Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Misteri Izumi


__ADS_3

Setelah Izumi, Hana dan Niki pergi dari rumahku karena mereka harus mengerjakan tugas mereka sebagai pemimpin, sekarang aku sendirian di rumahku.


Aku memainkan ponselku di kamar untuk menghilangkan rasa bosan hingga sore hari.


"Tidak terasa sudah jam 5 lebih. Papa dan Mama sebentar lagi pulang, jadi aku mandi dulu sebelum mereka pulang" Gumamku lalu pergi mandi.


Setelah selesai mandi, aku kembali masuk ke kamarku dan duduk di meja belajarku sambil memperhatikan langit yang berwarna oranye.


"Hidupku benar-benar berubah ya sekarang..." Pikirku


"Sebelumnya, aku selalu merasa bosan di rumah karena Mama dan papa selalu pergi bekerja, dan aku sendiri juga tidak punya saudara. Karena itu kemampuan komunikasiku kurang baik karena aku tidak terlalu banyak bicara"


"Tapi sejak aku terikat dengan Izumi, rasanya aku benar-benar seperti bukan diriku saat 6 bulan lalu"


"Aku yang sebelumnya hanya berharap memiliki teman seadanya yang bisa aku ajak bicara dan hidup normal, malah jadi bertemu banyak hal yang tak pernah aku duga sebelumnya"


"Dan yang paling tidak diduga, semua hal itu terjadi hanya karena sebuah buku" Pikirku dan melirik buku tebal milik Izumi


Aku mengambil buku Izumi yang aku susun bersama beberapa buku milikku yang lain.


"Sebelumnya buku ini isinya gambar, kan? Aku mau lihat sekali lagi. Mungkin isi buku ini ada hubungannya dengan Izumi" Pikirku


Aku membuka buku itu dan kaget.


"Bukunya... Kosong..." Gumamku


Entah kenapa aku merasa sedikit panik dan merinding. Dadaku juga mulai terasa tidak nyaman.


Aku membalik satu per satu halaman di buku itu, namun sama sekali tidak ada noda pena di kertasnya.


"Bagaimana bisa? Padahal sebelumnya ada isi" Pikirku


Aku terus membalik halaman buku itu dan akhirnya mencapai di halaman terakhir.


Di halaman terakhir itu memang tidak terdapat tulisan atau noda pena. Namun, terdapat bercak darah di seluruh halaman terakhir bersama sampul belakang bagian dalam buku.


Dadaku mendadak berdetak sangat kencang hingga membuat tanganku sedikit gemetar.


"Da... Darah..." Pikirku


Perlahan aku memegang bercak darah itu dan darah itu terasa sedikit hangat dan licin seakan baru saja menempel di buku itu. Hatiku semakin gelisah entah karena khawatir, takut, atau apapun itu.


"Ada apa, Ririn?"


"Ah!"


Aku dikagetkan oleh orang tuaku yang sudah kembali dari bekerja. Cepat-cepat aku langsung menutup buku Izumi dan menaruhnya kembali.


"Ah, em, aku sedang membaca buku" Ucapku panik dan langsung menghadap orang tuaku yang berdiri di depan pintu


"Mama pikir ada apa karena kau bahkan tidak menyadari Mama dan Papa pulang"


"Ah, maaf, karena aku terlalu fokus membaca, aku jadi tidak sadar Mama dan Papa pulang"


"Yasudah, tidak apa. Kau lanjutlah membaca lagi" Ucap Papa. lalu mereka berdua keluar dari kamarku

__ADS_1


"Aah, aku sangat kaget..." Pikirku. Aku menghela nafas panjang untuk menenangkan diri


"Ayo buka sekali lagi" Pikirku


Aku kembali mengambil buku Izumi dan membukanya. Saat aku membukanya, buku itu sudah benar-benar kosong, tanpa ada apapun di dalamnya.


*


Di malam hari, aku sudah berbaring di kasurku dengan mata menatap langit-langit kamar.


"Izumi..." Gumamku


....


"Izumi, cepat kesini" Gumamku


....


Tidak ada jawaban dan Izumi juga tidak datang.


"Ada apa ya? Biasanya kalau aku memanggil dia, dia langsung datang. Bahkan walau tidak aku panggil pun biasanya dia datang" Pikirku


"Hana..." Gumamku


"kakak memnggilku?" Tanya Hana


"Ah, ternyata bisa" Gumamku lalu aku bangun dan duduk berhadapan dengan Hana.


"Kenapa aku bisa memnggilmu?" Tanyaku


"Lalu, kakak memanggilku untuk membahas soal kak Izumi, kan?"


"Iya. Itu, sekarang kira-kira dia sedang apa?" Tanyaku


"Di jam segini, biasanya pemimpin roh jahat sedang mengurus para roh jahat. Baik itu menyuruh mereka melakukan sesuatu atau menghukum mereka jika melakukan kesalahan"


"Niki juga sekarang sedang bertemu dengan bawahannya" Ucap Hana


"Apa ada kemungkinan dia akan terluka saat bertemu bawahannya?" Tanyaku


"Tentu ada, karena mereka adalah roh jahat" Jawab Hana


Aku jadi semakin khawatir.


"Sebelumnya di buku itu ada darah, kan. Apa itu ada hubungannya dengan Izumi?" Pikirku


"Tapi aku tidak merasa sakit dimanapun" Pikirku


"Tapi Hana, sebelumnya Izumi sering bertemu denganku saat malam hari. Mau itu saat masih masa sekolah, atau libur sekarang" Ucapku


"Sebenarnya untuk mengurus bawahan seperti itu, masih bisa diwakilkan oleh roh yang sama kuatnya dengan pemimpin. Roh itulah yang menjadi kaki tangan pemimpin dan membantu pemimpin melakukan tugas"


"Bisa saja selama ini kak Izumi diwakilkan untuk mengurus roh, atau dia sedikit menunda pekerjaannya dan melakukan tugasnya saat kakak sudah tidur"


"Namun seharusnya sekarang dia baik-baik saja, kan? Olehnya aku baik-baik saja"

__ADS_1


Hana menggelengkan kepala pelan dengan mata memeram.


"Aku juga tidak bisa menjamin. Setidaknya, aku yakin kak Izumi tidak lenyap"


"Kenapa kau bisa bilang begitu? Padahal aku yang terikat dengan Izumi sekarang baik-baik saja" Tanyaku


"Aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya kak Izumi melakukan sesuatu pada ikatan kak Yurin" Ucap Hana


"Maksudmu?"


"Sebelumnya saat kami melakukan sumpah setia, tangan kak Izumi terluka akibat asap miliknya, kan? Aku bisa tahu kalau itu bukan luka biasa karena luka itu diakibatkan kekuatannya sendiri yang begitu besar"


"Seharusnya saat itu kak Yurin menerima akibat dari luka itu dan dilihat dari lukanya, setidaknya kak Yurin merasakan tangan kakak bagai terbakar dengan rasa panas dan perih secara bersamaan. Tapi kak Yurin tak merasakan apapun, kan?"


"Mungkin kak Izumi memasang pelindung pada ikatan kak Yurin biar kakak tidak menerima akibat yang begitu besar"


"Ah, kalau diingat-ingat tadi siang saat aku meninju perut Izumi karena dia memanas-manasi Hana dan Niki pun aku tidak merasakan apapun" Pikirku


"Itu artinya, sekarang bisa saja dia sedang bertarung dengan roh dan terluka, ya" Gumamku


"Tidak juga. Itu masih tidak pasti" Jawab Hana


"Selain mengurus roh jahat, bisa saja kak Izumi melakukan hal lain karena dia juga pemimpin roh baik"


"Bisa juga dia sedang beristirahat sekarang setelah kelelahan mengurus roh dan tertidur nyenyak hingga tidak mendengar panggilan kakak"


"Aaah, entahlah. Aku juga tidak tahu sekarang kira-kira kak Izumi sedang melakukan apa"


"Gerak-gerik maupun pikiran kak Izumi sangat sulit ditebak. Semua kemungkinan bisa terjadi jika itu adalah kak Izumi"


Aku terdiam sebentar.


"Hana, kau tahu soal Izumi seberapa banyak?" Tanyaku


"Cukup banyak untuk roh yang baru beberapa hari bertemu dengannya. Aku sudah mencari tahu soal kak Izumi sejak kalian terikat melalui bawahanku" Jawabnya


"Kalau begitu, beri tahu aku"


"Arato Izumi, pemimpin roh baik dan jahat, roh yang paling meresahkan warga sekolah karena terus meneror murid-murid dan guru hingga bertahun-tahun setelah kematiannya yang dianggap dia melakukan bunuh diri. Saat awal menjadi roh, dia telah menjadi roh jahat tingkat tinggi yang sangat jarang terjadi. Namun tiba-tiba roh baiknya bangkit dan akhirnya dia menjadi pemimpin di dua jenis roh"


"Aku... Aku sudah mengetahui sebagian besar hal yang kau katakan. Tapi yang aku maksud, hal yang lebih khusus lagi"


Hana hanya tersenyum mendengar ucapanku itu.


"Tidak seharusnya aku memberi tahu hal itu, karena itu adalah hidup kak Izumi. Jadi kak Izumi sendiri yang harus memberi tahunya"


"Dan jika kakak mengetahuinya sebelum kak Izumi ingin kakak tahu, aku takut akan terjadi sesuatu"


"Apa maksudmu?" Tanyaku


"Kalau kakak ingin terus dekat dengan kak Izumi, maka kakak sama sekali tidak boleh tahu tentang dirinya. Karena begitu kakak mengetahuinya, hubungan kalian akan merenggang dengan sendirinya. Tak hanya itu, kemungkinan lainnya yang lebih parah lagi masih ada"


"Kak Izumi bisa bertingkah seperti itu padaku dan Niki pun karena kak Izumi tidak tahu kalau aku mengetahui kehidupannya dulu. Seandainya dia mengetahuinya, sejak awal dia takkan kesini, apalagi berbicara dan bahkan melakukan sumpah setia"


"Jika kakak penasaran, tanya saja padanya langsung. Ah, tidak. Jangan tanya. Kakak harus menunggunya sampai dia sendiri mengatakannya"

__ADS_1


"Karena kau mengatakan itu, aku jadi semakin penasaran..." Gumamku


__ADS_2