Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Episode Spesial 14 : Masa Lalu Kagusa 3 (Izumi dan Kei)


__ADS_3

"..."


Kini sedang ada rapat antar-roh baik di kastil kepemimpinan roh baik.


"Tuan, menurut saya pemimpin roh jahat harus dilenyapkan!! Kalau terus seperti ini, wilayah kita akan dikuasai wilayah lain, yang artinya Tuan bisa saja lenyap"


"Benar, Tuan! Kita tidak bisa membiarkan dia terus berleha-leha menikmati hal ini. Status pemimpin bukan untuk main-main!!"


"Benar! Lenyapkan pemimpin roh jahat!"


"Lenyapkan! Lenyapkan!!"


Para roh baik pun kini menjadi sangat berisik memaksa Kagusa untuk mengeluarkan perintah melenyapkan pemimpin roh jahat.


Hal itu membuat Kagusa marah.


"Cukup, kalian!!" Teriak Kagusa, dan situasi langsung menjadi hening.


Setelah situasi tenang, Kagusa menjawab hal yang mereka ributkan dari tadi.


"Aku mengerti kalian mengusulkan itu untuk kemajuan wilayah ini. Tapi kalian tidak bisa mengedepankan emosi kalian yang seperti itu. Cobalah lihat hal setelahnya"


"Jika kita lenyapkan pemimpin roh jahat, Lalu apa yang terjadi? Wilayah yang tak memiliki pemimpin roh jahat akan makin mudah diserang oleh wilayah lain" Jelas Kagusa


"Tapi Tuan, kita masih bisa memberinya ke roh jahat lain untuk menjadi pemimpin. Pasti tidak akan ada yang menolaknya!" Bantah yang lain


"Dan roh itu kembali menjadi pemimpin roh jahat yang sekarang, seperti itu?" Lanjut Kagusa


"Mereka roh jahat, pikiran mereka tidak bisa kita tebak. Kalau asal beri saja seperti yang kau sarankan, hal sama akan terus terjadi"


"Kita perlu mencari calon pemimpin roh jahat yang baru dengan seksama. Setelah menemukannya, baru lenyapkan pemimpin roh jahat sekarang"


"Kalian mengerti? Jika kita melenyapkannya buru-buru tanpa ada rencana, itu sama saja seperti kita memberi wilayah ini ke wilayah tetangga begitu saja yang sekarang terus berebut kekuasaan"


Keadaan menjadi hening seakan para roh merasa bersalah untuk usulan mereka sebelumnya.


"Baiklah. Rapat kali ini kita selesaikan sampai disini saja"


*


**


Waktu terus berjalan hingga kini roh Kagusa berusia 52 tahun, dan 32 tahun menjadi pemimpin roh baik.


Kini sekolah yang jadi tempat ia sekolah semasa hidup mengalami kejayaan dan menjadi sekolah elit dan bergengsi, berbanding terbalik dengan sekolahnya dulu yang adalah sekolah biasa.


Ditengah Kagusa yang sedang berpikir bagaimana memajukan wilayah, ia tak sengaja melihat seorang murid yang sedang dikeroyok oleh siswa lain di sisi sekolah.


"Lihat sampah itu! Padahal dia sampah, tapi ternyata di peringat pertama. Dia sampah yang beruntung"


"Matilah dia. Tuan muda Kirian dan Maeru pasti takkan diam saja"


"Hihi~ Aku kalau jadi si Arato itu sih sudah bunuh diri duluan daripada menghadapi kehidupan seperti ini"


"Benar~ Gak banget deh hidup kek gitu~ Mending sekalian mati jadi gak mengalami penderitaan. Untunglah aku sekarang hidup enak~"


Itulah percakapan para murid yang ada di dekat Kagusa yang juga menonton pembullyan itu dari kejauhan.


"...."


"Kalian bisa bicara seperti itu karena belum merasakan kematian... Hidup... Kehidupan adalah hal sangat aku cari, tapi pada akhirnya tetap tidak bisa aku dapatkan. Kalian sungguh tidak tahu rasa syukur..."


"Aku yakin... Anak itu juga seperti itu. Dia terus bertahan untuk hidup. Menahan sakitnya karena ingin hidup... Kalian yang hidup enak sejak lahir tak punya hak bicara seperti itu" Gumam Kagusa


Kagusa pun melirik ke sampingnya dan terlihat seorang anak laki-laki yang dipukuli oleh sekelompok murid laki-laki lain.


Kagusa yang penasaran pun akhirnya memutuskan untuk melihat lebih dekat.


"Cara licik apa yang kau lakukan, hah?! Dasar tak tahu malu!!"


"Padahal sudah baik diberi tumpangan gratis dan makan makanan enak, benar-benar tidak tahu berterima kasih!!"


"Mati sana!!"


Pemandangan itu membuat Kagusa teringat sesuatu.


Sesuatu yang mengerikan dan ingatan yang sangat ingin dia hapus.


"Partnerku... Pemimpin roh jahat sebelumnya juga dikeroyok seperti itu... Hingga akhirnya ia lenyap...." Gumam Kagusa


"Bagaimana... Jika nasib anak itu sama... Seperti partnerku?"


Tiba-tiba Kagusa merasa merinding di sekujur tubuhnya begitu teringat detik terakhir rekannya itu.


Kagusa tidak mengenal anak yang sedang dibully itu. Tapi begitu melihatnya ia teringat dengan teman roh jahatnya dan jadi merasa bertanggung jawab untuk menolongnya.


"Siapa nama anak itu?"


Kagusa ingat murid sebelumnya bilang namanya Arato dan berada di peringkat pertama. Jadi Kagusa memutuskan melihatnya di papan pengumuman.


Kagusa pun tahu nama panjang anak itu adalah Arato Izumi.


"Arato Izumi, ya. Aku akan mengawasimu"


Sejak itu, Kagusa terus mengawasi Izumi dan ia pun jadi tahu beberapa plot alasan Izumi di bully.


..."Dasar rendahan! Kau itu cuma numpang di rumah kami, tahu!"...


..."Beraninya kau selangkah lebih depan dari Ian?! Kau menantang Ian, hah?! Ian yang terbaik di sekolah ini!"...


..."Dasar monster terkutuk!! Pergi jauh-jauh sana!! Kau mau membunuh kami dengan kutukanmu itu, seperti yang kau lakukan pada Mama kami?!"...

__ADS_1


Dari 3 petunjuk itu, Kagusa menyimpulkan Izumi tinggal di tempat yang sama dengan si pembully, dan karena si pembully merasa Izumi hanyalah anak luar yang bukan keluarga mereka, jadi seharusnya Izumi terus merendah dari mereka dari hal apapun. Juga alasan lain kebencian mereka itu sepertinya karena ibu mereka meninggal dan tak sengaja Izumi terlibat secara tidak langsung.


Lalu muncul pemikiran di benak Kagusa.


"Apa sungguh tidak ada orang yang berpihak ke Arato Izumi ini? Dari ratusan orang di sekolah ini, tidak ada satupun? Bagaimana dengan para guru? Apa mereka sungguh tidak tahu ada pembullyan yang sangat parah seperti ini di lingkungan sekolah?" Pikir Kagusa


Setelah menyelidikinya sedikit, Kagusa pun tahu penyebabnya.


"Ternyata salah satu dari pembully itu anak kepala sekolah. 3 lainnya adalah putra dari direktur perusahaan besar dan mereka adalah sepupu. Jadi para murid berpihak ke mereka dan para guru menutup mata soal itu karena tidak mau cari masalah" Pikir Kagusa


"Astaga... Kupikir sekolah ini sungguh jadi makin maju seiring berjalannya waktu, tapi ternyata makin bobrok dan dipenuhi manusia tak bermoral. Bisa-bisanya mereka semua sesekolah menyerang satu orang murid berprestasi seperti ini?"


Kagusa ingin membantunya. Tapi tidak bisa karena dia hanyalah roh gentayangan yang tidak memiliki tubuh.


Disaat Izumi sedang bersembunyi dari para pembully di gudang sekolah, Kagusa duduk disampingnya menemani Izumi.


"Aku tau kau tidak bisa melihatku. Tapi setidaknya kau sekarang tidak benar-benar sendirian" Ucap Kagusa


Hanya itu yang bisa Kagusa lakukan untuk Izumi sekarang.


Lalu tiba-tiba....


"!!!"


Kagusa tersentak.


"Ada roh jahat yang bersembunyi! Apa dia mau menyerangku?!" Pikir Kagusa dan bersiaga di sekitarnya.


Tapi setelahnya Kagusa tidak merasakan kehadiran roh jahat itu lagi. Sepertinya roh jahat itu tau kalau Kagusa menyadari kehadirannya, jadi dia memutuskan untuk pergi.


"Siapa roh itu? Apa aku perlu mengejarnya?" Pikir Kagusa


Dan ditengah Kagusa menimbang-nimbang mengejar roh itu atau tidak...


Brak!!


Pintu gudang didobrak oleh sekelompok siswa.


"Hey, hey~ Tidak seru mainnya kalau kau lari terus seperti itu~"


"Cepat keluar dan bersihkan sepatu kami!"


"Kau membuang waktu kami cuma untuk mencarimu. Kau perlu diberi pelajaran!"


Mereka pun menendangi Izumi secara bersamaan di gudang itu.


Kagusa hanya mematung tak bisa berkata-kata melihat para pembully tak memiliki hati itu.


Setelah mereka puas menendangi Izumi hingga tubuhnya gemetaran, mereka menarik kerah baju belakangnya dan menyeretnya keluar.


"Bahaya... Sangat berbahaya..." Gumam Kagusa


"Aku yakin ini sudah terjadi sejak dulu. Ini bukan sekali dua kali terjadi"


"Mati..."


*


**


Keesokan harinya, di kastil kepemimpinan roh baik...


"Apa? Cara untuk menyelamatkan manusia?" Tanya bawahan Kagusa


"Ya. Ada sesuatu terjadi dan manusia itu perlu pertolongan, tapi tidak ada yang memedulikannya. Aku kasihan padanya"


"Yah... Tidak ada yang bisa kita lakukan ke manusia... Kita sudah mati, pemimpin. Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Dunia kita dan mereka beda"


"Kita juga tidak bisa menampakkan diri didepan manusia sembarangan. Dan kalaupun bisa, yang ada manusia itu ketakutan melihat kita"


"...."


"Apa sungguh tidak ada yang bisa aku lakukan?" Pikir Kagusa


Kagusa juga sadar akan hal itu. Dia tau memang tidak ada yang bisa roh lakukan untuk manusia normal seperti Izumi selain hanya mengawasinya.


"..."


"Maafkan aku, Arato Izumi"


*


Terlepas dari tugas kepemimpinannya, hari-hari Kagusa kini diisi dengan ia yang mencari calon pengganti pemimpin roh jahat dan mengawasi Izumi.


Dan makin hari juga Kagusa makin khawatir dengan Izumi hingga Kagusa berpikir Izumi bisa mati kapan saja.


"Mereka bahkan tidak segan memakai benda tajam untuk melukainya. Ini sudah kelewatan untuk sebatas rasa iri. Juga para orang dewasa seharusnya bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini"


Kirian, Maeru, Rio dan Rusen kini kembali mengeroyok Izumi yang berada di meja tempatnya.


Setelah puas, mereka ber-4 pun pergi keluar kelas.


Langsung saja Kagusa mendekat ke Izumi. Karena dikeroyok itu, jaket yang Izumi kenakan lepas, juga kerah bajunya jadi longgar. Karena itu terlihat luka di tangan dan sekitar leher dan dadanya.


"Tangannya sudah penuh oleh luka dan lebam. Wajah juga lehernya juga banyak lebam. Pantas saja selama ini dia pakai jaket, jadi setidaknya luka di tangannya bisa ditutupi"


Kagusa sangat kasihan melihat Izumi.


"Bagaimana... Kalau aku coba beri kekuatanku ke dia..." Gumam Kagusa


Kagusa pun menyalurkan kekuatannya ke tangan dan memberinya ke Izumi untuk menyembuhkan lukanya. Tapi itu sia-sia. Kekuatan Kagusa menolak masuk ke tubuh Izumi karena Izumi manusia normal yang tidak memiliki kekuatan indra keenam.

__ADS_1


"Memang tidak bisa, ya..."


Lalu, Kagusa merasakan kehadiran roh jahat yang sama seperti sebelumnya tak jauh dari tempat Kagusa dan Izumi kini berada.


"Dia datang lagi. Kali ini tidak akan aku biarkan begitu saja!!" Pikir Kagusa dan langsung mengejar roh jahat itu.


Begitu Kagusa berada di koridor, tampak salah satu pembully Izumi, Rusen, terjatuh ketika berjalan disaat murid-murid sedang ramai-ramainya berlalu lalang di koridor.


"Aduh, Ruu. Hati-hati dong kalau jalan. Yang malu bukan kau sendiri, tau" Ucap Rio kesal


"Aku tiba-tiba terjatuh sendiri" Bantah Rusen


"Jangan buat alasan!"


Kagusa melihat ke sekeliling, dan menemukan roh jahat yang dicarinya di ujung koridor.


"Ini ulang roh jahat itu!" Pikir Kagusa


Kagusa langsung teleportasi dan menyerang roh jahat itu dengan cepat.


Zungggg!!


Serangan Kagusa dengan mudah ditepis roh jahat itu.


"Serangan ini memang bukan serangan terkuatku, tapi setidaknya sudah cukup untuk melawan roh tingkat atas. Dia dengan mudahnya menangkisnya, artinya dia di tingkat master" Pikir Kagusa


Kagusa langsung mundur dan menjaga jarak dengan roh jahat itu.


"Jelaskan padaku apa alasanmu mengawasiku akhir-akhir ini?!" Teriak Kagusa


Roh jahat itu hanya tersenyum seakan menahan tawa.


"Apa yang kau tertawa---"


Kagusa tersentak dan tak melanjutkan ucapannya begitu melihat wajah roh jahat itu dengan seksama.


"Kau sangat tidak sopan, pemimpin roh baik. Tiba-tiba menyerang seperti itu padahal aku tidak melakukan apapun, tidak ada arti lain kecuali kau cari ribut denganku"


"Kau..." Gumam Kagusa


"Benar juga, aku belum memperkenalkan diri, ya. Namaku Kei, tangan kanan pemimpin roh jahat"


"Omong-omong, sebelumnya juga kita pernah bertemu di perbatasan saat pemimpin roh jahat sebelumnya lenyap, kan? Lama tak bertemu"


Emosi Kagusa makin memuncak begitu tau dia salah satu dari roh yang melenyapkan rekannya.


"Dasar tidak tahu malu!! Jadi sekarang kau mau melenyapkan aku juga setelah kalian melenyapkan temanku?!" Teriak Kagusa


"Pfftt! Hahahaha!!"


Kei tertawa kencang mendengar itu.


"Ah, maafkan aku. Aku tidak bisa menahannya lagi" Gumam Kei dan masih tertawa kecil


Ditengah Kei yang masih tertawa, Kagusa kembali menyerang Kei. Kali ini dia menggunakan kekuatannya yang besar.


Duar!!


Muncul ledakan dan asap mulai mengepul. Begitu ledakannya reda dan asap mulai hilang, terlihat Kei yang menahan serangan Kagusa.


"Sepertinya ada salah paham. Aku sama sekali tidak tertarik dengan roh baik"


"Kalau begitu kenapa kau memperhatikanku?!" Teriak Kagusa


"Itu juga kau salah paham. Aku bukan memperhatikanmu, tapi anak yang di bully itu"


"Arato Izumi?!" Pikir Kagusa kaget


"Apa tujuanmu memperhatikannya?! Kuperingatkan! Jika kau macam-macam ke anak itu, aku tidak akan tinggal diam!!" Teriak Kagusa.


"Roh jahat berbeda dengan roh baik. Roh baik tidak bisa berbuat apa-apa ke manusia yang masih hidup. Tapi jika itu roh jahat, dia bisa menghasut manusia untuk melakukan kejahatan untuk kepuasan dirinya sendiri. Untuk beberapa hal juga roh jahat bisa melukai manusia karena kekuatannya yang berasal dari dendam"


"Kalau dia yang adalah tangan kanan pemimpin roh jahat sampai menandai Arato Izumi sebagai targetnya, situasinya bahkan jauh lebih berbahaya dari yang kupikirkan" Pikir Kagusa khawatir


"Astaga. Kau salah paham untuk semua situasi ini, ya. Tenang saja, aku tidak ada niatan membunuh anak itu"


"Kau tidak bisa dipercaya!" Ucap Kagusa tegas dan makin memperkuat kekuatannya untuk menekan Kei.


Trang!!


Kei menepis serangan Kagusa itu dan mundur menjaga jarak.


"Jika kulihat lagi, kau juga tertarik dengan anak itu. Kalau begitu aku juga berada di pihakmu"


"Jangan bercanda!!" Teriak Kagusa dan melempar serangan ke Kei


Zras!


Serangan itu kembali ditangkis Kei.


"Aku serius. Orang seperti mereka yang ada di sekolah ini, aku sangat membencinya. Mereka semua tidak bermoral"


Kagusa menyeringai mendengar ucapan Kei.


"Kau yang melenyapkan temanku bicara soal moral? Lucu sekali!!"


"Bagiku, kau tak ada bedanya dengan mereka para pembully Arato Izumi! Kalian sama-sama mengeroyok satu orang hanya untuk kepuasan diri kalian sendiri. Kau tak ada hak bicara seperti itu!!"


"...."


"Terserah kau mau bilang apa, itu juga bukan sesuatu yang penting"

__ADS_1


"Tuan sudah menungguku. Kalau begitu aku pergi dulu"


Kei pun pergi begitu saja dari hadapan Kagusa.


__ADS_2