
Sejak kejadian aku yang menyerang Kirian itu, penyiksaan mereka padaku makin ekstrim.
Dimulai dari mistar besi, jangka, dan akhirnya menggunakan cutter.
Saat akan memasuki masa-masa ujian semester, mereka tak segan melukaiku menggunakan alat-alat tajam untuk mengancamku.
"Kau jangan macam-macam!! Yang jadi peringkat pertama adalah aku!!" Teriak Kirian sambil menodongkan cutter.
Awalnya aku takut karena mereka memang tidak segan akan melukaiku jika menentang mereka.
Tapi...
"Sebentar lagi kau akan ulangan semester? Semangat! Tante menunggu kabar baik kau yang berada di peringkat pertama!!"
Ibu menginginkan aku jadi yang pertama.
"Aku harus melakukan apa yang mama mau. Karena aku hidup memang untuk mama" Pikirku
Akhirnya aku berusaha keras saat ulangan semester.
Lalu saat daftar peringkat sudah ditempel, aku jadi yang pertama dengan nilai sempurna di semua mata pelajaran.
"Gila! Nilainya semua 100. Dia bukan manusia!"
"Setan apa yang dia pakai untuk ulangan ini?"
"Jangan bilang dia mengepek?"
Orang-orang meragukanku yang jadi peringkat pertama, bukannya Kirian. Tapi orang-orang di kelasku hanya diam seakan tahu aku pasti jadi yang pertama.
Dan benar saja, Kirian marah besar karena merasa dipermalukan dihadapan semua orang di sekolah.
"Sudah berapa kali kubilang, akulah yang berada di peringkat pertama!!! Kau sengaja mau mempermalukanku, kan?!!" Teriak Kirian sambil terus memukuliku
Dia terus memukuliku, merobek semua buku tulisku, dan menghancurkan barang di sekitarnya hingga Rio dan Rusen kewalahan untuk menenangkan Kirian.
Setelah Kirian mulai tenang dan tertidur di kamarnya, sekarang giliran Rio dan Rusen yang menyiksaku dengan alasan yang sama seperti Kirian.
Setelah itu aku mulai berfikir.
"Tidak bisa! Aku tidak bisa terus seperti ini!! Setiap hari seluruh tubuhku terasa sakit dan ngilu. Kalau terus seperti ini aku tidak akan bisa bertahan!!" Pikirku
"Aku tidak bisa disini lebih lama lagi! Aku harus pergi, kabur dari rumah ini!!" Pikirku
"Masalah sekolah, umurku masih muda dan masih bisa masuk sekolah lagi tahun selanjutnya. Yang penting aku harus pergi dari rumah ini!!" Pikirku
Di jam 3 subuh, aku pergi dari rumah keluarga Hazuki dengan membawa barang seperlunya saja menggunakan tas sekolah.
Aku sudah tahu tiap sudut rumah ini. Karena tahu ada satpam yang menjaga di gerbang utama, jadi aku memutuskan untuk memanjat pagar di bagian belakang yang penjagaannya agak kurang.
Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya aku keluar dari rumah itu.
"Kabur. Pergi kemanapun itu, asalkan jauh dari sini!" Pikirku
Aku berhasil kabur hingga puluhan kilometer dari rumah itu dengan naik bis menggunakan uang tabunganku, dan setelahnya berjalan ke jalan bersemak yang terpencil.
Hingga matahari sudah tinggi diatas kepala pun belum ada yang menemukanku. Atau mungkin mereka memang tidak mencariku.
Apapun yang terjadi, aku berharap tidak akan bertemu mereka lagi.
Tapi...
Menjelang sore hari, aku merasa sedang dibuntuti oleh seseorang.
"Tidak mungkin! Secepat ini mereka sudah menemukanku?" Pikirku
__ADS_1
Aku bersikap seakan tidak menyadari keberadaan mereka dan mulai mempercepat langkah kaki.
Aku berjalan ke tempat ramai, membaur dengan orang-orang, dan pergi ke gang kecil dengan rasa gelisah.
1 jam berlalu, dan aku masih belum ditemukan mereka.
Saat aku mulai merasa tenang, mereka malah muncul di depanku.
Ada 2 orang pria dewasa dengan setelan jas hitam menghadang jalanku.
Wajahku berubah pucat begitu melihat pria kekar itu.
"Tuan Muda Izumi, sudah cukup bermain petak umpetnya. Anda sudah kalah, jadi ayo kembali. Tuan Hazuki marah besar" Ucap seorang pria itu
"Tidak..." Gumamku panik
Aku langsung berlari balik ke belakang menghindari mereka.
Tapi karena sejak awal seluruh tubuhku penuh luka dan memar, ditambah aku membawa barang di tas ku, jadi pergerakanku tak bisa cepat.
Dengan mudah mereka bisa menangkapku.
"Bersikaplah dewasa. Anda bukan lagi anak kecil yang kalau permintaannya tidak dikabulkan langsung ingin lari dari rumah" Ucapnya sambil menahan tanganku.
Aku menatap tajam mereka dengan kesal. Aku terus berusaha melepas diri, tapi hasilnya nihil.
Dengan paksa mereka menyeretku masuk kedalam mobil, dan membawaku kembali ke rumah keluarga itu.
Setelah sekitar 1 jam perjalanan dan hari mulai gelap, 2 pria kekar itu membawaku ke ruang kerja Tuan Hazuki.
Begitu masuk ke ruang kerja Tuan Hazuki, aku langsung didorong dengan kasar hingga aku berdiri dengan bertumpu di lutut, dan kedua tanganku masih ditahan mereka.
Tuan Hazuki duduk di kursinya dengan tatapan serius dan tajam seakan sedang menungguku datang.
"Ulah apa lagi yang kau lakukan, Arato Izumi?"
"Pasti... Akan dipukul lagi...Atau mungkin lebih parah lagi" Pikirku
Aku menundukkan kepala dengan wajah pucat.
Tuan Hazuki beralih menatap ke 2 pria kekar yang masih menahanku.
"Dimana kalian menemukannya?" Tanya Tuan Hazuki
"Dia bermainnya cukup jauh. Kami menemukannya berada di kota sebelah"
Tuan Hazuki langsung berdiri dan menghampiriku.
Kaki ku langsung gemetar saking takutnya.
Begitu berdiri tepat di depanku, Tuan Hazuki langsung meremas pipiku dan mengangkatnya dengan kasar hingga mata kami bertemu.
"Sudah kuperingatkan padamu sebelumnya, jika kau buat ulah, aku bisa melakukan apapun padamu! Sepertinya selama ini aku terlalu baik padamu hingga kau jadi memandang rendah aku, ya!"
"Dipukul... Dicambuk... Dikurung... Tidak diberi makan..." Pikirku
Otakku secara otomatis langsung memperkirakan apa yang akan terjadi padaku.
Tuan Hazuki mengenadahkan tangannya, dan dengan cepat seorang pria yang satunya langsung mengambil sesuatu dan memberinya ke Tuan Hazuki.
Benar saja, benda itu adalah cambuk.
"Kau harus diberi pelajaran dulu karena sudah membuatku kerepotan hari ini karena ulah kekanak-kanakanmu"
Dan benar saja, sesuai perkiraanku, aku dicambuk,dipukul dan ditendang hingga aku tidak bisa menggerakkan satu jari pun.
__ADS_1
"Lemah sekali! Baru seperti ini sudah tidak bisa bergerak! Kalian berdua, bawa dia ke gudang dan kurung hingga dia sadar akan kesalahannya"
"Baik, Tuan!"
Mereka berdua langsung menyeretku ke gudang yang gelap dan mengunci pintunya.
"Aku kembali lagi... Ke sini..." Pikirku
*
**
Aku dikurung selama 1 minggu. Kali ini kejadiannya tidak jauh beda dengan saat aku dikurung di kediaman Foren. Aku hanya diberi makanan sisa sehari sekali dan segelas air putih untuk bertahan hidup.
Kondisi tubuhku jadi makin buruk karena pengaruh gizi yang kurang, ditambah trauma yang kembali kambuh.
Di hari ke-7 aku dikurung itu, pelayan yang bertugas mengantarkan makanan untukku menemukan aku pingsan.
Akhirnya aku pun dipindahkan kembali ke kamar, tapi tidak mendapat perawatan apapun.
Setelah beberapa jam aku pingsan, aku bangun dan menemukan aku sudah berada di kamarku.
Tak lama setelahnya, masuk seorang pelayan.
"Tuan Muda Izumi, anda sudah sadar? Tuan besar memanggil anda ke ruang kerjanya" Ucapnya
Aku pun mendatangi Tuan Hazuki di ruang kerjanya seperti kata pelayan tadi.
Tok, tok, tok...
"Masuklah"
Saat aku masuk, aku menemukan Tuan Hazuki sedang membaca sebuah buku yang tebal. Begitu melihatku, Tuan Hazuki langsung menutup bukunya dan menghampiriku.
"Bagaimana? Apa sekarang kau sudah tahu apa kesalahanmu?" Tanya Tuan Hazuki
Tubuhku kembali gemetar hebat begitu berhadapan dengan Tuan Hazuki.
"Ma... Maafkan saya. Saya... Sudah melakukan kesalahan..." Gumamku
"Apa kesalahanmu?"
"Sa... Saya... Sudah bertindak seenaknya. Tidak mematuhi paman, dan... membuat paman kerepotan..." Gumamku
"Jadi, apa yang harus kau lakukan sekarang?" Tanya Tuan Hazuki
"Saya... Harus meminta maaf..."
"Benar. Bagaimana caranya?"
"...Maafkan saya. Saya... Sudah berbuat salah..." Gumamku
Dengan cepat Tuan Hazuki memegang bahuku dan menekannya ke bawah hingga aku terduduk.
"Ber...su...jud! Tunjukkan ketulusan permintaan maafmu itu dengan memohon dengan sungguh-sungguh!"
Dengan cepat tanpa pikir panjang aku langsung bersujud di bawah kaki Tuan Hazuki sambil meminta maaf.
Tuan Hazuki berjongkok lalu mengangkat kepalaku dan menatap lekat mataku.
"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan ulangi hal ini lagi. Jika ini terjadi lagi, akan aku pastikan kau aku kembalikan ke kediaman Foren dan menceritakan semua hal ini pada beliau!"
Aku langsung bergidik ketakutan.
Jika kakek tahu, dia takkan segan melakukan apapun, meski aku harus mati. Itulah yang kupikirkan.
__ADS_1
Sejak itu, aku tidak berani lagi melakukan hal yang membuat Tuan Hazuki marah.