Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : Putus Asa


__ADS_3

"Huh! Tanganku sudah sakit. Ayo kita pergi sekarang" Ucap Maeru lalu berjalan pergi dan disusul oleh Kirian, Rio, dan Rusen.


Aku dengan hidung bersimbah darah dan lebam dimana-mana ditinggal begitu saja setelah mereka puas memukulku.


*


Keesokan harinya di sekolah, semua orang melihat terus ke arahku.


"Hei, hei. Itu dia, kan?"


"Iya. Wah, benar-benar tidak menyangka"


"Bukannya dia si peringkat pertama? Ternyata tak lebih dari orang yang kejam"


Mereka terus berbisik-bisik sepanjang aku berjalan.


Ini bukan pertama kalinya aku merasakan ini, dan aku sudah terbiasa tidak meladeni apa yang mereka katakan.


Saat berjalan, tidak sengaja aku berpapasan dengan Mawari dan kedua temannya yang kemarin.


"Itu dia!!" Teriak teman Mawari


"Bisa-bisanya kau memukul Mawari setelah dia menolakmu?" Teriaknya


Aku sedikit tersentak lalu melirik ke arah Mawari. Pipinya yang ditampar Maeru kemarin agak bengkak.


Saat mata kami bertemu, dia mengalihkan pandangannya dariku dengan wajah ketakutan.


"Lihat!! Mawari jadi takut begitu melihatmu!!"


Salah satu temannya langsung berjalan ke arahku dan mencengkeram kerah bajuku.


"Apa yang kau lakukan padanya?! Cepat katakan!!"


Aku menatap tajam perempuan itu dan dia langsung mundur menghindariku.


"Ternyata kau sungguh memukulnya..."


Plak!


Temannya itu langsung menamparku.


"Ini balasan kau yang sudah menampar Mawari!!"


Ayo pergi, Mawari. Jangan lihat dia lagi.


"...."


Aku hanya diam saja sama sekali tidak melawan.


"Tidak apa. Meski aku jelaskan, sama sekali tidak ada gunanya. Aku ada di posisi yang serba salah, lebih baik diam saja agar masalah tidak semakin besar" Pikirku


Pandangan orang-orang terhadapku jadi makin buruk setelah itu, dan pembully an jadi makin sering terjadi, terutama di rumah.


Ketika makan malam, Kirian, Rio, dan Rusen kembali melakukan aksinya.


Di tengah kami sedang makan, Rusen tiba-tiba menyiram makananku dengan jus jeruk.


"Aah~ Maaf, tanganku licin"


"...."


Aku hanya diam saja meski tau itu sengaja.


"Hei, kenapa berhenti makan? Lanjutkan lagi makannya" Ucap Kirian


"Aku... Mau kembali ke kam---"


"Jangan buru-buru" Ucap Rio dan langsung menahan bahuku untuk tetap duduk di kursi.


"Kau sangat manja. Apa harus aku suapi dulu baru kau mau makan?" Tanya Kirian sambil mengambil alih sendok yang tadi kugunakan.


Aku sudah bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kirian langsung menyuapiku makanan itu dengan kasar.


"Setiap makan kau terus menyisakan makanan. Memang harus disuapi biar habis"


"Mmmph!"


"Kunyah saja makanannya. Jangan melawan!"


Kirian terus menyumpali makanan itu ke mulutku hingga beberapa kali aku tersedak.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Akihito dan Akane yang makan bersama kami, berharap dia bisa memanggilkan Tuan Hazuki kemari begitu melihat kakak mereka menyiksaku.


Tapi kenyataannya tidak. Mereka berdua makan dengan tenang seolah tidak ada apapun di depan mereka.


Aku tersentak untuk sesaat, lalu kesadaranku akan diriku sendiri jadi makin kuat.


"Apa yang aku lakukan? Apa aku berhak mengharapkan pertolongan dari orang lain? Orang tua ku saja menelantarkanku, apalagi mereka yang tidak mempunyai hubungan darah denganku" Pikirku


"Sadarkan dirimu, Izumi. Di dunia ini, kau tidak lebih dari sampah yang tak diharapkan siapapun"


Aku termenung untuk beberapa saat dengan posisi terduduk di lantai, lalu Rio menarik kerah bajuku hingga aku berdiri.


"Jangan harap kau lolos begitu saja setelah semua yang kau lakukan. Ini masih belum seberapa dengan perasaan Maeru yang kau hancurkan!" Teriaknya


"Memangnya... Yang kau lakukan ini tidak menghancurkan fisik dan jiwa ku?" Pikirku datar


Aku tidak melakukan apapun dan membiarkan mereka melakukan apapun tanpa perlawanan.


Mereka bertiga menyeret dan mengurungku di gudang yang gelap hingga membuat penyakit nyctophobia ku kembali kumat.


Begitu pintunya dikunci, aku kembali teringat saat dikurung di kediaman Foren sebelumnya.


Tubuhku seketika langsung gemetar hebat, tapi anehnya aku tidak merasakan perasaan apapun.


Sejak ibu sakit, aku tidak lagi tersenyum, tapi perasaanku masih hidup. Aku masih bisa merasa sakit, sedih, senang, dan lainnya seperti sebelumnya.


Tapi kali ini berbeda. Aku tidak bisa merasakan apapun. Aku tidak bisa membedakan bagaimana rasanya senang, sedih, marah, sakit, atau apapun itu sekarang.


Aku mirip seperti boneka hidup, atau mayat hidup tanpa jiwa.


Keputusasaan kembali melanda diriku yang bagai tidak memiliki jiwa dan tak memiliki tujuan hidup.


"Untuk apa lagi aku hidup? Sama sekali tidak ada gunanya jika seumur hidupku dipenuhi penyiksaan. Lebih baik mati sekarang"


Aku berdiri dan mengobrak-abrik gudang itu. Akhirnya aku menemukan sebuah cutter yang sudah setengah berkarat.


"Aku tidak akan ragu kali ini"


Trek... Trek... Trek...


Aku mengeluarkan pisaunya hingga ke ujung dan mengarahkannya ke leherku.


Zrrrrtt


Aku langsung teringat dengan ibuku di saat-saat seperti ini.


"Aku tidak peduli! Aku tidak peduli dengan kau!!"


"Mama, kau pembohong besar!!"


"Kau bilang aku yang paling kau sayang, tapi akhirnya kau membuangku! Memangnya apa yang membedakan kau dengan kakek dan papa?! Kaulah yang paling kejam! Kau bersikap baik hingga aku bergantung padamu, lalu kau membuangku begitu saja!!"


"Aku menderita sekarang, dan kau tidak tahu apapun dengan kabar anakmu sendiri! Bahkan kau melupakan anakmu sendiri hanya karena pria br*ngsek itu mati!!"


"Aku juga melakukan itu demi melindungimu! Kalau si br*ngsek itu tidak mati, kau yang mati, bodoh!! Apa bagusnya br*ngsek tak bertanggung jawab itu?!"


"Dengan alasan sakit jiwa kau lari dari dunia ini! Kalau begitu, aku juga bisa melakukannya!! Tapi aku berusaha kuat untuk tetap sadar. Kau pikir demi siapa aku berusaha hingga seperti ini?!"


"Hanya demi kau yang bahkan tidak mengenaliku, aku bertahan menahan semua ini!!!"


Aku menarik tanganku dan bersiap menusukkan cutter itu ke leherku.


Namun tanganku terasa sangat berat untuk menusukkannya ke leher.


"Bahkan sekarang pun..."


Tes... Tes...


"Aku tidak bisa mengakhiri hidupku disini... Demi dirimu..."


Tanpa kusadari air mataku kembali mengalir dan tanganku jadi terasa berat untuk menusuk leherku, padahal tadi sangat ringan saat aku menyayatnya sebelum teringat pada ibu.


Ibu sudah menyelamatkanku 2 kali dalam usaha bunuh diri.


Aku mengusap pipiku yang basah oleh air mata dan melihat ke tanganku.


"Apa yang kulakukan tadi?"


"Aku baru saja menghina mama. Ternyata aku memang cucu kakek dan anak papa. Aku sama seperti mereka yang tidak menghargai mama"


"Aku benar-benar tidak berguna..."


Seketika aku langsung memasang wajah dingin.

__ADS_1


"Aku harus bertahan hidup! Aku tidak akan bertahan jika hidup untuk diriku sendiri, jadi aku harus hidup demi mama. Aku akan berjuang hingga mama mengenaliku!"


Sebelumnya, saat aku merasa kesakitan aku akan menangis sendirian. Tapi sejak itu, aku tidak menangis lagi bagaikan air mataku sudah membeku menjadi es.


Saking banyaknya trauma yang kualami di umurku yang masih 12 tahun, akhirnya semua itu membuat perasaanku mati dan tidak peduli lagi dengan tubuhku sendiri akan bagaimana, yang penting aku tetap hidup.


*


Keesokan paginya Rio bersama dengan Rusen membuka pintu gudang.


Aku hanya duduk di sudut ruangan sambil memeluk lutut dengan cutter yang ada bercak darahnya disampingku.


Aku melirik datar ke arah mereka berdua.


"Hei, cepat keluar dan bersiap untuk sarapan!" Ucap Rio dengan suara tinggi


Aku berdiri dengan lesu lalu berjalan keluar.


Setelah keluar, aku berjalan menuju kamarku.


Begitu aku masuk, kamarku jadi sangat berantakan dipenuhi sampah dimana-mana, spray kasur yang kusut serta robek-robek, kapas dari bantal berserakan, dan bola lampunya pecah.


Aku tidak kaget melihat itu, karena memang sudah biasa mereka menggangguku. Untuk menghancurkan kamarku, itu bukan hal sulit bagi mereka.


Aku berjalan masuk ke kamar, lalu membersihkan semua sampah itu.


Aku mengambil kantong besar dan memasukkan semua sampah itu kedalamnya. Tapi isi dari kaleng minuman dan bungkus snack itu tumpah dan berserakan diatas karpet dan kasur.


"Bagaimana aku membersihkan ini..." Gumamku


Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk lalu dibuka oleh seseorang.


Orang itu adalah Tuan Hazuki.


Begitu melihat kamarku, dia langsung kaget.


Melihat ayahnya ada didepan kamarku, Kirian, Rio dan Rusen menghampiri Tuan Hazuki.


"Papa, apa yang papa lakukan disini?" Tanya Rusen


Rusen pun melirik kedalam kamarku mengikuti pandangan Tuan Hazuki.


"Wah, berantakan sekali. Semuanya rusak" Lanjut Rusen


"Pantas saja cemilanku cepat sekali habisnya. Ternyata dia yang mengambilnya" Gumam Rio


"Semalaman aku tidak melihatnya. Ternyata dia diam-diam berpesta sendirian" Gumam Kirian


Tuan Hazuki pun berjalan mendekat dan berdiri didepanku sambil menatapku dengan tatapan tajam.


"Izumi apa yang kau lakukan?" Tanya Tuan Hazuki


"…"


Aku hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaan Tuan Hazuki.


"Pekerja di rumah ini sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Jadi mungkin tidak bisa membereskan kamarmu secepatnya."


"…Maaf…" Gumamku


Aku tidak mengerti kenapa aku harus meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan tidak aku lakukan. Aku meminta maaf seperti itu malah membuat ku terlihat seperti aku benar-benar melakukannya.


Tapi aku harus mengatakannya.


Tuan Hazuki tentu lebih percaya pada anak-anaknya ketimbang aku. Ditambah lagi Tuan Hazuki sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak tahu kalau anak- anaknya menyakitiku selama ini.


Tuan Hazuki menghela nafas panjang lalu berbalik berjalan keluar kamar.


"Pantas saja Tuan Foren tidak mau mengurusnya" Gumam Tuan Hazuki


"Ayo semuanya, kita turun ke bawah untuk sarapan"


Kirian, Rio dan Rusen tersenyum penuh arti sambil melihat kearahku, lalu mereka berjalan mendekat sambil merangkul leherku.


"Ayo Izumi, kita pergi bersama~" Teriak Rusen bersemangat


Lalu Rusen mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Ini masih belum apa-apa. Lihat saja nanti" Bisik Rusen


Aku hanya diam saja tidak menanggapinya.


"Kenapa diam saja, Izumi?" Tanya Rusen lembut, tapi matanya menatapku tajam seakan ingin membunuhku.

__ADS_1


"I... Ya... Ayo... Pergi bersama..." Gumamku sambil tersenyum terpaksa


__ADS_2