
"Ririn, kau lama sekali"
"Maaf, maaf. Tadi aku sempat tersesat waktu mencari toilet. Maaf juga tiba-tiba meninggalkanmu"
"Yaudah, sekarang ayo cari baju"
Di salah satu toko...
Kami melihat-lihat baju disana. Namun hanya Yui yang bersemangat mencari baju untukku, bukan untuk dirinya sendiri.
"Ririn memang cocok dengan pakaian apapun!! Nah, sekarang kau coba pakai ke ruang ganti!" Ucap Yui dan menyodorkan sebuah baju kepadaku
"Apa? Tidak... Em, bagaimana kalau Yui cari pakaian untukmu sendiri?"
"Kita begini saja, aku akan pilihkan pakaian untukmu sesuai seleraku, dan kau juga pilihkan pakaianku sesuai seleramu. Bukankah begini yang namanya sahabat?"
"Kalau begitu... Aku mau pilihkan pakaian untuk Yui dulu..." Gumamku lalu melangkah menjauh dari Yui. Namun saat aku baru saja mau pergi, Yui menahanku.
"Aku tidak masalah kalau nanti. Sekarang aku mau melihat Ririn memakai ini~" Ucap Yui dan kembali menyodorkan pakaian yang ada di tangannya.
"Aaah, itu..."
"Sudah~ Cepat masuk sana dan kembali ke sini dengan menggunakan pakaian itu~" Ucap Yui dan mendorongku masuk ke ruang ganti.
"Aku tidak masalah sebenarnya. Tapi didalam tubuhku ada Izumi! Itu berbahaya karena apa yang kulihat sama dengannya" Pikirku
"Aku bisa dengar apa yang kau pikirkan"
"Kalau kau sudah tau, cepat keluar dan kembali ke sekolah!"
"Aku tidak akan ngintip. Aku akan menutup mataku"
"Kau pikir aku akan percaya?"
"Iya"
"Tidak akan! Sekarang cepat keluar!!"
"Ok, ok, aku akan keluar. Aku juga tidak mau terus dianggap mesum padahal aku tidak punya pikiran seperti itu"
Izumi pun perlahan muncul di depanku.
"Aku akan menunggu diluar, dan kembali masuk lagi setelah kau selesai" Ucap Izumi sambil berjalan
Aku hanya menatap jengkel Izumi yang berjalan keluar.
*
Tak lama kemudian, aku keluar menemui Yui dengan memakai pakaian yang dipilihnya.
Awalnya Yui terlihat sedang mewaspadai sesuatu, tapi begitu melihatku, Yui langsung tersenyum cerah.
"Waah! Benar-benar cocok!"
"Benar, benar. Aku setuju dengannya"
Izumi dan Yui serempak bertepuk tangan dengan mata menatap lekat padaku.
"Em..."
"Kenapa Izumi malah ikut-ikutan?" Pikirku
"Bagus sekali! Tapi aku masih mau lihat-lihat kau memakai yang lain" Ucap Yui
"Nah, coba pakai!" Ucap Yui dan kembali menyodorkan beberapa pakaian padaku. Izumi pun ikut mengangguk bersemangat dari belakang Yui
"Tidak... Itu, aku mau mencari pakaian untuk Yui dulu" Gumamku
"Tidak apa~ Nanti juga tidak apa~ Sekarang cepat pakai!"
"Eeeehh?!"
Yui kembali mendorongku masuk ke ruang ganti.
Aku terus bolak-balik mengganti pakaian.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Pikirku
Setelah Yui menyuruhku mengenakan pakaian untuk ke-4 kali, aku tidak mengenakan pakaian yang ia mau. Aku kembali mengenakan pakaianku dan langsung mengambil salah satu pakaian lalu menyodorkannya ke Yui.
"Giliranmu" Ucapku senyum kesal
"Baik..." Gumam Yui
....
__ADS_1
Kami pun menghabiskan waktu hingga 1 jam hanya untuk membeli baju.
Setelah kami selesai memilih pakaian yang kami beli, Izumi kembali masuk kedalam tubuhku.
"Serius, aku sudah kelelahan karena Yui, sekarang malah ditambah Izumi yang bertingkah seenaknya" Pikirku pasrah
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Izumi
"Kau yang seenaknya mendengar apa yang aku pikirkan itu sangat menyebalkan!" Pikirku teriak
"Berisik! Jangan teriak! Telingaku sakit!" Teriak Izumi
"Kalau tidak mau, ya keluar dari tubuhku!"
"Tidak!! Aku mau disini!!"
Sekarang kami kembali ribut didalam kepalaku.
"Aku sudah bilang, kan? Aku cuma mau ikut jalan-jalan denganmu saja!"
"Tapi masalahnya sekarang aku sedang bersama Yui! Bagaimana kalau Yui merasa aneh melihatku dan menyadari sesuatu?"
"Ma... Makanya... Jangan ribut begitu..." Gumam Izumi
"Kalau kau terus didalam tubuhku, aku tidak bisa hanya diam saja"
"...."
"Em, maaf. Nanti aku kembali" Gumam Izumi
Pada akhirnya Izumi kalah dariku.
"Walau aku tidak melihat wajahnya, tapi hanya dengan mendengar suaranya yang seperti akan menangis itu aku sudah bisa membayangkan betapa imutnya diaaa" Pikirku gemas
"Siapa yang akan menangis?!" Teriak Izumi
"Yah sekarang si kucing imut Izumi berubah menjadi harimau yang ganas..." Pikirku kecewa
"Ririn, kau kenapa lagi?" Tanya Yui khawatir
"Eh? Aku tidak kenapa-napa, kok" Jawabku
"Wajahmu terlihat aneh tadi. Apa kau kesal karena aku?"
"Kucing?"
"Iya. Ada 3 kucing hitam masuk lewat balkon kamarku. 2 kucing meloncat kemana-mana dan menendang barang-barangku karena mereka sedang berkelahi, satunya lagi terus menempel padaku hingga aku tidak bisa kemana-mana. Lalu mereka pergi setelah mengambil lauk untuk makan malamku"
"Dan, lihat. Ponselku retak karena terjatuh oleh kucing itu"
"Wah, kucing itu parah sekali. Kalau aku jadi kau pun, aku akan kesal"
*Cerita sebenarnya...
semalam.
"Ririn, ayo makan malam" Sahut Mama dari lantai bawah
"Makan malam?!" Gumam Hana dengan mata berbinar
"Kak, aku mau ikut makan!" Ucap Hana dengan mata memelas, diikuti oleh Niki.
"Kalian itu roh. Walau tidak makan juga tidak masalah, kan" Ucapku datar, dan meninggalkan mereka untuk turun ke dapur
"Itu tidak benar! Kami juga makan" Ucap Hana
"Walau begitu kalian juga tidak mungkin makan didepan orang tuaku, kan" Ucapku dan berbalik badan menghadap mereka
"Lho? Izumi mana?"
"Yo! Aku kembali" Ucap Izumi dengan tangan penuh dengan makanan
"Darimana kau dapat itu?!" Teriakku kaget
"Dari dapur. Masakan ibumu enak, jadi aku bawa semua" Ucap Izumi datar seolah tidak ada apa-apa
"Kau mencurinya?!"
"Tidak. Aku membawa makanan bagianmu dan beberapa yang lain juga"
"Beberapa yang lainnya? Kau membawa makanan 3 kali lipat dibanding makanan yang kumakan biasanya, kok bisa kau bilang 'beberapa'?"
"Ririn, kau makan dikamar?" Tanya Mama
"Dasar Izumi!" Pikirku
__ADS_1
"Ah, iya Ma. Nanti aku bereskan"
"Tapi apa kau tidak makan terlalu banyak? Masakan Mama langsung habis kau bawa"
"Aku... Aku sangat kelaparan sekarang, jadi aku bawa semua..." Ucapku sambil melotot ke Izumi
"Lagi-lagi aku jadi pembohong. Ini salahmu, Izumi" Pikirku
"Yasudah. Kalau kau sudah kenyang berhenti makan, ya"
"Iya"
Setelah Mama pergi dan kembali ke dapur, mereka bertiga langsung makan tanpa mengajakku.
"Kalian!"
"Kenapa? Kau mau ikut? Ayo duduk sini" Ucap Izumi sambil menepuk sofa di sampingnya
"Aku harus makan sekarang. Kalau aku tunda, aku bisa saja tidak makan karena dihabisi mereka" Pikirku
Aku pun duduk di samping Izumi dan ikut makan.
Awalnya tidak ada masalah, hingga beberapa menit kemudian, saat makanan sudah mulai habis.
"!!"
Kue kering yang Mama panggang sekarang tersisa satu, tapi Izumi dan Niki secara bersamaan ingin mengambil kue itu.
"Aku duluan yang mengambilnya!"
"Hah? Apa kau punya hak mengatakan itu? Jika aku tidak membawanya kesini, kau bahkan tidak bisa memakan sebutir nasi ini"
"Memangnya kenapa? Walau tidak kau bawa pun, aku masih bisa mengambilnya sendiri"
"Kalau begitu muntahkan semua makanan yang kau makan tadi dan ambil sendiri makananmu"
Suasana kembali suram. Tidak ada satupun yang mau mengalah diantara mereka. Bahkan, Izumi malah terlihat sengaja menyulut emosi Niki.
"Kau ini!"
Ketika Niki mengeluarkan kekuatannya, Hana langsung memasang dinding diantara Niki dan Izumi.
"Kau tidak bisa menyerang? Pffftt... Kasihan..."
Izumi mengambil sebuah piring kosong dan melemparnya ke Niki.
Karena kekuatan roh itu tidak berpengaruh ke benda, jadi penghalang buatan Hana tidak menghentikan pergerakan piring itu dan mengenai Niki.
Mereka pun sekarang saling lempar-lempar benda yang ada di sekitar mereka.
"Kalian berhenti! Barangku bisa rusak semua!"
"Kak, jangan kesana! Nanti kakak bisa kena!" Ucap Hana dan menahanku ke sudut kamar.
Mereka berdua terus melempari barangku, salah satunya ponselku yang dilempar Niki hingga retak.
"Ririn, ada apa? Kenapa terdengar banyak sekali suara- suara benda jatuh?!" Tanya Mama di depan kamar
"Mama akan masuk?!" Pikirku
Izumi dan Niki pun tersentak begitu mendengar suara Mama.
Ceklek.. Ceklek..
"Lho? Pintunya dikunci?"
Aku menoleh ke arah pintu. Hana langsung mengunci pintu kamar begitu mendengar suara Mama.
"Em, ada kucing bertengkar yang masuk lewat balkon kamarku, Ma" Ucapku
Mendengar ucapanku itu, Niki dan Izumi serempak mengeluarkan kuku mereka yang panjang dan mencakar berbagai benda di kamarku agar terlihat benar-benar ada kucing yang masuk.
Aku pun berjalan ke arah pintu lalu membuka pintunya. Mama pun masuk dan melihat kamarku yang berantakan.
"...."
"Dasar kucing merepotkan. Lain kali pintu balkonnya ditutup saja biar tidak ada hewan masuk. Bereskan dulu kamarmu sebelum tidur, ya" Ucap Mama dan keluar
"Izumi... Niki..." Ucapku geram
"Aah, benar juga... Aku masih perlu melakukan penaklukan di wilayah sebelah. Jadi aku kembali ke sekolah dulu" Ucap Izumi dan menghilang
"Eh, ada roh yang memberontak! Kak, kami pergi dulu ya" Ucap Hana dan menghilang bersama Niki.
Sekarang hanya ada aku sendiri di kamarku yang berantakan.
__ADS_1