Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Masalah Dengan Reiya


__ADS_3

1 jam setelah kami kembali dari kuburan.


Selama kami pergi di kuburan itu, Yui langsung mencariku ke berbagai tempat, lalu kembali setelah sejam kami pulang.


"Izumi!! Kau ini benar-benar br*ngsek!! Bisa-bisanya kau membawa pergi seorang wanita seperti itu!!" Teriak Yui murka


Izumi hanya cuek seperti mendengar angin lewat sambil mengulurkan lidahnya mengejek Yui.


"Aaarrgh!!! Aku sungguh tidak tahan lagi!! Ingin sekali rasanya memukul kepalanya hingga benjol!!" Teriak Yui kesal dan melampiaskannya dengan memukul dinding sekeras-kerasnya.


"Yui, tanganmu bisa luka. Besok kita masih harus ulangan, jadi perhatikan kesehatan tubuhmu" Ucapku khawatir


Yui langsung menoleh cepat kearahku dengan tatapannya yang tajam.


"Ririn juga salah! Bagaimana bisa kau sesantai itu setelah dibawa pria?!" Ucap Yui marah


"Pria? Izumi bahkan belum dewasa. Ditambah lagi dia hantu yang terikat denganku, dia tidak akan berbuat macam-macam padaku"


"Pfft" Izumi menahan tawa setelah mendengar ucapanku hingga tubuhnya sedikit gemetar. Tentu saja hal itu memancing emosi Yui keluar maksimal.


"Br*ngsek sialan!! Apa yang kau tertawakan, hah?! Tidak ada yang lucu!! Dasar @○^!¥°|¥&×;×}#(!&@^×*@&@:#&@(+"


Yui sangat kesal hingga mengeluarkan semua 'kata-kata mutiara' nya sambil mengayun-ayunkan tangannya ingin memukul Izumi.


*


Setelah semuanya kembali tenang, aku dan Yui belajar untuk ulangan esok hari.


"Aku akan memberi tahu materi apa saja yang banyak masuk di ulangan. Jadi sebisa mungkin kalian pahami materi itu sepenuhnya. Biar kalian ingat, aku akan tuliskan saja" Ucap Izumi


Izumi mengambil pena dan kertas lalu menulis.


Untuk pertama kalinya aku melihat dia menulis. Tulisannya rapi walau dia menulis dengan cepat. Karena kagum, tanpa sadar aku terus melihat dia menulis.


Dan karena aku terus menatap tangan Izumi, Izumi jadi merasa tidak nyaman.


"Ada apa terus melihatku menulis?" Tanya Izumi


"Tidak... Hanya saja, aku sedikit penasaran dengan tulisanmu jika menggunakan tangan kiri"


"Tidak ada bedanya" Jawabnya


Izumi memindahkan penanya dari kanan ke kiri lalu kembali menulis. Dan benar saja, tulisan Izumi tidak berbeda dengan tulisannya di tangan kanan.


"Kau hebat sekali! Pasti sudah berusaha keras untuk terbiasa menggunakan dua tangan" Ucapku kagum


"Yah, aku memang butuh waktu sangat lama untuk terbiasa"


"Izumi terlalu sempurna untuk ukuran manusia. Aku jadi penasaran apakah ada kelemahan Izumi"


"Tentu ada"


"Beri tahu aku"


"Olahraga dan kesenian. Tapi aku cukup baik dalam menggunakan alat musik"


"Olahraga? Izumi lemah di olahraga? Sama sekali tidak terlihat. Dengan bentuk tubuh seperti itu tidak akan ada yang berpikir kau lemah di olahraga"


"Terserah kau mau percaya atau tidak" Ucapnya santai


Aku menatap curiga ke Izumi.


"Kau tidak mencoba menipuku, kan?" Tanyaku

__ADS_1


"Memangnya ada alasan aku harus berbohong?" Tanyanya balik


"Bisa saja. Orang jenius cenderung menyembunyikan keahliannya dari orang lain biar orang menganggap dia lemah, padahal tidak"


"Tapi kau bukan 'orang lain', kau Yurin"


"Tidak... Bukan seperti itu maksud yang ingin kukatakan..." Gumamku


Izumi mencondongkan badannya kearahku.


"jadi apa maksudmu? Jelaskan padaku" Ucap Izumi sambil senyum


Yui mulai geram lalu duduk diatas meja diantara aku dan Izumi.


"Ayo belajar, Ririn. Kita sudah tidak punya waktu lagi" Ucap Yui dengan senyum terpaksa


*


Keesokan harinya, di depan gerbang sekolah...


"Yurin!"


Seperti dugaanku, Reiya dan temannya menghadangku dan Yui saat datang ke sekolah.


"Ririn, mau aku bantu bereskan mereka?" Tanya Yui


"Itu melelahkan. Ayo langsung masuk saja" Ucapku santai lalu berjalan melewati Reiya


Reiya dan temannya hanya diam menggeram sambil menatap kami. Dan Yui membalas dengan melirik tajam ke mereka.


Setelah kami masuk ke gedung sekolah, Yui langsung berbisik padaku.


"Hei, Ririn, apa kau tidak merasa mereka menjengkelkan? Mereka yang memulai, mereka yang marah. Aneh sekali" Bisik Yui jengkel


"Tidak juga, aku memang belum bisa menilainya, tapi menurutku dia tidak jahat, dan aku tidak membencinya. Aku menganggap dia seperti anak kecil dalam masa pemberontakan"


"Haaah?! Tidak jahat? Dia yang seperti itu tidak jahat?! Ririn, kau yang terlalu baik! Itu tidak bagus, aku harus mendidikmu tentang kejamnya manusia di dunia ini!"


"Oh, ya. Aku baru ingat!! Aku dengar dari teman kelasku beberapa bulan lalu, katanya dia dan temannya itu juga sering menindas orang lain. Bukti lainnya yang sudah jelas, dia mengganggumu. Mana mungkin dia baik"


"Tidak, aku sungguhan. Dia di kelas baik, tidak mencari gara-gara dengan orang juga. Ini baru kali pertama dia seperti ini"


"Ririn, kau tahu dengan 'akting', kan? Yang dia lakukan saat di kelas itulah yang disebut akting, sedangkan yang dia lakukan padamu dan para korbannya yang lain adalah sisi asli dirinya"


"Aku masih belum bisa menilainya karena tidak tahu apapun tentang dirinya" Jawabku


"Inilah sebabnya kubilang kau terlalu baik. Padahal sudah sangat jelas terlihat"


*


Setelah sampai di kelas dan ulangan sudah mau dimulai, Reiya masih sempat menatapku dengan tajam.


Lalu, setelah ulangan hari ini usai dan kami kembali ke rumah, Yui menceritakan soal Reiya ke Izumi.


"Kalau dia memang punya orang tua polisi dan guru dibelakangnya, maka kau ada aku dan semua bawahanku yang ada di belakangmu. Kalau kau mau, aku bisa meneror mereka semua hingga mereka tidak tahan untuk melanjutkan hidup. Di mataku, mereka tidak lebih dari manusia menjijikkan" Ucap Izumi tegas


"Dia memang punya banyak teman yang juga berlatar belakang bagus, tapi kalau kau mau balas dendam ke mereka semua, aku siap kapan saja!" Lanjut Yui


"Kalian berdua...." Gumamku


Sekarang Izumi dan Yui membara seakan yang ditindas adalah mereka.


"Haaah..." Aku menghela nafas panjang lalu kembali menatap mereka berdua

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, tidak perlu memperbesar masalah"


"Aku memang bilang mau membalas, tapi itu kalau memang terdesak. Sebisa mungkin aku juga tidak berniat membuat dia semakin marah padaku"


"Baiklah, aku mengerti" Ucap Izumi sambil menghela nafas


*


Keesokan harinya, ketika jam istirahat sekolah.


Aku dan Yui seperti biasa pergi ke kantin bersama.


"Ririn, apa cewek itu masih mengganggumu?" Tanya Yui


"Sama seperti biasa. Dia dan temannya menghadangku" Jawabku


"Dia memang tidak bisa dibiarkan!"


"Ririn! Aku punya rencana. Aku akan bertanya pada teman kelasku siapa saja korban dari cewek itu. Lalu aku akan menemui si korban dan mengajak mereka bekerja sama dengan kita untuk balas dendam!"


"Tidak mau. Dan lagi, berbahaya kau mengatakan hal itu di tempat ramai seperti ini"


"Jika dia dengar juga baguslah! Ini adalah teriakan dari sang korban untuk pelaku!"


" Tidak, dia tidak pernah berurusan denganmu...." Gumamku


"Berurusan dengan Ririn sama saja berurusan denganku!" Ucap Yui tegas


"Iya, iya, baiklah. Kalau begitu sekarang tenang dan makan dulu---"


"Bagaimana? Bukankah rencanaku tadi sangat sempurna? Korban lainnya juga pasti ingin bertindak tapi tidak bisa karena mereka hanya sendirian. Tapi kalau semua korban bersatu, dia juga akan kewalahan!"


"Tidak bisa. Kalau aku terus disini Yui tidak akan berhenti membicarakan tentang balas dendam ke Reiya" Pikirku


"Aku... Mau ke toilet sebentar" Ucapku lalu berdiri


"Aku ikut!"


"Tidak usah. Kau disini saja, nanti kursi kita akan diambil orang lain kalau kau juga ikut pergi. Kalau begitu, aku pergi dulu"


*


Di depan toilet perempuan...


"Haah, sampai kapan Yui akan berhenti membicarakan balas dendam itu? Dia terlalu serius menanggapi hal ini" Pikirku lelah


Aku berjalan masuk kedalam toilet lalu masuk ke wc dan duduk didalam sana tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Yui terlalu berisik, jadi aku akan disini sedikit lebih lama" Pikirku


Ceklek... Tap... Tap... Tap... Tap... Currrrr...


Terdengar sekelompok orang masuk kedalam toilet lalu menghidupkan keran untuk mencuci tangan.


Mereka sibuk tertawa terbahak-bahak sambil memainkan air.


"Dia bodoh sekali! Saking bodohnya, aku jadi kaget. Hahahaha!"


"Benar sekali~"


"Eh, disini tidak ada orang lain, kan? Bahaya kalau ada yang dengar~"


"Tidak ada, tenang saja~"

__ADS_1


"Suara ini..." Pikirku kaget


__ADS_2