
"Kenapa kau tersenyum, hah?! Merasa hebat karena masuk kelas khusus, sedangkan kami jadi murid buangan?!" Teriaknya dan sekarang bersiap memukulku
"Harusnya aku tahu kalau apapun yang kulakukan itu dinilai salah oleh mereka" Pikirku sambil menitikkan setetes air mata penyesalan
Plak!
Yui langsung memukul tangannya sebelum dia memukulku.
"Aku tidak tahu ini sebenarnya ada masalah apa. Tapi kalau ada yang berani memukul Ririn, aku tidak akan tinggal diam!!" Teriak Yui
"Yui... Pilihan bagus aku mengajakmu kesini" Pikirku
Aku kembali melirik ke mereka bertiga.
"Seperti pendapatku sebelumnya, aku akan melawan kalau ada yang melawanku jika dalam kondisi dimana posisiku serba salah" Pikirku
"Kau bertanya kenapa aku tersenyum, kan?" Tanyaku
"Aku tersenyum karena kagum akan perbuatan kalian" Ucapku
"Kau menghina kami?!"
"Mungkin~" Jawabku
"Kalau memang berani, ayo ke lapangan dan perlihatkan kekuatanmu pada kami!" Teriaknya dan mencengkeram kerah bajuku
"Ayolah~ Kita bukan hewan, untuk apa berkelahi dengan kekuatan, apalagi di tempat umum" Ucapku santai
"Manusia itu disebut makhluk istimewa karena punya otak. Untuk apa ada otak kalau tidak digunakan untuk berpikir? Kalau tidak mau berpikir, jadi hewan saja sana"
"Kalau takut, ya bilang saja!! Tidak usah sok bijak!!" Teriaknya
Dia langsung emosi dan melayangkan pukulan padaku. Tapi aku langsung menghindar dan melepaskan diri dari cengkramannya.
"Walau begini, aku juga cukup jago bela diri" Ucapku
"Yah, itu berkat latihan indra keenam sih" Pikirku
"Lalu, kalau aku dibilang sok bijak, lalu kalian apa? Sampah yang masih berlagak kuat?" Tanyaku
Karena emosi, sekarang mereka bertiga mengepung dan bersiap mengeroyokku.
"Hey, hey!" Teriak Yui dan menarik kerah baju bagian belakang salah satu dari mereka
"Kalau memang berani, jangan main keroyokan! Ayo kita ke hutan samping sekolah ini dan selesaikan masalah kita" Tantang Yui
*
Setelah pulang sekolah, kami berenam langsung ke hutan itu.
"Tidak mau malu karena kalah di tempat umum, makanya mengajak ke tempat sepi. Licik sekali" Gumamnya
"Hey, kami sudah berbaik hati tidak mempermalukan kalian, tapi masih tidak tahu diri!" Teriak Yui
"Sudahlah, tidak akan ada habisnya kalau bicara dengan guguk, Yui" Bisikku
"Guguk yang menggonggong dan mencoba menggigit itu harus dihukum"
Lalu tiba-tiba Izumi, Kagusa dan Kei muncul.
"Mau kami bantu?" Tanya Izumi
__ADS_1
"Kalau kalian ikut campur, nyawa mereka jadi taruhannya. Kami bukan mau saling bunuh" Gumamku
"Lalu, aku dan Yui kesini cuma untuk membantu Reiya"
"Reiya, dari tadi kau hanya diam saja, coba jelaskan pada kami! Apa maksud semua ini?!"
"Tidak tahu malu" Gumam Reiya
"Apa?"
"Dasar tidak tahu malu" Teriak Reiya lalu mendorong salah satu dari mereka hingga terguling.
Reiya masih diatasnya sambil mencengkeram kerah bajunya.
"Apa yang kau lakukan dasar gila!"
Kedua nya menarik Reiya turun dari atas tubuh temannya, tapi sebelum itu terjadi, aku dan Yui sudah menahan mereka masing-masing satu.
"Sudah kubilang, jangan main keroyok" Ucap sinis Yui
Pertempuran pun dimulai, diantara keenam remaja perempuan, sedangkan Izumi, Kagusa, dan Kei keasikan menonton pertunjukan gratis sambil makan cemilan yang entah mereka dapatkan dari mana.
Mereka bertiga sangat agresif. Reiya masih mendominasi pada pertikaian ini karena berada diatas, Yui juga jadi agresif karena lawannya melawan, tapi aku tetap hanya menghindar tanpa melawan.
"Aku tidak mau memukulnya karena yang ada masalah itu mereka dan Reiya, tapi mau sampai kapan aku harus menghindar?" Pikirku
"Pukul leher bagian belakangnya dengan keras!" Teriak Izumi dari kejauhan
"Izumi? Dia masih disini?" Pikirku sambil melirik kearahnya
"Apa yang kau lihat ditengah perkelahian? Mau dipukul?" Tanyanya dan melayangkan tangannya
Tanpa menoleh, aku memukul leher bagian belakangnya dengan keras, dan akhirnya dia tumbang.
Pada pertikaian Reiya....
Saat ini keduanya masih bergulat berguling-guling di tanah sambil saling melempar pukulan.
"Aku... Padahal aku sangat percaya pada kalian. Tapi kenapa kalian mengkhianatiku?" Tanya Reiya dengan mata berkaca-kaca
"Karena kau sangat mudah dimanfaatkan. Apa kau puas sekarang?!" Teriaknya
"...." Reiya terdiam sesaat
"Begitu, ya. Kalau begitu aku tidak akan ragu lagi" Gumamnya
Reiya memungut sebuah ranting yang ada di dekatnya dan bersiap menancapkannya ke wajah lawannya.
"Apa... Yang kau lakukan?" Gumamnya ketakutan
Dengan cepat Reiya menghantamkan ranting itu ke matanya, tapi Reiya langsung menghentikannya sebelum mengenainya.
Tubuhnya langsung gemetar karena kaget. Selagi dia mematung Reiya berdiri lalu menginjak wajahnya.
"Sebagai ganti matamu, aku ingin menginjak-injak wajahmu ini"
Reiya terus menginjak-injak dan menendang wajahnya hingga ia mimisan.
Salah seorang temannya yang jadi lawan Yui ketakutan melihat temannya yang dilumuri darah.
"Reiya, sepertinya kau sedikit berlebihan" Ucapku dan langsung menahannya
__ADS_1
Selagi aku dan Yui menahan Reiya, Izumi berjalan mendekati kami.
"Wow, aku kagum dengannya. Bisa menghajarnya sampai seperti ini, padahal sebelumnya teman dekat" Ucap Izumi
"Ini bukan saatnya bercanda" Gumamku
"Aku yakin dia tidak akan berhenti memukulnya bahkan jika perempuan itu mati sekalipun. Jadi akan aku bantu buat dia tertidur" Ucap Izumi lalu menjentikkan jarinya
Langsung saja, tak lama setelahnya Reiya tertidur.
Lalu, orang yang jadi lawan Yui itu menghampiri temannya yang dipukuli Reiya.
Aku dan Yui langsung memopong Reiya lalu berjalan keluar dari hutan.
Sebelum semakin menjauh dari mereka, aku memberi mereka peringatan.
"Kami menang, jadi jangan coba-coba cari kami lagi. Dan masalah ini jangan sampai ada yang tahu"
*
Setelah keluar dari hutan, kami menaruh Reiya di UKS.
Setelah beberapa menit, Reiya akhirnya sadarkan diri.
"Kau tidak apa?" Tanyaku
Reiya bangun dan duduk di kasur itu.
"Ya, aku tak apa-apa" Jawabnya
Setelahnya, keadaan menjadi hening.
"Um, tolong jelaskan padaku ini apa yang terjadi" Ucap Yui memecah keheningan
"Sebelumnya kau buat masalah pada Ririn, tapi kenapa sekarang malah kalian berteman, sedangkan mereka yang merupakan temanmu kau lawan?" Tanya Yui
"Ceritanya sedikit panjang...."
Reiya pun menceritakannya pada kami, tentang hubungannya dengan temannya yang sebelumnya.
"Begitulah ceritanya"
"Kau bodoh sekali!" Ucap Yui cepat
"Sejak awal sudah terlihat mereka tidak tulus, tapi masih saja" UcapYui
"Bukan begitu...." Gumamnya
"Anggap saja seperti hubungan kalian berdua. Seandainya kau ada di posisiku, kau pasti akan berpikir kejahatan yang dilakukan Yurin adalah salah paham saja, dan kau akan selalu mendukungnya dalam keadaan apapun"
"Aku hanya ingin berpikir positif terhadap temanku. Walau memanfaatkanku, tapi mereka selalu membuatku merasa nyaman seakan aku bos mereka. Aku pikir, itu cara mereka untuk membalas atas semua hal yang kukeluarkan, karena itu aku bertahan dengan mereka"
"Aku mengerti perasaanmu. Aku juga akan terus percaya pada Yui di keadaan apapun" Ucapku
"Tapi, yang jadi masalah adalah kau percaya pada orang yang tak seharusnya kau percayai" Lanjutku
"Kau mungkin tidak sadar, tapi karena mempercayai mereka kau sudah menyakiti banyak orang tak bersalah"
"Benar! Contohnya kasus sebelumnya saat kau memfitnah Ririn!" Lanjut Yui
"Aku sungguh minta maaf soal itu" Ucap Reiya sambil sedikit membungkukkan badannya
__ADS_1
"Aku tidak terlalu bawa serius masalah itu, tenang saja" Ucapku
"Kalau begitu, bolehkah aku berteman dengan kalian?" Tanya Reiya ragu