
Takdir merenggut semua harapan dan keinginanku. Sebuah harapan dan keinginan kecil biasa, namun sangat berarti bagiku.
Aku hanya ingin berkumpul dengan keluargaku secara lengkap. Ada ibu dan juga ayah, serta kalau bisa aku ingin punya adik, mau itu laki-laki ataupun perempuan. Namun keinginan itu tidak pernah terjadi padaku.
Lalu di umurku yang ke-8 tahun, kehidupan neraka ku pun dimulai.
Di ulang tahunku yang ke-8 tahun, ibu memberiku sebuah buku yang tebal dengan kulit berwarna coklat yang keras. Buku itu ibu beri sebagai hadiah ulang tahunku.
"Izumi, selamat ulang tahun. Sebelumnya saat ulang tahun ke-5, 6, dan 7 Izumi tidak diberi apapun. Jadi kali ini mama belikan buku untuk Izumi"
"Terima kasih, mama! Tapi apa tidak apa mama beli ini? Bukunya terlihat mahal" Tanyaku
"Tidak apa. Ini memang pantas untuk Izumi yang suka membaca dan menulis, makanya mama belikan"
"Baiklah. Terima kasih, mama. Aku akan menjaganya dengan baik"
"Iya, sama-sama~ Izumi harus semangat belajar, ya. Izumi harus terus juara pertama di sekolah demi mama"
"Iya!"
Lalu tiba-tiba, seorang pria datang mendekati kami.
"Liliana! Apa yang kau lakukan?!" Teriaknya dari kejauhan
Aku dan ibu sontak langsung menoleh ke sumber suara.
Aku langsung tersentak melihat pria itu.
"Rambut hitam pekat! Itu pasti..." Pikirku kaget
"Kirein, ada apa?" Tanya ibu
Dan benar saja. Orang itu adalah ayahku yang selama ini sangat ingin kulihat.
Kondisinya terlihat buruk. Kulitnya terlihat pucat dan dibawah matanya ada kantong mata.
Ayahku berjalan kearah kami dengan sedikit sempoyongan, lalu memukul ibuku.
"Aku tanya apa yang kau lakukan, kenapa malah tanya balik?!" Teriak ayah
"Apa yang kau beli?! Kau tahu kan hutang keluarga kita banyak. Bisa-bisanya kau malah membeli barang tidak berguna!" Teriak ayah dan terus memukuli ibu
"Kirein, tolong hentikan..." Gumam ibu kesakitan
"Cepat jawab saja!" Teriak ayah dan menjambak rambut panjang ibu
"Izumi... Hari ini ulang tahun. Jadi aku belikan sebagai hadiah..." Gumam ibu
Ayah pun kemudian melirik kearahku yang sedari tadi tercengang dan tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Kau belikan buku itu untuk sampah ini?" Tanya ayah
Aku langsung tersentak saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja kudengar.
Ayah kembali menatap ibu dan menarik rambutnya.
"Daripada beli barang tak berguna untuk sampah itu, lebih baik kau berikan uang itu untukku beli arak. Kau tidak tahu kepalaku terus pusing selama ini?!"
Ayah mendorong ibu hingga terjatuh lalu berjalan mendekatiku.
__ADS_1
"Hei bocah! Kau yang merengek minta hadiah pada ibumu, kan?" Tanya ayah
Aku hanya diam tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Mataku mulai berkaca-kaca karena sangat ketakutan.
"Aku tanya kau merengek pada ibumu untuk minta hadiah, kan?!" Teriak ayah
Aku langsung tersentak.
"Ti... Tidak..." Gumamku terbata-bata
"Aku tidak suka dengan orang berbohong! Cepat katakan yang sebenarnya!"
"A... Aku tidak memintanya...." Gumamku sambil menundukkan kepala
Plak!
Ayah langsung memukulku hingga aku terjatuh.
"Kirein! Tidak apa kau memukulku, tapi jangan Izumi! Izumi masih kecil" Teriak ibu dan langsung memelukku.
"Ya! Aku sangat ingin memukulmu dari awal kita bertemu!" Teriak ayah dan kembali memukul ibu
"Cepat katakan!! Kau yang membocorkan rahasia perusahaan dan juga rencana perusahaan pada ayahmu yang tua bangka itu, kan?!" Teriak ayah
"Tidak. Untuk apa aku melakukannya?" Ucap ibu tegas
"Jangan bohong! Kalau tidak, bagaimana bisa perusahaan musuh membuat produk yang sangat mirip dengan yang kami rancang?!"
"Aku tahu! Pasti sejak awal kau mendekatiku memang untuk menjatuhkanku, kan?! Kau dan keluargamu, aku tidak akan memaafkan kalian!!"
"Apa.... Apa maksud semua ini?" Pikirku
"Kirein, kau pasti tau aku juga dibuang oleh keluargaku sendiri. Keluargaku yang sekarang hanyalah kau dan Izumi"
"Itu memang rencana kalian untuk membuatku yakin agar aku sungguh menikahimu dan tidak menceraikanmu setelahnya! Aku yang dulu sungguh bodoh tidak mengerti dengan taktik licik keluargamu"
"Itu tidak benar!"
"Oh~"
Ayah pergi menjauh lalu kembali lagi dengan membawa sebuah pisau di tangannya.
"Kalau begitu aku bunuh saja kau. Kalau apa yang kau katakan itu tidak bohong, ayahmu pasti tidak akan peduli dengan jasadmu. Tapi kalau apa yang aku katakan benar, ayamu pasti setidaknya ingin aku selamanya hidup di penjara"
"Mari kita buktikan ucapanmu bohong atau tidak"
"Kirein, tolong pikirkan baik-baik. Bagaimana dengan Izumi?"
"Aku tidak peduli dengan sampah tidak berguna hasil hubunganku denganmu"
Aku yang sebelumnya kebingungan dan ketakutan, sekarang berubah menjadi amarah yang sangat besar pada ayahku.
Tidak hanya tidak menganggapku dan memukulku, tapi ayah juga menyiksa, menghina, dan terus berteriak pada ibu. Dan sekarang bahkan ayah mencoba melakukan pembunuhan terhadap ibu.
Jika disuruh memilih antara ayah dan ibu, sudah pasti aku akan memilih ibuku yang selama ini terus berada disampingku.
Apapun itu akan aku lakukan demi menolong ibu.
Apapun itu!
__ADS_1
Begitu melihat ayah mengangkat pisau itu, hatiku yang sejak awal sudah retak langsung hancur berkeping-keping. Sebuah harapan yang bagaikan setitik api di hatiku langsung hangus dan tidak menyisakan apapun.
Saat itu aku langsung tahu alasan kenapa ayah tidak pernah muncul di hadapanku. Itu karena sejak awal ayah tidak menganggapku.
Karena amarah yang mendalam pada ayahku, aku mengangkat buku tebal pemberian ibu dan memukulkannya dengan sekuat tenaga di kepala ayah.
Seketika ayah langsung jatuh tersungkur.
"Kirein.... Kirein.... Kenapa kau tidak bangun? Kirein!" Teriak ibu dan menggoyang-goyangkan tubuh ayah
Ibu terus menggoyang-goyangkan tubuh ayah namun ayah tidak juga kunjung bangun.
Ibu pun menaruh jarinya didepan hidung ayah.
"Ini... Tidak mungkin, kan?" Gumam ibu
"Kirein, cepat bangun, Kirein!! Kirein!!!" Teriak ibu
"Kirein!!!"
Ayahku meninggal ditanganku dengan menggunakan buku pemberian ibu.
Lalu dilakukanlah autopsi pada jasad ayahku.
"Almarhum meninggal karena benturan yang sangat keras pada kepalanya. Ditambah lagi sejak awal pada otak almarhum ada masalah karena stres berat dan kecanduan obat-obatan, hal itu membuat almarhum langsung meninggal"
"Kemungkinan besar, almarhum sedang dalam kondisi buruk akibat obat-obatan yang dikonsumsinya, lalu terjatuh karena kehilangan keseimbangan tubuh dan tanpa sengaja kepalanya terbentur hingga ia meninggal"
"Tidak.... Ini tidak mungkin...."
Sejak saat itu, ibu terus mengurung diri di kamar. Begitu juga denganku yang merasa bersalah akan tragedi ayahku.
Tidak ada siapapun yang tahu kalau aku yang membunuh ayahku selain aku dan ibuku. Kematian ayahku pun dianggap karena kecanduan obat-obatan oleh orang-orang.
*
Beberapa hari berlalu dan ibu terus mengurung dirinya di kamar tanpa makan.
Aku jadi khawatir dengan kesehatan ibu, jadi aku memutuskan menemui ibu dengan membawa makanan.
"Mama, mama makan dulu"
Aku meletakkan sebuah mangkuk berisi sup di meja disamping ibu.
Ibu yang sedari tadi termenung sekarang melirik menatapku.
Ibu yang sebelumnya tampak lesu tiba-tiba berubah jadi sangat marah begitu melihatku.
"Kau! Pembunuh suamiku! Pergi dari sini!!"
Ibu melempar mangkuk yang kubawa dan terus melempari benda disekitarnya padaku.
"Kau bukan anakku! Jangan berani-berani memanggilku mama!!"
"Rambut itu!! Kau mengambilnya dari Kirein!! Kembalikan Kirein padaku!!"
Begitulah....
Karena ayahku yang meninggal dengan tiba-tiba, ibu jadi terus terlarut dalam kesedihan hingga melupakan 'Izumi' yang ia lindungi dan jaga selama ini.
__ADS_1