Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Menjadi Roh : Strategi Perang


__ADS_3

*


**


"Jadi pemim--- Izumi, apa yang mau kau lakukan?" Tanya Kagusa


"Memberi kalian tugas" Jawabku


Seketika Kagusa langsung pucat seakan menyesal telah bertanya. Sedangkan wajah Kei cerah. Terlihat jelas dia senang dan menunggu perintah dariku.


"Kei, atur para roh jahat untuk bersiap perang dan basmi jika ada mata-mata dari wilayah lain. Kagusa, analisis wilayah ini dan wilayah sekitar. Buat menjadi daftar lengkap dan diurutkan dari wilayah paling lemah hingga terkuat"


"Apa?! Baru juga selesai pelantikan pemimpin baru, sudah mau mulai perang?!" Tanya Kagusa kaget


"Kau sendiri yang bilang wilayah ini kritis. Jika tidak ditangani segera, malah jadi makin bahaya"


Mereka berdua terdiam.


"Tidak salah aku memilihmu menjadi pemimpin..." Gumam Kagusa


"Lalu, kau sendiri mau melakukan apa?" Tanya Kagusa


"Ada urusan pribadi yang perlu kuurus terlebih dulu, baru setelahnya aku mau latihan mengendalikan kekuatan"


Kagusa langsung mengerti urusan pribadi yang kumaksud.


"Baiklah. Jangan nangis sampai tempat ini banjir, ya" Ejek Kagusa sambil merangkul Kei yang kebingungan.


"Nangis?" Tanya Kei polos


"Bukan apa-apa!!" Teriakku dan langsung melirik tajam Kagusa


"Kalian berdua masih bengong disini? Cepat pergi!"


"Baik!"


Mereka berdua pun pergi. Sekarang sisa aku seorang di sekolah.


Aku menghela nafas panjang sambil memegang kepala.


Aku mendongak menatap langit-langit koridor yang mulai menggelap karena matahari sudah mulai turun berganti dengan langit malam.


"Semuanya terlalu tiba-tiba..." Gumamku


Aku menurunkan kembali tanganku dan bengong untuk beberapa saat sambil masih menatap langit-langit koridor sekolah.


"Harus cepat... Temui mama..."


Wush...


Aku teleportasi pergi ke rumah sakit, tepatnya di kamar rawat ibu.


Begitu aku tiba, yang kulihat adalah ibu yang tertidur pulas diatas kasurnya.


Aku terdiam, lalu berjalan mendekati ibu dengan ragu.


"Mama..."


Begitu sampai di samping kasur ibu, aku langsung berjongkok menatap wajah ibu yang terlihat tenang.


Aku memegang tangan kanan ibu dengan erat dan membenamkan wajahku ke tangannya.


"Maaf... Maafkan Izumi telah melupakan mama. Maaf Izumi tidak memenuhi harapan mama. Maaf Izumi tidak berguna untuk mama. Maaf karena mama terpaksa harus melahirkan Izumi. Semuanya... Semuanya kesalahan Izumi"


"..."


Aku terdiam sejenak dan makin mengeratkan genggaman tanganku ke ibu. Mataku terasa panas, tenggorokanku sakit dan dadaku jadi sesak.


"Maaf... Izumi lebih dulu pergi meninggalkan mama. Izumi tidak bisa... Mengunjungi mama seperti sebelumnya lagi..."


"Maaf... Meninggalkan mama sendirian di ruangan serba putih ini. Tolong... Jaga kesehatan mama dengan baik. Makan dengan teratur dan tetap tenang, jangan tiba-tiba mengamuk lagi"


"Mama harus tetap bahagia. Jangan pikirkan aku, lebih baik mama lupakan aku saja agar mama tidak ada pikiran"


Aku makin membenamkan wajahku ke tangan ibu.


Perasaanku jadi campur aduk. Karena akhirnya bertemu dengan ibu, aku jadi ingin banyak bercerita pada ibu tentang semua keluh kesah ku menjalani hidup, lalu meminta ibu mengusap kepalaku dengan lembut dan memberiku semangat lagi.


Namun itu tidak akan pernah bisa jadi kenyataan.


Semua harapan dan keinginanku takkan pernah terwujud.


"...."


"Aku... Aku sangat menderita selama hidup. Sejak dulu aku berencana untuk bunuh diri dan meninggalkan dunia ini. Tapi aku tidak melakukannya. Itu semua karena mama. Mama sudah menyelamatkan dan memberiku semangat untuk tetap hidup"

__ADS_1


"Seandainya saat itu aku sungguh-sungguh bunuh diri, aku pasti sangat, sangat, sangat menyesalinya"


"Bahkan sekarang pun, aku tersadarkan karena mama"


"Terima kasih sudah mau susah payah melahirkan Izumi. Terima kasih sudah mau membesarkan, merawat, memanjakan, dan menjadikan Izumi prioritas"


"Dan... Maaf Izumi tidak sempat membalas jasa mama. Maaf Izumi belum melakukan apapun untuk mama"


Aku mendongak menatap wajah ibu yang masih juga tenang.


Aku berdiri lalu memeluk ibu dengan erat.


"Terima kasih dan maaf untuk semuanya. Selamanya Izumi menyayangi mama"


Aku melepas pelukannya dan berdiri menatap ibu.


Tiba-tiba keluar air mata disaat ibu masih tertidur.


"Jangan... Pergi..." Gumam ibu


Aku tersentak dan langsung menyeka air mata ibu.


"..."


"Aku pergi dulu. Mama istirahatlah dengan baik dan semoga lekas sembuh"


Aku berbalik berjalan menjauh dari ranjang ibu. Sebelum kembali teleportasi ke sekolah, aku melirik sekilas ibu yang berbaring tidur.


*


Setelah kembali dari rumah sakit, ada gejolak hebat yang membuatku jadi sangat bersemangat. Melihat ibu entah mengapa aku jadi termotivasi untuk berusaha keras juga.


Aku pergi ke perbatasan hidup dan mati, lalu tak henti latihan menguatkan kekuatan roh baik yang baru bangkit, dan melatih agar aku bisa mengontrol kedua kekuatan ini tanpa gangguan.


Tentunya latihan ini tidaklah mudah.


Tak jarang kekuatan roh jahatku mengamuk didalam tubuh dan membuatku merasa sangat kesakitan seperti saat kekuatan roh baik bangkit.


Terkadang juga tiba-tiba roh jahat mengendalikan diriku tanpa sekeinginan diriku sendiri.


Untungnya, Kagusa dan Kei juga membantu dalam proses latihan ketika aku kehilangan kendali.


Dan karena kejadian 2 roh bangkit di satu jiwa itu tak pernah terjadi sebelumnya, jadi aku harus berlatih sendiri tanpa ada yang bisa mengajarinya.


5 hari latihan, aku sudah bisa mempertahankan kesadaran roh baikku dan membuat roh jahatku tertidur didalam diriku. Namun aku masih tidak bisa menggunakan kekuatan roh baik.


15 hari latihan, aku sudah bisa menggunakan beberapa jenis serangan dengan kekuatan roh baik tanpa membuat roh jahatku bangun.


28 hari latihan, aku sudah bisa menggunakan kekuatan roh baikku dengan leluasa seperti menggunakan kekuatan roh jahat. Namun kesadaran roh baikku masih lemah dan terkadang roh jahatku bangkit jika aku sedikit kelelahan.


35 hari latihan, kesadaran roh baikku makin kuat. Meski terkadang roh jahat masih tiba-tiba mengendalikan diriku, tapi ini sudah lebih baik dari sebelumnya.


Dan, di hari ke-40 sejak aku menjadi pemimpin, aku, Kagusa dan Kei melakukan rapat mengenai rencana memulai perang.


"Tuan, seperti yang anda perintahkan, mata-mata dari wilayah lain yang ada disini sudah saya lenyapkan semua. Dan roh jahat yang Tuan suruh sudah saya siapkan. Jumlahnya sepuluh ribu untuk roh jahat, apakah sudah cukup?" Tanya Kei


"Itu sudah lebih dari cukup" Jawabku


"Izumi, ini data tentang wilayah tetangga dan posisi wilayah kita diantara wilayah lainnya" Ucap Kagusa dan menyerahkan beberapa lembar kertas padaku.


Aku membaca kertas laporan dari Kagusa. Sambil aku membacanya, Kagusa menjelaskan secara singkat inti dari laporan itu.


"Seperti yang kau lihat, Izumi. Untuk kita memulai peperangan itu cukup sulit. Wilayah ini adalah wilayah paling lemah diantara semua wilayah di sekitar sini. Wilayah ini terlalu kecil dan keadaannya masih belum stabil karena baru saja memulai kepemimpinan yang baru"


"Untuk pasukannya juga kita kalah jauh. Potensi kita akan menang sangat kecil"


"Menurutku, lebih baik kita memperkuat kekuatan wilayah ini dulu, baru memulai perang daripada kita hanya memakan malu, memulai perang namun akhirnya kalah" Jelas Kagusa


Aku menutup kertas laporannya dan menaruhnya keatas meja.


Aku duduk dengan sedikit mencondongkan badanku kearah mereka berdua yang ada di sisi kanan dan kiriku dengan tangan saling mengait didepan dada.


"Kagusa, inilah kesalahanmu dalam memimpin wilayah" Ucapku datar


"Apa maksudmu?" Tanya Kagusa


"Kau terlalu berhati-hati dalam bertindak hingga akhirnya kau tak berani untuk berjalan kedepan. Wilayah ini tidak akan maju jika pemimpinnya tidak mengambil tindakan"


Kagusa langsung memukul meja dan berdiri.


"Tapi tetap saja, kita perlu mempertimbangkan keadaan wilayah kita dan wilayah musuh yang akan kita serang! Apa gunanya kita memulai perang namun akhirnya kalah karena kurang kekuatan?!" Teriak Kagusa


"Kekuatan memang penting, tapi masih ada hal yang lebih penting dari kekuatan..."


"Yaitu strategi perang" Lanjutku

__ADS_1


Aku kembali mengambil kertas laporan di depanku, lalu membukanya dan memperlihatkan pada mereka berdua di bagian rincian wilayah tetangga yang paling lemah, yaitu bagian tenggara dari wilayah sekolah.


"Wilayah ini memang diambang kehancuran. Tapi bukan berarti wilayah lain tidak mengalami kesulitan"


"Kalian lihat baik-baik. Wilayah ini cukup besar, bahkan hampir 3 kali lipat lebih besar dari wilayah sekolah. Namun banyak roh disana tidak jauh beda dengan wilayah ini. Apa kalian tidak merasa ini aneh? Wilayah yang besar tapi penduduknya tidak jauh beda dengan kita wilayah kecil"


Kagusa dan Kei terdiam tak tahu harus berkata apa sambil terus berpikir.


Beberapa detik kemudian Kagusa angkat bicara.


"Itu karena... Banyak roh disana yang lenyap?" Tanya Kagusa


"Tepat!" Jawabku cepat


"Tapi, apa alasan roh disana berkurang cukup drastis bahkan lebih dari setengah populasi yang seharusnya? Padahal tidak ada kabar kalau mereka sedang melakukan penyerangan pada wilayah tertentu" Tanyaku kembali


Lagi-lagi mereka kuajak berpikir keras.


"Kenapa kau bertanya hal itu?" Tanya Kagusa


"Berpikir kritis itu penting. Kita perlu menganalisis kelemahan dan kekuatan musuh agar bisa membungkam mereka"


"Jadi, apa jawaban dari pertanyaan tadi?" Tanyaku


Kali ini yang menjawab pertanyaanku adalah Kei.


"Perang saudara" Ucap Kei


"Benar! Kalian berdua cukup cerdas" Ucapku bangga


"Dari pemahamanku, wilayah itu sedang mengalami perang saudara besar-besaran hingga merenggut banyak jiwa dalam perang itu"


"Sangat mudah untuk menang menghadapi mereka"


Kagusa pun kembali angkat bicara.


"Tapi Izumi, pemimpin roh jahat disana sangat protektif pada wilayahnya. Dia tidak membiarkan pemimpin wilayah lain datang. Wilayah mereka bisa besar juga berkat pemimpin roh jahat itu terus melenyapkan pemimpin yang masuk ke wilayahnya"


"Itu memang kekuatan, namun juga kelemahan dari wilayah itu"


"Itu malah bisa jadi keuntungan untuk kita memulai perang di situasi sekarang"


"Tapi Tuan, bagaimana caranya?" Tanya Kei


Aku menyeringai.


"Mudah"


Mereka berdua makin penasaran dengan rencanaku.


"Kita hanya perlu menyamarkan keberadaanku"


Mereka berdua saling menatap bingung.


"Apa maksudnya, Tuan?" Tanya Kei


"Mereka hanya tahu kalau kepemimpinan di wilayah ini berganti, tapi mereka tidak tahu secara rinci informasinya karena semua mata-mata nya sudah dilenyapkan"


"Kei, kau adalah roh tingkat master yang hampir setara denganku. Kau juga sudah berpengalaman menjadi tangan kanan pemimpin roh, artinya kau tahu jelas tentang pemimpin"


"Jadi..."


"Kei, kuperintahkan kau memimpin pasukan utama dalam penyerangan nanti. Berpura-puralah menjadi diriku dan mengecohkan semua perhatian roh padamu"


"Tahan pemimpin roh jahat itu agar tidak bisa kemana-mana. Disaat mereka lengah itulah aku akan menyerang pemimpinnya tiba-tiba, dan menguasai wilayah itu"


"Jika itu terjadi, tidak ada lagi alasan mereka harus menyerang kita, karena mereka sudah kalah dan menjadi bagian dari wilayah sekolah"


Lagi-lagi mereka berdua terdiam mendengar penjelasanku.


"Aku sungguh-sungguh sama sekali tidak menyesal sudah menjadikanmu pemimpin meski aku harus merelakan posisiku"


"Aku tidak terpikir akan hal itu" Gumam Kagusa


Aku tersenyum puas lalu duduk rileks dengan menyandarkan punggungku ke sandaran kursi.


Aku melirik ke arah Kagusa.


"Kagusa, siapkan roh baik untuk pasukan perang. Lalu kalian berdua bawa perwakilan pasukan datang bersama kalian untuk menjelaskan strateginya lebih lanjut"


Aku menatap telapak tanganku dan mengepalkannya kuat.


"Aku juga sudah bisa mengendalikan kekuatanku. Semuanya sudah siap"


"1 minggu lagi kita akan memulai perang!"

__ADS_1


__ADS_2