
"Akhirnya aku menemukanmu"
Muncul seorang pria dengan rambut merah marun dan bermata biru seperti milik Kei.
"Apakah anda mengenal saya?" Tanya Kei bingung.
"Tentu saja aku mengenalmu, anakku" Ucap pria itu.
"Anak?!" Pikir Kei kaget
"18 tahun lalu, aku mengutus ksatria untuk mengambilmu, tapi aku mendengar berita mereka semua mati bersama dengan prajurit bayaran yang menculikmu saat bayi"
"Aku berpikir kau juga mati bersama mereka, tak kusangka sekarang anakku sudah sebesar ini"
"Akhir-akhir ini aku mendengar anak angkat Count memiliki rambut merah marun dan berusia 18 tahun. Saat melihatmu, aku jadi yakin kau anakku"
"Rambut merah marun sangat jarang dimiliki orang di kerajaan ini, dan aku memilikinya. Selain itu, dia memang mirip denganku. Apakah... Dia sungguh ayah biologis ku?" Pikir Kei
Kei melihat ke arah jubah pria itu. Terdapat sebuah lambang keluarga dengan bentuk 2 ular yang mengelilingi sebuah pedang.
"Lambang keluarga itu! Keluarga Marquis Arca yang menjadi pedang keluarga kerajaan!" Pikir Kei
"Habisi semua yang mengganggu kedamaian keluarga. Itulah pesan terakhir yang aku katakan pada mereka"
"Kupikir para ksatria itu telah melakukan tugas mereka dengan baik hingga mengorbankan nyawanya. Ternyata mereka juga sampah. Bayi yang baru lahir saja tidak bisa mereka bereskan" Gumam pria itu
"Apa?!" Pikir Kei kaget
Trang!!
Pria itu menyerang Kei dan dengan cepat Kei menangkisnya.
"Hoo~ Kau memang anakku. Tak hanya fisik, tapi kemampuanku juga menurun padamu. Yah, walau ibumu itu wanita murahan"
"Omong-omong, kau adalah Keiden Forth yang jadi perbincangan akhir-akhir ini, kan? Hahaha! Bahkan kebiasaan bermain wanita juga menurun padamu. Aku menyesal selama ini tidak mengikuti berita sosial bangsawan. Seandainya aku tahu kalau ada Tuan Muda berambut merah yang diadopsi Count Forth, aku pasti akan membawamu keluar dari sana sejak dulu"
"Tolong jangan bicara hal aneh! Saya tidak mengenal siapa anda, tapi anda bicara hal tak penting seperti ini! Dan akan saya tekankan, nama saya adalah Kei, bukan Keiden Forth!!" Ucap Kei tegas
"Pfftt! Nada suara tegas dan angkuh itu... Bahkan disaat kau tahu aku adalah bangsawan tinggi, kau tetap bisa bersikap seperti ini, memang mirip denganku"
"Aku jadi semakin ingin membunuhmu"
Pria itu mengambil jam di sakunya.
"Ternyata sudah jam segini. Aku harus pergi untuk mengadakan rapat bersama Raja. Kalau begitu aku pergi dulu, Keiden Arca"
Setelah pria itu pergi, Kei merasakan ancaman yang besar akan datang padanya dalam waktu dekat.
"Bahaya! Jika keluarga sebesar Marquis Arca dan Count Forth mengincarku, aku takkan bisa selamat. Aku harus pergi dari kerajaan ini!" Pikir Kei
Meski kemampuan berpedang Kei sangat bagus, tapi saat ini ia masih bukan ksatria resmi dan belum punya tanda pengenal yang menandakan identitas ksatria nya. Jadi, Kei pergi kabur dengan identitas murid dari akademi bergengsi yang tengah ada tugas keluar.
"Kemana aku harus pergi? Jika hanya ke kerajaan sebelah, akan mudah dikejar" Pikir Kei
Lalu Kei terpikirkan suatu tempat.
"Benar juga, benua timur!! Saat di akademi aku belajar bahasa di kerajaan Kintsuki karena itu kerajaan yang paling terkenal di benua timur" Pikir Kei
"Aku harus pergi ke kerajaan Kintsuki!"
Kei pikir ia sudah selamat begitu tiba di benua timur. Tapi ternyata salah.
"Tangkap dia! Dia adalah seorang kriminal yang memalsukan identitas dan masuk ke sini!!"
Begitu turun dari kapal, Kei langsung dikejar oleh petugas keamanan kerajaan.
"Sial, aku lengah!! Ternyata sejak awal Marquis sudah melihat jejakku!" Pikir Kei
Kei pun bertarung dengan ratusan petugas keamanan yang mencoba menangkapnya.
"Tidak boleh! Aku baru saja akan hidup bahagia, aku tidak boleh mati disini!" Pikir Kei
Akhirnya, Kei berhasil melawan semua petugas ini sendirian.
Tentunya kondisi Kei sendiri juga sekarang terluka parah.
"Aku... Berhasil..." Pikir Kei
Dan...
Jleb!!
"Aghhh!!!"
Marquis Arca muncul dari belakang Kei dan menusuknya menggunakan pedang.
"Cukup sampai sini mainnya, Keiden Arca"
"Ke... Kenapa... Anda..." Gumam Kei
"Kau bertanya kenapa aku membunuhmu? Itu karena kau sangat mirip denganku"
"Dulu saat aku berusia 20 tahunan, aku membunuh ayahku agar aku bisa menjadi Marquis. Aku berpikir kau di masa depan bisa saja membunuhku juga seperti aku yang membunuh ayahku"
"Jadi sebelum itu terjadi, aku akan membunuhmu duluan. Keluarga Arca hidup seperti ini. Hubungan darah adalah sebuah ancaman. Anak adalah ancaman bagi orang tua, dan orang tua adalah ancaman bagi anak"
"Kalau begitu, kenapa anda menghamili ibu dan membuat saya lahir ke dunia ini kalau pada akhirnya anda membunuh saya?!" Teriak Kei
"Kau jadi banyak bicara karena tau kau akan segera mati, ya~ Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu"
__ADS_1
"Itu sebuah kesalahan. Sejak awal aku tidak berniat punya anak, apalagi dengan rakyat biasa yang kotor itu. Sejak awal kelahiranmu adalah kesalahan. Aku sudah menyuruh wanita itu menggugurkan bayi di perutnya, tapi dia tidak mau. Tidak ada pilihan lain kecuali aku sendiri yang turun tangan"
"Kau mengerti kan? Kehadiranmu itu tidak diharapkan. Kau adalah produk gagal yang tidak diinginkan, yang mana saat lahir kau langsung merenggut nyawa wanita yang mengandungmu. Tidak ada yang menginginkanmu"
Pria itu menarik kembali pedang yang masih menancap di tubuh Kei dan menusukkannya kembali. Akhirnya Kei pun tumbang.
"Oke~ sekarang kriminal ini sudah mati. Apa aku harus minta bonus ke raja saat kembali nanti, ya~"
Marquis Arca itu langsung pergi meninggalkan Kei yang tersungkur bersimbah darah.
"Kenapa? Kenapa aku menjalani kehidupan seperti ini? Kenapa?"
"Aku tidak berharap sungguh menjadi bangsawan. Aku cuma ingin hidup tenang. Kenapa hal itu sangat sulit?"
"Bagian mana yang salah? Selama ini aku berusaha yang terbaik. Aku belajar dengan giat agar aku bisa bertahan hidup. Tapi ternyata sia-sia"
"Selama ini, aku tidak berbuat onar dan bertindak dengan baik. Kenapa..."
"Ini bermula dari Marquis yang mencoba membunuhku saat bayi, dilanjut dengan Count dan Countess yg mengadopsiku"
Kei menggenggam erat tangannya hingga tanah yang dilumuri darah dibawah tangannya ikut diremas.
"Marquis Arca dan keluarga Count Forth! Ini semua karena kalian!!" Pikir Kei
"Aku diabaikan, disiksa, dilecehkan, hingga difitnah sampai sekerajaan membenciku. Forth, aku tidak akan pernah melupakannya!! Arca, aku juga takkan pernah melupakan kau yang membuangku dan membunuhku sekarang!!"
Urat di leher dan tangan Kei bermunculan karena ia yang marah sekaligus menahan sakitnya.
"Aku harus membalasnya!! Mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa. Tidak, aku akan membuat mereka lebih tersiksa dari aku yang sekarang!!"
"Aku belum boleh mati! Dendamku pada mereka semua belum dilakukan!!"
"Aku takkan membiarkan mereka hidup enak setelah apa yang mereka lakukan padaku!!"
"Akan kubuat mereka... Menjadi orang yang paling tersiksa di dunia ini!!"
*
**
2 minggu kemudian, di rumah Count Forth...
"Apa?! Keiden mati?" Teriak Freya
"Tidak usah pedulikan manusia bejat itu. Kejadian di malam itu belum lewat lama, jadi lebih baik kau tenangkan dirimu, Freya" Ucap Countess khawatir.
"Tidak... Kenapa dia mati? Seharusnya ibu dan ayah melindunginya! Kenapa juga dia diusir? Dia itu kan ksatria pribadiku!!" Teriak Freya.
"Kau kenapa, Freya? Dia sudah berbuat dosa besar. Dan lagi, kau sendiri yang sebelumnya meminta untuk mengusir dia, kan?"
"Tidak!! Kenapa kalian melakukan hal itu?! Kenapa kalian berbuat seenaknya begitu?! Aku benci ayah dan ibu!!" Teriak Freya dan lari
"Freya!!"
"Kau mau sembunyi dariku, Keiden? Tidak akan kubiarkan! Aku akan menemukanmu!!"
Sejak itu Freya jadi terobsesi dengan pria yang memiliki rambut merah. Begitu melihat pria berambut merah, ia akan melakukan apapun untuk mendekatinya.
Tiap kali Freya menjalin hubungan dengan pria berambut merah, semua pria itu mengetahui kalau Freya dibutakan oleh cintanya. Mereka pun memanfaatkan Freya untuk menguras kekayaan Count Forth.
Hingga di umur Freya ke-18 tahun dan juga ia memasuki usia dewasa, keluarga Count Forth jadi miskin dibuatnya. Tidak ada pria manapun yang mau menikahi Freya karena keluarganya tak bisa memberi keuntungan, juga sifat Freya yang buruk.
Karena hal itu, Countess yang lemah pun jatuh sakit dan meninggal beberapa bulan setelahnya.
Meski Countess telah mati, tapi Freya masih juga tidak sadar. Ia masih terus berbuat onar dimana-mana dan melimpahkan semua akibatnya ke ayahnya.
Keluarga Count pun terlilit hutang yang sangat besar. Karena sudah tak memiliki apapun lagi, Count pun akhirnya mencari uang dengan melakukan kajahatan. Tapi hal itu langsung ketahuan dan Count pun dipenjara seumur hidup.
Kini Freya yang tidak didampingi oleh siapapun tinggal sendirian di jalanan daerah kumuh.
"Keiden... Keiden... Kau dimana?..."
"Kau... Kau masih mau main petak umpet denganku? Kau mau jadi Count Forth, kan? Cepat kemari..."
Lalu, Kei pun muncul di hadapan Freya.
"Kei... Keiden... Sudah kuduga kau akan kembali padaku!..."
Freya langsung berlari mendekati Kei dan memeluknya. Tapi Freya menembus tubuh Kei dan tersungkur.
"A... Apa ini... Kenapa..." Gumam Freya
"Pfft!!"
Mendengar Kei yang menahan tawa, Freya langsung menoleh ke Kei dan memarahinya.
"Apa yang lucu?! Beraninya kau padaku, penerus keluarga Count Forth!"
"Count Forth? Tidak ada sesuatu yang seperti itu di kerajaan ini"
Kei berjalan dan berjongkok di depan Freya yang masih terduduk di tanah.
"Selama 4 tahun ini, kau terus mencariku? Bagaimana rasanya dimanfaatkan oleh para pria yang kau dekati selama itu?"
Freya tersentak.
"Keid---"
"Namaku bukan Keiden!" Ucap Kei tegas dan menatap tajam Freya dengan mata merahnya.
__ADS_1
Seketika Freya merasa merinding dibuat Kei.
Kei menyeringai melihat ekspresi ketakutan Freya. Kei kembali berdiri dan membelakangi Freya.
"Freya, kau tahu hukuman apa yang paling menyakitkan bagi manusia?"
Kei berbalik melirik tajam Freya di belakangnya.
"Semua hal miliknya hilang meninggalkannya. Perasaan kesepian karena tidak dianggap, rasa sakit yang tak tertahan, juga keinginan untuk mati tapi tidak mau mati. Itu lebih menyakitkan daripada mati itu sendiri"
"Sekarang, kau sudah merasakan sebagian dari yang aku sebutkan, kan?"
Freya tersentak mendengarnya.
"Kau!! Jadi semua ini ulahmu?!" Teriak Freya marah
"Kalau aku bilang iya kenapa? Kau tidak bisa melakukan apapun padaku"
Kei berbalik dan membentangkan kedua tangannya dengan lebar lalu tertawa lepas.
"Katakan padaku! Apa yang bisa kau lakukan padaku yang sekarang? Tidak ada! Kau tidak bisa apa-apa! Sejak awal kau memang tidak bisa apa-apa dan hanya bersandar ke pundak orang tuamu yang busuk itu!!" Teriak Kei
"Sekarang, aku bisa melakukan hal semauku! Aku bisa mengatur takdir di depanmu! Kemalanganmu baru saja akan dimulai!!"
Kei mengenadahkan tangannya dan muncul sebuah kantong kain yang cukup besar. Setelahnya Kei langsung melempar kantong itu ke Freya.
Freya mengambil kantong itu dan membukanya.
"Ini... Permata dan beberapa perhiasan lainnya..."
Tap.. Tap... Tap... Tap...
Lalu tiba-tiba muncul suara tapak kaki segerombol orang mendekat.
"Mereka datang~"
"Itu orangnya!!"
Seketika Freya dikepung oleh orang-orang itu.
"A... Apa ini?!" Teriak Freya
"Freya Forth, kau ditangkap dengan bukti mencuri harta dan pusaka milik ratu terdahulu"
"Apa?! Aku tidak mencuri!!"
"Jadi apa yang ada di tanganmu sekarang?"
Freya tersentak.
"Dia!! Orang ini yang membawanya lalu memberikannya padaku! Kalian seharusnya membawanya, bukan aku!!" Teriak Freya dan menunjuk Kei. Tapi mereka tidak menghuraukan ucapan Freya dan langsung membawanya pergi.
"Apa yang dia bicarakan? Jelas-jelas dia sendirian disini, Dan lagi semua saksi mata mengatakan melihatnya mengendap masuk setelah memberi obat tidur ke pengawal"
"Dia pasti sudah gila setelah banyak membuat onar"
"Paling itu juga cuma triknya supaya terlihat gila dan berharap dapat hukuman lebih ringan"
"Pfftt! Mau orang gila atau orang waras, dia akan dapat hukuman berat jika mengganggu keluarga kerajaan. Apalagi ini pusaka ratu"
"Aku sama sekali tidak bohong!! Kalian tidak melihat orang itu?!" Teriak Freya dan terus menunjuk-nunjuk Kei. Tapi mereka semua tidak ada yang mempedulikan Freya.
*
Di pagi harinya, hukuman untuk Freya pun ditentukan.
"Hukuman untuk sang penjahat adalah pancung. Tapi karena kemurahan hati dari sang ratu yang memiliki hubungan dekat dengan almarhum Countess, maka hukuman pancung diundur dalam batas waktu tak menentu. Selama itu, sang penjahat akan dikurung di penjara pengasingan"
Setelahnya, Freya pun langsung dipindahkan ke penjara pengasingan. Sesuai namanya, penjara itu berada di pelosok dan hanya berisi tidak sampai 10 orang. Ditambah lagi, penjaranya cukup besar dan tak terurus, jadi makin menambah kesan kesunyian penjara itu.
Sepanjang hari Freya ketakutan karena tidak tahu kapan hukuman pancung itu dilaksanakan. Selama itu juga Kei terus menghantui Freya.
"Bagaimana? Apa sekarang kau merasakan keputusasaan?"
Kei menyeringai melihat penampilan kusut Freya yang biasanya rapi dan bersih. Perlahan Kei mendekat ke Freya yang sedang duduk di kursi papan di salah satu sisi penjara. Kei mendekat dan berbisik ke Freya.
"Bagaimana kalau ternyata besok adalah waktu terakhirmu menghirup udara? Atau mungkin 1 jam lagi? 1 menit? Atau mungkin sekarang?"
"Kau tau kau akan mati, tapi kau tidak tahu kapan itu. Apa ini menyakitkan?".
"Keiden...." Freya menggeram.
"Ini semua salahmu! Salahmu!! Aku tidak melakukan kesalahan apapun!! Kenapa malah jadi aku yang menanggung semua akibatnya?!" Teriak Freya dan terus mencoba memukul Kei.
Kei pun dibuat kesal oleh tingkah Freya.
Kei langsung mencekik leher Freya dengan kuat.
"Anak manja dan berpikiran mesum ke anggota keluarganya sendiri, licik, selalu buat onar dimana-mana hingga membuat keluarganya sendiri hancur. Itu yang disebut tidak berbuat salah?".
Freya merasa sesak dan mencoba melepaskan diri, tapi tiap kali dia mencoba menyentuh Kei, dia selalu menembus tubuh Kei. Yang terlihat di mata orang normal sekarang Freya sedang menggaruk lehernya sendiri dengan tergesa-gesa.
"Khhhkk... Le... Lepaskan..."
Kei melepaskan cekikannya dengan kasar hingga Freya terdorong ke dinding.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."
"Akan aku katakan, ini masih belum berakhir. Kau masih perlu merasakan penderitaan lebih lama lagi"
__ADS_1
Ditengah Freya yang masih batuk-batuk, Kei pergi dari penjara itu.
"Selanjutnya Marquis Arca"