Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Episode Spesial 6 : Iruki si Pembasmi Roh 2 (Kehancuran Hidup Iruki)


__ADS_3

"Bagiku, keluarga lebih penting dari segalanya walau bagimanapun sifat kakak" Ucap Iruki datar.


"Kakak tidak nyaman dengan keberadaan kalian. Jadi aku akan mengusir kalian dari rumah ini bagaimanapun caranya"


Iruki pun menyudahi olahraganya dan berjalan masuk ke rumah.


"Begitu... Ternyata begitu... Jadi itu yang kau pilih, Iruki?..." Gumam si roh


*


**


Sejak Iruki bertemu dengan roh itu di subuh itu terakhir kali, Iruki tidak pernah bertemu lagi dengannya.


"Dia mengerti juga apa yang aku maksud" Pikir Iruki


"Aku akhirnya bisa sedikit tenang juga..." Gumam Iruki


Iruki berjalan keluar rumahnya untuk pergi sekolah.


Ketika di sekolah...


"Iru, apa kabar?"


"Sama seperti biasanya"


"Hm~ Omong-omong, apa kau melihat sesuatu lagi di sekolah seperti SD dulu?"


"Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak bisa melihat hal itu lagi sejak tahun lalu" Jawab Iruki


"Apa? Tidak mungkin tiba-tiba tidak bisa kan? Ini sangat aneh~ Dulu kau sangat meyakinkan saat membahas soal hantu"


"Heeey~ Cepat katakan. Ada dimana hantu yang kau lihat?"


"Kau memojokkan Iruki lagi?" Teriak yang lain


"Jangan buka kedok dia didepan umum. Itu cuma kebohongan di masa kecil. Sekarang dia sudah menjadi lebih dewasa, jadi malu akan kebohongannya di masa kecil. Makanya sekarang dia membuat kebohongan baru untuk menutupinya" Teriak yang lainnya lagi


"Heey~ Kau berkata seperti itu malah keterlaluan"


"Hahahaha"


"Oh ya, ini cuma bercanda ya. Jangan terlalu serius"


"...."


Karena mengumbar kemampuannya itu, orang-orang yang tidak bisa melihatnya jadi berpikir kalau Iruki mengada-ada bisa melihat hantu agar terlihat keren dan hanya mencari sensasi.


"Aku sangat menyesal tidak menyembunyikan kekuatanku selama ini. Seharusnya aku terus menyembunyikannya dari siapapun" Pikir Iruki


7 jam di sekolah telah dilewati. Begitu bel pertanda sekolah berakhir hari ini berbunyi, Iruki lekas pulang ke rumahnya.


Namun ia baru ingat. Hari ini adalah hari peringatan kematian ibunya. Jadi sebelum pulang, ia datang ke kuburan ibunya terlebih dulu.


Ia mampir ke toko bunga yang jalannya searah dengan jalan ke pemakaman dan membeli bunga untuk ibunya itu.


"...."


Begitu sampai, Iruki menatap kuburan ibunya sesaat, lalu duduk dan berdoa untuk ibunya setelah menaruh bunga diatas kuburannya.


Setelah berdoa dengan khusyuk, ia membuka matanya dan kembali menatap kuburan ibunya.


"Ibu, ada yang mau aku katakan. Ibu juga pasti sudah melihatnya dari atas sana. Kakak bersikeras mau pergi dari rumah karena tidak mau melihatku"


"Apa yang harus aku lakukan, bu? Membiarkan kakak pergi, atau aku yang pergi seperti perkataan kakak?"


"Seandainya... Ibu terus bersama kami hingga sekarang..." Gumam Iruki dan perlahan menundukkan kepalanya


"I... Ruki..."


Iruki tersentak. Ia langsung mendongakkan kepala dan melihat ke arah sumber suara.


"Anak kecil?" Pikir Iruki


Terlihat anak kecil perempuan yang berumur sekitar 5 tahun tengah berdiri diatas kuburan disamping ibunya.


Iruki melirik ke arah kuburan yang diinjak anak kecil itu.


"Jadi dia arwah dari kuburan itu..." Pikir Iruki


Setelahnya Iruki kmbali menatap anak kecil itu.


"Omong-omong, anak kecil ini terlihat familiar... Oh, iya. Dia roh yang juga ada di rumah. Aku ingat saat masih kecil pernah melihat dia dan dia mengajakku bermain. Itu juga awal kakak mulai menjauhiku" Pikir Iruki


*P. S. Roh anak kecil ini muncul di episode sebelumnya, yang dia muncul dari semak di halaman rumah Iruki di umur Iruki yang masih 5 tahun.


"Sejak hari itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Apa dia terus bersembunyi selama ini?" Pikir Iruki


"Hei, apa kau mengikutiku?" Tanya Iruki


Anak kecil itu menggeleng pelan tanpa mengatakan apapun.


"Lau kenpa kau kesini? Kenapa saat di rumah kau tidak pernah muncul setelah hari itu, sedangkan disini kau muncul"


"Karena... Ini tempatku..." Gumam roh anak kecil itu


"...."


Iruki tidak lagi bertanya. Setelah beberapa saat, Iruki berdiri.


"Ibu, hari ini sudah cukup dulu. Iruki akan kembali lagi ke sini nanti. Semoga tenang disana"


Iruki pun berjalan pergi. Bersamaan ketika melewati kuburan anak kecil itu, Iruki melirik sekilas ke anak kecil itu.


"Aku tidak akan berdoa untukmu hanya karena kau tahu siapa aku" Ucap Iruki terus melanjutkan jalannya.


"Aku peringatkan!" Ucap anak kecil itu tiba-tiba


"?"


Iruki berhenti berjalan dan menatap anak kecil itu.


"Pemburu roh. Belajarlah menjadi pemburu roh. Aku peringatkan padamu!"


"...."


"Terima kasih?"


Dengan bingung Iruki kembali melanjutkan jalannya dan tidak menghiraukan ucapan si roh kecil.


*


Begitu sampai di rumah, Iruki melihat ayah dan kakaknya sudah bersiap pergi ke pemakaman ibunya dengan baju serba hitam dan rapi.


"Lagi-lagi kau pergi sendirian ke kuburan ibu setelah sekolah" Ucap ayahnya


"Sungguh tidak sopan pada ibu. Pada ibu yang sudah meninggal saja begini, apalagi kalau ibu masih hidup" Gumam kakaknya kesal


"Ayah dan kakak terlalu mengikuti aturan keluarga"


"Aturan ada untuk kebaikan. Ini juga bentuk kesopanan kita ke ibu!" Bentak kakaknya


"Kalian berhentilah. Iruki, masuk dan gantilah bajumu. Ayah dan kakakmu akan pergi sekarang"


"Baik, ayah. Ayah dan kakak juga hati-hati"


"Huh! Itu pasti tidak tulus" Gumam kakaknya


Keduanya pun pergi.


Setelah melihat kepergian keduanya, Iruki berjalan masuk ke rumah dan bertemu dengn roh perempuan, temannya.


"Kau masih disini? Kukira kau sudah pergi" Ucap Iruki dan terus saja berjalan


"Kenapa mengusir kami, Iruki? Ini juga adalah rumah kami. Kau tidak bisa seperti itu pada kami!"


"Tidak, kau salah. Ini rumah aku dengan ayah dan kakak. Tidak ada tempat untuk roh seperti kalian"


Roh itu menggertakkan giginya lalu menghadang jalan Iruki.

__ADS_1


"Kau akan menyesalinya!!" Teriaknya


"Tidak akan" Jawab Iruki santai dan terus saja melanjutkan jalannya. Iruki tidak mnghiraukan roh itu yang menghadang jalan, ia terus berjalan hingga menembus tubuh si roh.


"Aku sudah memberi pilihan, Iruki..." Gumamnya


"Ya, ya" Jawab Iruki tidak peduli


*


**


1 minggu kemudian...


"Ayah, aku pergi sekolah dulu" Ucap Iruki bersamaan sedang memasang sepatu.


Ayahnya pun keluar dari ruangan dan melihat Iruki.


"Ya" Sahut ayahnya


"Kakak dimana?" Tanya Iruki


"Kakak tidak sekolah dulu hari ini. Semalam dia bilang tiba-tiba tidak enak badan"


"Ah, baiklah"


"Entah kenapa firasatku tidak enak" Pikir Iruki


Iruki berdiri setelah mmasang sepatu dan pergi keluar rumah.


"Yah, paling itu hanya perasaan biasa" Pikir Iruki dan kembali fokus ke kehidupannya.


7 jam di sekolah sudah terlewati. Ketika Iruki akan pulang, ia malah dipanggil oleh ketua kelasnya karena ada suatu urusan yang diminta wali kelasnya.


Karena hal itu, Iruki yang seharusnya hanya menghabiskan waktu 7 jam di sekolah kini malah menghabiskan waktu 9 jam di sekolah.


Setelah urusan dengan wali kelas dan ketua kelasnya selesai, ia langsung pulang ke rumah.


Ketika pulang, betapa kagetnya Iruki mendapatkan rumahnya yang rapi dan kental dengan nuansa oriental klasik itu kini hangus terbakar api.


Para tetangga dan pelayan rumah bergerumun di rumahnya mencoba menyelamatkan diri dan membantu memadamkan api.


Untuk beberapa saat Iruki terdiam membatu karena terlalu syok. Lalu ia sadar, diantara kerumunan orang itu tidak ada ayah serta kakaknya.


"Ayah! Dimana Ayah dan kakak?!" Teriak Iruki


Para pelayan wanita yang ada di dekat Iruki tampak ragu mengatakannya sambil saling menatap satu sama lain.


"Itu... Tuan dan Nona masih didalam..." Ucap seseorang dengan ragu


Tanpa ragu Iruki langsung berlari masuk untuk mencari Ayah dan kakaknya.


"Apa yang kau lakukan, Iruki?! Kau akan mati kalau masuk ke kobaran api yang besar seperti ini!!" Teriak seorang pria yang sedang memadamkan api. Ia langsung menangkap Iruki begitu melihat Iruki akan masuk.


"Lepaskan aku, Paman!! Ayah dan kakak masih di dalam!!" Teriak Iruki dengan berlinang air mata.


"Aku mengerti perasaanmu. Tapi sekarang kau harus memikirkan kesalamatanmu sendiri!!"


"Hey, bantu aku membawa Iruki ke tempat yang aman!!" Teriak pria itu


Lalu datang 3 pria yang adalah pelayan di rumah dan membawa Iruki pergi dari rumah itu.


"Tuan Muda tolong tenaglah. Kami akan berusaha memadamkan api dan menemukan Tuan dan Nona"


"Tidak! Menyingkirlah! Ayah dan kakak, aku harus menemukan mereka!!" Teriak Iruki


*


**


Malam hari pun tiba.


Setelah beberapa jam, api yang sangat besar itu akhirnya bisa dipadamkan.


Dan...


"Sudah ketemu!! Tuan dan Nona!!" Teriak seorang pria.


"Ini... Tidak... Mungkin..." Gumam Iruki


Iruki terduduk ke tanah. Dengan tangan gemetar ia mencoba membuka kain yang menutupi keduanya. Namun orang-orang menghentikannya.


"Jangan dilihat Tuan Muda. Itu akan semakin menyakiti Tuan Muda sendiri"


Iruki sudah mengerti maksudnya. Jasad ayah dan kakaknya sudah sangat rusak hingga tidak bisa dikenali karena luka bakar parah.


"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin, kan? Padahal baru saja tadi pagi aku berbincang dengan Ayah..." Pikir Iruki


Iruki menggenggam erat kain putih yang menutupi tubuh Ayahnya dengan berlinang air mata.


"Kakak!! Ayah!!" Teriak Iruki


Tes... Tes... Tes tes tes...


Zrassss....


Hujan pun turun dengan deras, seakan ikut bersedih dengan Iruki.


Orang-orang pun mulai berlindung agar tidak kehujanan.


"Tuan Muda, ayo berteduh dulu"


"Malam ini menginaplah di rumahku, meski tidak besar"


*


Di malam hari, Iruki tidak bisa tidur. Kejadian hari ini bagaikan mimpi buruk yang sangat sangat buruk bagi Iruki. Namun ini lebih buruk dari mimpi buruk. Ini semua nyata. Kenyataan bahwa Iruki sebatang kara tanpa keluarga dan harta.


Dengan mata yang kosong, iruki berjalan keluar dan datang ke rumahnya yang sekarang hanya tersisa tumpukan abu kayu yang menggunung.


Ditengah hujan, Iruki berdiri sambil menatapi reruntuhan rumahnya.


"Apa kau senang hadiah dariku, Iruki?"


Muncul roh perempuan yang jadi teman Iruki sebelumnya.


"Aku tidak berniat melakukan ini, tapi kau memaksaku melakukannya. Kalau saja kau tidak terlalu memanjakan kakak kesayanganmu itu, hal ini tidak akan terjadi"


Iruki melirik ke arah roh itu. Matanya yang tadinya hampa kini diselimuti amarah dan dendam.


"Jadi kau!!!" Teriak Iruki


"Kau sendiri yang bilang tidak akan menyesal. Jika kau membiarkan kakakmu pergi, kita akan terus menjadi teman baik"


"Ini kesalahanmu, Iruki. Kau telah membuang kami tapi bukan berarti kami tidak bisa melakuka apapun"


Mata roh itu yang berwarna merah kini tampak bersinar terang dan mengintimidasi dibawah sinar bulan.


Langsung saja Iruki meninju roh itu sekuat tenaga. Namun Iruki menembus roh itu.


"Percuma. Selamanya kau takkan bisa melawan kami. Kau hanya bisa melihat kami tapi kau tidak punya kekuatan. Jangan pernah remehkan kami para roh hanya karena kami tidak punya tubuh!"


"Kep*rat br*ngsek!!"


Roh itu tersenyum.


"Aku tidak akan membunuhmu, karena kita adalah teman"


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!!"


Iruki terus menerus memukul dan menendang roh itu, meski tau ia menembus tubuh roh itu. Amarahnya pada roh itu tak bisa ia tahan dan kendalikan.


"Kau lucu sekali, Iruki~"


Roh itu mengeluarkan kekuatannya dan menyerang Iruki.


Serangan roh itu mengenai bahu kiri Iruki.


Iruki pun terduduk menahan sakitnya dengan tangan kirinya yang gemetar.

__ADS_1


"Fufu~ Kalau begitu, aku pergi dulu"


Roh itu pun menghilang.


"Sial... Si sialan itu... Kep*rat menjijikkan!!"


Iruki menundukkan kepalanya dan kembali teringat kalau sekarang ia sendirian.


"Ayah... Ibu... Kakak..."


"Semuanya sudah pergi..."


Ditengah hujan, Iruki menangis tanpa suara hingga tubuhnya gemetar.


Lalu...


"Iruki..."


Iruki mendongakkan kepalanya dan mendapati roh anak kecil yang ia lihat di pemakaman sebelumnya sedang berdiri didepannya.


Rambut hitam panjangnya terurai basah ditengah hujan yang begitu lebat.


"Kau juga ikut campur dalam tragedi ini?!" Teriak Iruki


Roh kecil itu menggelengkan kepalanya pelan dengan mata tertutup.


"Tentu saja tidak"


Ia kembali membuka matanya dan menatap dalam Iruki.


"Sebelumnya sudah ku peringatkan padamu untuk belajar menjadi pembasmi roh, tapi kau tidak menghiraukan ucapanku"


"Apa maksudmu?! Pemburu roh? Aku tidak mengerti"


"Dia sudah datang"


Roh anak kecil itu pun menghilang. Tak lama kemudian datang 2 pria berjalan menghampiri Iruki.


Seorang pria itu mengulurkan payung yang ia pegang ke Iruki.


"Nak, tidak baik diluar saat hujan begini. Kau bisa flu nanti"


Iruki menatap sekilas kedua pria itu dan kembali menundukkan kepalanya.


"Apa kau adalah anak yang tinggal disini?" Tanya pria yang lainnya


"Ya..." Jawab Iruki lesu


"Kami akan melakukan penyelidikan, kau tenang saja ya. Ini masalah orang dewasa"


"Tidak perlu" Ucap Iruki cepat


"Apa maksudmu?"


"Kau mungkin tidak percaya, tapi dalangnya datang sendiri padaku. Ia mengaku kalau dia yang menyebabkan semua ini. Dan dia bukan manusia"


Kedua pria itu saling menatap dengan serius.


"Kalian pasti berpikir aku gila setelah kehilangan keluargaku, tapi itulah yang terjadi"


"Tidak. Kau tidak salah"


"Apa maksud paman?" tanya Iruki


"Sebelum itu, keringkan tubuhmu dulu, istirahat dan baru kita bahas"


"Benar. Sekarang kau kembalilah terlebih dulu. Kami akan datang lagi nanti pagi"


*


Pagi hari pun tiba.


Pagi ini akan dilakukan pemakaman ayah dan kakak Iruki.


Dan, di pemakaman kali ini, kedua pria itu hadir dengan identitas 'kerabat jauh dari keluarga Yasa'.


Ayah dan kakak Iruki dikubur disamping kuburan ibunya.


Setelah acara pemakaman selesai dan orang-orang mulai kembali ke rumah masing-masing. Kini di kuburan tersisa Iruki dan 2 pria itu.


"Apa kau sudah selesai, nak?"


Iruki berbalik dan menatap kedua pria yang berdiri dibelakangnya itu dengan tajam.


"Ayo kita pergi"


Nada suara Iruki berubah drastis. Suaranya yang biasa tenang kini jadi sangat berat dan penuh dengan amarah.


Kedua pria itu terdiam sejenak, lalu membawa Iruki ke suatu gedung kantor.


"Kenapa kalian membawaku kesini?" Tanya Iruki


"Jangan salah, nak. Tampak luarnya memang sebuah kantor biasa, tapi ada rahasia lain didalamnya"


Iruki dibawa masuk ke sebuah ruang kerja. Disamping meja kerja itu terdapat rak buku yang besar. Pria itu mengambil 1 buku dan membukanya. Ternyata didalam buku itu terdapat tombol rahasia. Ia menekan tombol itu dan pintu rahasia terbuka.


"Ayo masuk"


Didalam sangat gelap hingga tak terlihat apapun. Lalu dari ujung lorong terlihat cahaya yang mulai mendekat.


Mereka pun tiba di lokasi yang sebenarnya, yaitu "Markas Pemburu Roh".


Ruangan disana tidak beda jauh dengan ruangan kantor, hanya saja terlihat lebih mewah dan disana penuh dengan berbagai senjata, kertas segel yang tertumpuk rapi, juga tungku untuk para penyihir meramu. Buku untuk keperluan memburu roh juga terpajang jelas disana.


Untuk beberapa saat Iruki terpukau melihat tempat asing nan unik itu.


"Tempat ini..." Gumam Iruki


"Markas pemburu roh" Jawab pria itu


Iruki tersentak. Ia teringat peringatan dari roh kecil 1 minggu lalu.


..."Pemburu roh. Belajarlah menjadi pemburu roh. Aku peringatkan padamu!"...


"Sebelumnya ada roh yang sudah memperingatkanku untuk belajar menjadi pemburu roh, tapi aku tidak mengerti maksudnya"


"Artinya dia roh baik. Kau akan belajar banyak mengenai roh mulai sekarang bersama anak seusiamu yang juga punya kekuatan khusus"


"Ayo, aku ajak kau berkeliling terlebih dulu"


Ditengah Iruki sedang dipandu berkeliling, di salah satu meja sebuah ruangan ia melihat sebuah foto yang terasa familiar.


Iruki berhenti dan menatap foto itu. Tampak seorang wanita berambut hitam panjang terurai sedang berdiri bersama seorang anak perempuan yang mirip dengan wanita itu.


"Wanita ini... Dia seperti ibu yang ada di lukisan rumah. Tapi anak perempuan itu bukan kakak. Kakak punya rambut coklat sepertiku dan ayah. Lagian, di umur kakak segitu, aku sudah lahir" Pikir Iruki


"Eh?! Kalau dipikir-pikir... Anak di foto itu juga terlihat mirip dengan roh anak kecil sebelumnya"


Pria yang memandu Iruki sadar Iruki tertarik pada foto itu, akhirnya sedikit menjelaskan tentang wanita itu.


"Wanita yang ada di foto itu adalah wakil pemimpin di markas pemburu roh disini. Anak yang ada di depannya itu adalah putrinya"


"Siapa... Nama wanita itu..." Gumam Iruki


"Aaah~ Nyonya wakil pemimpin berasal dari keluarg--- Tunggu!!"


Pria itu langsung menoleh ke arahku.


"Nak, namamu siapa?"


"Ya... Yasa Iruki"


Dengan cepat pria itu menyantukkan kepalanya ke dinding berkali-kali.


"Paman?!"


"Haaah..."


Pria itu kembali berdiri tegap dan menatap dalam Iruki.

__ADS_1


Baiklah. Akan aku ceritakan padamu.


__ADS_2