
"...."
Yurin sekarang tengah duduk di meja belajarnya sembari melamun menatap keluar jendela.
"Aku bosan..." Gumam Yurin
Yurin pun memutuskan turun ke lantai bawah. Ketika turun tangga, Yurin melihat kedua orang tuanya sedang tertawa lepas dengan sebuah album foto didepan mereka.
"Papa, Mama, kalian sedang apa?" Tanya Yurin menghampiri orang tuanya.
"Oh, kami sedang melihat-lihat album lama" Jawab ibu Yurin.
Album yang dilihat kedua orang tuanya adalah album yang berisi masa kecil Yurin. Yurin sudah bosan melihatnya.
Ditengah itu, Yurin melihat kotak kardus berisi banyak album lainnya yang tidak pernah dilihat Yurin sebelumnya.
Disaat orang tuanya sibuk dengan album masa kecilnya Yurin, Yurin malah diam-diam melihat album yang belum pernah dilihatnya itu.
Betapa kagetnya Yurin begitu melihat foto-foto masa muda kedua orang tuanya.
"Woaaa!!"
Refleks Yurin teriak kagum melihat foto kedua orang tuanya.
Orang tua Yurin kaget dan berbalik melihat ke Yurin.
"!!! Ririn, jangan lihat itu!" Teriak ibunya
Tentunya, ibu Yurin mengambil album di tangan Yurin. Tapi sebelum direbut ibunya, Yurin lebih dulu menyembunyikannya dibalik badan.
"Eeeyy, kenapa? Mama dan Papa sangat cantik dan tampan saat masih muda~ Oh, tentu saja sekarang masih sama"
"Haaah... Anak ini..." Gumam ibunya malu
"Omong-omong, Pa, Ma, bagaimana kalian bisa bertemu? Ceritakan pada Ririn~"
"Tidak akan!" Tolak ibunya
"'Hari ini aku kembali bertemu dengannya. Setelah sekian lama, aku akhirnya berani mengajaknya untuk berfoto bersama'. Apa ini maksudnya Mama mengajak Papa berfoto? Dan hasil fotonya adalah yang ada di album ini?" Tanya Yurin dengan mata tertuju pada tulisan didalam album itu.
"Tidaaaakkkk! Jangan baca!!!" Teriak ibunya
Yurin mengambil secarik kertas yang ada didalam album itu.
"Mama dan Papa ceritalah padaku~ Kalau tidak akan aku baca semua yang ada di kertas ini~" Ancam Yurin
"Baiklah, baiklah!! Jangan bacakan lagiii!!" Teriak ibunya dengan wajah merah merona. Disela itu, ayah Yurin justru tertawa diam-diam.
"Kamu kenapa malah tertawa?! Cepat ceritakan dan selesaikan masalah ini" Bisik ibunya ke ayahnya dengan kesal
*
**
Asahi Yuji.
Anak tunggal keluarga Asahi. Meski keluarga itu sekarang biasa saja, tapi beberapa generasi sebelumnya keluarga Asahi sangat berpengaruh juga bersejarah.
'Salah satu keluarga yang memiliki garis keturunan kerajaan kuno', membuat keluarga itu memiliki harga diri yang tinggi.
Sebagai putra keluarga Asahi, terlebih lagi dia adalah anak tunggal, masa depan Yuji telah ditetapkan oleh orang tuanya sejak ia lahir.
"Seorang putra lahir di keluarga Asahi. Ini sebuah berkat!!"
"Masa depan keluarga ini cerah! Kita harus mengarahkan anak ini ke jalan yang lurus"
"Walau keluarga Asahi bukan keturunan langsung, tapi kita masih punya darah kerajaan. Kita punya harga diri!"
Keluarga ini sangat ketat dan berharap banyak pada Yuji. Yuji tidak diizinkan melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Sejak kecil di umurnya yang belum 4 tahun, ia terus di didik untuk belajar dan tidak diperbolehkan bermain seperti anak lainnya.
Tentunya, sebagai anak normal Yuji juga bisa memberontak dan kabur dari rumah menghindari semua aturan di keluarganya.
Suatu hari di umur Yuji yang ke-7 tahun, Yuji kabur dari rumah untuk pertama kalinya, menghindari pelajaran yang akan dimulai beberapa menit kemudian.
"Haah... Aku tidak mau membaca banyak tulisan yang membingungkan itu. Tidak mau menulis hingga tanganku sakit. Tidak mau menghitung. Aku mau disini saja sampai malam hari" Gumam Yuji sambil berjalan dan menendang kerikil di jalan.
Ditengah Yuji yang sedang berjalan itu, dia melihat seorang anak perempuan yang lebih kecil darinya sedang bermain ayunan sendirian. Bersamaan dengan Yuji yang menatap anak kecil itu, dia juga balik menatap Yuji.
Anak kecil itu bukannya tersenyum, malah menatap tajam Yuji dan memalingkan wajahnya.
"Apaan anak kecil itu. Aneh" Pikir Yuji kesal dan balik memalingkan wajahnya juga.
*
Setelah ia kabur itu, Yuji jadi ketagihan terus kebur dari rumah.
Yuji kabur dari rumah bukan sekali atau dua kali saja. Namun 3 hingga 4 kali dalam seminggu dia akan kabur.
Dan tiap kali dia kabur dan datang ke tempat itu seperti biasa, dia selalu berpapasan dengan anak perempuan bermain ayunan itu.
Anak perempuan itu sepertinya salah paham terhadap Yuji.
"Kamu sengaja ya datang kesini cari gara-gara denganku?!" Teriaknya
"Dapat dari mana kepercayaan dirimu itu?! Jangan kepedean!" Teriak balik Yuji
"Buktinya kau terus kesini!!"
"Apa salahnya aku kesini?! Disini bukan rumahmu. Aku kesini juga bukan untuk melihatmu! Lagian, aku cuma lewat saja, bagian mananya aku cari gara-gara denganmu?!" Teriak Yuji kesal
Sejak itu, Yuji tidak lagi berjalan lewat sana, dan mencari tempat persembunyian baru.
"Perempuan itu benar-benar merepotkan! Aku jadi harus cari tempat baru" Gumam Yuji
Setelah sekian lama Yuji berpindah ke tempat baru, kini dia memiliki sekelompok teman sesama laki-laki yang berumur sama di daerah sana. Mereka beranggotakan 4 orang jika dihitung bersamanya.
Yuji terus bermain bersama mereka hingga umur mereka menginjak 12 tahun.
Lalu...
"Eh, katanya ada cewek cantik lho"
"Beneran?! Dimana?"
"Iya! Aku kurang tau, tapi katanya di daerah sebelah. Ayo kita coba kesana!"
"Ayo, ayo!!"
"Daerah sebelah? Itu tempat persembunyianku sebelumnya. Aku malas kesana, nanti ketemu lagi sama perempuan aneh itu" Pikir Yuji
"Aku tidak ikut. Kalian pergi saja bertiga" Ucap Yuji
"Eeyyy~ Mana bisa. Kalau pergi, kita semua pergi. Kalau nggak, kita semua nggak pergi. Tapi berhubung kami bertiga mau pergi, kau jadi harus ikut~"
"Kaliaaannn...."
Akhirnya Yuji diseret oleh ketiga temannya pergi.
"Yasudahlah. Itu juga kejadian 5 tahun lalu. Mana mungkin kan perempuan itu masih main ayunan disana" Pikir Yuji
Begitu sampai di tempat tujuan...
"Mungkin... Bisa saja itu terjadi..." Pikir Yuji menyangkal pemikirannya sebelumnya
Benar saja. Perempuan cantik yang dimaksud teman-temannya adalah 3 perempuan yang tengah bersantai. Ada yang bermain ayunan, membaca buku, juga melihat bunga. Salah satu perempuan itu (Yang membaca buku) adalah si perempuan yang ada masalah dengan Yuji sebelumnya.
Dia yang membaca buku merasakan kehadiran orang yang datang. Dia melirik ke arah orang-orang itu, dan langsung bisa mengenali Yuji.
"Kamu masih juga datang kesini?!" Teriaknya
"Sudah kuduga sejak awal kau sangat aneh karena terus datang kesini. Apa selama ini kau juga diam-diam menatap kami dari kejauhan?!" Lanjutnya
"Yuji, kalian saling kenal?" Tanya teman Yuji
"Tidak, aku tidak kenal dia. Sudah cukup, aku mau pulang" Ucap Yuji dan langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa menanggapi si perempuan.
*
Hari ini Yuji pulang lebih cepat dari biasanya. Dia berencana untuk masuk diam-diam dan mengurung dirinya di kamar.
Ketika dia sedang berjalan menuju kamar, Yuji tak sengaja mendengar perbincangan kedua orang tuanya di ruang keluarga.
"Sayang, Yuji kita semakin lama semakin nakal. Dia terus kabur dari rumah dan tidak mau belajar. Lihat saja, hari ini dia kabur lagi. Besok, besok, dan besoknya lagi pasti akan kabur lagi. Bagaimana bisa penerus keluarga Asahi seperti ini?" Ucap ibunya khawatir
"Ini pasti karena pergaulannya yang tidak benar di sekolah. Temannya pasti mengajaknya pergi bermain begitu selesai sekolah. Yuji harus dipindahkan dari sekolahnya, lalu kita cari guru privat untuknya" Jawab ayahnya
"Kamu benar. Yuji kita yang baik tidak boleh sampai ikut pergaulan yang tidak benar"
Brak!
Yuji langsung masuk ke ruangan.
__ADS_1
"Aku tidak mau pindah sekolah!" Teriak Yuji
"Ini demi kebaikanmu sendiri, Yuji!" Bentak ayahnya
"Demi kebaikanku? Kerja kalian itu cuma mengatur hidupku! Kalau sejak awal kalian tidak terlalu mengekangku, aku juga tidak akan terus-terusan kabur seperti ini!" Teriak Yuji.
"Dari mana kau belajar membantah orang tua?! Pasti dari teman-temanmu yang rendahan itu!!"
"Justru akulah yang mengajak mereka bersamaku! Mereka tidak ada hubungannya. Tidak usah sok tau!"
"Kamu ini benar-benar!!"
Ayahnya langsung mengangkat tangannya dan bersiap menampar Yuji.
Plak!!
Tamparan ayahnya melesat mengenai pipi kiri Yuji.
"Aku harus mendidikmu dengan baik setelah ini!"
Yuji melirik ke ayah dan ibunya secara bergantian dengan tajam.
"Kalau kalian mempertanyakan cara bicaraku, coba kalian lihat dulu bagaimana cara kalian memperlakukanku. Aku bukan boneka yang bisa kalian atur!"
"Kamu ini!!" Teriak ayahnya dan bersiap menampar Yuji lagi.
Tapi kali ini Yuji menghindar.
"Anak durhaka!!"
"Aku cuma mencoba melindungi diri. Yang pertama aku biarkan karena aku tau ucapanku memang tidak sopan. Tapi yang kedua tidak akan ada"
Yuji berjalan keluar dari ruangan itu. Sebelum menutup pintu, dia berhenti didepan pintu dan kembali menatap orang tuanya lebih dulu.
"Kalian sangat berbangga dengan marga Asahi. Tapi bagiku itu tidak lebih nama kutukan"
Ayahnya kembali tersulut emosi, namun ibunya langsung menenangkannya. Bersamaan dengan itu, Yuji langsung menutup pintunya dan kembali keluar rumah.
"Aku kehilangan kendali diriku..." Pikir Yuji
"Aku makin tidak mood berada di rumah" Gumamnya.
*
Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, Yuji dipanggil ayahnya untuk berbincang.
"Ada apa, Ayah?"
"Ini mengenai kau yang pindah sekolah"
"Aku sudah bilang tidak ma---"
"Kau tidak akan dipindah sekolah. Asalkan..."
"Ikuti peraturan keluarga"
"...."
"Ayah mengancamku?!" Ucap Yuji sedikit tersulut emosi?"
"Alasan kau dipindahkan dari sekolah karena kau jadi makin memberontak sekarang. Kalau tidak mau pindah, jadilah anak baik dan penurut!"
"Mulai minggu depan akan ada guru privat untukmu. Belajarlah dengan benar"
"...."
"Sama saja. Kalau aku bersikeras pun tidak akan mengubah pemikiran ayah. Malah akan membuat ayah makin menekanku..."
"Lebih baik sekarang ikuti perkataan ayah. Kalau aku bertingkah lagi, aku langsung akan dipindahkan dari sekolah itu dan tidak bisa bertemu temanku"
"Aku hanyalah seorang anak yang tak punya kekuatan. Sekarang aku perlu menunduk lebih dulu"
"Baik, ayah"
"Apakah ada yang perlu kau katakan pada ayah, Yuji?" Tanya ayahnya dengan tatapan tajam
"Maaf telah berperilaku seenaknya. Kedepannya saya akan... Berusaha keras..."
"Dan?" Tanya ayahnya
"Mengikuti... Apa yang ayah ucapkan..."
"Anak baik"
"Ketahuilah, Yuji. Ayah tidak akan pernah membawamu ke jalan yang buruk. Ayah selalu berusaha yang terbaik untukmu. Jadi..."
"Kau hanya perlu melakukan apa yang ayah suruh. Ini demi kebaikanmu sendiri"
"Untuk di masa lalu, itu kesalahan ayah yang tidak tegas mendidikmu. Tapi mulai sekarang itu tidak akan terjadi lagi"
"Ayah akan mendidikmu dengan benar jika kau melanggar aturan yang sudah dibuat"
"...."
"Ada rantai tak terlihat yang mengekang leherku..." Pikir Yuji
"Kau mengerti, Yuji?"
"Ya, ayah"
*
**
Sejak hari itu, Yuji sudah tidak pernah kabur dari rumah lagi. Dia mengikuti perkataan orang tuanya. Pergi sekolah, setelahnya belajar sejarah keluarga, mengikuti les, dan lainnya.
Tidak ada waktu istirahat lagi untuk Yuji.
Karena sudah tidak bermain lagi, temannya jadi bertanya-tanya.
"Yuji, kemana saja kau selama ini? Sejak terakhir kali kita menemui para cewek cantik di daerah sebelah, kau sudah tidak bermain dengan kami lagi"
"Apa ada masalah?"
"...."
Yuji terdiam untuk sejenak.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya mulai sekarang aku tidak bisa bermain dengan kalian diluar jam sekolah"
Ketiga temannya saling menatap satu sama lain.
"Kenapa?"
"...."
Yuji hanya diam tidak merespon pertanyaannya dan hanya tersenyum lesu.
Teman-teman Yuji tidak tahu kalau Yuji yang mereka kenal itu ternyata keturunan kerajaan kuno. Mereka juga tidak tahu silsilah garis keturunan keluarga Asahi milik temannya itu.
*
**
Waktu terus berlalu...
Dan kini, Yuji dan teman-temannya telah masuk SMA.
"Wow!! Ada adik kelas keren yang datang ke sini!!"
"Kira-kira mereka sudah punya pacar belum, ya?"
"Sepertinya aku sudah harus bersiap membuat surat cinta~"
Dan... Seketika mereka jadi populer di kalangan murid perempuan sekolah.
*
1 bulan setelah mereka masuk SMA, kini mereka tengah nongkrong di tempat sepi. Tepatnya di belakang gedung sekolah.
"Hei, apa kalian tidak risih dengan para perempuan yang bergerombol itu?" Tanya Jou sambil makan keripik kentang, teman Yuji
"Aku sih gak masalah~ Akhirnya aku merasakan rasanya famous hahahaha!!" Jawab Seki (teman kedua Yuji) lalu mengambil 1 keripik kentang milik Jou.
"Yah... Berkat itu aku bertengkar dengan pacarku..." Gumam Rakki, teman ketiga Yuji
"Sudah berapa kali kubilang, bersikaplah tegas pada orang-orang itu! Bilang kau sudah punya pacar, jadi jangan mendekat. Aku kalau jadi pacarmu juga akan marah" Ceramah Jou ke Rakki sambil menunjuk-nunjuk Rakki menggunakan keripik kentang yang ia pegang dengan kesal.
"Pfft!! Jou, kau mau jadi pacar Rakki?! Kau normal, kan?!" Teriak Seki dan tertawa terbahak-bahak.
"Itu perumpamaan jika aku jadi si pacar Rakki! Dasar!!" Bantah Jou
__ADS_1
"Omong-omong... Yuji, kenapa kau diam saja?" Tanya Jou
"Ah!" Yuji tersentak, tersadar dari lamunannya
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak. Bukan apa-apa"
"Bagaimana menurutmu mengenai orang-orang yang mendekati kau itu?" Tanya Jou melanjuti obrolan sebelumnya
"Emm... Aku tidak menganggap mereka, jadi aku tidak merasa risih, senang, atau apalah itu" Jawab Yuji ragu sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal
"Wah..." Gumam Saki, dan disambung dengan lainnya yang bengong mendengar jawaban Yuji
"Padahal kupikir Jou yang paling tidak berperasaan diantara kita..." Bisik Seki ke Rakki
"Aku bisa dengar!!" Teriak Jou
"Omong-omong, kau beneran tidak menganggap mereka? Kau tidak terganggu?" Tanya Jou kembali memastikan
"Ayolah. Waktuku sudah dipenuhi dengan tugas sekolah, ekskul dan perkara keluargaku. Mana ada waktu aku memikirikan mereka" Jawab Yuji santai
"Selama ini bagaimana caranya kau menjalani hidup, temanku?!" Teriak Seki dan menggoyang-goyangkan tubuh Yuji
"Kuharap aku bisa sepertimu..." Gumam Rakki dan Jou
Lalu...
Teng... Teng... Teng...
"Ah, sudah waktunya masuk jam selanjutnya"
Begitulah pembicaraan mereka yang absurd berakhir.
*
**
Tak terasa waktu telah berlalu, dan sekarang sudah waktunya pulang.
Ceklek...
"Aku pulang..." Ucap Yuji
"Selamat datang" Jawab ibunya yang keluar dari ruang keluarga.
"Hari ini kau pulang sore lagi" Ucap ayahnya yang muncul setelah ibunya.
"Banyak kegiatan, Ayah. SMA tidak seperti SD atau SMP" Jawab Yuji
"Hmph!" Ayahnya mendengus lalu berjalan pergi
"Sebentar lagi waktunya makan malam. Kau masuklah ke kamar. Ibu akan memanggilmu setelah makanan sudah siap" Ucap Ibunya
"Ya, Ibu"
*
**
Begitu waktunya makan malam telah tiba, dan mereka telah berkumpul di meja makan...
"Yuji, ada yang mau Ibu dan Ayah katakan padamu" Ucap Ibu Yuji tiba-tiba
"?"
"Kau tahu kan keluarga ini bukan keluarga biasa? Semuanya sudah direncanakan dari awal"
"Tolong langsung saja ke intinya" Ucap Yuji lalu memasukkan makanan ke mulut.
"...."
"Kakekmu memiliki teman yang juga keturunan konglomerat. Sama seperti kita, meski mereka konglomerat, tapi keluarga itu tidak terlalu kaya karena keturunan cabang, bukan keturunan inti"
"Setelah ibu dan ayah menikah, kakekmu dan temannya telah sepakat akan menikahkan kau dengan cucunya" Lanjut ibu Yuji
Sontak Yuji terkaget hingga ia tersedak.
"Apa?!" Pikir Yuji kaget
"Kau tidak apa-apa, Yuji?" Tanya Ibunya dan mengambilkan air.
Yuji langsung mengangkat tangannya, mengisyaratkan dia baik-baik saja.
"Jadi kelahiranku, hingga kehidupanku telah direncanakan dan diatur?!" Tanya Yuji sedikit emosi
"...." Ibu Yuji terdiam
"Itu hal biasa di keluarga ini" Jawab Ayahnya
"Bahkan pernikahanku dengan perempuan yang bahkan tidak pernah kulihat wajahnya?!" Tanya Yuji
"Jangan manja, Yuji. Pernikahan itu dilakukan jika menguntungkan keluarga. Hanya orang bodoh yang menikah karena cinta. Cinta itu menyesatkan. Banyak orang hancur dikarenakan cinta"
"Wanita tetaplah wanita. Yang membedakannya hanyalah garis keturunannya yang istimewa atau rendahan"
"...."
Yuji terdiam dengan menahan emosinya hingga urat di tangan dan lehernya bermunculan.
"Kalian tenanglah. Sekarang waktunya makan, jadi jangan buat keributan" Ucap Ibu Yuji menenangkan situasi.
"Siapa... Siapa perempuan itu?" Tanya Yuji
"Tidak ada hubungannya denganmu" Jawab Ayahnya ketus
Tentunya emosi Yuji makin memuncak. Namun ia masih menahannya.
"Dia calon pasangan saya. Bagaimana bisa Ayah mengatakan dia tidak ada hubungannya denganku?"
"Itu urusan orang tua. Tunggu hingga waktunya sudah tepat, nanti kalian akan kami pertemukan"
Brak!!
Yuji meletakkan alat makannya ke meja dengan keras.
"Saya sudah selesai makan, jadi saya ijin kembali ke kamar"
Yuji langsung pergi dari ruang makan.
Begitu masuk kamar, dia langsung membanting tubuhnya ke kasur dengan kesal.
"Lagi-lagi... Mereka seenaknya saja mengatur hidupku..." Gumam Yuji kesal
Lalu...
Tok... Tok... Tok...
"Apa lagi ini?!" Pikir Yuji kesal
"Sudah saya bilang, saya sudah selesai makan. Ibu dan Ayah silahkan lanjutkan makannya" Sahut Yuji berusaha menahan emosi.
Ceklek...
Pintu kamar Yuji terbuka, dan muncul Ibunya dibalik pintu itu dengan tersenyum tipis.
Ibu Yuji berjalan menghampiri Yuji yang tengah berbaring diatas kasurnya, lalu duduk di pinggiran kasur itu.
"Yuji, kau marah?" Tanya Ibunya
"...."
Yuji tidak menanggapi pertanyaan Ibunya itu.
".... Ibu dan Ayah juga sebenarnya menikah karena perjodohan keluarga. Waktu awal diberi tahu akan menikah dengan orang asing, Ibu juga melakukan hal yang sama denganmu"
"Ibu mengerti kau pasti marah, kesal dan tidak terima"
"Tapi Yuji, kau tidak bisa melakukan apa-apa. Ini sudah menjadi tradisi"
".... Aku tidak peduli dengan tradisi atau apalah itu...." Gumam Yuji kesal
Ibu Yuji mengelus kepala Yuji dengan lembut.
"Itu tidak seburuk yang kau pikirkan. Orang dari keluarga ternama tentu akan mendidik anaknya dengan benar. Perempuan yang dijodohkan denganmu itu sangat cantik dan pintar. Kalian akan akur"
"...."
Yuji tidak menanggapi ucapan Ibunya.
".... Kau masih perlu waktu untuk berpikir. Lagian, itu juga masih lama. Ayo bicarakan hal ini lagi nanti" Ucap Ibunya dan keluar dari kamar Yuji.
__ADS_1
Setelah itu, perbincangan mengenai perjodohan tidak pernah terdengar lagi seakan hal itu tidak pernah diperbincangkan.