
setelah kami sampai ke rumah yang ditempati nenek itu dan mengatakan apa keinginan kami, nenek itu bilang,
"oh, kalian ingin membuangnya, ya. nanti akan nenek bantu panggilkan orang untuk mengangkutnya"
begitulah, sekitar 30 menit setelah kami pulang sekolah ada orang yang datang dan mengangkut benda-benda tak berguna itu.
Setelah itu, tentu aku dan Yui membersihkan kamar itu. Sesudah membersihkan kamar itu, kami pun kembali diskusi.
"Jadi, siapa yang akan menunggu kamar itu?" tanya Yui
Setelah Yui bertanya, aku mendengar suara Izumi. Suaranya terasa seperti langsung masuk kedalam otakku seakan-akan Izumi ada di dalam tubuhku.
"Kau saja yang menunggunya" Ucapnya.
"Eh? Aku?"
Tanpa sadar aku mengucapkan itu dan didengar Yui.
"Hmm? Kau yang akan menempatinya?" Tanya Yui
"Ah, em... Iya" Ucapku gugup dan salah tingkah.
"Kalau begitu, sekarang kita pindahkan dulu saja barangmu ke kamar itu" Ucap Yui
Aku yang dibantu Yui pun mulai memindahkan barang-barangku ke kamar itu. Saat memindahkan barang, aku sekalian memisahkan barang-barang yang akan aku bawa pulang kerumah saat libur semester dan yang tetap ditinggalkan disini.
Barangku sekarang sudah berada di kamar ini semua. Jadi aku ingin memilah-milah kembali barang-barangku yang akan aku bawa pulang.
Saat membereskan buku, aku menemukan buku Izumi diantara buku-buku milikku.
"Buku ini harus aku apakan?"
"Bawa. Kau harus membawanya pulang nanti, saat kembali ke sini juga kau harus membawanya"
"Tapi buku ini cukup tebal"
"Karena kau terikat denganku, kau harus menjaga buku itu baik-baik"
Aku menghela nafas.
"Baiklah, akan aku bawa"
*
Hari sudah mulai malam, dan kamar yang aku tempati ini masih berantakan.
"Sudahlah, sekarang aku tidur dulu. Nanti besok aku lanjut membereskan..." Gumamku
Aku pun mematikan lampu lalu berbaring di kasur.
Aku menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong.
"Hey, Izumi..."
"Ada apa?"
"Bagaimana rasanya menjadi hantu?"
"Entahlah, hal itu bergantung dengan orang itu sendiri. Bagiku menjadi roh seperti ini bukan hal yang menyenangkan"
"Kami bagai terkurung disini dan tak bisa berkeliaran bebas dan selalu di tuntut untuk terus bertarung dengan roh lain"
__ADS_1
"Jika menjadi roh kau di tuntut untuk menjadi kuat. Kau tak bisa bergantung dan percaya pada roh manapun, karena suatu saat roh yang kau percaya itu akan mengkhianatimu"
"Jika kau menjadi lemah, kau akan di lenyapkan oleh roh yang lebih kuat. Namun jika menjadi kuat, akan ada lebih banyak lagi roh yang mengincarmu"
"Dan jika misalkan kau lenyap dalam sebuah pertarungan, kau akan tersiksa jauh lebih banyak lagi dalam waktu lama"
"..."
Aku terdiam mendengar penjelasan Izumi.
"Kalau begitu, jika dibanding saat menjadi roh atau manusia, yang mana menurutmu paling menyenangkan?"
"..."
Aku tidak mendengar suara apapun. Beberapa detik kemudian baru Izumi menjawab pertanyaanku.
"Tidak ada. Tidak ada yang menyenangkan. Semuanya sama saja"
"Bagaimana bisa semuanya--"
"Tidurlah, besok kau harus sekolah, kan"
Izumi seakan tidak mau aku membicarakan itu lagi dan menyuruhku diam.
*
2 minggu telah berlalu.
Hari ini adalah pengumuman peringkat di kelas dan antar angkatan.
Di pagi hari, anak-anak osis sudah menaruh papan pengumuman peringkat antar angkatan.
Sudah tentu aku langsung melihat begitu kertasnya ditempel.
Namaku berada di urutan 19 dari 155 siswa di satu angkatan kelas 10.
"Sungguh? Ini benar namaku, kan?" Pikirku kaget
Aku kembali mengecek urutan dari namaku itu dan melihat kelasnya. Ini memang benar namaku, Asahi Yurin dari kelas 10-2.
Aku melihat nama-nama yang ada diatas namaku.
"Di peringkat 1 sampai 18 itu semuanya dari kelas 10-1!" Pikirku
Aku melihat nama yang dibawah namaku.
"Urutan 20 sampai 26 juga dari 10-1. setelahnya baru mulai dari kelas yang lainnya" Pikirku
"Itu artinya, sudah jelas aku juara 1 di kelas?!" Pikirku yang masih tidak percaya.
Aku berjalan keluar dari kerumunan orang yang sedang melihat papan pengumuman.
Aku berjalan sambil bengong karena masih tidak percaya.
"Ada apa? Kau masih belum puas ya?" Tanya Izumi yang tiba-tiba muncul di sampingku.
Aku tetap berjalan dengan tatapan mata kosong. Aku sama sekali tidak dengar apa yang dikatakan Izumi.
"Heeey?!" Teriak Izumi
Saat itu aku baru tersadar.
__ADS_1
"Izumi! Aku ada di peringkat 19!!" Ucapku menahan diri agar tidak berteriak.
"Lalu?" Tanya Izumi
"Tentu saja aku senang!! Aku tidak salah lihat, kan?"
"Harusnya kau kecewa karena tidak bisa di peringkat 1" Ucap Izumi
"Oh, iya. Di peringkat 1 tadi siapa, ya?" Gumamku
"Kau tidak perlu tau orang itu"
Aku melirik ke wajah Izumi karena bingung dengan ucapannya itu.
Wajah Izumi terlihat serius dengan matanya yang tajam. Sepertinya dia marah, tapi aku sama sekali tidak tahu di bagian mana yang dia tidak suka.
"Entah kenapa jika Izumi seperti ini aku jadi sedikit takut. Lebih baik aku kembali ke kelas dulu" Pikirku
"Em, Izumi. Aku kembali ke kelas dulu, ya. Sebentar lagi kami akan pembagian rapor"
Aku pun berbalik dan berjalan menuju kelas di lantai 3 dan Izumi menghilang entah kemana.
15 menit kemudian wali kelas kami datang dengan membawa tumpukan rapor.
Semua murid langsung duduk diam dari yang sebelumnya sangat berisik.
"Baiklah anak-anak, sekarang Ibu akan membagikan rapor kalian selama 6 bulan ini kalian telah berjuang"
"Juara pertama, Asahi Yurin"
Teman-teman serempak bertepuk tangan begitu namaku disebut. Beberapa diantaranya juga melihat ke arahku.
Meski aku sudah bisa menduganya, tapi tetap saja aku masih merasa kaget.
Ragu-ragu aku berdiri dan berjalan ke depan untuk mengambil rapor milikku.
"Selamat. Kau bahkan bisa mengalahkan beberapa anak-anak kelas 10-1. Kau pantas berbangga atas usahamu"
"Ah, em, iya... Terima kasih, bu" Ucapku ragu
Aku memberi hormat ke bu guru, lalu kembali ke mejaku dengan perasaan campur aduk.
"Baiklah, kita lanjutkan. Juara kedua adalah..."
*
1 jam kemudian semua murid di kelas sudah mendapat semua rapor mereka dan Ibu guru juga sudah memberi sedikit nasihat, saran dan semangat untuk kami. Setelah itu, Ibu guru keluar kelas dan tentu kami sudah bebas melakukan apapun.
Ada beberapa teman dikelasku yang memberiku selamat karena sudah berada di peringkat 20 besar seangkatan, dan juara 1 di kelas ini. Setelah beberapa menit berbincang dengan mereka, aku izin pada mereka untuk pulang.
Aku mendatangi kelas Yui. Saat aku baru sampai di depan kelasnya, Yui langsung keluar.
"Oh, Yui. Ayo pulang"
"Iya, ayo. Omong-omong, selamat!! Kau ada di peringkat 20 besar. Hebat sekali!" Teriak Yui dan langsung memelukku.
"Tidak juga. Aku hanya beruntung..."
"Lalu, Yui di peringkat berapa?"
Yui hanya diam.
__ADS_1
"Yui?"