
Sejak kejadian aku di kurung di gudang itu, aku jadi lebih mudah sakit-sakitan dibanding biasanya.
Hampir setiap hari aku merasa pusing, nyeri di seluruh tubuh, ataupun mual. Setiap jam makan juga aku tidak nafsu makan.
Tapi tidak ada yang tahu mengenai hal itu, karena aku selalu menahannya dan berusaha agar tetap terlihat biasa saja.
*
**
Semester 2 kelas 10 sudah dimulai hari ini.
Hari-hari ku di sekolah sama seperti biasanya.
"Arato Izumi, selamat sudah menjadi yang pertama. Ini pertama kalinya juga di sekolah ini ada orang yang mendapat nilai sempurna di tiap pelajaran. Kau pasti akan terus terkenang di sekolah ini hingga kau lulus. Sekali lagi, selamat!"
Pak Kaisen terus menerus bicara seakan membanggakan diriku. Tentu itu membuat Kirian yang 'gila' akan kesempurnaan jadi marah.
"Izumi!! Kau ini benar-benar mengesalkan!!"
"Enyah dari sini!!"
*
Aku sudah lelah terus seperti ini.
Meski sudah terbiasa tiap hari dipukul, itu bukan berarti aku terbiasa merasa sakit.
Sepertinya orang-orang salah paham mengartikan diamku sebagai tanda aku yang sudah tidak bisa merasa sakit jadi membiarkan mereka menyakitiku sesuka mereka.
Aku diam karena aku tidak mau dipukul lebih banyak lagi. Jika aku membalas, mereka akan balik membalas berkali-kali lipat lebih banyak lagi.
Terutama Kirian. Karena aku yang berada di peringkat pertama, dia jadi makin menampakkan kebenciannya padaku.
Karena itu, sebisa mungkin aku berusaha menghindar darinya.
"Di sekolah ataupun di rumah, aku tidak bisa menghindarinya. Satu-satunya celah adalah, saat pulang sekolah aku tidak langsung kembali ke rumah itu" Pikirku
1 minggu setelah semester 2 dimulai, aku mulai mencari-cari tempat sepi yang ada di sekitar sekolah.
Aku pun mulai terpikir soal hutan disamping sekolah. Aku berpikir, "mengapa tidak aku sembunyi didalam hutan saja?"
Hari berikutnya setelah pulang sekolah, aku pun mulai menelusuri hutan itu.
Selama seminggu aku mempelajari struktur hutan itu agar tidak tersesat. Dan dalam seminggu itu juga, aku menemukan tempat yang indah dan cocok untuk tempat bersantai.
Di tengah hutan itu terdapat lapangan kecil dengan sungai yang mengalir, serta sebuah batu besar didekat sungainya.
"Ini dia!! Tempat ini akan aku gunakan untuk bersembunyi setelah pulang sekolah!!" Pikirku senang
Aku pun mulai merapikan tempat itu dan menatanya sesuai keinginanku.
Akhirnya setelah seminggu aku menata tempat itu, aku tiap hari setelah pulang sekolah pergi kesana hingga matahari mulai tenggelam.
Aku senang, karena hal itu sangat membantuku yang ingin menghabiskan waktu sendirian dengan tenang.
Tapi....
4 bulan kemudian, mereka mulai merasa aneh karena aku selalu pulang jam 7 malam bahkan lebih.
Di hari berikutnya, tanpa kusadari, mereka mengikutiku masuk ke hutan hingga sampai ke tempat persembunyianku.
"Izumi, kau menemukan tempat seindah ini tanpa memberi tahu kami?" Tanya Maeru
"Jangan serakah! Kesenangan harus dibagi!" Teriak Rio
"Wah, kau menanam bunga disini? Itu tidak cocok denganmu" Ucap Rusen dan langsung menginjak-injaknya
Tubuhku tersentak dan isi kepalaku kosong tidak dapat berpikir apapun.
Mereka mulai menghancurkan tempat itu tepat didepan mataku.
Mereka menghancurkan semua usaha yang kulakukan untuk membuat tempat senyaman mungkin.
__ADS_1
"Benar-benar lancang! Kalau memang kau betah disini, tinggal saja disini terus dan tidak usah kembali ke rumah kami!" Teriak Kirian
Mereka terus merusak tempat itu.
"Jangan... Hancurkan..." Gumamku dengan mata terbelalak
"Hah?!" Gumam Rio jengkel
Rio langsung menghampiriku dan memukulku hingga terjatuh.
"Coba ucapkan sekali lagi!!" Teriaknya
"Beraninya manusia sepertimu menginginkan sesuatu! Kau hidup saja sudah bagus!!" Teriaknya sambil menendangku.
Setelah puas menghancurkan tempat ini dan menghajarku, mereka pun kembali ke rumah.
Dan sejak itu, aku tidak lagi datang ke hutan.
Sebagai gantinya, setelah pulang sekolah aku tidak langsung pulang dan hanya duduk di tempatku hingga sekolah akan di tutup.
Terkadang aku juga ke perpustakaan untuk belajar mempersiapkan diri di ulangan semester 2.
Ya, tinggal 2 bulan lagi akan ulangan semester.
Yang artinya Kirian, Maeru, Rio dan Rusen jadi makin sering menyiksaku.
"Mati sana!!"
"Kenapa kau harus hidup dan tinggal disini, serumah dengan kami?!"
"Tidak ada orang mengharapkan keberadaanmu. Kenapa kau tidak bunuh diri saja?!"
Mereka sangat membenciku.
Mereka terus tiap hari menyiksaku lebih banyak lagi.
Menjelang 1 bulan akan ulangan, aku mulai berpikir.
Berpikir, terus berpikir mengapa mereka sangat membenciku.
Namun aku tidak menemukan jawabannya meski berpikir keras.
Hingga akhirnya 1 hari menjelang ulangan, di malam hari saat aku bersiap tidur...
"Kenapa... Kenapa... Apa kesalahanku? Apa yang mereka tidak sukai dariku..." Pikirku
Aku pun tersentak.
"Tidak sukai..." Gumamku
Saat itulah aku menyadarinya.
"Jenius... Karena aku jenius..." Gumamku
"Seandainya... Seandainya sejak awal aku anak normal dan berada di keluarga biasa saja, aku mungkin tidak akan jadi seperti ini..." Gumamku
"Mereka... Iri padaku?"
Ingatan pahit saat aku mulai di bully saat kelas 1 SD mulai merasuki otakku.
"Benar. Mereka merasa tersaingi dan tidak tidak bisa melawanku. Karena itu mereka melakukan kekerasan... Mereka benci karena iri, bukan benci dengan tindakanku..."
"Mereka menganggapku sempurna"
"Karena itu mereka mencari kelemahanku, mengungkit soal keluargaku yang hancur, insiden papa, dan lainnya"
"Mereka melakukan itu untuk mengusirku. Jika aku tidak ada, mereka tidak merasa terancam"
"Karena itu... Karena itu..." Gumamku
Aku terdiam sejenak dan berpikir serius.
"Aku tidak bisa bertindak dengan kondisiku yang sekarang. Jadi aku harus menghindar"
__ADS_1
"Menghindar hingga mereka tidak merasa terancam dengan keberadaanku"
"Satu-satunya cara adalah...."
*
**
Keesokan harinya, ulangan dimulai.
Dari sangat pagi sebelum matahari muncul, aku sudah pergi ke sekolah duluan menghindari Kirian, Rio dan Rusen mencari gara-gara denganku.
Saat ulangan juga aku mengisinya sangat cepat agar bisa keluar dari ruang ujian lebih dulu, dan bersembunyi.
Berkat itu aku terhindar dari Kirian, Maeru, Rio dan Rusen hingga hari terakhir ulangan.
Aku sangat lega.
"Sedikit lagi... Tinggal menunggu hasil ujian sudah diumumkan" Pikirku
"Aku harus... Bertahan..." Pikirku, dan perlahan mataku tertutup
Di sore hari, aku pingsan di kelas karena aku sejak awal memang sedang sakit.
Sekitar 2 jam kemudian, aku sadar dari pingsanku dan hari mulai gelap.
"Aku sudah harus pulang..." Gumamku
*
Besok adalah hari sabtu, jadi sekolah libur.
Tentunya, hari liburku tidak seindah anak-anak lainnya.
"Baj*ngan! Kemana saja kau pergi selama ini, hah?!"
Mereka makin nafsu menyiksaku. Meski darahku sudah bercucuran, mereka masih tidak berhenti melakukannya.
"Harus... Bertahan..." Pikirku
Lalu, luka hasil siksaan itu terinfeksi karena tidak diobati. Alhasil demamku makin tinggi karena menahan sakit itu.
Meski begitu, aku masih sekolah dengan tertatih-tatih.
Sepanjang waktu aku terus membaringkan kepalaku diatas meja hingga jam pulang berbunyi.
Aku pura-pura pulang seperti yang lainnya, tapi setelahnya aku kembali masuk kelas dan membaringkan kepalaku di meja lagi.
Hingga aku dikagetkan oleh sekelompok orang yang masuk ke kelas...
*
Brak!
"Disini ternyata kau bersembunyi selama ini. Pantas saja saat kami datangi ke hutan, kondisinya tidak berubah"
Mereka berempat mengepung mejaku seperti biasa.
"Aku sangat kesal! Kau pasti akan jadi yang pertama lagi, dan aku dipermalukan seperti sebelumnya!" Teriak Kirian
"Kau harus diberi pelajaran!"
Rio mendekatiku dan mengeluarkan sebuah cutter dari saku celananya.
Rio langsung mengacungkan cutter itu ke dadaku.
"Cepat minta maaf ke Ian!" Teriak Rio
"Ma... af..."
Suaraku sangat kecil hingga hampir tidak terdengar dan membuat emosi Rusen tersulut.
"Kau ini! Keraskan suaramu!" Teriak Rusen emosi dan tanpa sengaja mendorong Rio
__ADS_1
Akhirnya...