Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Reiya


__ADS_3

*Sudut pandang Reiya


10 tahun lalu, saat berusia 6 tahun.


"Wah, ini putri kedua ya?"


"Iya. Reiya, beri salam, dia adalah teman ibu"


"Halo tante, saya Leiya"


"Dia cadel? Belum bisa menyebut huruf R?"


"Iya. Perkembangannya memang agak lambat dibanding putri pertama saya"


"Kalau dilihat lagi, putri pertama lebih cantik dibanding yang kedua, ya"


Di rumah....


Karena orang tuaku sibuk setiap hari hingga mereka tidak sempat mendidik kami, jadi orang tuaku memutuskan untuk memanggil guru privat untukku dan kakak setelah pulang sekolah.


"Wah, Lina sangat pintar. Masih 7 tahun, tapi tulisannya sangat rapi. Tidak heran, putri dari dua orang hebat"


"Terima kasih, bu guru!"


Bu guru yang awalnya melihat ke meja kakak kini beralih ke mejaku. Dan bu guru yang awalnya memasang wajah cerah sekarang jadi sedikit masam.


"Reiya, apa yang kau tulis? Pengejaannya masih ada yang salah. Penulisannya juga berantakan"


"Maaf, bu guru! Saya akan berusaha lebih keras!" Teriakku


"Dasar... Padahal lahir dari orang tua yang sama, tapi mereka berdua bisa seberbeda ini. Cuma beda 1 tahun, tapi jarak mereka berdua sudah sangat jauh" Gumam bu guru


"...."


Aku memiliki seorang kakak perempuan yang hanya beda 1 tahun dariku. Namanya adalah Lina. Sama seperti umurnya yang berada diatasku, kemampuan dan kecantikannya sejak kecil sudah jauh lebih unggul daripada aku. Oleh sebab itu, sejak kecil aku sudah sering dibanding-bandingkan dengan kakakku.


*


Saat aku akan berusia 11 tahun, kakakku pergi dari rumah karena mendapat beasiswa di luar negri saat masuk SMP. Kini kakak tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak ayahku.


Mungkin karena orang tuaku yang sangat merindukan kakak, jadi setiap gerak gerikku akan mengingatkan mereka dengan kakak.


"Reiya, cara makanmu kurang anggun. Kakakmu saat seumuranmu sudah bisa makan tanpa membuat makanan jatuh"


"Cepat belajar, Reiya. Kau tidak lihat kakakmu bisa mendapat beasiswa ke luar negri. Kakakmu masih kecil tapi sudah bisa hidup mandiri. Ayah malu menceritakan dirimu pada teman-teman ayah"


"Reiya, ibu tidak pernah melihatmu bersama teman. Sesekali bermainlah bersama temanmu. Kakakmu dulu sering mengajak teman untuk belajar bersama. Bergaul itu penting"


Semuanya, apapun yang kulakukan akan dibandingkan dengan kakakku.


Aku sendiri sebenarnya bukanlah anak yang bodoh. Aku adalah anak normal pada umumnya. Namun karena aku berada di lingkungan orang-orang hebat, itu membuatku jadi terlihat bodoh.


Aku seperti rumput di sebuah taman bunga. Dianggap sebagai pengganggu diantara keindahan.


Aku adalah anak polos yang normal. Namun karena aku tumbuh dengan terus dibandingkan dengan kakakku dan tidak mendapatkan support, aku jadi mudah insecure pada orang lain.


Itulah yang membuatku jadi semakin tidak ingin bersosialisasi dengan teman-teman seumuranku. Aku juga takut jika berteman malah akan dibanding-bandingkan lagi dan takut dihina.


Di sekolah aku terbiasa melakukannya sendiri. Terkadang aku lelah mengerjakan tugas sendiri, namun tidak ada yang menolongku.

__ADS_1


Lalu pada suatu hari saat aku berada di kelas 2 SMP, itulah kali pertama aku bertemu dengan teman-temanku yang sekarang.


"Kyaaaaaa!"


Saat pulang sekolah, tanpa diduga aku dikejar oleh seekor anjing yang entah muncul dari mana.


Lalu mereka muncul, 3 orang gadis yang juga berada di SMP yang sama denganku. Dia muncul dan menghalau jalan anjing itu untuk mengejarku.


"Hey, anjing bodoh!! Kau mau lari kemana, hah?!" Teriaknya


"Ayo kita siksa dia~"


Mereka memukuli anjing itu menggunakan ranting pohon hingga membuat anjing itu pergi.


"Huh? Sudah pergi? Sama sekali tidak seru! Aku mau menyiksa anjing itu lebih banyak lagi!"


"Tidak apa, nanti kita cari hewan lain untuk kita buru"


"Iya!"


Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat berterima kasih pada seseorang. Aku tahu kalau maksud mereka bukanlah untuk menolongku, tapi karena aku merasa terselamatkan, tanpa sadar aku jadi menyukai mereka meski aku tahu mereka bukan gadis baik.


Aku terus menatap mereka bertiga. lalu tak lama kemudian, mereka melirik ke arahku.


"Hm? Siapa dia? Kenapa terus melihat kita?"


"Tidak tahu"


"Orang aneh"


Meski begitu, aku tetap ingin berteman dengan mereka, karena mereka orang pertama yang menolongku.


Aku memaksakan diri mendekati mereka.


"Anu... Bolehkah... Aku berteman dengan kalian?" Tanyaku


Mereka bertiga saling memandang satu sama lain dan terlihat enggan untuk berbicara denganku.


"Itu... Sebagai ucapan terima kasih, aku ada membawa kue, mau makan bersama?" Tanyaku


Mereka bertiga pun langsung bersemangat dan mau menerimaku sebagai teman.


Satu hari berlalu sejak aku berstatus 'teman' diantara mereka. Mereka tidak terlalu menganggapku.


satu minggu berlalu, mereka masih bersikap canggung padaku.


Satu bulan berlalu, mereka mulai berbicara bebas denganku. Dan aku terus berusaha untuk dekat dengan mereka. Aku mentraktir mereka, terus tersenyum, menceritakan hal-hal baik, itu semua kulakukan agar bisa semakin dekat dengan mereka.


Satu tahun berlalu, dan sekarang mereka benar-benar menganggapku sebagai teman. Setidaknya aku berpikir seperti itu. Mereka sudah sangat bebas berperilaku didepanku tanpa rasa canggung.


Kupikir kami akan menjadi teman yang akrab, namun sepertinya tidak begitu.


Tidak lama setelah itu, mereka mulai menyindirku secara halus di berbagai kesempatan.


"Eh, kalian tahu? Aku ada kenal lho dengan anak dari orang kaya dan hebat. Dia sombong sekali memamerkan barang-barangnya didepanku. Mengesalkan"


"Ah, iya! Aku tahu dia! Dia juga seperti itu padaku!"


"Wah~ Kukira dia seperti itu hanya padaku, tapi ternyata pada kalian juga?"

__ADS_1


"...." Aku hanya diam dan terus tersenyum didepan mereka


"Tidak, pasti salah paham. Itu bukan aku. Aku juga tidak pernah memamerkan barangku, aku hanya menunjukkannnya pada mereka agar kalau mereka perlu barang itu, mereka bisa meminjamnya padaku" Pikirku


Hal seperti itu tidak hanya sekali dua kali terjadi. Aku memang mulai merasa tidak nyaman dengan hubungan ini, namun aku terus berpikir positif dan tidak mau berperasangka dengan teman-temanku.


"Reiya, kita teman, kan? Boleh pinjam uangmu?"


"Reiya, aku lihat ada toko kue yang terkenal lho disana. Mau pergi bersama? Kau yang traktir, ya"


"Reiya, kau dekat dengan cowok populer itu kan? Kenalin dia denganku, dong!"


"Reiya, lihat PR mu ya. Di kelasku juga ada tugas yang sama dengan yang dari kelasmu"


"Reiya, ibumu itu guru di SMA elit itu, kan? Kau pasti dapat kunci jawaban dari ibumu untuk masuk SMA itu. Jangan lupa beri pada kami. Kita kan teman"


Mereka mulai memerasku habis-habisan, namun aku masih ingin berharap dengan mereka.


"Baiklah, akan aku lakukan untuk kalian"


Dan hingga kini, mereka terus meminta banyak hal yang hanya menguntungkan mereka saja, tapi aku masih ingin percaya pada mereka.


*


Beberapa bulan setelah masuk SMA....


"Eh, Reiya. Aku sangat kesal dengan teman sekelasku. Dia berani-beraninya mengambil penaku, padahal aku membelinya mahal dan itu masih baru. Bantu aku balas dendam padanya!"


Setelah itu, aku dan ketiga temanku mengganggu orang tersebut hingga dia bersujud sambil menangis dihadapan kami memohon ampun.


Saat itu aku merasa bersalah padanya.


"Apa aku dan temanku terlalu berlebihan mengganggunya? Seharusnya tidak seperti ini" Pikirku


Namun di sisi lain aku juga ingin membela temanku.


"Tidak. Dia duluan yang mencuri pena berharga, jadi seharusnya dia sudah siap dengan konsekuensinya" Pikirku


Setelah itu, tidak jarang aku dan temanku mengganggu murid lainnya juga.


*


1 minggu sebelum ulangan kenaikan semester...


"Hey, Reiya, kau sekelas dengan cewek yang sebelumnya berada di peringkat 19 seangkatan itu, kan? Dia juga yang ranking 1 di kelasmu, kan?"


"Oh, maksudmu itu Yurin? Asahi Yurin yang dapat beasiswa itu?" Tanyaku


"Iya! Maksudku dia! Bukankah dia sangat licik?"


"Licik?"


"Masa kau tidak tahu padahal kalian sekelas? Aku yang dari 10-4 saja tahu! Aku dengar dia mengepek dan masuk kesini karena menyogok"


"..." Aku hanya diam tak menanggapinya


"Karena sekelas, jadi aku tahu dengan dia. Dia sejak awal memang pintar. Walau mejanya di belakang, tapi dia tetap aktif di pelajaran, mana mungkin mengepek" Pikirku


"Kau tidak percaya padaku, Reiya?" Tanyanya

__ADS_1


"Tidak. Yurin bisa saja memang melakukannya. Dia meminta materi pelajaran lebih dulu pada guru, makanya dia bisa aktif di kelas"


Aku menyalahkan sesuatu yang benar, dan membenarkan sesuatu yang salah. Aku mencari alasan walau itu tidak masuk akal karena keegoisanku. Aku terus membela mereka karena menganggap mereka teman. Benar-benar bodoh.


__ADS_2