Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Episode Spesial 17 : Masa Lalu Kei (Kisah Hidup Kei)


__ADS_3

*


Di sisi lain sekolah...


Setelah menyeret Kagusa ke kastil pemimpin roh baik, Kei kembali ke kastil pemimpin roh jahat.


"..."


Kini Kei duduk dengan memendam wajahnya diatas meja dengan lesu.


"Tuan..." Gumam Kei


"Aku sangat mengerti perasaan Tuan. Selama ini dia terus tersiksa..."


"Akhirnya... Tuan tidak perlu sakit lagi. Ini hal bagus..." Gumamnya.


Kei mengangkat kepalanya, lalu melihat keluar jendela yang hanya ada langit hitam.


"Aku tidak ada niat memiliki tuan lagi setelah ini. Tuanku hanya Tuan Izumi seorang"


"Aku akan mengikuti apa yang Tuan mau!"


Kei terdiam sebentar lalu menatap kedua tangannya.


"Ya. Aku benar-benar mengerti situasi Tuan Izumi"


*


**


Sekitar 300 tahun lalu...


Saat itu, dunia ini belum berbentuk negara dan masih terdiri dari banyaknya kerajaan-kerajaan dan kekaisaran di tiap penjuru.


Lalu, dari banyaknya kerajaan juga kekaisaran di benua ini, terdapat kerajaan yang memiliki kekayaan paling banyak karena terdapat banyak tambang berlimpah dan terkenal akan tanahnya yang subur juga makmur.


Kerajaan itu diurus dengan baik oleh raja di tiap generasi. Para raja dan ratu di kerajaan itu berusaha keras untuk membahagiakan dan tidak membuat para rakyatnya kecewa telah tinggal disana.


Namun, tetap saja. Di kerajaan yang luas itu, raja dan ratu tidak bisa menjangkau sudut terpencil kerajaan.


Di tempat yang tidak bisa dilihat oleh keluarga kerajaan itu akhirnya menjadi tempat kumuh dan terisolasi.


Lalu, disana juga terdapat seorang wanita cantik dengan rambut dan mata berwarna coklat yang bekerja sebagai penari juga wanita malam untuk para bangsawan. Wanita itu adalah ibu Kei.


Hingga di suatu hari, wanita itu hamil mengandung anak dari bangsawan yang tidak diketahui dari keluarga mana bangsawan itu.


Setelah mengetahui kehamilannya, wanita itu berhenti bekerja dan menjaga diri untuk tidak banyak bergerak. Di tempat kumuh itulah Kei lahir.


Namun sayangnya, ibu Kei meninggal usai melahirkan Kei karena pendarahan dan tidak ada yang menolongnya.


Di malam hari setelah beberapa saat wanita itu meninggal, datang sekelompok pria dengan pedang di pinggangnya masuk ke rumah wanita itu.


Begitu melihat wanita itu berbaring bersimbah darah, seorang prajurit bayaran itu mendekat untuk memastikan ia masih hidup atau tidak.


"Wanita itu sudah meninggal lebih dulu sebelum kita membunuhnya" Ucapnya


"Memangnya ada perlu apa kita membunuhnya?" Tanya yang lain


"Khu, khu, khu... Aku dengar wanita ini sebelumnya bekerja ditengah gerumbulan bangsawan dan hamil mengandung anak bangsawan"


"Jadi anak ini adalah anak dari bangsawan? Kita tinggal cek bangsawan mana ayahnya dan minta kompensasi"


"Tidak. Siapa yang mau anak diluar nikahnya tiba-tiba datang lalu kita minta uangnya? Daripada itu, kita langsung saja jual di pasar gelap setelah memastikan darah bangsawannya. Dia pasti terjual dengan harga tinggi!"


"Ide bagus! Ayo bawa bayi itu sekarang!"


Para prajurit bayaran yang bekerjasama dengan organisasi berbahaya mengetahui kalau Kei adalah anak diluar nikah dari seorang bangsawan. Begitu tahu si wanita meninggal, prajurit bayaran itu pun menculik Kei yang masih bayi untuk dilelang di pasar jual beli manusia.


Tapi rencana prajurit bayaran itu gagal...


Drap... Drap... Drap... Drap...


"Berhenti!!" Teriak seseorang dari kejauhan yang menunggangi kuda.


"Apa? Kenapa ada ksatria disini?" Tanya seorang prajurit bayaran.


Datang 4 ksatria yang menunggangi kuda, lalu menghadang jalan sekelompok prajurit bayaran itu.


"Berikan bayi itu pada kami!!" Teriak salah seorang ksatria.


Para prajurit bayaran menyadari kalau ksatria itu adalah utusan dari ayah Kei.


"Kalian sengaja tidak menggunakan seragam resmi keluarga yang kalian layani, makanya tidak ada lambang keluarga bangsawan di seragam kalian. Jadi, dari keluarga mana kalian?" Tanya seorang prajurit bayaran.


"Bukan urusan kalian!! Cepat berikan bayi itu pada kami!!"


"Kami akan serahkan anak ini jika kalian bisa beri kami uang setidaknya satu juta koin emas. Untuk ukuran bangsawan yang meminta anaknya kembali, ini bukan jumlah yang besar, bukan?"


"Bunuh semua penghalang yang mengganggu ketentraman keluarga, itulah pesan dari Tuan kami" Ucap seorang ksatria dan dengan cepat menyerang para prajurit.


Akhirnya terjadi pertarungan sengit di pinggir hutan menuju jalan di pinggir desa.


Tapi ternyata tidak ada yang menang dari pertarungan itu. Semua prajurit bayaran dan ksatria itu meninggal di tempat dan menyisakan Kei seorang.


Hingga di pagi hari ada seorang wanita yang tengah berjalan didekat sana.


"Hm~ Hm~ Hm~"


"Uwek! Uwek! Uwek!"


"Hm? Suara bayi dari hutan?"


Wanita itu mendengar suara tangisan bayi. Karena penasaran, ia pun mencari keberadaan bayi itu dan kaget.


"!!"

__ADS_1


"Astaga!! Mayat!! Ada mayat disini!!" Teriak wanita itu histeris.


Ia menemukan seorang bayi menangis ditengah tumpukan mayat disekitarnya.


"Astaga, astaga!! Bayi itu perlu diselamatkan segera!!" Teriaknya


Wanita itu memberanikan diri mendekat dan mengambil Kei ditengah para mayat itu.


Begitu kembali ke desa, wanita itu langsung memanggil warga untuk mengurus mayat itu juga mencari panti asuhan untuk Kei.


"Maaf bayi kecil. Jika bisa aku mau mengurusmu, tapi saat ini keuangan keluargaku sedang kritis. Untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi harus membeli peralatan bayi yang mahal"


"Di panti asuhan kau bisa tumbuh dengan baik dan bisa berteman dengan anak-anak disana. Setelahnya akan ada orang yang mau menjadikanmu anak angkat. Itu yang terbaik untukmu"


Kei pun kini tinggal di sebuah panti asuhan yang ada di desa lain.


Panti asuhan itu terkenal bersih dan anak-anaknya tampak memakai pakaian rapi.


Namun dibalik itu, terdapat hal gelap didalamnya....


Plak!!


"Kau ini!! Sudah berumur 8 tahun, tapi masih juga belum bisa mencuci dengan bersih? Cuci lagi sampai benar-benar bersih! Jika tidak kau tidak akan makan hingga besok!!"


"Ba... Baik! Maaf!!"


Orang yang membersihkan panti asuhan itu ialah anak-anak itu sendiri. Mereka dipaksa bekerja untuk panti asuhan itu, dan disuruh berakting seakan hidup baik jika ada orang berkunjung.


Kei pun tak terkecuali. Meski saat ini ia masih berumur 3 tahun, ia sudah disuruh bekerja oleh pemilik panti asuhan.


"Kei! Cepat sapu halaman depan sana! Nanti akan ada bangsawan yang berkunjung, jadi setelah selesai menyapu, ganti bajumu dengan yang paling bagus!" Teriak seorang pengurus panti asuhan.


"Baik!..." Jawab Kei gugup


Kei kecil mengikuti perkataan ibu pengasuh. Ia menyapu halaman dengan teliti dan mengganti pakaiannya sendiri seusai menyapu.


Meski bagaimanapun, Kei masihlah anak berumur 3 tahun. Apa yang ia kerjakan tidak semaksimal orang dewasa melakukannya.


Di halaman masih ada beberapa sudut yang kotor, juga pakaian Kei tidak rapi.


"Dasar anak bodoh!! Hanya disuruh menyapu dan mengganti pakaian saja tidak bisa!! Kau tau tidak sih berapa banyak uang yang habis hanya untuk merawatmu selama 3 tahun ini? Dasar tidak tau di untung!!"


Ibu pengasuh itu mengangkat tangannya bersiap memukul Kei. Begitu melihatnya refleks Kei menutup matanya ketakutan.


Beberapa detik telah lewat dan tidak terjadi apa-apa pada Kei. Perlahan Kei membuka kembali matanya. Terlihat ibu pengasuh itu sedang menahan diri untuk tidak memukul Kei.


Setelahnya ibu pengasih itu berjongkok dan merapikan pakaian Kei dengan kasar.


"Bersyukurlah karena sebentar lagi ada bangsawan yang datang, mereka tidak boleh melihat ada anak yang terluka. Coba saja mereka tidak datang, kau sudah habis di tanganku. Camkan itu!"


"I... Iya, saya mengerti..." Gumam Kei


*


"Selamat datang, Tuan Count dan Nyonya Countess.


"Kami datang kesini karena katanya anak disini dirawat dengan sangat baik" Ucap Countess


"Ya, anda benar sekali, Nyonya Countess! Anda bisa lihat sendiri seberapa bersih tempat ini dan anak-anaknya memakai pakaian bersih dan rapi" Jawab pemilik panti asuhan.


"Kami ingin mengadopsi satu anak laki-laki dengan umur sekitar 2 sampai 4 tahun" Ucap Count


"Ah, anak laki-laki dengan umur segitu hanya ada beberapa disini. kebanyakan sudah berumur diatas 5 tahun" Jawab pemilik panti gugup


"Aku ingin yang seperti itu. perlihatkan semuanya!"


"Ba... Baik, Tuan Count!"


Beberapa saat kemudian, di hadapan Count dan Countess telah berjejer 5 anak laki-laki dengan kisaran umur 2 sampai 4 tahun sesuai keinginan Count. Diantara 5 anak itu, Kei juga termasuk salah satunya.


Begitu melihat Kei, Count dan Countess langsung tertarik padanya.


"Hm? Anak ini... Sejak awal rambutnya warna merah dan bermata biru?" Tanya Count


"Ya, Tuan Count. Sejak awal ia datang saat masih bayi sudah seperti itu" Jawab pemilik panti.


"Di kerajaan ini jarang orang memiliki rambut merah. Kami akan ambil anak itu. Berikan surat adopsinya pada kami"


Akhirnya, Kei diadopsi oleh pasangan Count dan Countess Forth.


"Jadi, namamu Kei dan tahun ini berumur 3 tahun?" Tanya Countess


"Ya, benar..." Jawab Kei gugup


"Kau tak perlu takut. Mulai sekarang kau adalah anak kami, dan kami adalah orang tuamu"


"Juga, mulai sekarang namamu menjadi Keiden Forth, seorang putra tunggal dari keluarga Count Forth dan menjadi penerusnya"


"Ta... Tapi... Saya... Hanyalah anak rendahan dari panti asuhan. Apakah... Bisa?" Tanya Kei takut


Tuan Count mengelus kepala Kei dengan lembut.


"Jika kau berusaha, kau bisa jadi penerusku dengan baik. Karena itu, mulai sekarang kau harus berusaha keras"


"Baik!"


Begitu tiba di rumah keluarga Forth, Kei langsung di didik mempelajari kebiasaan bangsawan dari hal dasar hingga yang rumit. Selain itu, ia juga mulai diajari pendidikan penerus keluarga.


Kei dirawat dengan baik disana, tidak seperti di panti asuhan. Ia bisa memakan apapun yang ia mau, dan memakai pakaian mewah. Orang tua angkatnya juga sangat menyayanginya.


Hingga di suatu hari, beberapa bulan setelah Kei diadopsi...


"Huek... Ugh..."


"Istriku! Kau kenapa?" Teriak Count histeris

__ADS_1


"Pelayan! Cepat panggil dokter!!"


"Baik, Tuan Count! Akan segera saya panggil"


Dan ternyata...


"Selamat! Nyonya Countess sedang mengandung. Usia kandungannya 5 minggu" Ucap dokter senang


"A... Apa? Istriku hamil? Tapi sebelumnya ia divonis tidak bisa mengandung"


"Karena itu saya juga kaget. Ini sebuah keajaiban! Tuhan pasti tersentuh karena Tuan dan Nyonya dengan tulus mengadopsi anak, makanya diberi anak kandung!"


"Tolong jaga bayi di kandungannya, karena mungkin bayi itu lebih sensitif karena Nyonya Countess lemah. Jangan terlalu banyak bergerak dan jaga fikiran Anda, Nyonya"


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya akan datang lagi nanti untuk mengecek kandungannya"


Dokter itu pun keluar dari kamar.


"Astaga~ Anak! Kita akan ada anak, sayang!!" Teriak Countess


"Tenanglah. Kau tadi dengar, kan? Jangan terlalu banyak bergerak agar anak kita tidak kenapa-napa"


"Aku senang sekali~ Akhirnya aku bisa menggendong bayi~"


"Iya, aku juga menantikannya"


Kedua pasangan itu tampak sangat bahagia.


"..."


Dan kini Kei tengah melihat keharmonisan orang tua angkatnya.


"Aku diadopsi untuk menjadi penerus karena pasangan Count tidak memiliki anak. Tapi sekarang mereka sudah punya"


"Apa gunaku berada disini sekarang?" Pikir Kei


*


Setelah mengetahui kehamilan Countess, sekarang Kei diabaikan. Count sibuk terus menjenguk dan menjaga istrinya dan tidak lagi menemui Kei.


"Tidak apa. Ini hal wajar jika ayah menjaga ibu" Pikir Kei


Kei memaklumi sikap Count yang berubah dan tidak mengatakan apa-apa.


Dan hingga anak perempuan dari Count dan Countess lahir, Count ataupun Countess tidak pernah menemui Kei untuk melihatnya belajar atau mengajaknya bermain seperti biasanya.


Sama seperti sebelumnya, Kei memaklumi hal itu.


"Ayah tidak punya waktu menemuiku. Ayah sudah sibuk dengan tugasnya dan masih perlu mengurus ibu. Ibu juga sedang mengandung adik dan tidak boleh banyak bergerak. Akulah yang seharusnya tahu situasi" Pikir Kei


Tapi, bahkan setelah adik Kei itu lahir hingga beberapa bulan, pasangan Count tetap juga tidak menjenguk Kei.


Lagi-lagi, Kei memaklumi hal itu.


"Adik baru lahir, tentu saja dia harus dirawat dengan baik karena bayi sangat lemah. Aku tidak boleh kekanak-kanakan. Sekarang aku adalah kakak"


Dan... Hingga kini adiknya sudah mulai bisa berjalan, Count dan Countess tidak pernah lagi menemui Kei seakan Kei telah dilupakan karena apa yang paling diinginkan mereka telah datang.


Lalu, di umur Kei ke-6 tahun dan adiknya ke-2 tahun, barulah pasangan Count menemui Kei bersama dengan anak kandung mereka.


"Keiden, ini adalah adik perempuanmu. Namanya adalah Freya Forth. Mulai sekarang jagalah dia dengan baik. Kau mengerti?"


"Iya, ayah"


Sejak itu, Kei jadi sering bertemu adiknya dan bermain dengannya.


Dan tiap kali adiknya menangis ditengah mereka sedang bermain, Countess akan langsung datang dan memarahi Kei.


"Keiden, apa yang kau lakukan pada Freya?! Dia sampai menangis begitu kencang!" Teriak Countess


"Ma... Maaf. Saat sedang berlari tadi dia tiba-tiba terjatuh sendiri..." Gumam Kei


"Masih beralasan!! Kan sudah dibilang kau harus menjaga Freya dengan baik!! Sekarang kau kembali ke kamarmu dan jangan keluar selama 1 minggu!" Teriak Countess


Sikap orang tua angkatnya jadi sangat berubah sejak kehadiran Freya.


Kei yang berumur 6 tahun sudah mengerti, kalau apapun yang ia lakukan, ia akan tetap salah jika terjadi sesuatu dengan Freya, karena Freya adalah anak kandung mereka.


Tapi karena Kei tidak diusir bahkan setelah adiknya lahir, itu menjadi secercah harapan bagi Kei untuk membuat orang tuanya bangga dan menganggapnya.


Kei jadi makin rajin belajar, mau itu pelajaran materi, pendidikan penerus, juga ilmu pedang.


Di umur Kei yang masih 10 tahun, ia sudah bisa menggunakan pedang dengan baik, dan pengetahuannya lebih luas dibanding anak seusianya yang lain.


Tapi apapun pencapaian Kei, Kei tetap tidak dianggap oleh pasangan Count.


Hingga di suatu hari saat umur Kei 11 tahun dan Freya 7 tahun, pasangan Count, Kei dan Freya tengah berkumpul, Freya bertanya pada orang tuanya.


"Ibu, ayah, Freya mau tanya. Rambut Freya kan warna kuning mengikuti ibu. Tapi kenapa rambut kakak warna merah? Padahal rambut ibu kuning dan rambut ayah warna coklat"


"Ah, ini cerita sebelum Freya lahir. Sebelumnya ibu divonis tidak bisa punya anak. Makanya ibu dan ayah berpikir untuk mengadopsi anak. Anak itu adalah kak Keiden" Ucap Count


"Ayah sengaja memilih anak laki-laki yang masih kecil karena anak kecil masih bisa dididik untuk jadi penerus. Dan tak lama setelah mengadopsi kak Keiden, ibu mengandung Freya"


"Apa?! Jadi kak Keiden bukan kakaknya Freya?!" Teriak Freya


"Eei~ Jangan bilang seperti itu. Kak Keiden tetap kakaknya Freya walau kalian tidak sedahrah" Ucap Countess


"Tidak mau!! Dia bukan kakakku!!!" Teriak Freya dan langsung pergi.


"Astaga! Freya, kalau kau lari seperti itu kau bisa terjatuh!" Teriak Countess lalu mengejar Freya, dan disusul Count yang mengikuti istri dan anaknya.


"..."


Kini Kei ditinggal sendirian di meja yang luas itu.

__ADS_1


__ADS_2