
*
**
Hari pertama masuk Sekolah Menengah Atas...
Seperti pada umumnya, ada acara welcome ceremony untuk para murid baru, dan para kakak kelas yang sibuk mempromosikan ekskul mereka dan mencoba menarik siswa baru untuk masuk ke ekskul mereka sebanyak mungkin.
Tidak terkecuali aku, para kakak kelas itu mengerumuniku dimana-mana.
"Yo, dik! Tubuhmu tinggi dan sangat atletis. Bagaimana kalau masuk ekskul basket kami?"
"Basket apanya? Dia lebih cocok masuk ekskul sepak bola! Ayo masuk ke grup kami"
"Tidak! Dia sangat rupawan, cocok masuk ekskul model dan fashion"
"Pria sejati adalah pria yang pintar memasak. Jadi, ayo masuk ke ekskul masak kami!"
"Anak dari kelas khusus! Kau cocok masuk OSIS. Bergabunglah bersama kami!"
"...."
Aku hanya diam sambil menatap datar para kakak kelas itu hingga mereka merasa tidak nyaman.
"Eem... Lupakan... Sepertinya kau tidak terlalu minat di ekskul kami..." Gumam kakak kelas dari ekskul sepak bola
"A... Ahahahaha... Sepertinya memang begitu... Baiklah, kami akan pergi. Jika kau berubah pikiran, bisa langsung kunjungi ruang ekskul kami, ya" Ucap gugup kakak kelas dari ekskul OSIS.
Setelahnya, mereka semua langsung pergi dengan kaku, dan aku kembali melanjutkan perjalananku ke kelas.
Di sepanjang jalan koridor terdapat banyak brosur, dan papan promosi tiap ekskul, beserta hasil karya dari ekskul tersebut. (Misal ekskul fotografi colab dengan ekskul fashion, memperlihatkan foto aestetik dari ekskul fashion yang difoto oleh ekskul fotografi; hasil karya tangan ekskul pengrajin yang dipajang bersama papan promosi; Lukisan yang dibuat oleh ekskul seni rupa; Puisi dan pantun yang dibuat oleh ekskul sastra, dan banyak lagi).
Aku tidak menghiraukan semua itu dan sama sekali tidak tertarik untuk memasuki ekskul apapun.
Aku terus berjalan menuju kelas. Begitu sampai, aku langsung melihat posisi tempat dudukku di kertas yang ditempel di pintu masuk kelas.
Satu hal yang ku syukuri, posisi tempat dudukku adalah di sudut ruangan sebelah kiri belakang dan di sebelah jendela menuju lapangan. Ditambah, tempat dudukku agak berjauhan dengan keempat Tuan Muda Hazuki.
Aku masuk ke kelas dan duduk di kursi tempatku.
Disaat teman kelasku ribut berkenalan satu sama lain, aku hanya duduk di kursiku sambil menatap keluar jendela dan menikmati hembusan angin sepoi-sepoi dari luar.
Saat itu aku tidak tahu kalau ada bencana yang makin mendekat.
*
Sekolah ini adalah sekolah elit.
Meski di hari pertama sekolah, di sekolah ini sudah langsung melakukan kegiatan belajar-mengajar.
Mata pelajaran pertama yang kami pelajari hari ini adalah matematika, dan guru yang mengajarnya adalah guru yang mengoreksi jawaban matematika dari tes masuk sekolah.
Kebetulan, guru itu juga adalah wali kelas kami, yang memang menekankan kami agar nilai matematika bagus sebagai kelas khusus.
"Pagi, semuanya. Nama Bapak adalah Kaisen. Bapak adalah wali kelas kalian sekaligus yang akan mengajar matematika. Sebelum memulai pelajaran, bagaimana kalau kalian perkenalkan diri kalian lebih dulu?"
Semuanya serempak berteriak "Ya!" dengan semangat.
"Baiklah, mulai dari yang paling kanan"
Murid yang duduk di paling kanan depan langsung berdiri dan memperkenalkan diri.
Setelah dia selesai, murid di sebelahnya memperkenalkan diri, dan itu terus berulang hingga akhirnya giliranku pun tiba.
"Yang terakhir di pojok kiri, perkenalkan dirimu"
Aku berdiri perlahan dengan wajah datar.
"Aku Arato Izumi, 13 tahun" Ucapku datar dengan suara pelan, dan kembali duduk ke kursi.
"Cuma itu yang dia ucapkan?" Bisik mereka
"Tunggu, dia masih 13 tahun?! Bahkan masuk di kelas khusus? Aku tidak salah dengar, kan?" Tanya yang lain kaget
__ADS_1
"...." Pak guru terdiam sebentar, lalu memanggilku.
"Kamu, nama mu Arato Izumi, kan?" Tanya pak guru.
"Iya..." Gumamku
Pak kembali terdiam sambil berpikir.
Setelah pak guru menemukan jawaban dari yang dia pikirkan, pak guru berjalan ke papan tulis dan memulai pelajaran.
*
Setelah menuliskan beberapa soal dari soal tes masuk sebelumnya, pak guru bertanya pada kami.
"Dari yang bapak lihat, tidak ada yang menjawab soal ini dengan sempurna sebelumnya. Bapak ingin melihat kembali, apa sekarang kalian bisa mengerjakannya" Ucap pak Kaisen
"Sekarang, coba kalian cari jawaban dari soal ini"
Semuanya sibuk mengorek-orek mencari jawabannya. Aku juga ikut mencari.
"Kelihatannya memang sulit, tapi kalau tahu kuncinya, itu sebenarnya mudah" Pikirku
Hanya 5 menit, dan aku sudah mendapat jawaban benarnya, sedangkan yang ku isi saat di tes sebelumnya salah, hanya jalannya yang benar.
Waktu terus berlalu, hingga 10 menit masih belum ada murid yang menemukan jawabannya.
"Apa masih belum ada yang selesai?" Tanya pak Kaisen
Semuanya terdiam sambil menundukkan kepala dengan takut.
Pak Kaisen terus menunggu hingga 15 menit berlalu.
Pak Kaisen menghela nafas panjang sambil melipat tangannya di depan dada.
"Peringkat pertama sebelumnya kalau tidak salah Hazuki Kirian, kan. Apa kau masih belum selesai?" Tanya pak Kaisen
"Ma... Maaf, pak Kaisen..." Gumam Kirian
"Maeru? Apa belum selesai juga?" Tanya pak Kaisen
"Benar, benar! Ini terlalu sulit!" Teriak yang lainnya mendukung Maeru
"Bapak tahu sendiri tidak ada yang bisa menjawabnya, jadi untuk apa mengetesnya lagi?" Tanya siswa lainnya
"Bapak tidak pernah bilang seperti itu" Jawab pak Kaisen
Semuanya langsung bingung sambil melirik satu sama lain.
"Ta... Tapi tadi pak bilang..." Gumam seorang siswa
"Bapak hanya bilang tidak ada yang menjawab dengan sempurna, bukan berarti tidak ada yang menjawab dengan benar" Ucapnya
Para murid makin bingung dengan ucapan pak guru Kaisen.
Di sela itu, pak Kaisen menatapku yang sedang melirik keluar jendela.
"Arato Izumi"
Aku tersentak dan langsung menatap ke pak Kaisen dengan tergesa-gesa.
"Y... Ya? Saya?" Tanyaku
"Kau bisa menjawabnya, kan?" Tanya pak Kaisen.
"...." Aku hanya diam saja sambil menundukkan kepala.
"Dia di peringkat ke-20, kan? Aku yang di peringkat 5 saja tidak bisa. Tidak, bahkan Kirian yang di peringkat pertama, dan Maeru yang anak kepala sekolah saja tidak bisa, apalagi dia" Bisik siswa lainnya
"Kenapa tidak menjawab pertanyaan bapak?" Tanya Pak Kaisen
Pusat perhatian mulai tertuju padaku.
"Tidak. Jangan menarik perhatian lebih banyak lagi" Pikirku
__ADS_1
"Aku... Juga tidak bisa..." Gumamku
"Maju ke depan" Ucap datar pak Kaisen.
"Ya? Tapi..." Gumamku
"Kerjakan ke depan sampai mana yang kau bisa"
Aku tidak mungkin melawan perintah guru. Mau tidak mau aku pun maju ke depan dan menjawab soal itu.
Agar tidak dicurigai, aku hanya membuat setengah jalan dari jawabannya.
"Hanya... Itu yang kubisa" Gumamku
"Tidak. Lanjutkan sampai selesai"
"Ada apa dengan pak ini? Dan kenapa dia memintaku melakukannya?" Pikirku
Dengan ragu aku kembali melanjutkan jawabannya.
Aku ingin menjawabnya salah, tapi pak guru ikut membantu dan membenarkan jawabanku yang salah.
"Itu hasilnya 6,25, bukan 6,75"
"Ah, iya pak..." Gumamku
Setelah selesai menjawabnya, aku buru-buru ingin kembali ke mejaku, tapi pak Kaisen kembali memanggilku.
"Arato, tunggu disini dulu"
Akhirnya aku masih berdiri di depan pak Kaisen.
"Arato, kau sebenarnya bisa mengerjakan semuanya, kan?" Tanya pak Kaisen
Aku tersentak.
"Tidak... Saya tidak sehebat itu..." Gumamku
"Aku ingat, ada 1 siswa yang seharusnya nilai tes matematikanya sempurna karena semua jalannya benar, hanya saja beberapa jawabannya salah karena hasil akhirnya salah"
"Itu adalah kau, Arato. Kau sebenarnya mengerti semua ini, kan?" Tanya pak Kaisen
"Apa kau begitu gugup saat tes hingga tidak konsentrasi?"
Aku hanya diam saja sambil menundukkan kepala dan mengepalkan tangan.
"Tidak boleh menarik perhatian. Jangan sampai terlihat menonjol dari yang lain"
"Tidak boleh membuat guru berekspektasi tinggi padaku" Pikirku
"Tidak. Saya masih perlu belajar lebih banyak lagi..." Gumamku
"Jangan merendah. Jika bisa, bilanglah bisa. Sepertinya di tahun ini ada murid yang unik"
"Tidak. Jangan perhatikan aku!" Pikirku dan mengepalkan tangan makin kuat.
"Baiklah, kau boleh kembali ke meja mu"
Aku kembali berjalan ke meja ku dan aku masih jadi pusat perhatian murid kelas.
"Dia satu-satunya murid tahun ini yang bisa dapat nilai sempurna di tes matematika? Bisa dapat nilai di atas 75 saja sudah bersyukur, tapi ini bisa sempurna?"
"Ditambah lagi, dia bisa mengalahkan Kirian. Kudengar Kirian terus berada di peringkat pertama kelas khusus saat SMP"
"Iya! Dan Arato Izumi itu memang terus di peringkat pertama, tapi dia di kelas umum. Aku tidak mengerti kenapa dia yang pintar malah di kelas umum"
"Apa mungkin... Kirian memang tidak sehebat rumornya?"
"Ssstt! Kecilkan suaramu!"
"Bu... Bukan salah Kirian nya, tapi soalnya memang susah, kan?" Ucap yang lainnya gugup
"I... Iya, iya! Aku juga tidak tahu jawaban soal itu bagaimana"
__ADS_1
Tubuhku mulai gemetar mendengar gosipan murid kelas yang meragukan Kirian.
"Dia... Pasti akan memukulku..." Pikirku