Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : Keluarga Hazuki


__ADS_3

*


Kami tiba di rumah keluarga Hazuki. Ketika kami sampai, hari sudah gelap dan angin mulai dingin. Kami turun dari mobil dan Tuan Hazuki membawaku masuk kedalam.


"Ayo kemari, Izumi"


"Baik..."


Kami berjalan masuk dan suasana didalam terasa sunyi.


Begitu masuk sedikit lebih kedalam lagi, mulai terdengar suara tawa anak-anak.


Ada 5 orang anak, 4 laki-laki dan 1 perempuan yang sedang duduk di sofa dengan kesibukan masing-masing hingga tidak menyadari kehadiran aku dan Tuan Hazuki.


3 diantaranya yang laki-laki terlihat seumuran denganku, sedangkan 1 anak laki-laki dan perempuan sisanya umurnya terlihat seperti adik sepupuku, Kinshiki. Mereka berdua juga terlihat mirip, jadi aku bisa langsung tahu mereka kembar.


3 anak laki-laki yang seumuran denganku itu terlihat bermain bersama dan kedua adik kembarnya hanya melihat kakak-kakaknya sedang bermain.


Melihat anak-anaknya masih belum menyadari kehadiran kami, Tuan Hazuki akhirnya angkat suara.


"Anak-anak, Papa pulang"


Mereka ber-5 sontak langsung menoleh secara bersamaan.


Lalu mereka mulai terlihat bingung saat melihatku.


Mereka berlima saling menatap satu sama lain seperti bertanya, "Dia siapa? Apa kau kenal?".


Mengetahui diantara mereka tidak ada yang mengenalku, akhirnya salah satu diantara mereka bertanya.


"Pa, siapa dia?"


"Dia adalah anak yang akan tinggal disini bersama kalian beberapa tahun kedepan"


"Izumi, perkenalkan dirimu pada anak-anak paman"


Aku mengangguk lalu bicara dengan suara agak gugup.


"Um, Halo, aku Arato Izumi, putra tunggal keluarga Arato. Mohon bantuannya"


"Kalian juga perkenalkan diri kalian pada Izumi" Ucap Tuan Hazuki.


"Aku Hazuki Kirian, putra pertama keluarga Hazuki"


Hazuki Kirian, biasa dipanggil Ian. Dia adalah anak yang tadi bertanya pada Tuan Hazuki. Anak laki-laki berusia 11 tahun dan anak kandung dari Tuan Hazuki. Memiliki rambut berwarna hitam keabuan dan bermata oranye seperti langit di sore hari. Dia tampan dan dari sikapnya terlihat tegas.


"Aku Hazuki Rio, putra kedua keluarga Hazuki"


Hazuki Rio, biasa dipanggil Rio. Dia adalah anak angkat keluarga Hazuki. Dia diangkat menjadi anak karena dulu saat Kirian masih kecil, Kirian kesepian dan ingin bermain dengan orang tuanya, namun tidak bisa karena Tuan dan Nyonya Hazuki terus sibuk bekerja.


Tubuh Nyonya Hazuki juga lemah dan tidak memungkinkan untuk mempunyai anak lagi. Karena itu Tuan dan Nyonya Hazuki memutuskan untuk mengadopsi anak untuk teman main Kirian. Meski anak adopsi, tapi Tuan dan Nyonya Hazuki memperlakukannya seperti anak kandung mereka dan tidak membedakan mana yang anak kandung dan yang anak adopsi.


Hazuki Rio, sama seperti Kirian, dia berumur 11 tahun dan berjarak 2 tahun lebih tua dariku. Dia memiliki rambut merah marun dan bermata kuning. Dia juga tampan dan auranya terlihat ganas.


"Hai~ Aku Hazuki Rusen, putra ketiga keluarga Hazuki. Salam kenal~"


Hazuki Rusen, biasa dipanggil Ruu. Sama seperti Rio, dia juga adalah anak adopsi keluarga Hazuki. Dia berumur 10 tahun memasuki 11 tahun, memiliki rambut dan mata berwarna coklat muda. Dia tampan dengan senyum yang selalu melekat di bibirnya. Tidak seperti Kirian dan Rio, dia terlihat tidak berbahaya.


"Aku Hazuki Akihito, Putra keempat keluarga Hazuki...."


"Aku Hazuki Akane, Putri tunggal dan anak bungsu keluarga Hazuki"


Hazuki Akihito dan Akane, biasa dipanggil Hito dan Kane, anak kandung Tuan Hazuki. Beberapa bulan setelah Tuan dan Nyonya Hazuki mengadopsi Rio dan Rusen, akhirnya diketahui kalau Nyonya sedang mengandung anak.


Mereka anak kembar berumur 5 tahun yang sama-sama memiliki rambut hitam keabuan seperti milik kakak kandungnya, Kirian, dan bermata hijau emerald yang indah dari Nyonya. Mereka berdua sangat mirip hingga terlihat seperti orang yang sama dalam versi laki-laki dan perempuan.


Mulai hari ini, aku akan tinggal bersama mereka semua.


*


Tuan Hazuki ada, Tuan Muda dan Nona Muda ada, namun aku tidak melihat keberadaan Nyonya Hazuki.


Karena itu, aku pun menanyakannya pada Tuan Hazuki.


"Um... Paman, tante dimana?" Tanyaku

__ADS_1


Kelima anak itu tersentak.


"Kau! Berani-beraninya!!" Teriak Rio


"Kakak! Hentikan!" Teriak Akihito dan langsung menahan Rio


Aku melihat wajah Tuan Hazuki. Dia tampak sedih sambil menghela nafas.


"Istriku sakit sejak setahun setelah melahirkan Akihito dan Akane. Jadi sekarang istriku ada di rumah sakit"


"Begitu ya... Maaf menanyakan hal ini..." Gumamku


Rio masih menatapku tajam, lalu dia pergi lebih dulu.


"Ini sudah malam. Kalian semua tidurlah" Ucap Tuan Hazuki


"Lalu Izumi, aku akan mengantarkanmu ke kamar yang akan kau gunakan"


Kami pun berjalan naik ke lantai 2 bersama dengan anak-anak lainnya.


Begitu berada di lantai 2, Kirian langsung masuk ke ruangan yang berada di sebelah kiri, yang merupakan kamarnya. Lalu Rusen masuk ke kamarnya disamping kamar Kirian, dan yang terakhir Akihito dan Akane masuk ke kamar mereka yang ada di seberang kamar Rusen.


Ruangan yang ada di seberang kamar Kirian dilewatkan begitu saja. Jadi aku bisa menduga kamar itu adalah kamar Rio.


Aku terus mengikuti Tuan Hazuki, lalu dia berhenti didepan kamar yang ada disamping kamar Akihito dan Akane.


"Ini adalah kamar yang akan kau gunakan. Ruangannya tidak terlalu bagus karena disiapkan dengan buru-buru, tapi setidaknya masih bisa digunakan"


"Terima kasih, paman"


Tuan Hazuki pun pergi, dan aku masuk ke kamar itu.


Ruangannya sederhana dan tidak terlalu banyak barang, tapi itu sudah cukup untukku yang sekarang.


Aku menaruh tas disamping kasur, lalu duduk di pinggiran kasur itu.


"Malam ini dan selanjutnya... Apa aku bisa tidur nyenyak?" Gumamku


Aku terdiam dengan kepala kosong tanpa memikirkan apapun.


*


Pagi hari pun tiba.


Tanpa sadar aku tertidur karena kelelahan.


Kepalaku masih terasa sakit ketika bangun tidur seperti kemarin.


"Sakit..." Gumamku sambil memegang kepala


"Tapi... Harus kuat! Ini bukan apa-apa!"


Aku bangun dari kasur dan keluar kamar.


Ketika turun ke lantai 1, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Tuan Hazuki.


"Oh, kau cepat juga bangunnya. Siap-siaplah, nanti kita akan sarapan bersama"


"Iya, paman"


Aku kembali masuk ke kamar menunggu waktu sarapan sambil membereskan barang yang kubawa.


Lalu disaat waktu sarapan tiba, seorang pelayan datang memanggilku.


"Tuan Muda, waktunya sarapan. Silahkan turun ke lantai 1"


"Ya, aku akan kesana" Sahutku


Aku pun keluar dan kembali turun ke lantai 1. Saat sampai ke ruang makan, semuanya sudah berkumpul.


Keadaan tampak sunyi tanpa ada percakapan.


Aku masih berdiri disamping pintu karena tidak ada yang menyuruhku duduk.


"Hey, kau bodoh atau apa? Ngapain berdiri disana? Cepat duduk!" Ucap Rio jengkel

__ADS_1


"Baik..."


Aku berjalan mendekat dan duduk di kursi yang kosong.


Lalu Tuan Hazuki memulai pembicaraan ditengah keheningan ini.


"Papa akan pergi bekerja seperti biasa. Bagaimana dengan kalian?" Tanya Tuan Hazuki


"Kane mau lihat mama" Ucap Akane semangat


"Hito juga! Hito juga mau lihat mama dengan Kane!" Lanjut Akihito


"Ah, aku juga mau menjenguk mama" Gumam Kirian


"Sekalian saja, kita semua lihat mama, bagaimana?" Tanya Rusen


"Ide bagus!" Teriak Rio semangat


"Kirian, Rio, Rusen, kalian tetap di rumah"


"Kenapa, Pa?" Tanya mereka bertiga


"Izumi baru saja tinggal disini. Ajak dia main bersama kalian"


"Tidak mau! Kenapa kami jadi tidak boleh menjenguk mama karena dia?!" Teriak Rio


"Kau tidak sopan, Rio. Dan jangan salah paham, meski tidak ada Izumi sekarang, kalian juga akan tetap berada di rumah. Di rumah sakit tidak boleh ramai-ramai dan berisik" Ucap Tuan Hazuki tenang


"...."


Setelahnya keadaan kembali menjadi hening.


Aku merasa sangat tertekan dengan situasi ini. Sama sekali tidak ada pembicaraan lagi setelahnya.


Tak lama setelah itu, seorang pelayan datang dan menaruh makanan di meja.


Mereka pun mulai makan. Namun aku masih hanya menatap makanan di depanku. Entah kenapa aku jadi merasa mual begitu melihat semua makanan itu, padahal aku tahu itu semua makanan kualitas tinggi.


"Ada apa? Kenapa tidak makan?" Tanya Tuan Hazuki


"Ah, tidak. Aku akan makan..."


Aku menyuapi sendok ke mulutku.


Dan benar saja, baru beberapa sendok makan aku sudah mau muntah.


Aku menahan diri dan terus saja makan.


Hingga akhirnya di pertengahan makan aku sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Paman, aku sudah selesai makannya. Jadi aku pamit lebih dulu"


"Ya"


"Lihat! Sejak awal dia sudah terlihat enggan untuk makan. Apa kau menghina keluarga Hazuki?!" Teriak Rio


"Makanannya enak, tapi aku sudah kenyang. Kalau begitu aku permisi" Ucapku lalu pergi keluar dari ruang makan


Begitu keluar dari sana, aku langsung lari menuju toilet dan memuntahkan semua makanan yang tadi kumakan.


"Hoek... Ugh... Uhuk, uhuk..."


"Agh... Perutku sakit sekali..." Gumamku


Karena makanan tidak sehat yang kumakan selama setahun terakhir, apalagi saat di kurung selama 12 hari di kediaman Foren dimana aku makan hanya sekali sehari, ditambah lingkungan dan keadaan tubuhku yang buruk, akhirnya mengakibatkan perutku terinfeksi.


Aku muntah juga masih berkaitan dengan psikis ku akibat makanan tidak layak saat dikurung waktu itu.


Begitu melihat makanan aku langsung teringat dengan makanan yang kumakan saat dikurung waktu itu dan membuatku makin merasa mual.


"Argh... Sakit..."


Kepalaku pusing. perutku sakit. seluruh tubuhku penuh luka dan lebam yang terus terasa nyeri.


Kondisi tubuhku mulai memburuk saat itu.

__ADS_1


__ADS_2