
Di malam hari....
Aku membuka kado yang diberi Yui padaku.
"Buku diary dan set alat tulis. Yui memang paling mengerti diriku"
"Dia tau aku suka menulis, jadi dia memberiku kado ini" Pikirku
Aku menaruh kado dari Yui diatas meja, lalu beralih ke bunga pemberian Izumi.
"Bunganya terlihat lebih indah di malam hari. Blink-blink yang ada di kuncup bunganya lebih terang" Pikirku
Aku mencium aromanya dan wanginya sama sekali tidak memudar. Bunganya juga tidak layu.
"Tidak heran bunga ini hanya tumbuh di kastil pemimpin roh baik" Gumamku
Aku menaruh bunga itu kedalam vas bunga yang sebelumnya sudah kusiapkan, lalu menaruhnya di meja.
Setelahnya, aku beranjak dari meja belajarku dan bersiap tidur.
*
**
Aku sudah membaringkan diriku diatas kasur sejak 1 jam yang lalu, namun sampai sekarang aku masih belum bisa tidur.
"...."
"Aku tidak bisa tidur...." Pikirku
Bayang-bayang saat pertempuran para roh siang tadi masih terlihat jelas di kepalaku.
"Aku memang bilang ke Izumi tidak apa-apa. Tapi tetap saja, aku tidak bisa biasa saja setelah melihat dan mengalami hal seperti itu" Pikirku
Aku mengulurkan tangan kananku keatas dan menatapnya.
"Tanganku masih gemetar" Pikirku
Aku langsung mengepalkan tanganku, menyuruh tanganku berhenti gemetar.
"Aku tidak boleh lemah!! Aku harus menjadi kuat demi semuanya!!" Pikirku semangat
"Jadi, jangan takut dan sekarang cepat tidur, Yurin!!" Pikirku
*
Malam ini ketika aku tidur, aku mengalami mimpi yang cukup unik.
"Hiks.... Hiks hiks...."
"Aku takut... Mama... Papa..."
"Kau tidak apa-apa?"
"Siapa?..."
"Anggap saja aku 'orang baik yang kebetulan lewat'. Apa kau terpisah dengan orang tuamu?"
Aku pun berhenti menangis dan menatap lekat orang asing itu.
"Tidak apa, jangan takut. Aku akan membantumu menemukan orang tuamu"
Di dalam mimpi itu, aku menangis terisak-isak, lalu muncul seseorang yang wajahnya tak terlihat membantuku. Orang itu mengulurkan tangannya padaku dan aku menyambut tangannya dengan senang.
Begitu aku bangun dari mimpi itu, hari sudah pagi. Sinar matahari yang masuk dari sela jendela yang tidak rapat tertutup gorden mengenai wajahku.
Aku termenung sebentar setelah bangun dari mimpi itu.
"Siapa, ya? Orang yang ada di mimpi tadi..." Pikirku berusaha mengingat
"...."
"Lupakan. Ayo bangun dan lakukan aktivitas seperti biasa!" Gumamku semangat, lalu langsung bangun dan membereskan kasur.
*
Di siang hari, aku berencana untuk membeli sesuatu sebagai tanda terima kasih karena mereka sudah mau peduli pada ulang tahunku.
"Yui, aku mau pergi keluar sebentar, ya"
"Iya, hati-hati"
Ceklek...
__ADS_1
"...."
Seketika suasana menjadi hening setelah Yurin keluar dari ruangan. Di ruangan itu sekarang tersisa Ayui dan Izumi yang hanya duduk diam.
"Hei, Izum---"
"Aku sibuk! Jangan ajak aku bicara!" Ucap Izumi tegas
"Hah?! Memang kau sibuk apa?! Daritadi kau hanya duduk diam saja!" Ucap Ayui sedikit menaikkan suaranya
"Itu kau tahu. Sekarang aku sedang sibuk duduk dan menikmati keheningan. Sudah, jangan ajak aku bicara lagi!"
"Mana ada orang seperti itu!" Teriak Ayui
"Aku bukan manusia" Jawab Izumi
"Tetap saja, tidak ada makhluk seperti itu!"
"...."
Izumi tak menanggapi ucapan Ayui, dan setelahnya juga Izumi tidak meladeni ucapan Ayui. Karena merasa diabaikan, Ayui terus berisik dan mencoba mengganggu Izumi
Hingga beberapa menit kemudian....
"Kau berisik sekali!!! Diamlah!!!" Teriak Izumi emosi
"Akhirnya kau berekasi juga" Gumam Ayui
"Mumpung Ririn tidak ada, ada yang mau aku bicarakan denganmu"
"Tidak ada yang mau aku bicarakan denganmu. Sudahlah, kalau seperti ini lebih baik aku pergi saja" Ucap Izumi dan bersiap teleportasi.
"Ini tentang Ririn"
Izumi langsung tersentak lalu melirik ke arah Ayui.
"Sekarang kau mau bicara denganku, kan~"
*
"Apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Izumi
"Yah~ Bukan hal khusus. Aku hanya mau sedikit bercerita tentang masa SMP Ririn. Kau mau dengar?" Tanya Ayui
"Baiklah, aku anggap kau setuju mau dengar"
"Kau tahu? Saat SMP Ririn cukup populer di sekolah. Ririn memang bukan yang tercantik di sekolah dan dia populer bukan karena itu, tapi karena kebaikan dan kepolosannya"
"Awalnya dia disukai beberapa anak laki-laki di kelas saat kelas 7, lalu semakin lama makin banyak orang yang menyukainya hingga kelas 8 dia menjadi cukup populer di kalangan laki-laki"
"SMP kami dulu cukup elit dan para laki-laki rata-rata menyukai perempuan baik nan pintar. Karena itu, hampir semua laki-laki yang mengenal Ririn menyukainya. Wajah Ririn juga masih diatas rata-rata"
"Karena itu, sejak awal kelas 8 banyak orang mencoba mendekati Ririn"
"Namun sayangnya, target mereka tidak semudah itu"
*
"Hai adik, kau Asahi Yurin dari kelas 8-A, bukan? Sebelumnya kau membantuku saat di koridor. Saat pulang nanti mau makan berdua denganku?"
"Ah, kakak yang waktu itu, kan? Terima kasih untuk tawarannya, tapi aku tidak mau makan bersama orang yang baru beberapa kali bertemu denganku"
"...."
*
Suatu pagi, muncul sebuah surat bersamaan dengan sebuah coklat di kolong meja Yurin.
Isi surat tersebut adalah meminta Yurin datang ke belakang gedung sekolah setelah jam sekolah usai.
"Kamu dari kelas sebelah, kan? Ada apa kau memanggilku?" Tanya Yurin
"Itu... Ada... Yang mau aku katakan padamu...." Gumamnya malu
"Apa yang mau kau katakan?"
"Um.... Bagaimana, ya.... Kau seharusnya sudah tahu setelah melihat surat dan coklat yang kuberi...." Gumamnya sambil mengalihkan pandangan kearah lain
"Jadi, bagaimana.... Apa kau menerimanya?" Tanyanya lalu melirik ke Yurin
"Ah, ternyata begitu~ Aku mengerti kenapa kau sangat sulit mengatakannya~ Tenang saja, aku akan menerimanya" Ucap Yurin ceria
"Sungguh?!" Teriaknya senang
__ADS_1
"Tentu saja~"
Yurin merogoh kantong yang ada di roknya lalu mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya ke laki-laki itu.
"Kau membutuhkan uang, kan? Kau bermaksud menjual coklat yang kau tinggalkan padaku untuk menggantinya menjadi uang, kan?" Ucap Yurin
"Tidak.... Itu...." Gumamnya
"Kau malu mengatakannya didepan banyak orang, makanya kau mengajakku kesini agar pembicaraan ini hanya kita berdua yang tahu, kan? Sepertinya kau sedang sangat kesulitan ekonomi, aku akan membayar lebih untuk coklatnya"
Yurin langsung menaruh uangnya pada tangan laki-laki itu yang sekarang sedang bengong.
"Tenang saja, hal ini tidak akan tersebar keluar~" Ucap Yurin lalu berjalan meninggalkan laki-laki itu
Keesokan harinya, kabar laki-laki itu yang ditolak dan dipermalukan menyebar ke seluruh sekolah.
*
Di kelas, seorang teman laki-laki mendekati meja Yurin dan duduk disampingnya.
"Asahi, aku tidak mengerti yang bagian ini, tolong ajari aku"
"Bu guru! Dia bilang dia tidak mengerti pelajarannya dan meminta dijelaskan ulang!" Teriak Yurin
"Ti... Tidak, Asahi!!" Gumamnya panik
*
Di koridor sekolah, ketika murid sedang ramai-ramainya berlalu-lalang....
"Asahi~ Engkau sangat cantik nan elegan seperti bunga mawar ini~ Maukan engaku yang sempurna ini menerima bunga ini? Bunga yang sempurna ini hanya pantas diterima perempuan yang juga sempurna"
Semua orang terpana dengan lelaki yang merupakan anak dari klub basket dan juga populer itu menyatakan cinta ditengah keramaian.
"Kyaaaa~ Itu dia, kan? Yang sedang naik daun akhir-akhir ini~ Aku sangat iri dengan perempuan itu~"
"Perempuannya cantik, baik dan pintar. Lalu yang laki-laki tampan, tinggi, dan romantis. Mereka cocok~"
Orang-orang berbisik-bisik di sekeliling Yurin dan laki-laki itu.
"...."
Yurin awalnya hanya diam mencerna situasi yang sedang terjadi. Lalu tak lama kemudian Yurin mengulurkan tangannya dan mengambil buket bunga mawar di tangan laki-laki itu.
Laki-laki itu sangat senang, mengira pernyataan cintanya diterima Yurin.
"Senior, ucapan senior terlalu berlebihan yang bilang saya cantik nan elegan serta sempurna. Saya tidaklah seperti yang senior ucapkan" Ucap Yurin sambil tersenyum ceria
"Jika bunga ini hanya pantas diberi pada orang yang seperti itu, maka bunga itu tidak bisa diberikan pada saya...."
Yurin langsung berjalan sedikit ke belakang lalu menyodorkan bunga itu pada seorang wanita yang sangat cantik, yang juga sedang menonton pertunjukan seorang laki-laki menyatakan cinta ditengah keramaian.
"Yang pantas menerima bunga ini tentu saja bunga sekolah yang memiliki paras yang sempurna seperti bunga ini"
"Ti... Tidak. Saya tidak seperti itu...." Gumam perempuan yang merupakan bunga sekolah itu
"Jika bukan anda, maka tidak ada lagi perempuan yang pantas menerimanya!"
Seketika keadaan menjadi hening.
*
"Sangat banyak laki-laki mau itu yang seangkatan dengan kami, kakak kelas maupun adik kelas yang mencoba berhubungan dengan Ririn, tapi usaha mereka semua sia-sia"
"Lalu saat kelas 9 ketika kami di kantin, disaat aku dan Ririn sedang berbincang ringan bersama seperti biasa sambil makan, aku menanyakan suatu hal padanya"
*
"Ririn, kenapa kau menolak semua laki-laki itu? Padahal mereka semua tidak begitu buruk" Tanyaku
"Menolak? Apa maksudmu, Yui?" Tanya Yurin
"Tentu saja, menolak perasaan mereka. Setiap mereka menyatakan perasaan, kau selalu menolak mereka dengan halus" Jawabku
"Memangnya kapan mereka menyatakan perasaan padaku?" Tanya Yurin kembali
"Selama ini! Mereka seperti itu sebagai bentuk usaha mendekatimu!" Ucapku sedikit kaget
"Tidak mungkin~ Kau salah paham dengan kebaikan mereka, Yui~ Mereka seperti itu karena mereka orang baik" Ucap Yurin santai
"...."
Aku tercengang mendengar ucapan Ririn.
__ADS_1
Dan saat itulah aku menyadari, kalau Ririn bukannya menolak mereka, tapi Ririn tidak menyadari akan perasaan mereka. Lalu semua kebaikan yang Ririn berikan pada mereka bukanlah bentuk suka, hanya saja sekedar kebaikan untuk kenalan belaka.