
Hari ini, di senin pagi yang cerah adalah hari pertama kami untuk memulai pertempuran sengit yang akan dilaksanakan hingga jumat nanti.
Ulangan kenaikan kelas, hal yang penting untuk menentukan naik atau tidaknya seorang siswa. Selain itu, ulangan ini juga menentukan kami akan berada di kelas mana nantinya.
Aku dan Yui sudah mempersiapkan ulangan ini sejak 2 bulan sebelumnya, jadi aku cukup percaya diri. Setidaknya, mungkin aku bisa tetap bertahan di kelas 11-2 nanti.
*
"Dimana tempatku..." Gumamku
Aku sedang mencari meja dengan bertuliskan nomor ulanganku di ruang 3, tempatku melaksanakan ulangan nanti.
"Ah, ketemu!" Pikirku
Tempat dudukku berada dibaris ketiga dan kolom ketiga. Dengan kata lain, tempatku ada di tengah ruangan.
"Ulangan ini tempatku ditengah. Rasanya sedikit asing karena tempat dudukku di kelas itu di sudut ruangan" Pikirku
Aku pun duduk di kursiku dan kembali belajar karena aku sangat gugup dan takut meski sudah belajar mati-matian sebelumnya.
"Setelah duduk disini aku jadi semakin gugup. Aku harus mendapat nilai yang baik! Jadi, selagi menunggu bel bunyi, aku gunakan waktunya untuk belajar!" Pikirku
Aku mengambil buku catatanku yang ada di tas, lalu membacanya dengan fokus.
Tak lama kemudian....
Brak!!
Ada seseorang yang tiba-tiba mendobrak mejaku.
"Siapa?!" Tanyaku lantang dan mendongakkan kepala melihat orang itu
"Hei Yurin, kau mengepek?" Tanyanya
Dia adalah teman sekelasku. Seorang gadis cantik dan famous, bernama Reiya. Memiliki rambut berwarna biru tua yang panjang dan bermata kuning keemasan. Selain fisiknya yang sempurna, ibunya adalah guru seni di sekolah ini, sedangkan ayahnya adalah seorang polisi. Ia juga ranking 2 di kelas sebelumnya.
Mejanya berada di baris kedua kolom kedua, berada di depan sebelah kiri dari mejaku. Dia menghampiriku setelah melihatku membaca buku.
"Apa maksudmu mengepek, Reiya? Kau lihat aku sedang membaca, kan?" Tanyaku tegas
"Hmm?~ Siapa tahu kau diam-diam menyelipkan secarik kertas berisi kepekan dari bukumu~" Sindirnya
Aku menghela nafas panjang.
"Diamkan saja, Yurin. Diamkan saja. Dia anak guru dan polisi, tidak ada gunanya berurusan dengannya" Pikirku
"Hm~ Kau diam saja? Apa tebakanku benar?" Tanyanya
"Aha! Jangan-jangan di semester sebelumnya juga kau mengepek, makanya berada di peringkat pertama, kan? Bahkan berada di urutan ke-19 seangkatan. Hebat sekali~ Aku ingin berguru denganmu cara mengepek tanpa ketahuan~"
"Aku juga mau dong diajari. Bisa saja nanti aku masuk kelas khusus setelah belajar mengepek~" Ucap yang lainnya mendukung Reiya
"Hihihihi...."
__ADS_1
Aku melirik ke sekeliling, banyak orang lain yang menyaksikan kami dan diam-diam menertawakanku.
"Tidak. Aku tidak bisa tinggal diam. Kalau begini image ku akan jatuh karena fitnah tak berbobot ini" Pikirku
"Yah, mau aku diam saja ataupun membantah, image ku tetap akan jatuh dihadapan anak guru yang famous. Jadi sekalian saja aku jatuhkan image ku sampai ke dasar bumi" Pikirku
Aku berdiri dari kursi dan menatap Reiya yang ada di hadapanku.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Seingatku, aku datang kesini sebagai penerima beasiswa setelah belajar mati-matian, tidak seperti seseorang yang masuk dengan mudah karena bantuan orang dalam, lalu kau meragukanku dan menuduhku? Apa kau meragukan pihak sekolah yang menerimaku sebagai penerima beasiswa?" Sindirku
"Aah~ Tentu saja kau meragukannya. Kau sendiri saja bisa masuk kesini dengan mudah, makanya kau berpikir bisa saja aku juga begitu dengan memberi uang yang banyak ke pihak sekolah~ Tapi sayangnya aku tidak sekaya dirimu dan orang tuaku tidak punya jabatan apapun. Tidak ada cara lain untukku tetap bertahan disini selain dengan usahaku sendiri"
"Apa?!" Teriaknya geram
"Kau bilang aku mengepek? Bukannya itu kau sendiri? Dengan adanya ibumu di sekolah ini, kau bisa dengan mudah melihat soal ulangannya. Dan sebelumnya kau bilang 'aku ingin berguru denganmu cara mengepek tanpa ketahuan', artinya kau mengakui kalau kau mengepek dan ingin terlihat seperti tidak mengepek"
"Kasihan sekali sekolah ini. Padahal ini sekolah yang megah dengan lapangan luas serta bangunan yang besar, bahkan dijuluki sekolah elit karena banyak siswa dari sekolah ini yang sukses, tapi malah rusak dengan adanya murid seperti ini"
Brak!!
Sekali lagi, Reiya mendobrak mejaku dan kali ini lebih kencang.
"Dasar tidak tahu diri!! Harusnya kau bersyukur bisa sekolah disini! Awas saja, aku akan melaporkannya pada ibuku agar ibuku bisa menyampaikan kelakuanmu ke kepala sekolah!!" Teriaknya
"Mama~ Aku kesal sekali~ Ada murid bernama Yurin di kelasku yang membongkar kedokku di tempat umum~ Cepat beritahu kepala sekolah dan minta dia dikeluarkan~, apa kau akan bilang seperti itu?" Tanyaku dengan suara diimut-imutkan. Setelahnya, aku menatap tajam Reiya dan mengeluarkan suara tegas.
"Ha! Walau kau laporkan, memangnya kepala sekolah mau mendengarkannya? Malah mungkin kau yang dimarahi karena seenaknya menggunakan kuasa orang tuamu untuk masalah pribadi yang kau buat"
Reiya terdiam dengan muka memerah karena menahan emosi.
"Dasar manusia. Dengan mudahnya berpaling begitu melihat siapa yang menang. Seandainya aku tidak melawan tadi, sampai akhir yang ditertawakan adalah aku" Pikirku
"Mereka yang melihat sambil berbisik dan tertawa itu tak jauh beda dengan Reiya" Pikirku
Teng... Teng... Teng...
Bel pertanda ulangan akan dimulai pun berbunyi, dan tak lama kemudian, guru pengawas masuk ke ruangan.
"Semuanya, cepat duduk ke tempat masing-masing. Ulangan akan segera kita mulai"
"Awas saja! Aku tidak akan membiarkan ini berakhir disini!" Ancamnya
"Pasti membawa temannya untuk mempersulitku" Pikirku bodo amat
Semua murid pun kembali duduk ke tempatnya, termasuk aku dan Reiya.
Aku menghela nafas panjang lalu mendongakkan kepala menatap langit-langit ruangan.
"Aku memang sudah bersiap untuk perang kali ini. Tapi tak kusangka masih ada halangan jangka panjang yang bahkan masih menghalang sampai perang ini selesai nanti" Pikirku lelah
*
3 mata pelajaran ulangan sudah kami lewati hari ini. Dan sekarang kami sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Dan seperti biasa, aku dan Yui pulang bersama.
__ADS_1
Lalu, saat kami berjalan keluar gerbang sekolah, seperti dugaanku sebelumnya, Reiya dan kedua temannya menghadangku.
"Merepotkan sekali manusia satu ini. Padahal dia duluan yang bikin masalah" Pikirku jengkel
"Hei, Yurin. Kau tahu kan urusan kita masih belum selesai?" Tanyanya
"Haah?! Apaan lu?! Menyingkir! Menghadang orang jalan saja!" Teriak Yui
"Yui! Ada banyak orang. Jangan keraskan suaramu" Bisikku sambil menyuil lengannya menggunakan siku.
Aku mengalihkan pandanganku dari Yui dan menatap Reiya yang ada di depanku.
"Kita sudah bukan anak kecil lagi. Berhentilah bersikap kekanakan seperti ini, sama sekali tidak keren, tahu!" Ucapku tegas
Reiya berjalan mendekatiku sambil menggeram dan menorongku dengan kasar ke belakang.
"Kau yang tidak tahu diri duluan! Hanya rakyat jelata tapi sok hebat!" Teriaknya
"Benar, benar!!" Teriak temannya
Berkat mereka yang mengeraskan suaranya, kami pun menjadi pusat perhatian.
"Hei, kalian yang disana! Ada apa ribut-ribut!!" Teriak pak satpam dan lari mendekati kami
"Perempuan ini duluan yang menghadang jalan kami lalu mendorong temanku, pak satpam! Dia juga yang teriak tadi" Lapor Yui
Pak satpam itu melirik kearah Reiya.
"Kau! Aku tahu kau anak dari salah satu guru disini. Tapi walau begitu bukan berarti kau bisa buat kekacauan! Tidak boleh ada konflik di lingkungan sekolah!" Teriak pak satpam
"Dia duluan yang tidak tahu diri! Bisa-bisanya rakyat jelata tidak sopan padaku!" Teriaknya
"Apa ada hukum kasta di sekolah ini? Tidak ada, kan? Lagian, itu adalah bentuk pertahanan diriku karena kau menyerangku duluan" Jawabku santai
"Kalian berdua sudah hentikan!" Teriak pak satpam sambil menahan Reiya yang ingin menghampiriku
"Lihat saja! Setelah melakukan ini, jangan harap kehidupanmu jadi lebih baik!" Teriaknya
"Aku akan mengadukan semuanya pada orang tua---"
"Pengecut!" Ucapku memotong ucapannya
"Apa?!"
"Masalah ini tidak ada hubungannya dengan orang tua. Kau bukan anak TK lagi yang apa-apa mengadu dan bersandar pada pada orang tua"
"Kalau kau memang mengajakku bertarung, ayo tentukan lewat nilai kita di akhir semester ini!"
"Heh! Bilang saja kau takut dengan latar belakangku, kan? Kau yang rakyat jelata ini iri denganku yang punya latar belakang bagus ini~"
"Kau juga bilang saja kalau kau takut nilaimu lebih rendah dariku makanya bawa-bawa orang tua" Jawabku
"Kalian berdua cepat pulang kerumah masing-masing sana!! Kalau kalian masih mau berdebat seperti ini, aku akan membawa kalian ke ruang BK!!" Teriak pak satpam
__ADS_1
Akhirnya, pertikaian itu pun berakhir--
Mungkin....