
"...."
Reiya duduk termenung dengan menundukkan kepalanya di lantai.
"Kau... Tidak apa-apa?" Tanyaku lalu mendekatinya dan berjongkok di hadapannya.
"Aku tidak baik-baik saja... Padahal aku sudah berusaha keras untuk berteman dengan mereka..." Gumam Reiya
"Aku tahu sejak awal mereka hanya memanfaatkanku. Aku tahu sejak awal mereka tidak sepenuhnya menganggapku teman, tapi aku tetap ingin berteman"
"Tapi... Kalau aku mendengarnya dengan suara mereka seperti ini, aku..."
Aku menggenggam bahunya lalu mengangkat kepalanya.
"Orang seperti itu tidak bisa disebut teman! Seorang teman tidak akan memperalat temannya sendiri untuk kepentingan pribadi.
"Lupakan mereka demi dirimu sendiri. Kau akan semakin hancur jika terus bersama mereka. Mereka menerbangkanmu tinggi keatas langit, dan setelahnya menghempaskanmu turun. Kau mengerti maksudku, kan?"
"Kau tidak akan mengerti...." Gumam Reiya dengan mata berkaca-kaca
"Hanya mereka yang mau memperhatikanku meski mereka penjahat sekalipun"
"Kau salah!" Ucapku tegas
"Mereka sejak awal tidak pernah memperhatikanmu! Dan yang memperhatikanmu banyak, namun bukan mereka"
"Apa maksudmu?"
Aku berjalan ke pinggir pagar pembatas dan menunjuk ke para murid yang berbondong-bondong berjalan keluar sekolah.
"Kau tidak tahu kalau kau sangat terkenal di sekolah ini?" Tanyaku
"Reiya yang baik, pintar, dan cantik. Mereka mendambakanmu"
"Kau terlalu terobsesi pada teman pengkhianatmu itu, sehingga kau tidak memperhatikan sekelilingmu dengan baik. Sekarang bukalah matamu lebar-lebar dan jangan biarkan siapapun mengontrol dirimu"
Reiya terdiam sambil menatapku, lalu dia berdiri dan menghampiriku.
"Terima kasih, dan maaf soal kejadian sebelumnya"
"Tidak! Aku tidak menerima ucapan terima kasih! Aku tidak melakukan apapun!" Ucapku tegas
"Kau telah menolongku---"
"Kau salah paham! Aku tidak sedang membantumu. Aku melakukannya hanya karena tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, oke! Jadi tidak usah terbebani"
Reiya tersenyum lalu menatapku dengan lekat.
"Kau tahu? Awal pertemuanku dengan mereka juga sebuah ketidaksengajaan dan saat itu mereka sama sekali tidak berniat berteman denganku"
"Bukan tidak mungkin hal yang mirip kembali terulang sekarang"
"Jadi... Maksudnya dia mau berteman denganku?" Pikirku
"Apa kau tidak takut aku seperti mereka?"
"Aku yakin kau tidak seperti itu. Dan walau kau seperti itu pun tidak masalah, karena kau telah menolongku"
"Dia... Pemikirannya sedikit aneh. Dia terlalu terobsesi dengan setiap orang yang baik sedikit padanya" Pikirku
"Lalu, apa yang mau kau lakukan terhadap ketiga temanmu itu?" Tanyaku
"Maksudmu?" Tanya Reiya
"Tidak mungkin kau mau membiarkan mereka begitu saja, kan? Setidaknya harus membalas mereka untuk keuntungan yang mereka dapat!"
*
Setelah itu, aku turun dan mencari Yui untuk pulang.
"Kau dari mana saja?! Aku baru saja mau pulang karena berpikir kau sudah pergi duluan" Ucapnya kesal
"Tadi ada urusan sebentar. Sekarang ayo pulang"
"Yasudah, ayo pulang"
*
Di sisi lain sekolah,
__ADS_1
Di sebuah koridor di lantai 3 yang sepi.
"Reiya, kau habis pergi kemana?"
"Ibu memanggilku tadi" Gumam Reiya
"Oh ya? Aku tidak terlalu peduli dengan pembicaraan ibu-anak. Omong-omong, aku minta kunci jawaban ulangan besok ya"
"...."
Reiya hanya diam tidak menanggapinya.
"Hei, kau kenapa?"
"...."
Reiya teringat kejadian beberapa hari lalu sebelum ulangan dimulai.
Malam hari di rumah Reiya....
"Ibu, aku minta soal untuk ulangan nanti"
"Apa?! Soal ulangan? Kalau untuk kesenian mungkin ibu bisa beri, tapi ibu tidak bisa membantu untuk pelajaran lain!!"
"Ibu kan bisa meminta dari guru lainnya"
"Tidak!! Sebuah aib jika ibu memohon minta soal ulangan pada guru lain!"
"Jika kau ingin nilai tinggi, maka belajarlah sendiri. Jangan merusak nama baik keluarga kita!"
Lalu, keesokan paginya di sekolah....
"Ibu tidak memberiku soal ulangan nanti"
"Kalau begitu, kau tinggal langsung minta ke guru yang membuat soalnya, kan?"
"Apa? Meminta langsung?"
"Mau bagaimanapun, semua guru di sekolah ini tau kau putri dari guru seni. Tidak akan jadi masalah kalau kau memintanya"
"Tapi ibu bilang...."
Akhirnya, aku mengikuti ucapan temanku dan menemui guru yang membuat soal di berbagai mata pelajaran. Ada beberapa yang memberiku, namun tidak sedikit yang tidak memberinya.
Dan tentu saja, ibuku mengetahui kalau aku meminta soal pada guru melalui guru-guru yang aku mintai tadi.
"Kau ini benar-benar keterlaluan!! Apa kau tidak tahu seberapa malunya ibu mendengar kau meminta soal ulangan pada guru lain?! Sudah ibu bilang, kalau mau nilai bagus, ya belajar!!"
"Ini... Temanku memintaku---"
"Teman, teman, teman, teman. Kau selalu menggunakan teman sebagai alasan!"
"Aku tidak berbohong, bu. Mereka yang memintaku meminta soal ulangan...."
"Lagi?! Sebelumnya juga bukankah mereka minta tolong dimasukkan ke SMA ini?"
"Reiya, kau ini benar-benar bodoh! Ibu tidak tahu kau mendapatkan kebodohan ini dari siapa, padahal ayah dan ibu tidak sebodoh ini. Apa mungkin semua kepintaran kami diambil habis oleh kakakmu, Lina hingga kau seperti ini"
"Kalau seperti ini, lebih baik kau sama sekali tidak punya teman. Kenapa kau mau berteman dengan mereka? Gunakanlah sedikit otakmu jika memang ada!"
"Sebelumnya saat aku tidak punya teman ibu menyuruhku mencari teman. Tapi giliran aku punya teman malah disuruh tidak usah punya teman..." Pikirku
"Dan.... Lagi-lagi ibu membandingkanku dengan kakak"
*
Kembali ke sekarang.
"Kalau dipikir-pikir, apa yang ibu katakan mungkin memang benar. Aku sangat bodoh hingga mau mengikuti semua kemauan mereka" Pikir Reiya
"Reiya, dari tadi kau terus bengong. Mana kunci jawabannga?"
Reiya menundukkan kepalanya dan kembali teringat ucapan Yurin saat di atap tadi.
"Tidak mungkin kau mau membiarkan mereka begitu saja, kan? Setidaknya harus membalas mereka untuk keuntungan yang mereka dapat!"
Reiya menggertakkan gigi dan mengepalkan erat kedua tangannya.
"Ya, akan ku beri besok pagi"
__ADS_1
*
**
Keesokan harinya, seperti biasa aku dan Yui berangkat ke sekolah bersama.
Saat didepan gerbang, tanpa disengaja aku dan Yui bertemu dengan Reiya dan ketiga temannya.
"Wah, apa dia mau cari ribut lagi pagi-pagi?" Gumam Yui
"Eh? Reiya masih bersama mereka bertiga? Bukannya Reiya tidak mau berteman dengan mereka lagi?" Pikirku kaget
Reiya dan ketiga temannya berjalan masuk, lalu Reiya melirik ke arahku sekilas dan lanjut berjalan.
"Apa maksudnya itu?" Pikirku
*
Setelah sampai di ruang ujian, aku langsung duduk di kursi tempatku, begitu juga dengan Reiya.
Karena masih ada sekitar setengah jam lebih hingga ujian akan dimulai, jadi aku memutuskan membaca buku.
Tak lama kemudian, salah seorang teman Reiya datang dan menghampiri Reiya, dan pandanganku teralihkan ke mereka.
"Reiya, mana?" Bisiknya
Reiya langsung merogoh sesuatu dari tasnya dan memberikan secarik kertas yang dilipat kecil ke temannya secara diam-diam.
"Itu kunci jawaban?" Pikirku
"Apa dia masih mau percaya dengan temannya itu? Yah, aku tidak akan ikut campur lebih dalam lagi, jadi terserah dia" Pikirku dan kembali fokus ke buku yang kupegang.
*
**
Di saat yang sama, di sisi lain dunia.
Di perbatasan hidup dan mati...
"Tuan Maeru, ada apa anda memanggil kami semua kemari?"
Para roh jahat berkumpul sambil berlutut dihadapan Maeru.
"Hey, kalian tahu~? Aku terpikir suatu ide yang sangat cemerlang untuk keberlangsungan aku yang akan jadi pemimpin. Aku yakin ini akan sangat efektif"
"Beri tahu kami bagaimana caranya, Tuan! Kami akan melakukan apapun untuk anda"
"Kalian yakin~?" Tanya Maeru
"Tentu saja"
Maeru langsung tersenyum. Dia mengulurkan tangannya kearah sekumpulan roh itu, dan membuat mereka tak bisa bergerak dengan kekuatannya.
"Tu... an... a... pa... i... ni" Gumam salah satu roh jahat dengan terbata-bata
"Kalian bilang akan melakukan apapun untukku. Dan ide cemerlang yang terlintas di kepalaku adalah melenyapkan kalian semua satu persatu dan mengisap semua kekuatan kalian tanpa tersisa sedikitpun"
Maeru mendekati roh yang bertanya tadi lalu menggigit lehernya hingga daging yang Maeru gigit lepas dari lehernya.
"Argh!"
Maeru mengunyah daging itu dan menelannya.
"Mmm! Benar saja, sesuai dugaanku kekuatan itu menyebar di seluruh tubuh, tidak hanya di pusat tubuh. Dan lagi, kekuatan sang master benar-benar berbeda dengan tingkat bawah yang sama sekali tidak terasa kekuatannya" Gumam Maeru
"Apa...."
"Aah~ Aku belum bilang ke kalian, ya~ Aku sudah melenyapkan semuanya yang ada di tingkat menengah dan bawah, yang tersisa sekarang tingkat atas dan master"
"Daripada jiwamu hilang sia-sia setelah lenyap, lebih baik aku memakanmu. Jadi seluruh kekuatanmu akan berada padaku"
"Tidak.... Tuan...."
Maeru mendekatkan mulutnya ke telinga roh itu.
"Aku sudah bertanya pada kalian, dan kalian sendiri yang bilang akan melakukan apapun. Sekarang sudah terlambat kalau ingin menyesal" Bisknya lalu menggigit daun telinganya hingga putus
"Agh..."
__ADS_1
"Malam ini akan jadi malam yang panjang~"