Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Izumi Si Anak 14 Tahun


__ADS_3

saat siang hari, aku dan Izumi pergi ke hutan dekat sekolah untuk menenangkan pikiranku yang kusut karena terus belajar. kami duduk diatas sebuah batu yang besar disana.


"wah, Izumi ternyata sangat pintar, ya" ucapku


"kupikir rumor soal Izumi sang jenius itu hanya dilebih-lebihkan saja" lanjutku


"jadi selama ini kau berpikir aku bodoh?" tanya Izumi sedikit kesal


"tidak, kok... dulunya kupikir Izumi itu pintar, tapi tak sepintar ini" jawabku terbata-bata


"soalnya... kesan pertamaku ke Izumi itu... menyebalkan" ucapku sambil mengingat pertemuan pertama kami hingga akhirnya aku dan Izumi terikat


"menyebalkan?!" tanya Izumi kesal


"kau berani bilang begitu ke aku yang sudah menolongmu?!" tanya Izumi dan mencubit pipiku


"lefashan! hangan cuwit fifihu! (lepaskan! jangan cubit pipiku!)" teriakku sambil memukul-mukul Izumi


"justru kaulah yang menyebalkan, Yurin. bukan aku!" ucap Izumi dan melepas cubitannya itu


"aku benar kok! dulu kau itu sangat menyebalkan." ucapku membela diri


"dan sekarang pun masih menyebalkan. untungnya tidak semenyebalkan dulu..." gumamku


"kau bilang apa?!" tanya Izumi yang kesal


"aku tidak bilang apapun!" aku memalingkan wajahku ke samping


"aku tahu kau mengatakan sesuatu!" ucap Izumi


"aku... bilang..." ucapku terbata-bata


"ayo berpikir! apa yang harus aku katakan?!" pikirku


"'aku bilang' apa?" ulang Izumi


"aku bilang... Izumi... seperti anak kecil" ucapku


"bodoh! bodoh! bodoh! apa yang baru saja aku katakan?!" pikirku teriak

__ADS_1


"karena gugup, aku jadi asal bicara!!!" pikirku teriak


"aku memang masih anak kecil kok" ucap Izumi


"apa??!!!" pikirku kaget


"kau... barusan... bilang apa?" tanyaku gugup


"aku memang masih anak kecil. aku yang berwujud seperti ini saat aku berumur 14 tahun." ucap Izumi


"apaaaa??!!!" teriakku


"kau baru berumur 14 tahun?! sungguh??" tanyaku


"iya" jawab Izumi


"kalau tidak salah, saat kau meninggal itu saat kenaikan kelas 11 kan?" tanyaku


"iya" jawab Izumi


"yang benar saja?! dia yang kelas 10 dan akan naik kelas 11 ini masih berumur 14 tahun?!" pikirku kaget


"aku yang berumur 15 dan sebentar lagi akan 16 tahun ini kalah darinya yang berumur 14 tahun?" pikirku


"Izumi... kau tidak bohong, kan?" tanyaku


"untuk apa aku bohong? tidak ada gunanya mengatakan hal yang berisi kebohongan. jika aku berkata bohong, itu sama saja aku menghina diri sendiri" ucap Izumi


"soalnya, kau sama sekali tak terlihat seperti anak 14 tahun, lho. tubuhmu tinggi dan terlihat gagah untuk usiamu yang segitu. lalu yang kau katakan barusan juga terlihat seperti perkataan orang dewasa." ucapku


"tapi aku sungguh berumur 14 tahun" ucap Izumi


"tubuhku seperti ini karena keluarga papaku memang memiliki pertumbuhan yang lebih pesat dibanding yang lain. lalu sejak aku masih sangat kecil, mama sudah mengajarkanku banyak hal. jadi mungkin karena dua hal itu aku jadi terlihat seperti lebih dewasa dibanding usiaku" ucap Izumi


aku tercengang mendengar itu. lalu, suatu hal terlintas di kepalaku


"tubuhmu ini memang saat berumur 14 tahun. tapi jika dijumlahkan dengan 5 tahun selama kau menjadi roh, sekarang umurmu itu 19 tahun, kan. bukankah itu bukan anak-anak lagi?" ucapku


"otak, tubuh, perilaku, pikiran, atau apapun itu takkan berkembang lagi setelah menjadi roh. meski 100 tahun telah dilalui, perilaku ku atau apapun itu takkan berubah dan terus akan seperti ini selamanya" jelas Izumi

__ADS_1


"lalu... kepintaranmu itu... sikapmu... gaya bicara, dan yang lainnya..." ucapku terputus


"tentu saja ini kepribadianku saat aku masih hidup. sama sekali tak ada perkembangan setelah aku menjadi roh" jawab Izumi


"Izumi... aku iri padamu..." pikirku dengan wajah tersenyum lemah


"Izumi pasti orang yang luar biasa ya. aku sempat bingung bisa-bisanya orang seperti Izumi bisa menjadi roh..." ucapku


"aku tidak sesempurna seperti pikiranmu" ucap Izumi


"aku yang menjadi roh membuktikan kalau aku bahkan lebih buruk dari manusia normal" ucap Izumi


"apa? i... itu..." aku tak dapat berkata-kata.


jika kupikirkan lagi, apa yang dikatakan Izumi memang ada benarnya. jika manusia normal, sekarang mereka pasti sudah di langit dan takkan menjadi hantu. tapi aku masih tidak dapat menerimanya jika melihat Izumi yang baik (meski agak menyebalkan) pernah melakukan sesuatu hingga dia menjadi hantu di sekolah.


aku melirik melihat wajah Izumi. terlihat jelas sekarang dia sedang berpikir serius. tatapan matanya terlihat kosong, dan kedua tangannya saling menggenggam dengan erat.


"aku tau ciri khas saat Izumi sedang memikirkan hal sulit, ia pasti akan menggenggam tangannya dengan erat seperti sekarang. apa dia jadi teringat hal-hal sulitnya dulu, ya?" pikirku


lalu tib-tiba Izumi langsung menoleh ke arahku.


"hey, kau daritadi kenapa diam dan terus menatapku?" tanya Izumi


"ah tidak. tidak apa-apa. ayo kembali dan belajar" ucapku dan berjalan mengarah keluar hutan


*


setelah pulang, kami kembali belajar hingga sore hari. setelah itu, aku istirahat dan melakukan hal lain. Izumi juga pergi ke sekolah dan dia bilang akan kembali menemuiku nanti malam.


"ternyata ajaran Izumi sangat berguna. aku dapat mengerti dengan mudah di setiap pelajaran" pikirku


"kupikir aku takkan semudah ini mengerti pelajarannya. tak kusangka Izumi sangat ahli" pikirku


"seandainya sekarang dia masih hidup, Izumi pasti menjadi lebih tinggi lagi, sifatnya juga takkan menjengkelkan, menjadi lebih pintar lagi dari sekarang, dan sangat menyayangi ibunya" pikirku


"eh, ngomong-ngomong soal ibu Izumi, aku tadi lupa menanyakan soal 'dia' yang dimaksud ibu Izumi" gumamku


"lupakan. sudah pasti 'dia' itu Izumi, kan? memangnya siapa lagi yang dekat dengan ibu Izumi selain Izumi?" gumamku

__ADS_1


"sekarang aku harus fokus dengan ulangan" ucapku menyemangati diri


__ADS_2