
Setelah kejadian jiwa tersembunyi di diriku itu menampakkan wujudnya, aku tidak terlalu memikirkannya lebih dalam lagi dan kembali fokus ke kehidupan sehari-hariku.
Beberapa hari setelahnya saat kami semua berkumpul untuk makan malam, Tuan Hazuki mulai mengurus permasalahan Sekolah Menengah Atas kami.
"Apa ada Sekolah Menengah Atas yang ingin kalian masuki?" Tanya Tuan Hazuki
"Aku mau dengan Eru" Jawab Kirian
"Kalian semua mau sesekolah dengan Maeru?" Tanya Tuan Hazuki
Mereka bertiga mengangguk cepat, tapi aku hanya diam saja.
"Baiklah. Rencanaku juga mau memasukkan kalian ke sekolah itu. Itu sekolah elit, dan kepala sekolahnya juga paman kalian, jadi kalian tidak perlu khawatir dengan permasalahan di sekolah"
Mereka bertiga saling menatap dengan senang.
*
Sekolah Menengah Atas yang akan kami masuki itu adalah sekolah elit. Rata-rata kedua orang tua dari murid itu memiliki pangkat dan jabatan yang bagus. Untuk Maeru, ayahnya adalah kepala sekolah dari sekolah itu dan almarhum ibunya adalah seorang dosen.
Aku tidak mau masuk ke sekolah itu, karena seperti di Sekolah Menengah Pertama, para murid pasti ada yang mengenaliku.
Ditambah lagi, di sekolah itu tidak ada yang namanya 'kelas umum' dan 'kelas khusus'. Semuanya digabung menjadi 1 gedung yang sama. Jadi kemungkinan aku akan bertemu dengan Tuan Muda Hazuki setiap hari 99% akan terjadi.
Setelah selesai makan, aku mendatangi Tuan Hazuki.
"Paman, aku tidak mau masuk sekolah itu. Aku mau masuk sekolah biasa, bukan sekolah elit"
Tuan Hazuki menatapku tajam.
"Ayahmu adalah Arato Kirein, rival bisnisku saat dia masih menjadi CEO. Selain itu, sejak awal keluarga Arato adalah rival keluarga Hazuki dan Foren. Dilihat dari keturunan ayahmu, tidak ada alasan aku harus berbuat baik padamu"
"Tapi kau juga adalah keturunan keluarga Foren, dimana keluarga Hazuki adalah salah satu rekan terdekat dan bawahan keluarga Foren. Memasukkanmu ke sekolah biasa sama saja seperti keluarga Hazuki tidak mau berhubungan dengan keluarga Foren lagi"
"Tapi paman---"
Aku langsung tersentak dan tidak melanjutkan ucapanku.
Aku ingin mengatakan kalau kakek sungguh-sungguh membuangku dan sama sekali tidak menganggapku keluarganya. Tapi kalau aku melakukannya, itu akan sangat beresiko. Kakek bisa melakukan apapun padaku dan itu bisa berdampak pada ibu yang juga bergantung pada dana kakek untuk perawatan rumah sakit.
"...."
Aku terdiam sambil menundukkan kepala, sedangkan Tuan Hazuki masih menatapku lekat.
"Kau mengerti, kan? Jangan berbuat macam-macam. Walau kau keturunan keluarga Foren, kenyataan setengah darahmu adalah dari keluarga Arato tidaklah berubah. Jangan berpikir aku tidak bisa melakukan apapun padamu"
"Iya, paman..." Gumamku
Aku akhirnya menahan ego ku dan mengikuti alur yang sudah ditentukan untukku.
__ADS_1
Itulah takdirku.
Aku akan hancur jika melawan takdir.
Aku berpikir begitu.
*
Aku masih merasa kebingungan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Aku sudah bisa membayangkan bagaimana nasibku di SMA itu jika bersama dengan para Tuan Muda Hazuki lebih lama lagi. Tapi jika aku menentang itu, nyawa ibu jadi taruhannya.
Aku berpikir, terus berpikir apa yang harus aku lakukan.
Mengikuti ego ku, atau mengikuti takdir ku.
Hasil dari pikiranku semalaman adalah, tidak ada jawaban yang benar, dan tidak ada juga jawaban yang salah. Semuanya tergantung dengan pilihanku, mana yang menurutku lebih baik.
Meski aku sudah menemukan kunci dari pertanyaannya, tapi aku tidak tahu gembok mana yang harus kubuka menggunakan kunci itu.
Jika kupikir lagi, kakek sangat menyayangi putri keduanya, Rosaline. Sedangkan bibi Rosaline menyayangi ibu. Jadi seharusnya kakek tidak akan melakukan apapun pada ibu demi bibi Rosaline.
Tapi itu tidak berarti nyawa ibu benar-benar tidak terancam.
Sekarang bibi dan adik sepupuku, Kinshiki pergi ke luar negri mengikuti paman yang kerja disana.
Artinya meski kakek diam-diam tidak membiayai dana rumah sakit ibu juga bibi tidak tahu.
*
Keesokan harinya, aku datang menemui ibu seperti biasanya. Namun karena pikiranku masih kusut oleh berbagai pikiran, beberapa kali aku melamun dan tidak menghiraukan ibu.
"Hei... Heeey~"
Aku langsung tersadar dari lamunanku.
"Ah, iya. Ada apa, tante?" Tanyaku
"Kau daritadi hanya melamun. Ada apa?" Tanya ibu
"Ah, itu...." Gumamku ragu
"Coba ceritakan pada tante, ada masalah apa?" Tanya ibu dengan suara lembut.
"...." Aku terdiam untuk sejenak.
"Ya. Ayo coba tanya bagaimana pendapat mama" Pikirku
"Aku..."
__ADS_1
"Aku sedang bingung. Ayah angkatku menyuruhku masuk ke sekolah elit, tapi aku tidak mau. Aku maunya masuk ke sekolah biasa..." Gumamku
"Sekolah elit? Bukannya itu bagus?" Tanya ibu sambil memiringkan kepalanya.
"Ada... Suatu alasan yang tidak bisa aku jelaskan. Intinya ada suatu hal yang membuatku tidak ingin masuk sekolah elit, tapi jika aku menentang ayah angkatku, aku akan kena masalah dan itu juga bisa berdampak pada orang yang aku sayangi"
"Aku sangat bingung... Apa yang harus aku lakukan..." Gumamku
"..." Ibu terdiam sebentar sambil menatapku dalam, lalu ibu kembali tersenyum.
"Di kedua pilihan itu sama-sama punya resiko, kan? Lebih baik masuk sekolah elit. Disana kau bisa belajar dengan baik. Kau pintar, jadi teruslah belajar, raih peringkat pertama lagi dan tunjukkan pada ibumu dan pada tante prestasi yang kembali kau capai"
"Mama ingin aku masuk sekolah elit... Dan peringkat pertama lagi..." Pikirku
Aku diam sejenak sambil mengepalkan tangan.
"Tujuanku hidup semata-mata hanya demi mama. Jadi aku akan mengikuti kemauan mama" Pikirku
"Baiklah. Terima kasih untuk masukannya, tante"
Ibu hanya membalasnya dengan senyuman lembut.
*
Beberapa hari setelahnya kami mulai mengurusi keperluan masuk Sekolah Menengah Atas.
Sama seperti saat tes masuk Sekolah Menengah Pertama, di tes kali ini pun aku mengalah dan membiarkan diriku di peringkat ke-20, dibawah Kirian, Maeru, Rio dan Rusen.
"Hmph! Juara pertama kelas umum memang tidak akan pernah bisa mengalahkan dari kelas khusus!! Kali ini pun di di peringkat ke-20 pasti karena beruntung!!" Teriak Rio sombong
"...." Aku sama sekali tidak menanggapinya dan bersikap bodo amat.
Sejak awal, aku berniat untuk berada di 50 besar untuk menghindari para Tuan Muda Hazuki, tapi tak kusangka mereka sebodoh itu hingga aku bisa berada di urutan ke-20.
Dari 1000 orang yang ikut tes masuk, hanya 130 orang yang diterima.
Di tiap angkatan kelas 10, 11, dan 12 ada 5 kelas, dan di kelas pertama bisa dianggap kelas khusus.
di kelas khusus ada 30 siswa yang nilai tes masuknya tertinggi, lalu di kelas 2 sampai 5 berisi masing-masing 25 siswa.
Karena aku ada di 30 besar itu, artinya aku akan sekelas dengan keempat Tuan Muda Hazuki, yang artinya 100% aku akan terus bertemu mereka, mau di rumah ataupun di kelas.
Begitu tau aku akan sekelas dengan mereka, aku buru-buru langsung menemui guru yang mengurus siswa baru.
"Permisi, bu guru. Saya murid baru, Arato Izumi. Saya berada di urutan ke-20, tapi saya tidak mau masuk kelas 10-1. Jika boleh, saya ingin masuk kelas 10-2 tukar tempat dengan yang di urutan ke-31" Ucapku
Bu guru itu langsung memasang wajah senyum masam.
"Maaf, tapi data tiap murid sudah di rekap dan tidak bisa diubah lagi. Di sekolah ini juga hal seperti itu tidak boleh dilakukan. Jika boleh, akan ada banyak orang tua siswa yang menyogok agar anaknya masuk kelas terbaik" Jawab sang guru.
__ADS_1
Aku baru sadar, sekolah ini adalah sekolah elit yang sangat ketat dengan nilai para siswanya. Meski sama-sama sekolah elit, tapi sekolah ini dengan SMP berbeda.
Dan aku menyadari, kalau aku tidak akan bisa lepas dari Maeru, Kirian, Rio dan Rusen untuk selanjutnya.