
Setelah pulang dari kediaman Foren, aku jadi kepikiran dengan ucapan kakek.
"Mama melakukan itu mungkin karena mama menyukai papa, tapi papa tidak menyukai mama"
"Mama salah karena melakukannya tanpa berpikir panjang. Papa juga salah karena meski dia membenci aku dan mama, tapi dia juga perlu bertanggung jawab" Pikirku
Semakin aku memikirkannya, itu membuatku makin jijik dengan hubungan antara pria dan wanita.
Dan begitu aku teringat dengan pernyataan Mawari sebelumnya, aku malah jadi merasa jijik ketimbang senang.
"Aku tidak ingin berhubungan dengan siapapun. Aku tidak akan mengulangi kesalahan orang tuaku"
"Aku tidak mau menjadi seperti papa yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan istri dan anaknya begitu saja. Aku juga tidak mau menjadi seperti mama yang melakukan hal tanpa berpikir panjang dan memaksakan cinta sepihak"
"Aku tidak mau anakku di masa depan mengalami hal seperti yang aku alami. Jadi aku tidak boleh sembarangan"
"Orang yang akan menjadi istriku harus mencintaiku, dan aku juga mencintainya. Tidak ada paksaan diantara kami."
Itulah tekat yang kutanam. Dengan yakin aku bisa bilang kalau aku tidak akan berpacaran hingga berumur 20 tahun nanti.
*
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah seperti biasanya.
Saat aku membuka loker milikku, aku melihat ada sebuah surat yang tidak pernah kuletakkan sebelumnya.
Aku mengambilnya lalu membuka surat itu.
...Izumi, tolong temui aku...
...di belakang gedung sekolah...
...saat pulang sekolah nanti....
...Ada yang ingin aku...
...katakan padamu....
...Dari Mawari....
Itulah isi suratnya.
Aku sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya. Dia kemarin bilang menyukaiku, jadi pasti akan terjadi sesuatu nanti di belakang gedung sekolah.
"Dia masih tidak mengerti juga meski sudah berapa kali aku katakan" Pikirku
Aku langsung meremas surat itu dan membuangnya ke tong sampah.
Sejak itu, setiap jam istirahat aku hanya duduk di kelas dan tidak keluar untuk menghindari Mawari.
Meski tidak bertemu, tapi tiap hari surat darinya tak henti-hentinya datang.
...Izumi, kenapa kau tidak datang...
...menemuiku? Tolong datanglah....
*
...kenapa kau tak kunjung datang?...
...Aku terus menunggumu....
Surat darinya dengan berbagai kata selalu datang tiap hari.
Semakin lama, aku jadi merasa terganggu olehnya seakan terus diteror.
Sebulan setelah pertama kali dia mengirimku surat, akhirnya aku pun memutuskan untuk menemuinya
"Jika aku tidak mendatanginya, hingga lulus sekolah dia tidak akan berhenti mengirimiku surat. Lebih baik temui dan suruh dia berhenti sekarang" Pikirku
Di jam istirahat, aku berjalan di koridor untuk mengantarkan tugas ke ruang guru di lantai 1.
Saat aku akan ke tangga, aku melihat Mawari dan kedua temannya sedang berbincang-bincang.
Refleks aku langsung sembunyi darinya dan menunggunya pergi.
Saat menunggunya pergi itu, aku mendengar perbincangan mereka.
"Dia sama sekali tidak menanggapi surat dariku, padahal aku terus menerus mengiriminya surat sebulan ini" Gumam Mawari
"Itu artinya dia tidak menyukaimu. Kau harus berusaha lebih keras lagi untuk membuatnya menyukaimu" Jawab temannya
"Padahal kalian tahu sendiri aku mendekatinya itu sejak kelas 8, dan kita sekarang sudah kelas 9"
"Tetap saja~ Kau kurang agresif, Mawari~"
"Kurang agresif bagaimana lagi? Laki-laki lain langsung luluh begitu aku melakukannya, hanya dia sendiri yang seperti itu. Di awal-awal aku merasa mungkin dia mulai menyukaiku, tapi dia tiba-tiba malah menjauh dengan alasan tidak mau aku dimusuhi. Apa-apaan itu?"
"Benar juga. Dia itu korban bully, kan? Seharusnya lebih mudah mendekatinya karena yang dia tahu orang-orang membencinya, tapi dia tidak bereaksi pada Mawari yang begitu cantik dan baik padanya"
"Sudah cukup! Aku sudah lelah. Aku tidak ingin seperti ini lagi" Teriak Mawari
"Tidak bisa~ Kau harus terus menggodanya hingga dia mau berpacaran denganmu"
"Ini tidak adil! Kenapa aku terus?! Sudah cukup, biarkan aku tenang!"
__ADS_1
"Itu karena keberuntungan tidak memihakmu. Kita semua sudah sepakat siapa yang kalah taruhan harus menggoda Izumi dari kelas 9-1, kan?"
"Aku menyerah! Ganti hukumannya dengan yang lain"
"Tidak boleh~ Kau hanya perlu meyakinkannya sedikit lagi, dan dia pasti akan menerimamu. Setelah itu kau bisa langsung mengajaknya putus esok harinya"
"Tidak akan semudah itu. Aku sudah berjuang setahun ini tapi tidak ada kemajuan. Dia tidak akan mudah diajak berpacaran. Jadi ganti saja hukumannya"
"Eh, kita membicarakan hal ini, nanti Arato Izumi itu tiba-tiba lewat bagaimana?"
"Tidak akan. Sejak aku mengirimnya surat, dia jadi terus berada di kelas untuk menghindariku. Tidak usah khawatir" Jawab Mawari
"Ngomong-ngomong, bukannya Arato Izumi itu cukup tampan juga? Terlepas dari dia yang jadi korban bully, dia sebenarnya terlihat berwibawa. Ditambah dengan kejeniusannya itu" Tanya temannya
"Tidak. Hampir di seluruh tubuhnya ada bekas luka. Kalian tidak melihatnya karena hanya melihat dari jauh. Tapi aku yang berdekatan dengannya bisa melihat dengan jelas bekas luka ada dimana-mana"
"Ya ampun~ Aku pernah dengar laki-laki dengan luka itu mempesona~" Ucap temannya yang lain sambil tertawa
"Kalau begitu, kau saja yang coba menggodanya!" Ucap Mawari
"Tidak mau. Nanti pacarku marah~"
"Dasar!"
"Ayo sekarang kita ke kantin. Nanti makanannya keburu habis"
Mereka pun pergi turun kebawah sambil tertawa.
"...."
Aku masih mematung disamping tangga.
Meski aku mendengar sesuatu yang menyakitkan, tapi aku tidak merasakan apapun.
Aku tidak sedih, marah, kesal, atau apapun itu seakan hanya mendengar angin lewat saja.
"Ternyata begitu. Sejak awal aku memang bukan menyukai Mawari sebagai lawan jenis, tapi menyukainya sebagai bentuk rasa terima kasih karena dia mau berbicara denganku" Pikirku
"Meskipun dia melakukannya sebagai hukuman dari temannya, tetap saja berkat dia aku jadi tidak kesepian untuk beberapa saat" Pikirku
Aku pun kembali berjalan ke tujuan awalku yaitu ke ruang guru untuk menyerahkan tugas.
*
Teng... Teng... Teng...
Jam pulang pun berbunyi.
Aku berjalan ke gedung belakang kelas umum untuk menemui Mawari.
Saat aku datang kesana, aku melihat Mawari menunggu dengan wajah seakan mengira aku tidak akan datang. Tapi begitu melihatku, wajahnya langsung ceria.
"Kenapa kau menghindariku akhir-akhir ini? Kenapa tidak merespon surat-surat dariku?" Tanyanya
Aku langsung mendorongnya menjauh dan langsung menjaga jarak.
"Langsung saja ke intinya. Aku datang untuk menyuruhmu jangan mendekatiku lagi dalam bentuk apapun. Lebih baik kita saling tidak mengenal seperti sebelumnya"
"A... Apa maksudmu, Izumi?" Tanya Mawari kaget
"Izumi! Aku menyukaimu. Berpacaranlah denganku!" Teriaknya
"Apa temanmu ada didekat sini?" Tanyaku
"Apa?!" Tanyanya kaget
"Aku tahu kau melakukan ini karena hukuman kalah taruhan dengan temanmu. Jadi aku tanya, apa temanmu ada didekat sini menyaksikan kita?" Tanyaku
"A... Apa maksudmu? Aku tidak mengerti" Ucap Mawari panik
"Kalau mereka tidak ada, bilang saja kita sudah berpacaran. Dengan begitu masalah selesai, kan?" Tanyaku
"Sebagai barang bukti, aku tidak masalah kalau harus berfoto sekali denganmu"
"Tapi aku tidak akan pernah menjawab 'Iya' pada pernyataanmu barusan"
"I... Izumi... A... Aku tidak..." Gumamnya panik
"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Tapi setelah ini, ayo bersikap seakan kita tidak saling mengenal satu sama lain"
"Ma... Maafkan aku! Aku memang mendekatimu karena kalah taruhan dengan temanku. Maaf telah membohongimu" Teriak Mawari
"Aku tidak membutuhkan permintaan maafmu. Jadi, apa temanmu ada disini?" Tanyaku
"Tidak ada. Mereka berpikir kau tidak datang, jadi mereka pulang duluan"
"Baguslah, jadi ini bisa selesai lebih mudah"
"Ka... Kalau begitu, seperti yang kau katakan tadi..." Gumam Mawari
"Tidak masalah" Ucapku
Mawari langsung mencari HP nya di tas.
"Kalau begitu, ayo berfoto sekali untuk meyakinkan teman-temanku"
__ADS_1
Mawari langsung mendekat dan berdiri didepanku.
"Tanganmu taruh di bahuku. Kalau kau datar seperti itu mereka tidak akan percaya" Ucap Mawari
"Tapi itu..."
"Hanya beberapa detik, tidak masalah"
Dengan terpaksa demi tidak berbincang dengannya lagi di masa depan, aku pun mengikuti instruksinya.
Cekrek
"Selesai" Ucap Mawari ceria
"Apa yang kalian lakukan?"
"Suara ini..." Pikirku kaget
Aku dan Mawari menoleh ke sumber suara. Dan benar saja, orang itu adalah Maeru yang bersama Kirian, Rio, dan Rusen.
"Mawari, jelaskan padaku apa maksudnya ini" Ucap Maeru
Mawari langsung tersentak.
"Eru, aku tidak melakukan apapun! Adik sepupumu yang tiba-tiba membawaku kesini lalu mengajakku berpacaran! Aku sudah bilang tidak mau, tapi dia terus memaksa!" Teriak Mawari
Dengan cepat Rio dan Kirian langsung meninjuku, lalu Rusen menghadang pandangan Mawari agar tidak melihatku.
"Dasar tidak tahu malu! Bisa-bisanya mencoba merebut pacar Eru!" Teriak Kirian
"Tidak cukup buat ulah di rumah, sekarang malah mencari gara-gara di sekolah!" Teriak Rio
Mereka berdua terus memukuliku hingga aku mimisan.
"Cukup!" Teriak Maeru
Kirian dan Rio langsung berhenti memukulku lalu Maeru berjalan mendekat.
Maeru langsung menarik kerah bajuku dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku.
"Dasar manusia murahan!! Bisa-bisanya kau malah mencoba merebut pacarku dariku!" Teriak Maeru lalu meninjuku
"kerikil tak berharga sepertimu bisa-bisanya mau berpacaran dengan berlian berharga. Jangan mimpi!!"
Aku sangat kesal saat itu, baik pada Mawari ataupun pada para Tuan Muda Hazuki.
Aku langsung mengambil tasku lalu mengeluarkan semua surat dari Mawari dan melemparnya tepat di wajah Maeru.
"Apa yang lakukan, hah?!" Teriak Maeru
Aku mengelap darah yang mengalir di hidungku lalu menatap sinis Maeru.
"Aku yakin kau bisa membaca. Bacalah sendiri semua surat dari pacar berhargamu yang dikirimnya padaku itu!" Ucapku tegas
Dengan ragu Maeru membuka salah satu surat dan membacanya.
Awalnya Maeru masih tidak percaya dengan yang dibacanya, jadi dia melihat surat lainnya dan isinya mirip dengan yang sebelumnya.
Maeru membuka semua surat itu dan langsung meremasnya sambil menatap sinis Mawari.
"Kau berbohong padaku?" Tanya Maeru
"Eru... Aku... Itu tidak seperti yang kau lihat..." Gumamnya
Plak!
Maeru langsung menampar Mawari.
"Perempuan murahan! Bukan orang lain, tapi adik sepupuku sendiri kau goda! Ada berapa banyak laki-laki simpananmu di kelas umum sebenarnya?" Teriak Maeru
"Eru, tidak seperti itu! Aku terpaksa melakukannya karena kalah taruhan dengan temanku. Yang kusuka hanya kau seorang"
"Pembohong!" Teriak Maeru
"Setelah membohongiku, apa kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu?" Tanya Maeru
"Pergi dari hadapanku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!!" Teriak Maeru
Mawari langsung menangis dan lari menjauh.
Maeru langsung melirik kearahku.
"Kau! Jangan kira masalah ini selesai begitu saja!" Ucap Maeru sinis
Buk!
"Apa yang kau lakukan sampai Mawari bisa tertarik padamu, hah?" Teriak Maeru
"Dasar menjijikkan! Murahan!! Br*ngsek!! Tidak tahu malu!! kau benar-benar membuatku kesal!!"
"Kau itu sebatang kara, tapi kenapa malah masuk ke keluarga orang dan mengganggu saja?! Seharusnya kau mati saja sana!!"
Aku menyesali perbuatanku.
Seharusnya sejak awal saat kelas 8 aku tidak boleh berdekatan dengan siapapun.
__ADS_1
Karena aku, dia dipukul dan diputusi oleh Maeru. Apapun alasannya, seharusnya aku tidak boleh dekat dengan siapapun.
Karena aku adalah pembawa bencana.