku


"Tidak... Bukan apa-apa"

__ADS_1


__ADS_2