Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Episode Spesial 18 : Masa Lalu Kei (Keluarga Count Forth)


__ADS_3

Sejak kejadian dimana orang tua angkat Kei cerita pada Freya kalau Kei adalah anak angkat, Kei dan Freya sudah jarang bertemu.


Freya terus menghindar dari Kei dan tidak mau lagi melihatnya.


"Aku tidak mau!! Dia itu orang luar yang kotor! Bagaimana bisa rakyat biasa sepertinya jadi kakakku? Itu tidak mungkin!!" Teriak Freya


"Astaga, Nona. Tolong kecilkan suara anda dan tenanglah" Ucap pelayan pribadinya panik.


"Pokoknya aku mau minta ke ayah dan ibu untuk mengusir rakyat biasa yang kotor itu!!"


"Sejak awal ayah dan ibu mengadopsinya karena tidak punya anak, kan? Sekarang sudah ada aku yang anak kandungnya, manusia menjijikkan itu tidak diperlukan lagi!!"


"No... Nona, tolong tenanglah. Bagaimana jika Tuan Muda mendengarnya?"


"Tuan Muda? Sudah kubilang dia itu orang luar!! Dia cuma numpang tinggal di keluarga Forth!! Lalu apa masalahnya jika dia dengar? Malah lebih bagus kalau dia dengar, jadi dia bisa berkaca pada dirinya sendiri!!"


"...."


Kei yang berdiri didepan pintu ruangan tempat Freya berada sekarang dapat mendengar semuanya, mulai dari ucapan kasarnya, hingga suara pecah dari barang yang ia hempas.


"Di kerajaan ini, hanya anak laki-laki yang berhak mewarisi jabatan. Dan lagi anak yang sudah diadopsi tidak bisa semudah itu dibatalkan lagi. Karena itu ayah dan ibu tidak bisa sembarangan membuangku. Tapi jika Freya terus seperti ini, bukan tidak mungkin ayah dan ibu mengikuti kemauan putri tunggal mereka" Pikir Kei


"Aku harus berusaha lebih keras agar ayah melihat aku berguna. Dengan begitu, aku bisa terus bertahan disini dan tidak tinggal di jalanan"


Kei pun pergi dari sana dan menuju tempatnya latihan.


*


Di tempat latihan itu, Kei terus berlatih pedang sendirian hingga hari mulai malam.


Ditengah itu, Freya datang menemui Kei.


"Freya? Ada apa?" Tanya Kei


"Apa-apaan ini?! Rakyat biasa memanggil namaku langsung? Aku bukan adikmu, tau!!" Teriak Freya


"Aku ingatkan padamu, ya! Kau itu orang luar, jadi jangan bertindak sembarangan di rumah orang lain! Aku tidak sudi melihatmu! Lebih baik kau cepat keluar dari rumah kami!"


"..." Kei hanya diam dengan matanya menatap kearah lain.


"Kau dengar tidak?!" Teriak Freya marah


"... Maaf, aku akan terus bersembunyi hingga kau tidak akan melihatku" Gumam Kei


"Dasar parasit!!" Teriak Freya dan langsung pergi meninggalkan tempat latihan pedang.


*


Waktu terus berlalu.


Sekarang Kei telah berumur 13 tahun, dan adiknya 9 tahun.


Kini mereka berdua sudah tumbuh lebih besar dari sebelumnya. Kei maupun Freya tumbuh dengan paras yang makin menawan.


Tapi, masih sama seperti beberapa tahun lalu, hubungan Kei dan Freya tak kunjung membaik.


Karena Kei adalah calon penerus keluarga Count Forth, mau tak mau ia perlu keluar dan bersosialisasi dengan para bangsawan lain.


Dan karena hal itu, Freya sangat marah pada Kei.


Plak!!


"Kau tau posisi dirimu sendiri tidak, sih? Posisi calon penerus itu adalah milikku, anak kandung keluarga Forth!! Kau itu cuma rakyat biasa, jadi tahu diri!! Anak pungut sepertimu masih bisa belagu!"


"..."


Dan sejak itu juga, Freya jadi sering menyiksa Kei tanpa sepengetahuan Count dan Countess.


"No... Nona... Jika anda seperti itu, Tuan Muda bisa terluka parah..." Ucap pelayan pribadinya panik


"Aku tidak peduli!! Mau dia mati sekarang pun aku tidak peduli!! Malah lebih bagus kalau dia sungguh mati!" Teriak Freya


"Nona... Tuan dan Nyonya bisa tau..."


"Kalau kalian tidak mengadu pada ayah dan ibu, mereka juga takkan tau!"


"Tapi kalau lukanya separah ini, Tuan dan Nyonya bisa saja curiga"


"Dia ini calon ksatria dan sudah biasa memegang pedang. Luka itu hal biasa baginya. Apa aku salah?"


"Tapi Nona..."


"Kau berisik sekali!! Kau mau aku pecat, hah?!"


"Tidak, Nona!"


Kei pun dipukuli habis-habisan oleh adiknya sendiri.


Lalu di malam hari setelah Count dan Countess pulang dari perjalanannya, Freya menemui mereka.


"Ayah, ibu, tolong usir manusia menjijikkan itu dari rumah ini! Dia itu orang luar!! Aku pusing setiap kali memikirkan kalau aku bernafas di udara yang sama dengan rakyat jelata yang entah asal usulnya itu!!"


"Tidak bisa semudah itu, Freya. Jika bisa, sejak awal sudah kami usir dia" Jawab Countess


"Tetap saja, pasti bisa, kan? Yang kalian butuhkan itu aku, bukan dia! Jika aku sudah menikah nanti, suamiku bisa menjadi Count selanjutnya!" Teriak Freya


"Tunggu waktu yang tepat ya, nanti kami akan mengusir dia dari rumah"


"Ibu dan ayah sudah berjanji, ya!"


"Iya, sayang"


*


**


1 tahun telah berlalu. Dan Kei masih tetap berada di keluarga Forth dengan status penerus keluarga.


Tapi itu hanyalah status luarnya saja. Kei tak lebih dari orang luar saja sejak kejadian 1 tahun lalu. Dia tak diizinkan keluar kediaman dan hanya berdiam saja.


Kei juga menyadari hal itu. Ia juga tahu takkan bisa bertahan hingga akhir di keluarga Forth. Karena itu, Kei memutuskan untuk fokus belajar agar bisa bekerja begitu diusir oleh keluarga Forth.


Dan kebetulan pun terjadi.


"Keiden, sekarang kau telah berumur 14 tahun. Jadi aku berpikir untuk mengirimmu ke akademi"


Disaat Kei tengah berpikir untuk belajar dengan serius, Count langsung menyuruh Kei pergi ke akademi.


Tentunya Kei tau alasan utama Count melakukan itu untuk memisahkan Kei dengan Freya, juga Count punya kesempatan untuk mendidik dan menjadikan Freya penerus keluarga. Tapi bagi Kei ini adalah sebuah peluang.


"Aku bisa belajar dan berusaha bertahan hidup disana. Aku juga tak perlu bertemu Freya dan khawatir dipukulinya lagi" Pikir Kei


"Baik, ayah. Saya akan melakukan apapun yang anda mau"


1 bulan kemudian diadakan tes masuk akademi, dan Kei berhasil lolos dengan nilai yang bagus.


Dan setelahnya, Kei langsung dikirim ke akademi.


*


**


Kehidupan Kei di akademi ternyata tak seindah yang ia pikirkan.


Bruk!! Pak!! Trak!!


Kei dimusuhi oleh para laki-laki di kelasnya.


"Kudengar kau itu anak angkat dari Count Forth, ya? Bagaimana bisa ada rakyat jelata di akademi yang suci ini? Ini sebuah penghinaan untuk kita"


"Benar! Apalagi dia ini sok sekali! Semua guru dia jilat dengan sikapnya yang sok baik"


"Begitulah tabiat rakyat jelata! Darah memang lebih kental dari air"


"Ayo pergi. Aku tidak mau berlama-lama dengan rakyat jelata"


Bersamaan dengan para pembully itu pergi, Kei mengusap darah di bibirnya.


"Ini bukan masalah! Aku juga sudah biasa dipukul Freya saat dirumah. Aku cukup menahan sakitnya dan belajar dengan baik!" Pikir Kei


Benar saja. Kei berada di peringkat pertama di angkatannya dalam teknik pedang dan mendapat nilai bagus di pengetahuan umum.


Selain itu, Kei secara khusus menyelesaikan semua tugas sekolahnya dan tidak diwajibkan mengikuti pelajaran 1 tahun kedepan hingga kelulusan resmi diadakan.

__ADS_1


"Kyaaa! Tuan Muda Forth di peringkat pertama dalam teknik pedang! Dia memang bukan pria biasa!!"


"Nilainya juga sangat baik di pelajaran materi. Dia juga calon penerus keluarga. Parasnya tampan. Apa lagi yang kurang darinya?"


"Kalian tau? Aku sekelas dengan Tuan Muda Forth!! Tiap belajar aku serasa mau pingsan jika melihatnya!!"


"Beruntungnya! Aku juga mau lihat Tuan Muda Forth dari dekat!"


Walau para lelaki di akademi membenci Kei, tapi berkat prestasi juga paras tampannya, banyak wanita yang menyukai Kei. Terlebih statusnya juga penerus Count Forth yang makin membuat para wanita tergila-gila padanya.


Di umur Kei ke-17 tahun, ia pulang ke rumah Count.


"Ayah, ibu, saya pulang" Sapa Kei


"Ya. Aku sudah dengar dari akademi kalau kau belajar dengan baik disana" Ucap Count acuh tak acuh.


"Itu bukan masalah" Jawab Kei


Lalu dari kejauhan, Kei tak sengaja melihat seorang wanita cantik dengan rambut kuning panjang dan memakai gaun hijau daun berhias renda. Wanita itu adalah adiknya, Freya. Ia kini tengah berdiri menatap Kei dari balik tiang penyangga.


"Ah, dia pasti marah begitu tau aku kembali. Tapi dia pasti makin marah jika aku mengabaikannya. Jadi beri sapa dulu" Pikir Kei


Kei menaruh tangan kanannya ke dada dan tangan kirinya dilipat ke belakang, lalu membungkuk di hadapan Freya dari kejauhan.


Melihat itu, Freya langsung pergi menjauh.


"Dia sungguh marah" Pikir Kei


Setelah berbicara formal dengan orang tua angkatnya, Kei kembali ke kamarnya untuk istirahat.


"Hah, lelah sekali. Setelah ini Freya pasti cari gara-gara denganku. Luka saat di akademi sebelumnya juga masih belum sembuh sepenuhnya" Pikir Kei


Kei melirik ke jendela kamarnya yang masih terbuka.


Tampak diluar sekarang sudah gelap dan angin dingin mulai berhembus masuk ke kamarnya.


"Aku mau jalan-jalan sebentar menghirup udara luar. Seharusnya Freya takkan keluar di malam hari yang dingin seperti ini" Pikir Kei


Diam-diam Kei keluar melalui jendela kamarnya dan berjalan di sekitar sana dengan menggunakan baju tidurnya yang tipis.


Ditengah ia sedang jalan-jalan, hal yang paling Kei hindari pun datang.


"Ka... Kau?!..."


Kei berpapasan dengan Freya di taman dekat kamar Kei.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku perlu menyapanya?" Pikir Kei


"Dia paling tidak suka diabaikan. Jadi lebih baik sapa dan kembali ke kamar" Pikir Kei


Kei langsung sedikit membungkuk di hadapan Freya dan menyapanya.


"Halo. Sudah lama tak bertemu ya, Freya"


"Apa?!" Teriak Freya kesal.


"Maaf. Padahal aku sudah berjanji untuk terus bersembunyi hingga kau tak bisa melihatku. Aku sungguh minta maaf"


"Ini sudah malam, tidak baik jika berlama-lama membiarkan tubuh tertiup angin malam. Silahkan kembali ke kamarmu, aku juga akan kembali sekarang" Ucap Kei lalu pergi.


*


Selama di rumah keluarga Forth, Kei kembali ke rutinitasnya sebelumnya. Ia tak melakukan apa-apa juga orang di rumah mengabaikannya seakan Kei tidak ada.


Namun ada 1 hal yang sedikit berbeda.


"Hei, kau. Kudengar di akademi kemampuan berpedangmu itu sangat baik hingga kau berada di peringkat pertama di angkatan? Dan katanya juga kau sudah menyelesaikan semua tugas sekolah akademi, jadi cuma tinggal menunggu kelulusan tahun depan?" Tanya Freya


"Kenapa ini? Biasanya dia tak peduli apapun tentang diriku" Pikir Kei


"Benar" Jawab Kei


"Artinya selama 1 tahun ini kau bisa berada di rumah, kan?" Tanya Freya


"Ah, begitu. Dia tidak nyaman ada aku di rumah" Pikir Kei


"Aku memang diperbolehkan tetap di rumah hingga kelulusan, tapi aku tetap akan kembali ke akademi. Jadi tenang saja, aku tidak akan muncul lagi mulai minggu depan"


"Hah? Siapa yang menyuruhmu bicara banyak? Kau cukup hanya jawab pertanyaanku!" Ucap Freya kesal


"Maaf"


"Aku berpikir untuk menjadikanmu ksatria pribadiku mulai sekarang" Ucap Freya


"Tung--- Apa?!"


Kei sangat kaget begitu Freya bilang akan menjadikannya ksatria pribadi.


"Kau tidak dengar? Aku bilang, aku mau kau jadi ksatria pribadiku! Aku sudah bilang pada ayah dan ibu semalam dan mereka berdua setuju!"


"Tiba-tiba jadi ksatria pribadi? Bukannya dia membenciku?" Pikir Kei bingung


"Jangan macam-macam! Aku akan melaporkannya ke ayah dan ibu jika kau tidak mengikuti kemauanku!"


"....Baik"


Sejak itu, profesi baru Kei adalah menjadi ksatria pribadi Freya. Meski terdengar aneh seorang calon pewaris menjadi ksatria pribadi adiknya, tapi para bangsawan lain bisa mengerti dan mewajarkan hal itu, karena Freya adalah anak kandung Count.


Kei pun melakukan tugasnya dengan baik. Ia bersikap layaknya ksatria dan tak melupakan karismatik dirinya yang juga seorang bangsawan.


Karena itu, banyak wanita yang tergila-gila saat melihat Kei sedang mengawal Freya di luar.


Lalu...


Prang!!


"Kau ini!! Tugasmu itu mengawal, bukan menggoda wanita di jalanan!!" Teriak Freya dan tak henti melempari barang ke Kei.


"Benar-benar tidak sopan!! Kau menggoda wanita saat sedang bersamaku. Kau takkan kubiarkan!!"


Malam itu, Freya marah besar pada Kei hingga muncul keributan besar. Count dan Countess pun sampai turun tangan sendiri melihat putri tercinta mereka.


"Astaga Freya! Tenangkan dirimu sayang" Ucap Countess panik


Plak!!


Disaat Countess menenangkan Freya, Count langsung menampar Kei dengan kuat.


"Apa yang kau lakukan pada Freya?!" Teriak Count.


"Lihat ini! Kau membuat ulah hingga terjadi keributan separah ini!"


"Kau akan aku asingkan di paviliun pinggir dalam waktu yang tidak ditentukan!"


Begitulah. Keesokan harinya Kei langsung pindah ke paviliun pinggir sesuai perintah Count.


Tapi itu hanya sebentar. 1 minggu kemudian Kei kembali lagi ke rumah dan menjadi ksatria pribadi Freya.


"Aku tidak mengerti lagi dengan orang-orang di keluarga Count ini. Kupikir setidaknya aku akan berada di paviliun itu dalam waktu 1 tahun lalu diusir. Ternyata hanya 1 minggu dan aku kembali ke rutinitas biasa" Pikir Kei


Kei melirik ke arah Freya yang kini sedang duduk di depannya sambil meminum teh dan makan cemilan.


"Dan yang paling aneh adalah anak didepanku ini. 1 minggu sebelumnya di marah besar padaku karena kesalahpahaman sepele. Lalu tiba-tiba kemarin dia mengajakku jalan-jalan bersama di halaman dan mengajakku minum teh di gazebo. Apa maunya anak ini?" Pikir Kei bingung.


Karena terlalu lama menatapnya, Freya pun menyadari kalau Kei terus melihatnya.


"Kenapa lihat-lihat?!" Tanya Freya kesal


"Maaf"


"Huh!"


"Yah, anggap saja ini cuma keisengan anak perempuan yang sedang di masa pubertas" Pikir Kei


*


6 bulan telah berlalu setelah Kei menjadi ksatria pribadi Freya.


Sikap Freya makin lama makin aneh. Dia sering marah pada hal sepele ke Kei, bahkan disaat itu bukan kesalahan Kei. Tapi setelahnya dia bersikap baik, lalu kembali lagi ke sikap angkuhnya hingga Kei terbiasa.


Lalu, di malam hari setelah pesta perayaan ulang tahun Freya yang ke-14 selesai, Kei tidur di kamarnya.


Kriiitt... Ceklek...

__ADS_1


Saat Kei sedang tidur, ada seseorang yang masuk ke kamar Kei yang tidak dikunci.


Kei yang sangat sensitif akhirnya terbangun mendengar suara pintu, tapi dia tidak membuka matanya.


"Suara pintu. Tidak mungkin, siapa yang mau masuk ke kamarku. Ini cuma mimpi" Pikir Kei dan lanjut tidur.


Srek...


Lalu Kei merasa ada seseorang yang naik ke kasurnya.


"Tidak! Ini bukan mimpi! Memang ada orang yang masuk ke kamarku!!" Pikir Kei dan membuka matanya.


Begitu membuka mata, Kei dikagetkan oleh Freya yang sudah ada di depan wajahnya.


Langsung saja, Kei mendorong Freya menjauh dan mundur hingga ke ujung kasur.


"Agh! Sakit tahu! Kau sangat kasar!" Gumam Freya kesal


"Freya, apa yang kau lakukan ke kamarku?!" Teriak Kei


"Memangnya kenapa?" Tanya Freya


"Ini... Tolong bilang padaku kalau ini cuma salah paham. Ini bukan sesuatu seperti yang aku pikirkan, kan?" Tanya Kei keringat dingin


Freya melipat tangannya didepan dada dan menatap Kei heran.


"Kalau aku bilang ini seperti yang kau pikirkan, lalu apa?" Tanyanya


Kei langsung tersentak saking kagetnya.


"Freya! Aku ini kakakmu! Apa yang kau pikirkan?!" Teriak Kei


"Kakak? Pfft~ Sejak aku tau kau anak adopsi 7 tahun lalu, aku tidak pernah menganggapmu sebagai kakakku. Tidak sekalipun!!"


"Benar juga~ Kau mau jadi penerus keluarga Forth, kan? Sayangnya sekarang posisi itu sudah jadi milikku. Tapi itu bisa kau miliki lagi kalau kita menikah"


"Aku tidak punya ketertarikan seperti itu pada adikku sendiri!" Ucap Kei tegas.


Hei, sudah kubilang kau bukan kakakku. Aku tidak suka mengulang kembali perkataanku"


"Tapi... Kenapa... Bukannya kau membenciku?" Tanya Kei


Freya tersenyum mendengar pertanyaan Kei. Ia merangkak mendekat ke Kei lalu memegang dagu Kei menggunakan jari telunjuknya.


"Seorang pria rendahan yang tinggal di rumahku tiba-tiba kembali lagi dengan paras rupawan dan sangat hebat. Apa kau tidak tahu kalau di perkumpulan perempuan bangsawan muda kau itu jadi topik perbincangan hangat? Mereka semua berebutan mau jadi calon istrimu meski tau kau keturunan rakyat biasa"


"Saat melihatmu pertama kali kau kembali, aku berpikir 'Aah~ Ternyata yang mereka bicarakan itu tidak salah juga~' seperti itu"


"Tetap saja... Aku tetaplah anggota keluarga Forth terlepas dari hubungan darah kita" Gumam Kei tegas dan menyingkirkan tangan Freya dari dagunya.


"Aku tidak peduli~"


Freya mendekatkan wajahnya ke Kei lalu...


Cup


"!!!!"


"Kau!!!" Teriak Kei


"Keiden, saat aku masuk usia dewasa, menikahlah denganku. Oh ya, dan juga jaga nada suaramu jika tidak mau ketahuan orang rumah kalau aku di kamarmu di malam hari"


"Jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!" Teriak Kei


Freya mendekat lagi ke Kei dan memegang kedua pipinya.


"Apa aku terlihat bercanda sekarang?" Tanyanya


Plak!


Kei memukul kedua tangan Freya dari pipinya.


"!!!"


"Kau!! Dasar rendahan! Beraninya memukul tanganku!"


"Dasar tidak tahu di untung!! Padahal sudah dibesarkan dengan baik di keluarga ini! Kalau saja ayah dan ibu tidak memungut kau di panti asuhan, sekarang kau cuma tikus got yang bau dan memakan makanan sampah!!"


"Kau itu cuma anak yatim piatu yang sebatang kara! Anak dari orang rendahan dan tidak punya apa-apa kecuali nyawa yang tak berharga!!"


"Kau itu bahkan tidak lebih berharga dari satu koin emas!!"


Deg...


Kei yang tidak memiliki keluarga, dan tidak tahu seperti apa rupa orang tuanya sangat sensitif jika berbicara soal keluarga, apalagi terang-terangan mengatakan soal keluarganya langsung didepannya. Ditambah ia baru saja dilecehkan oleh orang yang menghinanya. Amarah Kei tak bisa ia tahan lagi.


Plak!!


Kei menampar keras pipi Freya hingga ia tersungkur.


Dengan cepat Kei menahan kedua tangan Freya dan menatapnya tajam.


"Coba kau ulangi lagi apa yang baru saja kau katakan!"


Freya langsung tersentak dan menangis sangat kencang.


Pelayan pun datang ke kamar Kei dan terkejut.


"Astaga... Nona... Dan Tuan Muda..." Gumam seorang pelayan


"Aku akan memanggil Tuan dan Nyonya kemari!" Teriak yang lain.


Beberapa saat kemudian...


"Freya!!" Teriak Count dan Countess


"Hiks... Huaaaaa!! Ayah!!"


"Ada apa ini, Freya? Kenapa kau disini bukan di kamarmu? Ada apa juga dengan pipimu?" Tanya Countess


"Kak Keiden... Dia tiba-tiba menarikku ke kamarnya. Dia mau melakukan hal tak senonoh padaku dan aku menolaknya. Lalu dia menamparku sangat keras..."


Seketika semua orang disana menatap tajam pada Kei.


"Itu benar Tuan dan Nyonya!! Kami tadi melihat Tuan Muda Keiden menahan kedua tangan Nona diatas kasur!!" Teriak seorang pelayan


"Benar, benar!!"


Langsung saja Count menghajar habis-habisan Kei.


"Dasar k*parat sialan!!! Kami sudah memperlakukanmu dengan baik, dan ini balasannya?! Putri kami yang baik, apa yang kau lakukan?!" Teriak Count


"Freya bahkan belum dewasa!! Dan lagi dia itu tetaplah adikmu!! Dasar bejat!!"


"Mulai sekarang, Keiden dikeluarkan dari keluarga Forth!! Sebarkan berita ini ke penjuru kerajaan agar semua orang tau kebejatan manusia tak tahu malu ini!!" Teriak Count


"Aku tidak kaget lagi jika memang dikeluarkan dari keluarga ini. Tapi tidak kusangka... Aku dikeluarkan dengan cara seperti ini..." Pikir Kei dan melirik tajam Freya yang masih terus menangis di pelukan ibunya.


Freya balik melirik Kei dan diam-diam tersenyum licik.


*


1 minggu telah berlalu.


Dalam sekejap seluruh kerajaan tersebar berita Kei mencoba melecehkan putri keluarga Forth dan juga adalah adiknya.


"Astaga. Kupikir dia pria baik-baik karena dia bahkan tak pernah menggoda wanita. Tak kusangka dia seperti itu"


"Apalagi wanita yang ia lecehkan itu adiknya sendiri, putri dari keluarga yang mengadopsinya. Ditambah lagi Lady Forth baru saja mengadakan ulang tahun ke-14 dan belum dewasa. Sungguh tidak tahu malu. Aku kasihan pada Count dan Countess Forth. Padahal mereka dengan baik hati mengadopsinya, tapi dia malah seperti itu"


"Aku menarik kembali ucapanku yang sebelumnya bilang Tuan Muda Forth itu sempurna. Ah, sekarang dia bukan lagi Tuan Muda Forth, ya~"


"Rakyat jelata tetaplah rakyat jelata mau bagaimanapun ia di didik~"


Berita itu dengan cepat merambat hingga ke telinga rakyat jelata sekalipun.


Karena itu, Kei terpaksa bekerja dengan terus menyembunyikan wajahnya agar orang tidak mengenalinya.


Hingga di suatu hari saat Kei akan berumur 18 tahun...


"Akhirnya aku menemukanmu"


Muncul seorang pria dengan rambut merah marun dan bermata biru seperti milik Kei.

__ADS_1


"Siapa... Pria ini..." Pikir Kei


"


__ADS_2